
Pukul enam lewat empat puluh lima menit. Arumi tengah mematut diri di depan cermin. Matanya berulangkali menilik riasan sederhana hasil polesan tangannya. Terakhir ia bermaksud mengoles bibir tipisnya dengan pewarna yang begitu soft. Namun niat tersebut urung saat Mirza mendekapnya. Sesekali ia mengecup lembut pipi Arumi.
"Kamu cantik, sayang..." bisik Mirza di telinga Arumi.
"Terima kasih..." ucap Arumi.
Ada Rona merah yang tiba-tiba saja muncul saat kata itu meluncur dari bibir sang singa. Ajaib....meski sudah hampir satu tahun menikah, namun kata pujian itu selalu sukses membuat Arumi tersipu.
"Aku bantu ya..." ucap Mirza.
Tangannya langsung meraih pewarna bibir. Dengan hati-hati Mirza memoleskan pewarna bibir itu pada bibir tipis Arumi.
"Hati-hati, Kak..."
"Diamlah...Kau mau aku memolesnya belepotan?"
Arumi pun diam. Hanya matanya saja yang sesekali menatap wajah tampan laki-lakinya itu.
CUP....
Mirza tiba-tiba saja mengecup bibir tipis Arumi seusai ia memolesnya dengan pewarna. Hal tersebut tentu saja membuat Arumi terkesiap. Makin meronalah wajah Arumi. Ia melempar tatapannya ke arah lain, karena Arumi tidak sanggup membalas tatapan mata elang milik Mirza.
"Sudah jam tujuh. Bisa terlambat, jika begini terus..."
"Bolehkah aku meminta jatah malam ini. Rasanya sudah lama sekali. Semua karena ..."
Deg.
Arumi terdiam. Katanya hilang. Sementara wajahnya jadi merah padam.
"Sayang....?"
"Egh...."
Arumi mengangkat wajahnya. Dan sekali lagi bersamaan dengan itu, Mirza kembali melancarkan serangannya. Mirza kembali mengecup bibir Arumi. Arumi menutup bibirnya dengan kedua tangannya.
"Dasar pencuri...." Arumi manyun.
"Haha..."
Tawa Mirza menggema mengisi ruangan. Untuk kemudian ia memilih duduk pada sofa dekat jendela. Matanya terus menatapi Arumi tanpa berkedip.
"Walau tinggi mu hanya 150 cm, namun keluhuran Budi mu begitu tinggi melebihi batas normal. Hal itu yang membuatku jatuh hati pada mu. Bahkan berulangkali..." batin Mirza.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Berdiri Andrea di ambang pintu ruangan yang sudah di padati tamu undangan. Mata Andrea beredar menyapu seluas ruangan. Ia mencari sosok laki-laki tampan yang sudah mencuri tempat di hatinya. Siapa lagi jika bukan Keive. Atau sepengetahuan Andrea adalah Ansal.
"Mencari seseorang, Non..." ucap seorang laki-laki yang berdiri tak jauh dari nya.
"Hei...Ans. Hampir saja aku menangis jika tidak menemukan mu" ucap Andrea bernada manja.
"Hehe...mari kita masuk"
Keive melangkah ke dalam ruangan diikuti Andrea. Keduanya langsung berbaur di tengah kerumunan tamu undangan yang sejak tadi memadati.
"Ans...apa mereka semua mengenalmu?" ucap Andrea sambil mengedarkan pandangannya.
"Tidak juga...Hanya beberapa saja" ucap Keive santai.
"Selamat malam semua. Selamat datang di acara peresmian perusahaan kami. Dan kini kita sambut ouner MA Group, Tuan Mirza Adyatma....!" ucap seorang pewara.
Sambutan hangat dan tepuk tangan pun riuh memenuhi ruangan. Terlebih saat pemilik MA Group itu berdiri di podium kehormatan. Mendapat sambutan dan perhatian yang demikian, Mirza mengumbar senyum khasnya. Sebelah tangannya berisyarat untuk menenangkan segenap tamu undangan.
Kata singkatnya sukses menghipnotis setiao undangan yang hadir. Dan sekali lagi tepuk tangan riuh saat laki-laki tampan itu menangkupkan kedua tangannya dan juga mengumbar senyum khasnya.
Sementara itu di tengah keramaian, Andrea tampak bersungut. Tatapan matanya mengisyaratkan ketidaksukaan atas apa yang ia lihat. Jelas ia menatap Arumi. Sosok perempuan yang berkekurangan namun mampu menarik perhatian dan sukses membuat Mirza jatuh hati.
"Ada apa...?" tanya Keive.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya kurang suka di tengah keramaian seperti ini..."
"Cih...! Jelas dusta mu terlihat dari cara menatap Tuan Mirza. Aku tahu siapa diri mu bagi Mirza dahulu. Aku setuju jika Mirza mencampakkan mu" batin Keive.
"Ans, ayolah kita keluar. Atau kita ke..." ucap Andrea. Tangannya mengibaskan key card yang siang tadi di berikan Keive.
Mata Keive menatap Andrea. Bibirnya menyunggingkan senyuman.
"Sebentar lagi ya. Aku ingin menemui rekan bisnis yang ada. Siapa tahu ada peluang yang ku dapat. Oke?"
"Baiklah..."
"Sial...! Aku gagal mempercepat waktu kebersamaan kami. Aku sudah tidak sabar bersamanya..." batin Andrea.
"An, permisi aku ingin ke toilet"
"Egh...."
Andrea mengangkat wajahnya dan menatap Keive.
"Sebentar saja. Tunggu aku di sini..." ucap Keive sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Kieve pun langsung berlalu. Ia meninggalkan Andrea di tengah keramaian. Langkah Keive begitu panjang saat matanya menangkap sosok perempuan yang telah menarik perhatiannya. Perempuan itu pun tengah melangkah tergesa menuju toilet. Seperti halnya Keive.
Keive bergegas menyelesaikan hajatnya di toilet. Untuk kemudian berdiri di dekat pintu. Ia yakin jika si perempuan yang ia maksud belum lagi menyelesaikan hajatnya.
"Takdir mempertemukan kita lagi nona cantik..." batin Keive.
Bibirnya menyunggingkan senyuman. Ia berdiri menyandar pada dinding. Sebelah kakinya menjejak dinding. Sementara tangan kanannya tampak mengotak-atik ponsel, tangan kirinya tersimpan pada kantung celananya. Ia menanti dengan sedikit tak sabar. Kerap matanya menatap pintu toilet wanita.
Keive sumringah ketika melihat perempuan yang sudah menarik hatinya itu keluar. Keive bersiap menyapa. Namun sebelum niatnya itu terwujud, seorang laki-laki tampan menarik tangan perempuan tersebut. Laki-laki itu membawa serta perempuan itu dalam irama langkahnya. Hampir saja Keive memuntahkan amarahnya pada laki-laki itu. Beruntung ia segera mengenali siapa laki-laki itu. Ya, dia adalah Mirza Adyatma. Pemilik MA Group, tuan rumah perhelatan malam itu.
"Sial...mengapa tuan Mirza begitu arogan terhadap gadis itu? Ia menarik gadis itu seenaknya. Apakah hubungan keduanya? Rasanya tidak mungkin tuan Mirza berlaku demikian pada sembarangan orang. Aku harus mencari tahu" batin Keive.
Tak lama kemudian Keive kembali larut dalam suasana perhelatan. Keriuhan perhelatan sukses membius segenap tamu undangan. Tak terkecuali Keive dan Andrea. Hingga di penghujung acara, seorang Pewara menyilahkan Arumi untuk berdiri di podium kehormatan.
"Hadirin, tamu undangan. Sebagai akhir perhelatan, sambutlah Nyonya Mirza Adyatma. Arumi Hirata..."
Tepuk tangan pun menyambut tiap langkah Arumi menuju podium. Wajahnya sumringah ketika menatap seiring ruangan.
"Selamat malam. Saya Arumi Hirata. Sudah hampir setahun ini saya mendampingi tuan Mirza Adyatma. Bukan perkara mudah berada di sisi seorang pengusaha seperti beliau. Namun hanya dengan cinta dan kasih sayang kami saling menguatkan hingga kami sampai di titik ini. Dan untuk malam ini, sekali kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran anda semua. Semoga perusahaan kita dapat saling mendukung dan menjalin kerja sama demi kemaslahatan semua. Sekali lagi terima kasih..." ucap Arumi yang disambut tepuk tangan tamu undangan.
Tampak Mirza pun larut dalam suasana tersebut. Tangannya tiada henti bertepuk tangan sambil berdiri. Ia menyambut Arumi dan mendekapnya erat.
"Good job, honey..." ucap Mirza sambil menghadiahi kecupan lembut pada pucuk kepala Arumi.
Dan hal tersebut kembali membuat hadirin bertepuk tangan.
Sementara itu di sudut ruangan, Keive menatap tanpa berkedip. Ia tidak menduga jika perempuan yang sudah menarik hatinya itu adalah istri dari Mirza Adyatma, laki-laki yang sudah menolong hidup keluarganya.
"Astaga..."
Hanya kata itu yang keluar dari bibirnya berulangkali. Ada sesal yang menggelayut di ujung hatinya atas kebodohan yang sudah ia lakukan, yaitu menyukai perempuan yang jelas-jelas istri dari seorang Mirza Adyatma.
Tepok jidat dach....☺️