150 Cm

150 Cm
Episode 22. Quiz Dadakan



Mirza memacu kuda besinya yang super mewah itu menyusuri jalanan kampus. Di sebelahnya sang asisten, Elvano tampak sibuk dengan laptopnya menyempurnakan tampilan power point berisi materi kuliah pagi ini.


"Hari ini, kira-kira Arumi ngampus tidak ya...?"


"Wah, tuan Mirza Adyatma seorang pengusaha muda sukses nomor satu di Indonesia tengah kangen akut sepertinya..."


"Ah, sialan kau..."


"Mama dan papa tahu belum perasaan mu?"


"Biarkan saja dahulu sebelum Arumi menerimaku kembali"


"Jadi, Arumi menolak mu?"


"Bukan menolak. Arumi meminta waktu saja..."


"Ish...itu sama saja,Za.."


"Jadi teman ga da akhlaknya ya. Bukannya menyemangati, justru menjatuhkan perasaanku..."


"Hahahaha...."


BREEEM....


BREEEM....


Suara geberan mesin motor sport yang baru saja mendahului laju mobil Mirza membuatnya terjengkit. Terlebih saat mengetahui siapa gadis yang tengah duduk di atas jok motor memeluk pinggang si pengendara. Hati Mirza memanas seketika.


"Arumi..."


"Mana...?" tanya Elvano.


"Ah, sial..." ucap Mirza sambil memukul kemudi kesal.


Melihat itu, Elvano hanya menatapnya sesaat. Ia tahu apa yang tengah di rasakan sahabatnya saat ini. Perasaan cinta yang menyakitkan. Karena ia mencintai gadis yang dahulu pernah ia benci bahkan tak terlintas sedikit pun untuk memilikinya.


🌸🌸🌸🌸🌸


Tiga puluh menit sebelum terlihat Mirza di kampus.


"Arumi....cepat, nanti telat loh" ucap Arya dari bawah jendela kamar Arumi.


Tak lama, Arumi datang. Wajahnya di tekuk sebelas. Ia tak setuju jika harus berangkat bersama Arya.


"Arumi berangkat sendiri saja, Mi..." pinta Arumi memelas.


"Kenapa...? Arya sudah jinak kok"


"Arya suka ngebut, Mi..."


"Eits... panggil kak Arya"


"Ya kak Arya..." ucap Arumi dengan penekanan.


"Sudah, ayo berangkat..." ucap Arya. Tangannya menarik Arumi hingga dekat sebuah motor sport berwarna hitam.


Dengan cepat Arya men-starter motornya dan memacunya secepat kilat. Arumi yang belum duduk sempurna, hampir terlempar dari atas motor. Beruntung tangannya cepat meraih bahu Arya sebagai pegangannya.


"Astaga...Aryaaa...!!"


Teriakan Arumi membuat Arya menghentikan laju motornya. Wal hasil tubuh Arumi terdorong ke depan mendekap Arya.


Arya tersenyum atas dua peristiwa yang baru terjadi. Namun dengan kejadian tersebut, Arya harus merelakan perut, lengan dan pahanya menjadi amukan pukulan dan cubitan Arumi.


"Aw...Aw...maaf, Ar..."


"Sengaja ya..."


"Mana ada... Oya, kalau ingin jalannya wajar-wajar saja aku ada syaratnya. Pertama, selalu panggil aku kak Arya. Kedua, aku bukan tukang ojek. Jadi berpegangan ya di sini. Di pinggang. Bagaimana...?"


"Ish...maksa banget sih..."


"Bagaimana...?"


.


.


.


.


"Baiklah...."


🌸🌸🌸🌸🌸


Mobil Mirza melaju di belakang motor sport yang dikendarai Arya. Matanya menatap tajam laki-laki yang baru saja mengusek pucuk kepala Arumi sesaat setelah menurunkan gadis itu di depan sebuah gedung perkuliahan.


Mirza terus mengamati Arumi yang diam saja diperlakukan demikian oleh laki-laki itu.


"Ah, sial..! Akan ku hukum kau nanti, Arumi"


"Sabar, lebih baik kau tanyakan dahulu..."


"Kau tidak lihat, bagaimana ia diam saja saat diperlakukan begitu oleh laki-laki tadi. Hah...!"


"Mungkin ia kakak nya..."


"Kakaknya mata mu peyang. Arumi itu anak tunggal...!!"


Ucap meninggi Mirza terakhir telah sukses membungkam kata Elvano hingga pelataran parkir. Tempat yang sama dimana Arumi turun sebelumnya.


Sejenak Mirza menghela nafas panjang sebelum ia berlalu meninggalkan mobil sport silver-nya di pelataran parkir.


Langkah Mirza begitu berwibawa ketika memasuki kelas. Hampir semua mahasiswi menatapnya tanpa berkedip. Dosen tampan sekaligus pengusaha sukses pemilik MA Group itu banyak digilai kaum hawa.


"Kita quiz pagi ini..."


"Aaah...." ucap gamang seluruh mahasiswa yang ada.


"Aish... pagi-pagi di kasih quiz. Mimpi apa gw semalem? Adeuh..." ucap Arya sambil tepok jidat.


"Mimpi ketemu Wewe Gombel kali. Makanya Lo sial. Hihihi..." timpal Vanya.


"Ar, adem aja. Lo sudah tahu ya kalau pagi ini quiz? Terus Lo udah belajar kan, makanya Lo adem ayem gitu.."


"Tau darimana, monyong?" ucap Arumi sambil menolak kepala Vanya hingga berayun ke belakang.


"Peraih nilai tertinggi pada quiz pertama di semester ini akan mendapatkan uang di amplop ini..." ucap Mirza sambil menunjukkan amplop berwarna coklat.


"Waaaah...." ucap mahasiswa hanya bersamaan penuh semangat.


"Quiz akan dibagi dalam dua sessi. Dan kalian akan di bagi dalam dua kelompok. Sekarang kalian akan berhitung dengan angka satu dan dua untuk menentukan kelompok. Bagi yang menyebut angka dua, boleh langsung keluar karena anda akan mengikuti quiz sessi kedua" ucap Mirza.


"Ah, sial...aku dapat satu dan dua Arumi" ucap Arya.


"Ah, aku juga dapat satu...Ini gara-gara kau semprul" ucap Vanya sambil mencubit lengan Arya.


"Ash...Vanya... Vanya. Ada acara cubit mencubit juga" batin Elvano.


Mahasiswa pun telah terbagi menjadi dua. Dan saat ini sessi pertama sedang berlangsung. Sementara itu, Arumi duduk di teras dekat pintu. Tak ada aktifitas membuka buku atau catatan apa pun. Arumi hanya sibuk mengotak-atik ponselnya. Mirza sejenak menatap Arumi yang tengah duduk dengan ponsel di tangan. Mirza begitu penasaran dengan apa yang tengah dilakukan Arumi.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


"Ada waktu lima belas menit lagi. Pergunakan untuk membuka buku atau catatan. jika ingin nilai mu bagus..."


Arumi menghela nafas panjang dan terasa berat baginya. Bola matanya memutari setiap sudut halaman. Kemudian dia melangkah cepat meninggalkan teras.


Langkah kakinya menyasar pada sebuah kantin. Arumi membeli sebotol air mineral dan menegukkannya hingga setengah. Ada kesal yang menjalari hatinya setiap menerima pesan dari Mirza.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


"Kenapa kau tidak membalas pesan ku?"


"Kebelet..."


"Astaga...." gumam Mirza saat mendapat balasan Arumi.


Mirza menghela nafas cukup panjang sambil mengusap wajahnya.


"Baik...waktu habis. Silahkan di kumpulkan dan kalian bisa menunggu di luar..." ucap Elvano.


Mendengar itu mahasiswa pun berhamburan keluar berganti mahasiswa sessi kedua. Mata Mirza menatapi satu-satu mahasiswa yang kini tengah duduk rapi mengerjakan soal quiz.


"Arumi, mana?" bisik Elvano yang langsung dibalas Mirza dengan mengangkat bahu.


Tak lama kemudian, Arumi pun masuk kelas dengan tergesa. Mirza diam tanpa menatap Arumi.


"Maaf, Pak terlambat..."


"Darimana...?" tanya Elvano.


"Dari kamar mandi, tadi ke-belet..."


"Aish...sudah sana kerjakan" ucap Elvano sambil menyodorkan kertas lembar jawaban"


"Terima kasih, Pak..."


Sejenak mata Arumi mengitari ruang kelas. Matanya mencari tempat duduk yang menurutnya nyaman. Kemudian matanya melihat sisi kanan ruangan, tepatnya dekat jendela. Ada sebuah kursi kosong di sana. Arumi pun mengarahkan langkahnya menuju tempat tersebut sambil iringi tatapan aneh dari beberapa pasang mata.


Sejurus kemudian, Arumi telah menempati kursi ternyaman menurutnya itu. Dan tak membutuhkan waktu lebih dari lima belas menit, Arumi sudah melahap sepuluh soal quiz yang ada.


Terlihat Arumi meneliti sekali lagi semua jawabannya. Dan setelah merasa cukup barulah ia menyerahkannya ke meja dimana Elvano dan Mirza berada.


"Sudah selesai?"


"Iya, Pak..."


"Hei...mau kemana? ucap Mirza.


"Menunggu di luar, Pak..." ucap Arumi sambil menunjuk pintu.


"Tetap di dalam kelas..."


"Hah..." desah Arumi lesu.


"Tapi bolehkah saya menggunakan ponsel? Saya ada keperluan. Penting..." ucap Arumi memasang wajah mode memelas.


"Ok, silahakan. Tapi tidak dengan suara..."


"Baiklah..."


Sumringah wajah Arumi mendapat jawaban Mirza, dosen tampan itu. Tak lama kemudian Arumi sudah terbenam bersama ponselnya. Ia tampak asyik mengotak-atik ponselnya dan sebentar lalu mencatatnya. Sebentar lalu ia pun tampak diam dan berfikir. Hanya penanya saja yang mengetuk-ngetuk buku catatannya.


Melihat aktifitas Arumi, Mirza makin penasaran. Ingin rasanya ia mencari tahu dengan menanyakannya secara langsung kepada Arumi, namun itu suatu hal yang mustahil baginya kini. Akhirnya Mirza memilih diam dan hanya sesekali memperhatikannya hingga quiz sessi kedua usai.


Berhamburan mahasiswa memasuki ruangan kembali saat sessi kedua berakhir.


"Sekarang kita akan bahas. Kelompok sessi pertama akan mengoreksi kelompok sessi kedua. Begitu pun sebaliknya. Mohon dibagikan pak El"


Tak berapa lama, Elvano pun sudah membagikan lembar jawaban dan memulai mengoreksi. Riuh suara mahasiswa dikala jawaban mereka salah atau pun benar. Wuih... benar-benar seperti naik roller coaster perasaan pagi ini. Semua tak ingin di beri stample buruk oleh dosen tampan itu.


"Baik...ada yang mengoreksi dengan tingkat kebenaran seratus persen..?"


Semua mata saling menatap. Dan tak berapa lama seorang mahasiswi mengangkat tangannya. Ia berada di barisan paling depan. Sontak semua mata menatapnya.


"Milik siapa yang kau koreksi? Sebutkan namanya dengan lengkap..."


"Arumi Hirata Permana..."


"Wah, ternyata si ceper..."


"Aish...si semampai..."


"Busyet, si gembul..."


"Hebat juga si abnormal itu..."


"Waaaah...." seru seganap mahasiswa hampir bersamaan.


PROK...


PROK...


PROK...


Riuh suasana kelas dengan suara decak dan tepuk tangan. Semua mata langsung mengarah pada Arumi yang saat itu masih asyik dengan buku catatannya. Arumi belum menyadari jika semua mata saat ini tengah tertuju padanya.


Sadar tengah diperhatikan, Arumi pun mengangakt wajahnya dan menatap sekitarnya.


"Busyeet...ada apa kalian melihat ku seperti itu?"


"Astaga... Arumi. Nilai quiz mu tertinggi" ucap Arya yang duduk di belakangnya. Tangannya lagi-lagi mengusek pucuk kepala Arumi. Dan lagi-lagi hal tersebut membuat dada Mirza bergemuruh hebat. Ada cemburu di sana yang makin menyiksanya.


"Oya...? Syukurlah" ucap Arumi sambil menyimpan senyum.


"Ok Arumi, Silahkan ambil hadiahmu. Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya" ucap Mirza sambil mengangkat sebuah amplop berwarna coklat.


"Emang ada hadiahnya?"


PLAK...!


Sebuah pukulan mendarat di kepala Arumi walau hanya menggunakan gulungan kertas tapi cukup membuat Arumi menyeringai. Melihat perbuatan Arya, Mirza hampir melangkah mendatangi keduanya. Beruntung Elvano berhasil mencegahnya.


"Hahaha....pak Mirza, anda akan seperti kebakaran jenggot jika melihat interaksi ku dengan Arumi. Aku tahu jika kau pun sesungguhnya mencintai Arumi..." batin Arya.


Bersamaan dengan bel berakhirnya jam kuliah, Arumi melangkah mendekat meja sang dosen tampan sambil sesekali menerima uluran jabat tangan dan ucapan selamat.


"Buka...buka...buka...!!" ucap seluruh mahasiswa bersamaan saat Arumi menerima amplop berwarna coklat itu.


Dengan senyum menghiasi wajah, Arumi membuka amplop dan menarik isi amplop. Mata Arumi membulat sempurna setelah tahu isi dan nominal yang tertera.


"Lima juta rupiah....!!" seru mahasiswa takjub.


"Perasaan tadi nominal tidak segitu..." bisik Elvano kepada Mirza.


"Aku langsung menggantinya setelah tahu Arumi yang akan mendapatkannya..."


"Hahahaha...sudah mulai gila lagi nieh"