150 Cm

150 Cm
Episode 120. Tak Ada Peluang



"Kak....sadarlah. Aku mohon...." batin Vanya.


Gadis manis itu sudah hampir seharian duduk di sebelah brankar dimana Ryu terbaring. Luka bekas sabetan belati telah mengharuskan ia menjalani perawatan intensif.


"Vanya..." ucap seorang laki-laki.


Tangannya memegang bahu gadis yang berusaha menyusut tangisnya itu. Tatapannya langsung beralih pada sosok di sebelahnya.


"Kak Faaz... Bagaimana kak Ryu?" ucap Vanya.


Jelas di ujung tatapannya ada kecemasan yang luar biasa.


"Ryu baik-baik saja. Ia sudah melewati masa kritisnya. Tak perlu khawatir..."


"Tapi...Mengapa kesadarannya belum kembali? Vanya jadi khawatir kak"


"Ach, cinta... Khawatirnya tiada akhir" ucap Faaz.


"Yang ada deritanya kali, kak..." ucap Vanya manyun.


"Haha....begitu ya"


"Hook oh..."


"Vanya jangan khawatir. Masa pemulihan pasca operasi pasti memerlukan waktu yang lebih lama. Tapi semua itu bukan sesuatu hal yang perlu dikhawatirkan..."


Vanya tersenyum. Matanya menilik kembali laki-laki yang sejak lama dicintainya itu.


"Em, Arumi kok belum melihat kak Ryu? Apa sesuatu juga terjadi padanya?"


"fisiknya sedang lemah..."


"Lemah?"


"Ow...Tapi itu bkn sesuatu yang patut dikhawatirkan. Karena situasinya justru adalah hal yang membahagiakan"


"Bagaimana mungkin, kesehatan menurun tapi membahagiakan?"


"Hehe...Arumi tengah mengandung..." ucap Faaz santai.


Tangannya menarik sebuah kursi ke sebelah Vanya. Sementara yang diajak bicara hampir terlonjak dengan ucapan Faaz tersebut.


"Mengandung....?!" ucap Vanya dengan nada soprannya.


Faaz sempat menutup telinganya saat suara bernada sopran itu mampir ke telinganya. Badannya pun sedikit condong menjauhi si empunya suara.


"MasyaAllah.... Vanya" ucap Faaz sambil mengucek telinganya.


"Serius, Kak...??"


"Aduh Vanya. Aku ini juga dokter"


"Ya. Tapi kan kakak bukan dokter kandungan. Kok kakak tahu..."


"Astaga, Vanya. Aku ini dokter keluarga tuan Mirza. Jadi semua rekam jejak kesehatan keluarga aku tahu. Terlebih Arumi adalah istri tuan Mirza. Tentu aku harus tahu..."


"Oya...Vanya lupa" ucap Vanya. Sebelah tangannya menepuk keningnya.


"Lalu mengapa Arumi belum diberitahu?"


"Vanya... Kesadaran Arumi baru saja kembali. Peristiwa saat bersama Andrea cukup menguras energinya. Jadi team dokter memutuskan untuk sementara waktu tidak memberitahu tentang kondisi tuan Ryu"


"Tapi..." kata Vanya terhenti saat suara parau Ryu terdengar.


"Arumi..." ucap Ryu.


Sontak manik mata Vanya mengarah pada wajah laki-laki tampan bermata sipit itu.


"Kak Ryu..." ucap Vanya.


Sementara Faaz langsung mengecek kondisi Ryu dengan cekatan.


"Bagaimana kondisi, Arumi...?" ucapnya lagi.


"Em, Arumi baik-baik saja Kak" ucap Vanya.


"Syukurlah...."ucap Ryu untuk kemudian kembali terdiam.


.


.


.


Vanya jadi menatap Faaz yang saat melihat itu. Di ujung tatapannya kembali menyiratkan kekhawatiran.


"Kak...?" panggil Vanya perlahan.


Katanya jadi sedikit gagu. Matanya menatap lekat wajah Ryu. Sebelah tangannya menggugah perlahan lengan Ryu. Vanya berharap Ryu akan merespon tindakannya itu.


Sementara Faaz sendiri hanya tersenyum menyaksikan kekhawatiran Vanya. Karena seyogyanya ia tahu bagaimana kondisi Ryu sebenarnya.


Tak mendapat respon, Vanya semakin khawatir. Matanya beralih menatap Faaz ya g terlihat santai saja.


"Kak...?" ucap Vanya.


Faaz lagi-lagi tersenyum.


"Ryu baik-baik saja, Vanya. Yang ia lakukan barusan hanya reaksi pendek atas apa yang ia dengar. Sebenarnya kesadaran masih belum sempurna. Tapi Vanya jangan khawatir. Ryu baik-baik saja..."


"Hah... syukurlah" ucap Vanya lega.


"Va...kamu sungguh-sungguh mencintai Ryu? Vanya yakin...?"


"Kenapa kakak bertanya demikian?'


"Ah, tidak ada apa-apa. Aku hanya penasaran saja"


"Ow..." ucap singkat Vanya.


"Kok Ow. Jawabnya donk..."


"Ah, kak Faaz nilai saja sendiri. Menurut kakak bagaimana..."


"Em....Vanya mencintainya"


"Nah, begitulah"


"Ow..."


"Kok Ow...?"


"Ya sudah aw dech..."


"Hehe...bisa ngelawak juga nih pak dokter"


"Hehe...baru lulus dari panggung lawak Srimulat"


"Hehe...pantas saja"


"Ternyata Vanya tetap mencintai ku. Aku harus apa? Hati ini belumlah sembuh dari sakit akibat ulah Andrea. Tuhan, tolong aku..." batin Ryu.


Sementara itu dari balik pintu yang terbuka sedikit, seorang laki-laki yang tak kalah tampan dari Ryu tengah menajamkan telinga. Ia berusaha mencuri dengar pembicaraan Vanya dan Faaz. Terlihat berulangkali ia mengusap dada bidangnya sambil sesekali memejamkan mata. Rupanya ia tengah berusaha mendamaikan gejolak yang ada dalam dadanya saat ini.


"Ya...Tuhan. Kuatkan hati mu, El. Ini adalah kenyataan yang harus kau hadapi. Tuhan, tolong aku..." batinnya.


"Nak El tidak masuk?"


Seorang laki-laki lainnya menegur Elvano yang sudah beberapa lama berdiri di depan pintu.


"O-o....papa" ucap Elvano pada Edward.


"Masuklah...." ucap Edward.


"I-iya, Pa..." ucap Elvano.


Baru kali ini ia mengalami kegaguan saat menghadapi orang.


KREEEK.....!


Pintu berderit. Sontak Vanya dan Faaz yang berada di dalam mengerahkan manik matanya ke ambang pintu dimana dua laki-laki berdiri.


Vanya langsung rikuh. Terlebih saat tahu siapa laki-laki yang berdiri di sebelah Edward.


"Selamat sore Pak..." ucap Faaz sambil berdiri dan memberikan kursi yang didudukinya kepada Edward.


"Jangan sungkan, nak Faaz. Silahkan duduk..."


"Tidak begitu, Pak. Bapak lebih tua dari saya, masa saya yang duduk ongkang-ongkang. Hehe..." ucap Faaz diakhiri dengan tawa.


"Wah, baik sekali dokter Faaz ini lah. Terima kasih..."


"Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya permisi dahulu, Pak. Vanya jangan lupa istirahat ya..." ucap Faaz sambil melangkah.


"Sepertinya tidak ada peluang untuk mu, El..." bisik Faaz saat melewati Elvano.


"Sepertinya begitu..." ucap Elvano.


Sungguh pun demikian, hati Elvano beriak. Separuh hatinya berontak atas kenyataan yang harus ia hadapi. Sementara separuh lagi berusaha mendamaikan segala gejolak yang ada.


"Ya, Tuhan. Tolonglah aku. Kuatkan aku..." batin Elvano.


"Duduklah kak..." ucap Vanya sedikit rikuh.


Tanpa membalas ucapan Vanya, Elvano pun duduk di kursi yang baru saja di sodorkan gadis yang ia cintai itu. Elvano menatap laki-laki tak berdaya yang terbaring itu. Hatinya kian beriak kala mengingat ucapan Vanya kepada Faaz. Sebuah pengakuan tak langsung tentang bagaimana perasaannya yang sebenarnya terhadap Ryu, kakak kandung dari Arumi.


"Kau beruntung, Ryu. Gadis yang selama ini aku cintai nyatanya sangat mencintaimu. Aku kalah. Aku mengakui itu. Semoga kalian bahagia..." batin Elvano.


"Aku pamit. Ryu sudah baik-baik saja..." ucap Elvano tiba-tiba.


Tanpa menunggu balasan kata dari Vanya atau Edward, Elvano langsung melangkah meninggalkan ruang perawatan.


"Tunggu, Kak..." ucap Vanya.


Elvano tetap melangkah tanpa menghiraukan cegahan Vanya.


"Inikah rasa egois ku? Mengapa aku tak menghiraukan cegahan Vanya? Ah, entahlah...Aku hanya ingin segera pergi menjauhi keduanya. Sebab kebersamaan keduanya jelas melukai perasaan ku, walaupun aku sudah mengaku kalah dan berusaha mengikhlaskannya..." batin Elvano.