
Keive melangkah menuju private room. Dengan tangan yang menggaet sempurna lengan Keive, Andrea larut dalam langkah Keive. Hingga di sebuah sudut ruangan, barulah Andrea mengurai genggaman tangannya. Dan seakan tak ingin jauh dari Keive, Andrea duduk dekat di sebelah Keive.
"Ans, apakah kau tidak menyukai ku..?" tanya Andrea bernada manja.
"Gila...Luar biasa sekali. Sudah tak memiliki rasa malu lagi rupanya kau, Andrea..." batin Keive.
"Ans...." panggil saat tak mendapat respon Keive.
"Menurut mu...?"
"Ayolah...Katakan"
"Untuk apa, An. Yang terpenting aku ada untuk mu.."
"Owh...so sweet"
"Apakah kau mencintaiku, An?"
"Tentu saja..."
"Aku tidak percaya..."
"Walau baru satu pekan tapi aku sudah merasakan rasa itu..."
"Secepat itukah...?"
"Kau baik, tampan, sopan...Kau tipe ku, Ans..."
"Aku tidak percaya. Aku butuh bukti"
"Bagaimana aku harus membuktikannya? Apa aku harus menari striptis? Atau bermalam dengan mu dahulu?" ucap Andrea sambil bergelayut manja.
"Ogah. Melihat mu saja aku sudah muak..." batin Keive.
"Mungkin. Jika kau ingin membuktikannya datanglah ke hotel S. Pukul tujuh malam. Ok, cantik?" ucap Keive sambil mencubit hidung bangir Andrea.
"Kau mau kemana?" ucap Andrea bernada manja. Tangannya berayun-ayun memegang tangan Keive.
"Hei...kekayaan ku mungkin tak terhitung, tapi semua itu ku dapat bukan dengan memejamkan mata. Aku mendapatkannya dengan kerja keras. Dan sekarang saat berhasil, aku harus tetap mempertahankannya..."
"Hehe...iya, juga. Aku pun akan ke kantor. Aku juga harus mempertahankan hasil kerja keras ku"
"Kerja keras menipu, maksud mu? Cih...."
"Nah, yuk. Oya, aku tunggu malam nanti"
"Aku akan datang..."
"Ingat...Hotel S, jam tujuh. Berdandan lah yang cantik. Akan ada rekanan bisnis di sana" bisik Keive yang di balas Andrea dengan senyumnya.
"Rekanan bisnis...?"
Keive pun meninggalkan private room terlebih dahulu ketimbang Andrea. Langkah panjangnya terus ditatapi Andrea dengan senyuman yang sulit dimaknai.
"Kau akan bertekuk lutut malam nanti, Ans. Aku akan menguras semua kekayaan mu. Roy, akan ku balas penghinaan mu selama kita menjadi suami istri. Aku lebih kaya dari mu" batin Andrea.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Ar, kak Ryu...."
Kata Vanya menjadi hilang. Katanya kalah dengan keributan bulir bening pada matanya. Vanya di rundung kecewa. Hatinya beriak. Ia tak dapat menerima kenyataan akan hal yang menimpa Ryu. Yah, walaupun Ryu sudah menyakiti hatinya saat menolak perasaan setahun lalu,. namun tetap saja hatinya tak rela membiarkan Ryu di rundung masalah. Apalagi penyebabnya adalah rival-nya.
"Bagaimana caranya agar kita mendapatkan bukti pelaku sebenarnya? Aku yakin ada yang membantu Andrea hingga ia dapat melancarkan aksinya" ucap Arumi.
"Aku bisa membantu..."
"Ini kalimat yang sedang aku tunggu sejak tadi..."
"Ah, kebiasaan nieh..."
"Hehe... bagaimana caranya?"
"Tumben otak lu mampet.."
"Ish, sialan..."
"Hehe...Begini, aku akan menyusup ke perusahaan kak Ryu. Aku akan mencari bukti..."
"Dan aku yakin pelakunya adalah orang yang paling diuntungkan dari pemboikotan perusahaan kak Ryu"
"Betul. Tapi...Em, apa kak Mirza tidak bisa membantu kak Ryu. Buat bangkrut perusahan kak Ryu misalnya untuk kemudian diambil alih. Lalu dikembalikan dech..."
"Bisa. Tapi kak Mirza punya cara yang lebih halus untuk itu"
"Ow, begitu..."
"Jadi kau tinggal mencari bukti di perusahaan tersebut, siapa saja yang terlibat dalam proses penulisan rencana jahat Andrea..."
"Ok. Siap..." ucap Vanya.
Sebelah tangan ya memberi hormat. Dan hal tersebut tentu saja membuat Arumi tertawa.
"Dasar semprul..." ucap Arumi sambil menarik hidung bangir Vanya.
"Aduh, duh....sakit, Ar. Hidung tulen nieh, bukan operasian" ucap Vanya sambil mengusap-usap hidungnya.
"Walah...Iya juga ya. Haha...."
"Arumi tertawa begitu lepas. Pun demikian, jelas aku melihat kekhawatiran di sudut tatapan mu. Dan kita sama, Ar. Mengkhawatirkan orang yang kita sayangi, Kak Ryu. Dan aku akan membantu membebaskan kak Ryu. Aku pastikan itu..." batin Vanya.
"Selamat siang, Nyonya..."
Sebuah suara baru saja menyapa Arumi. Dan perempuan 150 cm itu langsung mengalihkan perhatiannya. Dengan senyum khasnya, Arumi menatap wajah laki-laki yang baru saja menyapanya.
"Siang kak Elvano..."
"Egh...kak Elvano?" ucap Vanya dengan mengangkat wajahnya.
"Vanya...?" ucap Elvano yang baru menyadari kehadiran Vanya.
"Apa kabar, Kak El...?"
"Em, semalam..."
"Perasaan itu muncul kembali. Nya,
"Semalam? Kok tidak ada info. Hei, belum laporan ke kantor juga"
"Haha...masih ada satu hari kak jatah ku beristirahat. Dan aku ingin memanfaatkannya dengan bersama Arumi..."
"Ow, begitu ya. Dasar gadis nakal..." ucap Elvano.
Sebelah tangannya mengusek pucuk kepala Vanya. Dan hal tersebut sukses membuat Vanya sedikit salah tingkah, apalagi saat di tatap Arumi.
"Oya, kak El ada apa mencari ku...?'
"Saya menyampaikan pesan dari tuan Mirza"
"Pesan...? Et dah...zaman sudah canggih masih saja mengirim pesan lewat orang. Ga sekalian lewat burung merpati..."
"Vanya..."
"Ide bagus. Nanti aku saran kan pada tuan Mirza agar menggunakan burung merpati. Haha..."
"Sudah...sudah. Jadi apa pesannya"
"Ini..." ucap Elvano singkat.
Tangannya menyodorkan sebuah paper bag berwarna navy. Arumi menatap Elvano. Di ujung tatapannya jelas ada tanya.
"Apa ini, kak...?"
"Bos ingin Nyonya memakai ini nanti malam.."
"Acara bisnis...?"
"Ya, Nyonya..."
"Baiklah. Tapi...kak Mirza tidak bisa memberikannya secara langsung sepulang kerja nanti?"
"Khawatir pulang terlambat, karenanya tuan meminta saya menyampaikannya terlebih dahulu kepada Nyonya..."
Arumi terdiam. Ada seulas senyum yang ia diam-diam ia simpan.
Drrt.
Drrt.
Drrt.
Ponsel Arumi berpendar. Dan lagi-lagi seulas senyum ia umbar. Kali cukup lebar. Hal tersebut saat ia mengetahui siapa orang di ujung teleponnya.
"Assalamu'alaikum...,Kak?"
"Wa'alaikumussalam....sayang. Pesan ku sudah sampai?"
"Sudah...."
"Kau suka..."
"Warnanya aku suka. Maroon...Kalau model aki belum tahu, sebab aku belum membukanya. Tapi aku yakin, semua pilihan suami ku akan bagus dan cocok untuk ku pakai"
"Oya...? Wah, belajar darimana gombalan seperti itu. Hehe..."
"Dari kak Elvano, tidak mungkin. Vanya juga tidak. Kakak apalagi. Entahlah...aku darimana aku dapatkannya. Hehe..."
"Hehe..."
"Baiklah, sampai bertemu sore nanti sayang...."
"Sampai bertemu sore nanti..."
"Love you..."
"Ya, Kak..."
"Hei, jawab dahulu..."
"Malu, Kak. Ada Vanya dan kak El.."
"Aki tak peduli...!" ucap Mirza dengan suara meninggi.
Hal tersebut tentu saja membuat Arumi harus sedikit menjauhkan ponsel dadi telinganya.
"Ya, Kak..."
"Cepat katakan...!"
"Kok maksa banget sih...."
"Hei...kau istri ku. Apa aku tidak boleh mendengar ucapan cinta dari istri ku sendiri?!" lagi-lagi suara Mirza meninggi.
"Astaga...."
"Cepat...!"
"Ya, kak. Love you to..."
"Kok seperti tidak ikhlas begitu...?"
"Ikhlas kok, Kak. Dengan segenap jiwa dan raga ku..."
"Ya, sudah..." ucap Mirza sesaat sebelum menutup ponselnya.
"Astaga...Dasar singa"
"Kenapa, singa lagi ngamuk ya...?" ucap Elvano cengengesan.
"Belum jinak juga tuh singa..."
"Hehe..."