
Arumi berdiri di balkon kamar. Matanya menerawang jauh. Beberapa kenangan kembali menari-nari di pelupuk matanya. Kenangan akan ayah dan ibunya. Bagaimana ayahnya saat menimangnya, menyuapinya dan turut meninabobokan dirinya bersama ibunya. Sungguh tiada terbersit bahwa Permana bukanlah ayah kandungnya. Saat hanya ada bahagia yang dirasa Arumi sebagai anak dari keluarga yang utuh.
Kini hanya ada sedih yang melingkupi hati Arumi. Hidupnya terasa sendiri. Satu persatu orang yang ia sayang pergi meninggalkannya. Pertama ibunya, kini ayahnya walau bukan kandungnya. Pun demikian kandung atau bukan, rasa sedih itu tetaplah sama terasa.
Arumi berulangkali menghela nafas panjang. Helaannya seiring bulir bening yang kian berani terjun bebas menjadi tangis yang berkepanjangan. Di balkon kamar itu, Arumi benar-benar mengenang kembali waktu terakhir bersama Permana, ayahnya. Suka dan duka silih berganti bermain dalam ingatannya saat itu. Hingga ia tak menyadari ada seorang laki-laki yang sejak tadi berdiri di belakangnya. Laki-laki yang sejak tadi sudah memperlihatkan dengan penuh perasaan. Hilang sudah tatapan tajam dari mata gelapnya.
"Sayang..." sapa Mirza.
Tangan kekarnya dikalungkan memeluk tubuh tambun Arumi. Sesekali ujung bibirnya mengecup lembut pucuk kepala Arumi. Perempuan yang kini sudah menjadi istrinya itu.
Mirza gamang. Selain mendekap perempuan yang ia cintai itu, Mirza tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi. Mirza menjadi bungkam bahkan untuk sekedar berucap mengurangi sedih istrinya itu. Mirza hanya memeluk Arumi yang masih berguncang hebat itu dengan erat. Memanglah benar terkadang dekapan lebih ampuh ketimbang kata saat sedih menyelimuti jiwa.
Tok.
Tok.
Tok.
Pintu kamar diketuk. Mirza pun langsung melonggarkan dekapannya dan membuka pintu.
"Maaf, Tuan. Makan malamnya sudah siap. Ingin dibawakan ke kamar atau bagaimana?" ucap seorang asisten rumah tangga.
Belum lagi menjawab, Mirza justru dikejutkan dengan suara yang amat ia kenal. Sehingga kata yang sudah di ujung lidah pun kembali menghilang.
"Kami akan turun, mbak Nah..." ucap Arumi sambil tersenyum.
Mata sembabnya menatap Nah, salah satu asisten rumah tangga keluarga Mirza. Tatapan itu berakhir pada Mirza. Laki-laki tampan yang ia cintai itu. Arumi pun menggaet lengan Mirza dan menggelayutinya dengan manja.
"Kami akan turun, mbak..." ulang Mirza sesuai ucapan Arumi yang bak perintah itu.
"Baik Tuan, Nyonya..." ucap Nah sesaat sebelum berlalu.
Setelah pintu tertutup. Mirza menatap Arumi lekat. Kedua tangannya menangkup wajah Arumi. Senyum khasnya pun terbit dari ujung bibirnya.
"Kau yakin, sayang...?"
Arumi Tiada kata. Ia menjawabnya dengan anggukan kecil kepala saja sambil tersenyum semanis mungkin untuk meyakinkan laki-lakinya itu.
CUP....
"Terima kasih sudah menjadi istri ku..." ucap Mirza sambil merengkuh tubuh Arumi ke dalam dekapannya.
"Terima kasih juga sudah menjadi suami ku..." ucap Arumi semakin membenamkan kepalanya dalam dada Mirza. Sesaat keduanya melepas segala rasa yang ada dalam dekapan yang menghangatkan itu.
"Kita ke bawah, Sayang..." ucap Mirza sambil melonggarkan dekapannya.
"Ya, Kak..." ucap Arumi cepat.
Setelah menutup pintu besar berukir itu, keduanya melangkah menuruni anak tangga yang mengular dengan beriringan. Langkah nya begitu ringan. Dalam iringan langkah itupun, keduanya terlihat bergandengan tangan. Sepasang sejoli itu tampak serasi dengan senyum khasnya masing-masing.
Arumi yang menyimpan sedih berusaha sekuat mungkin menahan air matanya. Ia tidak ingin membuat keluarga barunya itu pun turut larut dalam sedihnya terlalu lama. Dan ia pun tidak ingin terlihat lemah di mata suami dan keluarganya itu.
"Wah, pengantin baru nya sudah datang. Mari duduk di sini..." ucap Dania kepada Arumi dengan senyum khasnya.
"Ya, Ma. Em, maafkan Arumi jika terkesan mengabaikan mama dan papa..."
"Sama sekali tidak, sayang. Mama dan papa bisa mengerti situasi mu saat ini. Kuat ya, sayang..."
"Ya, Ma...Terima kasih"
"Nah, Arumi... selamat datang di keluarga kami. Maaf belum ada penyambutan yang istimewa, karena memang situasinya tidak mendukung..." ucap William.
"Arumi sudah disambut dengan istimewa kok. Senyum papa dan mama adalah sambutan paling istimewa bagi Arumi. Terima kasih..."
"Mama yang merasa istimewa karena mendapat anak perempuan seperti mu, sayang..."
"Sudahkah saling memuji dan berterima kasih nya? Sudah lapar nieh..."
"Elvano bin mail bin Jabir....!" ucap Dania.
"Hahaha....."
Semua tertawa mendapati wajah Elvano yang tampak menggemaskan itu.
"Dasar bayi bongsor. Merusak suasana saja..."
"Hehe...sorry, Bos"