150 Cm

150 Cm
Episode 108. Pecinta Sejati



Aku..Aku tidak mengerti mengapa kau mencintai perempuan yang penuh kekurangan ini?"


"Cinta tak perlu alasan, Ar. Akh...!"


"Keive....!" teriak Arumi saat erangan Keive terdengar.


Sesaat kemudian, tubuh kekar itu pun lesu. Tangan yang semula menggenggam erat jemari Arumi pun kini lunglai. Arumi membekap mulutnya sendiri. Bersamaan dengan itu bulir bening pun meninggalkan relung matanya.


"Keive..." ucap Arumi.


"Sayang...." ucap Mirza yang langsung merengkuh Arumi dan membawanya dalam dekapannya.


"Apakah Keive akan pergi dengan cara seperti ini, Kak..?"


Deg.


"Aku...Aku tidak tahu, Ar. Karena semua sudah ada yang mengatur. Akan jauh lebih baik, jika kita berdoa"


Lama Arumi mengurai air mata. Ia terlampau jauh berspekulasi atas Keive, laki-laki yang sudah menyelamatkan hidupnya.


"Sayang, sudahlah. Jika kau terlalu memikirkan Keive, maka bisa saja aku menjadi cemburu..."


"Bisa-bisanya kakak berfikiran tuk cemburu. Aku hanya..." kata Arumi hilang saat kedua tangan Mirza menangkup wajahnya.


"Dengar..." ucap Mirza sambil menatap jauh ke dalam mata indah milik Arumi.


"Kau hanya milik ku. Dan aku sudah menjadi milik mu. Hubungan kita bukan hanya sebatas kata lagi. Tapi...perasaan cemburu seorang laki-laki adalah wujud cintanya terhadap perempuannya dalam hidupnya..."


"Ya..Tapi bukan cemburu buta kan...? Keive itu sudah menyelamatkan ku dari terjangan peluru. Mestinya kakak berterima kasih atas tindakannya itu"


"Haha...Nyonya Mirza Adyatma. Tentu saja aku sangat berterima kasih kepada Keive. Tapi air mata mu ini telah membuatku cemburu. Karena kau begitu mencemaskan laki-laki lain ketimbang aku. Walau aku tahu bagaimana perasaan mu, namun tetap saja aku cemburu" ucap Mirza sambil mengusap air mata yang membasuh wajah cantik Arumi.


"Oya, bagaimana luka mu sendiri? Apa itu sakit...?"


"Jika di hadapan suami ku mana bisa aku berdusta. Ini sakit sekali, kak..." ucap Arumi bernada sedikit manja.


"Haah...!" dengus Mirza dibarengi dengan senyum tipisnya.


Sebelah tangannya menepuk pangkuannya. Arumi terdiam. Ia menatap Mirza.


"Kenapa...? Aku suami mu. Cepat kemarilah..."


Arumi begitu ragu meluluskan permintaan suaminya yang bak perintah itu. Namun belum lagi ia sempurna meluluskan permintaan itu, suara seorang laki-laki mengusiknya.


"Ah, terselamatkan juga aku. Hehe..." batin Arumi.


"Sungguh adik tak berakhlak. Kakaknya hampir tewas, dia malah mencemaskan orang lain. Sudah itu bermesraan lagi, bukannya memberi perhatian kepada kakaknya" ucap Arya bernada sindiran.


Sontak Arumi mengalihkan perhatiannya kepada si empunya suara.


"Tapi ga tewas kan?"


"Ow, dasar kutu kupret...! Kau mengharapkan kakak mu ini tewas?!"


"Hehe...ga donk. Sini mana yang sakit, sayang..." ucap Arumi bak bicara dengan seorang bocah.


"Auk...!" ucap Arya bernada kesal.


Arya pun berlalu meninggalkan Arumi. Langkahnya menuju Sonia yang tengah duduk pada tepi brankar dekat kendaraan team medis.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Mami tak percaya atas semua tindakan yang diambil Andrea. Mami tidak tahu lagi bagaimana anak perempuan mami itu. Sungguh mami kecewa atas semua..." keluh Sonia sesaat setelah Arya turut duduk di sebelahnya.


"Mi, sejak dahulu pun Arya sudah memberitahu mami. Tapi mami tak menggubrisnya, karena mami lebih percaya Andrea ketimbang Arya..."


"Maafkan mami, Arya..."


"Sekarang semuanya telah menjadi kacau. Bahkan kacau sekali..."


"Ya, mami kecewa sekali terhadap Andrea. Sama kecewanya terhadap papi mu dahulu..."


"Mengapa mami menyebutnya? Aku jadi kembali merasakan amarahku terhadapnya.."


"Ar, walau bagaimanapun ia papi mu. Ada darahnya yang mengalir di tubuh mu...."


"Cih...! Laki pengecut sepertinya tak pantas jadi ayah ku. Kalau bisa ku ganti darah yang mengalir ini, maka akan aku lakukan..." ucap Arya penuh amarah.


Arya menatap langit yang masih gelap. Hanya temaram cahaya bulan yang memenuhi sebagian langit. Arya me


"Mi, lebih baik jika kita meminta maaf pada Arumi dan keluarga. Karena sejak dahulu, Arumi lah yang selalu menjadi korban Andrea..."


"Pasti mami lakukan itu. Haaah...Mas Permana maafkan aku. Aku belum dapat menepati janji ku. Menjadi ibu yang baik tuk Arumi. Maafkan aku, Mas..." ucap Sonia yang kini sudah terisak.


"Mi...sudahlah. Semoga kita mendapat jalan yang terbaik" ucap Arya menenangkan.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Pagi menjelang. Mirza duduk dekat brankar dimana Arumi berada. Walau sudah berulangkali Arumi mengatakan bahwa ia baik-baik saja, namun Mirza tetap bersikukuh agar Arumi di rawat di MA Hospital.


Mata Mirza menilik wajah cantik Arumi yang masih terlelap. Sesekali matanya menatap perban yang melekat pada luka di lengan kanan Arumi. Hati nya beriak melihat kondisi perempuan yang sangat ia cintai itu.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Mirza berpendar. Dan ia pun langsung mengeluarkan benda pipih berwarna hitam itu dari balik jaketnya.


"Tuan, bagaimana dengan dua meeting yang harusnya tuan hadiri esok dan lusa? Re-schedule...?"


"Jika bisa di re-schedule itu akan lebih baik. Tapi jika tidak, maka batalkan saja..."


"Waduh....Tuan. Bagaimana jika meeting secara daring?"


"Good...Tawarkan segala kemungkinan dan atur segala sesuatunya"


"Siap, Bos..."


"Terima kasih, El..."


"Ah, Tuan. Jadi malu nieh..."


"Lebay...."


"Haha....." tawa keduanya diakhir percakapan.


"Seru sekali tawanya, Kak. Jadi penasaran apa yang diobrolkan..."


"Hei, sayang. Biasa Elvano. Ucapan dsn tingkahnya kadang membuat ku tertawa"


"Kak El belum pulang?"


"Belum. Masih ada beberapa hal yang mesti diselesaikan terlebih dahulu. Kenapa...?"


"Kasihan kak El. Cintanya masih bertepuk sebelah tangan. Vanya ternyata masih mencintai kak Ryu..."


"Mau bagaimana lagi, Ar. Sudah ku kenalkan dengan gadis-gadis cantik tetap saja tidak ada yang berhasil nyantol..."


Kata Mirza terhenti saat menyadari mata indah Arumi tengah membulat sempurna menatapnya.


"Apa...?" tanya Mirza bingung atas perilaku Arumi tersebut.


"Jadi di luaran sana kakak mengenalkan kak El ke banyak gadis-gadis cantik? Banyak stock nya? Sudah mulai jadi Casanova?"


"Apaan sih, sayang. Aku melakukannya untuk Elvano, bukan untuk ku"


"Sama saja. Kakak juga pasti turut serta menemuinya...'


"Sayang...aku tidak seperti itu. Aku hanya milik mu"


"Talk to my hand...!"


Tangan Arumi terentang tepat di depan wajah tampan Mirza. Sementara ia sendiri memalingkan wajah ke arah lain. Sebuah drama tengah ia mainkan dengan sutradara dan peran utama adalah dirinya. Arumi ingin tahu reaksi Mirza jika di hadapkan pada situasi tersebut.


"Aku yakin kak Mirza akan mencak-mencak karena diperlakukan demikian. Aku yakin..." batin Arumi.


Namun di luar dugaan Arumi, Mirza meraih tangannya itu dan berkata,


"Wahai tangan dari perempuan yang aku cintai, aku tidak sepeti itu. Aku adalah pecinta sejati. pecinta sejati hanya memiliki satu, tak lebih" ucap Mirza pada telapak tangan Arumi.


Cup.


Cup.


Cup.


Mirza mengecup berulangkali tangan Arumi.


"Maaf ya, sudah membuat mu resah. Tapi aku tak kan pernah mampu berpaling dari mu, sayang..."


Deg.


Deg.


Deg.