150 Cm

150 Cm
Episode 124. Cinta yang sebenarnya



"Dia anak ku...!"


"Anak..?! Jika kau ayahnya mengapa kau tega akan menghabisinya..."


"Itu urusanku...!!"


"Itu juga menjadi urusan ku...!!"


"Urusan mu. Hoho...rupanya kau sudah menjadi pelindung Shereen. Atau jangan-jangan kau pun turut andil dalam menghadirkan anak ini? Hah..!"


"Jaga bicara mu...! Aku bukan diri mu yang senang bercocok tanam, setelah itu ditinggalkan. Aku bukan pengecut seperti mu..."


"Ah, kau sudah terlalu banyak bicara...!


BUK...!


BUK...!


DUAK...!


"Akh.....!!"


King dan Ken terlibat adu jotos. Keduanya beradu strategi demi mendapatkan baby Kalila. Ini pertarungan yang bukan main-main, sebab keduanya mengeluarkan jurus-jurus maut yang sebenarnya sulit dipatahkan. Sementara itu, baby Kalila yang berada dalam buaian King tampak tenang saja walau tubuhnya kadang terguncang ataupun berayun. Baby Kalila bak mengerti bahwa diperlukan sebuah ketenangan untuk menghadapi sikap brutal Ken. Juga kesabaran dalam menghadapi tutur kata tak menyenangkan yang selalu saja terlontar dari hati dan fikiran Ken. Juga keberanian untuk menghadapi segala polah gila Ken, yang sejatinya adalah ayah kandungnya.


Dan di suatu kesempatan King berhasil menyarangkan pukulan dan sapuan kakinya. Ken sendiri hilang konsentrasi saat sepintas manik matanya menatap baby Kalila yang begitu tenang dalam buaian King. Ken kurang menyadari datangnya serangan tersebut. Laki-laki yang tengah dipenuhi niat jahat itu pun tersungkur.


Wajah Ken kian beringas. Bagaimana tidak, ia dikalahkan oleh King hanya dengan tangan satu. Sebenarnya tiada lah maksud King demikian. Semua karena baby Kalila berada di tangan lainnya. Namun hal tersebut tentu saja telah melukai harga diri Ken.


"Bangsat....!!" ucap Ken bringas.


Ken pun bermaksud kembali melancarkan jurus-jurus mematikannya, namun urung. Hal tersebut karena suara seorang begitu berkarisma mengisi udara saat itu.


"Cukup....!!" ucap laki-laki itu.


Wajah tampannya tampak khas dengan kilat mata yang begitu tajam. Mata yang bak elang mendapati mangsa. Mata yang selalu sukses membuat bergidik siapa saja yang mendapatinya.


Sesuai prediksi, semua perhatian tertuju padanya. Tak terkecuali Ken yang tengah berdiri dengan sikap kuda-kuda siap dengan jurusnya.


"Tuan...." ucap Dewa.


"Dokter segera bawa Shereen dan baby nya ke MA Hospital. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada keduanya" ucap Mirza.


Suaranya begitu datar, namun cukup membuat kecut semua yang ada.


"GLEKK....sial, Mirza Adyatma" batin Ken sesaat setelah menelan salivanya.


"Baik, Tuan..." ucap dokter.


Raung sirine pun langsung memecah suasana saat itu. Ditambah lagi, lajunya


"Apa kabar, Ken? Lama tak bertemu. Aku berharap hari ini adalah pertemuan kita yang terakhir. Besok atau kapan pun itu, aku tidak ingin kau berada di sekitar keluarga ku. Termasuk Shereen dan baby nya..."


"Apa....?!" batin Ken.


Jelas Ken terkesiap dengan perkataan Mirza barusan. Pengusaha muda sukses itu baru saja membuat statement yang membuat darah berdesir cepat.


"Jika masih saja kau mengusik kehidupan keluarga ku, maka aku tak segan-segan akan membuat hidup mu mati segan hidup pun tak mau...."


GLEKK...


Lagi-lagi Ken menelan salivanya. Ia kian kecut. Ia tahu bagaimana tabiat pengusaha muda nan sukses itu dalam menghadapi setiap permasalahan yang berkenaan dengan keluarganya.


"Pergilah...." ucap Mirza datar dengan wajah dingin.


Bak seorang pengendara mendapati lampu hijau saat di jalanan, Ken langsung memutar tubuh dan berlalu meninggalkan area tebing tersebut.


"Hari ini kamu menang, Shereen. Tapi aku tidak akan pernah tinggal diam. Aku pastikan suatu saat nanti anak mu akan aku renggut dari buaian mu..." batin Ken di sela langkah cepatnya.


"Dan Mirza Adyatma...suatu saat nanti kau akan bertekuk lutut di hadapan ku. Kau akan menyembahku, memohon ampunan dan pertolongan ku. Ingat itu...." batin Ken kembali bergejolak.


"Ikuti segala perkembangan Shereen dan King. Setelah membaik bawa ke rumah. Biarkan dia menempati salah satu kamar di paviliun kamar ku" ucap Mirza.


"Tapi...Tuan" ucap Dewa ragu.


"Baik, Tuan..." ucap Dewa.


Mata Dewa menatap ke arah sosok perempuan yang baru saja keluar mobil mewah berwarna silver. Langkahnya gontai. Wajahnya mengurai senyum walau tampak pasi.


"Nyonya..." ucap Dewa.


Bodyguard tampan itu menjura takzim ketika Arumi tengah berdiri di sebelah Mirza.


"Kenapa keluar, sayang. Situasi terkendali..."


"Ya, Nyonya. Semua aman..." ucap Dewa.


"Syukurlah..." ucap Arumi dengan senyum khasnya.


Mirza Menatap Arumi yang berdiri di sebelahnya. Mirza tersenyum saat ia mendapati perempuan 150 cm itu tengah mengedarkan mata seluas area tebing.


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang ganjil...?" bisik Mirza.


"Tidak. Aku hanya menatapi liukan pepohonan yang diterpa angin itu..." ucap Arumi.


"Oya...?" ucap Mirza sambil tersenyum.


Tangannya merengkuh bahu Arumi. Dan membawanya dalam dekapannya. Sebuah kecupan pun ia hadiahkan pada pucuk kepala perempuan 150 cm yang dahulu tambun itu.


"Kita pulang ya, sayang. Kita nanti kabar perkembangan Shereen dan baby dari rumah saja"


"Baiklah. Tapi pastikan dahulu keselamatan keduanya..."


"Sayang...apa kau meragukan suami tampan mu ini?" ucap Mirza.


"Ow, baiklah. Aku akan merasa sedih jika keduanya mengalami sesuatu. Terlebih baby Kalila. Baby itu tak bersalah sedikit pun..."


"Ya, sayang. Em, nanti setelah mendapat perawatan intensif di MA Hospital, keduanya akan tinggal di paviliun rumah kita untuk sementara waktu"


Wajah Arumi terangkat. Kata Mirza telah menarik perhatiannya.


"Sungguh...?"


"Tentu saja. Apa kau tidak mempercayaiku..?" ucap Mirza sambil membalas tatapan Arumi.


"Aku percaya. Aku hanya ingin meyakinkan saja..."


"Kita pulang ya. Ingin ku gendong?" ucap Mirza dengan nada menggoda.


"Apa tidak apa-apa...?"


"Kenapa harus kenapa-kenapa...?" ucap Mirza.


Tangannya langsung merengkuh tubuh Arumi. Ia mengangkatnya dengan cepat.. Perempuan 150 cm itu sempat terkesiap. Tangannya dengan sigap dikalungkan pada leher suami tampangnya itu.


"Malu, Kak..."


"Kenapa malu. Kita syah di mata hukum dan agama..." ucap Mirza sambil melangkah menuju mobil mewahnya.


"Ah, si bos..." ucap Elvano.


Manik matanya mengitari rongga matanya. Ada rasa yang tak dapat diungkap kata saat menyaksikan laki-laki tampan itu melakukan itu. Tatapan Elvano beradu dengan Dewa yang sesaat lalu juga sempat menatapi polah tuan besarnya itu.


"Aku bahagia melihat tuan Mirza sudah menemukan tambatan hatinya" ucap Dewa.


"Ya, gunung Himalaya nya sudah mencair. Hehe..." ucap Elvano diakhiri tawa.


"Betul sekali. Melihat bagaimana tuan memperlakukan nyonya, hati ini dibuatnya bahagia berlipat ganda. Ku kira tuan akan sedingin puncak Himalaya hingga di penghujung hayat, tapi ternyata aku salah. Tuan tidak bisa mengelak dari kehangatan cinta nyonya Arumi..."


"Ya, siapa sangka tuan menemukan ketenangan cinta bersama perempuan yang awalnya ia menjadi cemoohan banyak orang..."


"Ya, dan itulah cinta sejati. Cinta yang sebenarnya...Semoga keduanya bahagia selalu..."


"Aamiin..."