150 Cm

150 Cm
Episode 43. Proposal



Jangan lupa besok siang...!!!" teriak Mirza sambil masuk ke dalam mobil dan melaju pergi.


"Iiiihh...kesel! Laki-laki kok seenaknya saja. Awas ya...!" ucap Arumi.


Arumi pun langsung melangkah cepat menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Arumi langsung menuju meja dimana laptop berada.


Sesaat kemudian, laptop pun berpendar. Sejenak mata Arumi menatap lukisan yang tergantung di dinding kamar sebelum ia memulai membuat proposal seperti yang diminta Mirza.


Jemari Arumi begitu lihai menekan tuts pada keyboard. Sementara matanya menatap layar dengan cermat. Hampir dua jam, Arumi bergelut dengan kata hingga tersusun menjadi sebuah ungkapan pemikiran yang brilliant.


Arumi tersenyum saat berhasil menyelesaikan proposal pagelaran seni lukis.


"Semoga berjalan lancar..." gumam Arumi.


Tangannya menutup laptop dan beranjak ke tempat tidur. Rasa kantuk rupanya sudah mulai menghantuinya. Hampir terlelap Arumi dalam mimpi indahnya saat suara ponsel mengejutkan sukmanya dan mengembalikan sedikit kesadarannya.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Arumi berpendar. Tangan Arumi mulai bergerak mencari letak ponsel. Kali ini sebuah pesan tertera di sana.


"Apa sudah selesai? Jangan lupa esok siang serahkan padaku..." pesan Mirza.


"Ya, Tuan Mirza Adyatma..."


"Hahaha....belum tidur, sayang?'


"Sudah. Tapi terganggu oleh sebuah pesan..."


"Haha...Maaf. Kalau begitu selamat tidur istriku yang cantik, baik, pintar dan selalu membuatku bahagia. Aku mencintai mu..."


"Selamat tidur juga calon imamku yang tampan, baik, pintar dan menyebalkan. Aku juga mencintai mu..."


🌸🌸🌸🌸🌸


Sementara itu diwaktu yang sama, tempat yang berbeda. Tepatnya dalam kamar di balkon.


"Haha...."


Mirza tertawa saat menerima balasan pesan dari Arumi. Berulangkali ia membaca pesan tersebut. Dan berulangkali juga ia tertawa seusai membaca tiap deret kata yang tertera pada layar ponselnya.


"Aku menyebalkan? Tapi biar menyebalkan ia tetap mencintaiku. Sungguh gadis yang unik. Haha..." gumam Mirza.


Mirza menutup pintu balkon, merapikan gorden dan mulai merebahkan tubuhnya. Di tariknya selimut menutupi seluruh tubuh hingga dada. Matanya mulai terpejam. Pun demikian, Mirza tak dapat lelap masuk dalam mimpinya. Fikirannya masih mengembara jauh menyusuri keping kenangan yang membuatnya tersenyum.


"Aku mencintai mu, Arumi. Aku mencintai mu. Sungguh aku mencintai mu. Sangat mencintai mu. Hanya diri mu. Kau hanya milik ku..." gumam Mirza dengan mata terpejam.


"Aku juga sangat mencintai mu, Pak Mirza..."


Mirza terkesiap saat mendengar suara yang begitu nyata mampir di daun telinganya. Sontak Mirza membuka mata. Bukan mata biasa tapi mata yang membulat sempurna saat melihat soosk di dekatnya.


"Astaga...Dasar kutu kupret...!!"


"Aku mencintai mu, Arumi. Aku mencintai mu. Bhuahaha...." ucap Elvano menirukan Mirza.


Merah padam wajah Mirza mendapat godaan Elvano. Tak henti-hentinya ia mengatai Elvano.


"Dasar kutu kupret...! Sahabat ga da akhlak...! Pegawai da tahu diuntung...! Kemari kau...!" ucap Mirza dengan wajah bak kepiting direbus.


"Ampun, Bos. Ampyuun...!" ucap Elvano sambil menghindari terkaman Mirza.


Hingga di suatu kesempatan Elvano berhasil menerkam Elvano dan membawanya di bawah dekapan lengan kekarnya.


"Huweek...." ucap Elvano berekspresi muntah.


"Berapa hari ga mandi, Bos? Nieh ketek bau amat yah..."


"Sembarangan. Segini sudah super tampan dan wangi seenaknya kau mengatai ku bau. Mulut mu tuh ga jauh dari hidung..."


"Hahaha...." keduanya tertawa mengakhiri sikap kekanakan yang barusan ditunjukkan.


"Ada apa malam-malam ke sini? Mengganggu saja..."


"Kangen sama, Bos..."


"Ish, Najis. Ogah...!"


"Hahaha...." Tawa keduanya kembali pecah.


🌸🌸🌸🌸🌸


Pukul Sebelas lewat lima belas menit. Arumi menjejakkan kaki di kantor pusat MA Group milik Mirza Adyatma. Matanya sejenak menyapu loby yang cukup ramai dengan lalu lalang berbagai kepentingan.


"Selamat siang, Nona. Ada yang bisa dibantu...?"


"Oh, selamat siang. Saya ingin bertemu Tuan Mirza Adyatma..."


"Sudah ada jan...."


Ucapan perempuan itu terhenti saat seorang laki-laki datang menghampiri.


"Nona Arumi, Tuan Mirza sudah menunggu..." ucapnya takzim.


Arumi pun tersenyum dan langsung mengekori langkah laki-laki itu. Senyum laki-laki itu mengembang saat mempersilahkan Arumi untuk ke dalam lift khusus pimpinan sambil menyebutkan sebuah angka, urutan lantai perkantoran dimana pimpinan tertinggi MA Group berada.


"Lantai tujuh.." ucapnya.


Selanjutnya tidak ada pembicaraan selama lift melaju hingga lantai yang dimaksud.


TRING....!


Pintu lift terbuka yang langsung di hadapkan pada meja resepsionis.


"Lewat sini, Nona..." ucap laki-laki itu yang ternyata bernama Valdi.


Langkah Arumi semakin mantap mengekori Valdi. Matanya menyapu sepintas setiap ruangan yang ia lewati. Decak kagum pun terbit dari sudut hatinya yang mulai sedikit beriak.


"Kantor apa hotel. Mewwah sekali. Penataan, ornamen dan kehadiran bunga potong di setiap sudut ruangan sangat menunjang sosok.pribado pemilik gedung tersebut. Kau hebat, Kak. Wajar jika dinobatkan sebagai pengusaha nomor satu..." batin Arumi.


Tok.


Tok.


Tok.


Valdi mengetuk pintu sambil sesekali menatap Arumi yang berdiri di sebelahnya.


"Masuk..."


Terdengar suara khas Mirza dari balik pintu. Arumi tersenyum saat mendengar suara tersebut. Hatinya kian beriak. Sementara degup jantungnya kian berlarian bak atlet sprint yang baru saja memenangkan nomor atletik di olimpiade.


Valdi pun memutar gagang pintu dan membukanya perlahan hingga terlihatlah si penghuni ruangan yang tengah duduk sambil menatap dingin.


"Silahkan, Non..." ucap Valdi sambil mengangguk takzim pada Mirza. Dan berlalu sambil menutup pintu kembali.


"Dasar manusia kulkas. Tidak ada perasaan...! Berilah ucapan terima kasih atau senyum keramahan kepada pak Valdi. Ah, memang manusia kulkas! Kenapa aku justru mencintainya? Hadeeuh..." batin Arumi.


Setelah pintu tertutup rapat, wajah Mirza berubah. Matanya menatap Arumi penuh perasaan. Dan ia pun menghampiri Arumi yang kini duduk di sofa.


"Kenapa lama sekali. Aku sudah kangen..."


"Egh..."


Mata Arumi langsung menatap Mirza saat mendengar ucapannya yang sedikit berbeda saat di ruangan tersebut hanya ada mereka saja.


"Kenapa? Belum pernah ditanya laki-laki tampan?"


Arumi tersenyum. Tangannya menyodorkan paper bag yang sejak tadi ia jinjing.


"Untuk Kak Mirza...."


"Tadi Arumi masak. Jadi Arumi bawakan untuk kakak. Tidak tahu apakah kakak suka atau tidak..."


"Terima kasih. Tapi aku ingin lihat proposalnya dahulu. Bisa...?"


"Oya, ini Pak..."


Tangan Arumi menyodorkan proposal satu eksemplar dan langsung diterima dan dibaca Mirza. Mata Mirza begitu lincah menatap setiap deret kata dalam kalimat buah pemikiran Arumi. Dan senyum pun terbit di sudut bibir Mirza saat menyelesaikan membaca dan sedikit mengulas setiap pemikiran yang tertuang.


"Amazing...Aku suka semua pemikiran mu, sayang. Penuh pemikiran baru. Aku akan meminta galeri kita untuk melaksanakannya dan tentu saja di bawah pengawasan mu. Bagaimana?"


"Aku setuju. Terima kasih, Kak..."


"Hei, tak perlu berterima kasih..."


Senyum Arumi mengembang saat mendengar persetujuan Mirza. Ingin rasanya ia memeluk laki-laki tampan di hadapannya itu karena sudah mengabulkan keinginannya.


"El, ke ruanganku..."


Tak lama pintu ruangan diketuk.


Tok.


Tok.


Tok.


"Masuk..." ucap Mirza datar.


KREEEK....


"Arumi..? Kapan datang?"


"Em, lima belas menit lalu Kak..."


"Pantas saja hari ini singa sedikit jinak. Rupanya pawangnya datang"


"Sialan...." ucap Mirza sambil melayangkan bantal sofa ke arah Elvano..Tak ayal lagi bantal itu telak mengenai Elvano yang sejak tadi masih berdiri dengan senyum lebar.


"Duduk, El. Jangan seperti KAMRA gitu..."


"Hehee..."


"Tolong kirim proposal ini ke galeri kita..."


"Proposal? Galeri? Apaan, nieh...?"


"Itu proposal pagelaran yang Arumi ajukan. Ah, lelet banget sih Elvano bin Jabir bin Jabar..."


"Sekarang...?"


"Tahun depan...! Ya sekarang Elvano...!"


"Haha....Ok. Ok, Tuan Mirza Adyatma bin William, pengusaha nomor satu di Indonesia yang lagi bucin"


"Ngomong sekali lagi, bog mentah ku sampai di burit mu..."


"Ish...KDRT loh si Bos ini"


Arumi yang sejak tadi menyaksikan kelakuan absurd dua sahabat itu hanya bisa tersenyum dsn sesekali menutup mulutnya, khawatir tertawa lepas. Kan bisa berabe urusan jika sampai begitu. Singa yang katanya lagi jinak bisa bangun dsn ngamuk tidak karuan. Haha....


"Nyonya Mirza yang terhormat, apakah ada soft copy nya?"


"Tentu ada..." jawab Arumi.


Tangan Arumi merogoh tas kecil yang sedari tadi ia letakkan tak jauh di sebelahnya.


"Ini, Kak..." ucap Arumi sambil menyodorkan sebuah flashdisk kepada Elvano.


"Baik, Nyonya Mirza. Saya akan mengurus ini. Jangan terlalu banyak berharap pada Singa itu. Dia tidak bisa apa-apa..Bisanya marah dana memerintah..."


Ucapan Elvano yang seakan meledek Mirza itu sengaja dibuat dengan berbisik namun masih dapat di dengar itu membuat telinga Mirza memerah.


"Elvano bin Jabir bin Jabar...! ingin gaji mu dipotong? Atau bonus mu di hapus..."


"Hahaha...Bercanda, Bos. Jangan dipotong ya apalagi dihapus..."


"Kalau begitu cepat kerjakan. Jangan banyak bicara. Dan keluar sana, mengganggu saja..." ucap Mirza sambil melirik Arumi.


"Siap, Tuan Bos...!" ucap Elvano dan berlalu sambil mengkerling pada Arumi.


"Elvano bin Jabir bin Jabar...!"


"Ya, Tuan....!!"


Elvano langsung mengeluarkan jurus langkah seribu saat singa mulai terlihat murka. Di tutupnya pintu dengan rapat.


"Kak, apaan sih..."


"Tidak apa-apa. Kami biasa melakukan hal seperti itu. Hiburan juga, Ar..."


"Aku mencintai mu. Sungguh mencintai mu...!"


Tiba-tiba saja terdengar suara Elvano bak sedang berpuisi di luar ruangan.


"Benar-benar tuh orang..." ucap Mirza


Mirza geram dan bangkit dari duduknya. Namun, tangan Arumi sukses menahan Mirza hingga laki-laki itu kembali duduk.


"Sudah siang. Sudah waktunya makan. Kakak makan dulu ya?" ucap Arumi sambil membuka box dari paper bag yang tadi di bawanya.


Mirza pun mengangguk. Ia bangkit dari duduk dan menuju wastafel. Sejenak tangannya menggulung lengan kemeja sesaat sebelum mencuci tangan.


"Sayang, ikut makan kan?"


"Ya. Arumi bawa dua box kok" ucap Arumi sambil menyeka bulir bening yang mengembun di dahinya.


"Di ruangan ber-AC begini, mengapa Arumi berkeringat? Apa Arumi sakit?" batin Mirza.


"Duh...gerahnya. Baju penambah berat badan ini sedikit menyiksa. Semoga si manusia kulkas tak menaruh curiga" batin Arumi.


Tampak menatap Arumi sambil tersenyum. Sementara tangannya mengendurkan dasi yang sejak tadi melingkar di lehernya.


"Kenapa kakak menatapku seperti itu?"


"Aku senang akhirnya kau berkunjung ke kantor dan membawakan makan siang untuk ku. Segeralah menjadi istriku, Ar..."


Arumi tersenyum dan cepat-cepat menyimpan tatapannya pada box bekal yang tengah ia aduk karena wajahnya sempat memerah.


Mirza kembali tersenyum dan mulai menikmati menu makan siangnya.


"Kau makin cantik saja, Ar. Terlebih saat wajah mu memerah karena malu Seperti itu. Aku benar-benar jatuh cinta kembali pada mu?" batin Mirza.


"Em, kemarin mengobrolkan apa dengan kak Faaz?


UHUK...


UHUK...


UHUK...


Mirza tersedak mendengar pertanyaan Arumi. Matanya hingga berkaca-kaca. Diteguknya hingga ludes air mineral yang disodorkan Arumi.


"Hati-hati, Kak..." ucap Arumi sambil menepuk dan mengusap punggung Mirza.


Sementara itu mata Mirza menatap gamang pada Arumi. Ia belum mempunyai kata yang tepat untuk membeberkan isi pembicaraannya dengan Faaz.


"Ada apa, Kak?"


"Kamu cantik, sayang..."


"Egh...."