
Ada sedikit resah mencubit ketenangan hati Arumi saat tak mendapat reaksi maksimal dari Mirza seperti biasanya. Kemudian langkah Arumi pun langsung berpacu seirama dengan degup jantung yang merasakan kecemasan saat itu.
"Mau kemana?"
Sebuah tangan menggaet lengan Arumi dan menariknya ke dalam mobil.
"Akh....!" keluh Arumi saat kepalanya sedikit terantuk bibir pintu mobil.
"Kak Mirza...!"
"Iya. Memang siapa yang kamu harapkan? Ryu...? Atau Arya...?" ucap Mirza tanpa menatap Arumi. Hatinya masih kesal atas nada tinggi yang ia terima beebrapa saat lalu.
Deg.
.
.
.
Arumi manyun. Matanya menatap Mirza penuh tanya. Sementara itu angannya tak henti mengusap pucuk kepala yang terasa nyeri.
"Dasar manusia kulkas. Kumat ya..." gerutu Arumi dalam hati dengan memasang mode kesal.
Elvano yang merasakan aura tak seromantis biasanya itu, hanya tersenyum. Matanya menatap keduanya bergantian.
"Waduh manusia kulkas lagi tak enak hati nieh. Aku juga harus hati-hati. Salah-salah aku bisa kena damprat juga..." batin Elvano.
Dalam laju mobil sport silver, tidak ada perbincangan yang terjadi. Semua diam dalam fikiran masing-masing.
"Ayolah Ar, mulai lah bicara. Bertanyalah ada apa dengan ku?" batin Mirza dengan mode egoisnya.
"Rupanya sudah berganti peran nieh si manusia kulkas jadi grontol jagung. Sejak tadi diam mulu. Hadeuuh....Dipatok ayam baru tahu rasa!" batin Arumi.
"Brrrr....dingin" ucap Elvano sambil bergidik.
"El....?"
"Dingin, Bos. Seperti di kutub Utara"
Mirza terkekeh. Ia tahu betul apa yang dimaksud Elvano.
"Bisa ae..." ucap Mirza.
PUK....!
"Aw...!"
Tangan Mirza lagi-lagi mampir pada bahu Elvano membuat laki-laki yang menurut kebanyakan orang sebelas dua belas ketampanannya dengan Mirza.
"Aduh, mulai dech penganiayaannya..."
Mirza tersenyum. Matanya menatap Elvano. Ada syukur dalam hatinya, karena memiliki teman seperti Elvano yang selalu berhasil membuka kunci kekakuannya.
"Berhenti di depan, Kak..." ucap Arumi yang langsung diamini Elvano.
"Maaf aku tidak bisa menemani. Kau mampu kan menyelesaikannya sendiri?"
"Tentu saja..." ucap Arumi sambil turun dari mobil dan melangkah pergi.
"Bos yakin tidak menemaninya? Bos yakin tidak ingin mengetahui hal yang membuatnya gelisah? Bos yakin tidak mengkhawatirkannya?"
"Jalan El...."
"Bos...?!"
"Elvano bin Jabir bin Jabar...." ucap Mirza dengan suara sedikit meninggi.
"Ah, saya menjadi bingung. Mengapa bos berlaku demikian" ucap Elvano sambil melajukan mobil.
"Berhenti, El..."
"Apa bos berubah fikiran...."
Mirza menghela nafas. Matanya menatap gedung yang berwarna putih dimana Arumi baru saja masuk.
"Dia tidak ingin aku terlalu mencampuri urusannya. Jadi ya....aku berusaha merelakannya untuk menjalani separuh hidupnya sebelum benar-benar menjadi milik ku..."
"Aku tidak yakin. Karena aku tahu betul Arumi itu seperti apa..."
"Yakin, Bos...?"
"Ah, sudahlah. Kita lihat saja..."
Mirza menghela nafas yang terasa berat. Karena sesungguhnya tiada kerelaan dalam hatinya untuk membiarkan Arumi menghadapi kegelisahannya sendirian. Namun, apa daya. Demi memberikan sedikit ruang kepada Arumi, Mirza berusaha memahami maksud dan keinginan gadis 150 cm yang kini amat ia cintai itu.
Mata Mirza kini terkunci pada sosok tambun yang tengah melangkah cepat. Tangannya membuka kertas-kertas yang menempel pada dinding. Ada kekesalan yang tampak di raut wajahnya.
"Siapa yang melakukan ini semua...?!" ucap Arumi kesal.
Arumi terduduk pada lantai sesaat setelah melepas kertas terakhir yang menempel pada dinding luar di salah satu sisi galeri. Tempat yang akan menjadi berlangsungnya acara pagelaran seni lukis seperti yang direncanakan Arumi dan team.
Mata Arumi menatap lembaran di tangannya. Dan sekali lagi ia membacanya.
"Arumi Hirata, berangkat dari seorang perayu menjadi pengganggu hubungan. Perusak cita-cita, ketika cinta tengah terjalin demi sebuah tujuan pernikahan. Rasanya tak pantas, jika acara sekaliber pagelaran seni lukis di gedung semewah ini di nodai oleh sosok perempuan pendusta seperti Arumi Hirata..."
Arumi menghela nafas. Membaca ulang tulisan yang tertera membuat fikirannya mengembara. Ia teringat pada sosok perempuan cantik. Ia yakin perempuan itulah pembuat tulisan tersebut. Sebuah nama pun terucap begitu saja dari bibir tipis Arumi.
"Andrea...."
Arumi tersenyum kecut. Fikirannya masih tertumbuk pada Andrea. Ia yakin itu. Kembali mata Arumi menilik tulisan pada lembar kertas lainnya.
"Arumi....perempuan perusak! Enyahlah dari setiap kehidupan di muka bumi ini...!"
"Ya, Robby...semakin sadis saja serangannya. Apa ia belum bahagia dengan kehidupannya saat ini? Mengapa ia masih mendendam. Bukankah menurut ayah, sudah menjadi keluarga? Apa yang harus aku lakukan...?" batin Arumi.
"Nona Arumi, saya sudah mengirimkan rekaman CCTV yang nona minta di ponsel nona..." ucap Arka, asisten pelaksana pagelaran.
"Terima kasih, kak Arka...." ucap Arumi yang langsung dibalas senyuman khas Arkan.
Laki-laki bertubuh jangkung dengan wajah klimis itu selalu memberikan perhatian lebih kepada Arumi. Semua karena kebaikan hati Arumi yang telah membantunya saat hidupnya terombang-ambing tanpa pekerjaan pasti. Selain rasa terima kasihnya, ternyata hatinya pun tengah terpaut pada Arumi. Diam-diam Arka menaruh hati pada Arumi.
Sementara itu, Arumi mengepalkan tangannya saat melihat seseorang tengah menempelkan lembar kertas pada dinding.
"Nona Arumi, saya akan mencari tahu siapa laki-laki itu. Yang paling penting adalah alasan ia melakukannya..."
"Terima kasih, Kak Arkan. Aku tanpa mu, apa jadinya..."
Arka tersenyum. Wajahnya begitu sumringah. Ucapan Arumi yang baru terlontar membuat hatinya cenat-cenut bak digigit semut hitam. Ia merasa bahagia hingga bibirnya tak henti mengumbar senyuman.
"Astaga...perasaan ku menjadi tak karuan begini. Ya, Tuhan...apakah cinta ku berbalas? Tapi bukankah ia adalah gadis tuan Mirza, pemilik MA Group. Bahkan galeri ini pun milik nya. Hadeuuh...aku harus bagaimana?" batin Arka.
"Kak Arka, Bagaimana persiapan acara kita...?"
"Em, semua sudah terkonfirmasi. Malam lusa sebelum acara dimulai kita menggelar gala dinner. Esok paginya sekitar pukul delapan barulah acara di mulai bersama siswa dan mahasiswa..."
"Bagaimana dengan acara gala dinner? Apakah undangan sudah di kirimkan?"
"Sudah, Bos..."
"Hei, Nya..." sapa Arumi sambil tersenyum menatap Vanya yang baru saja datang.
"Semua undangan sudah di kirimkan berdasar list yang kau berikan beberapa waktu lalu"
"Bagaimana dengan pengisi acaranya?"
"Em, semua sudah siap. Pengisi acara dengan segala pendukungnya sudah siap dan juga akan hadir pada acara gala dinner. Dan ada beberapa yang akan memberikan kata sambutan atau semacamnya. Termasuk tuan Mirza Adyatma. Beliau pun sudah menyatakan siap untuk memberikan sambutan saat acara nanti. Apa tuan Mirza tidak memberitahukannya kepada nona?"
"Tidak. Karena kami profesional..." ucap Arumi dengan senyum khasnya.
"Ar, apa kita akan briefing saat ini?"
"Tentu saja. Apakah team sudah berkumpul..."
"Seperti yang sudah diperintahkan, Nyonya besar..." ucap Vanya sambil terkekeh.
"Ya, Nyonya besar. Karena tubuh ku besar kan?"
"Ah, tidak begitu. Hadeuh...salah lagi" ucap Vanya rikuh.
"Hahaha...." tawa Arumi langsung mengisi udara di ikuti Arka dan juga Vanya.