150 Cm

150 Cm
Episode 31. Kecemasan Mirza



BRAAK....!


Mirza membuka pintu ruang perawatan dengan kasar. Ia sudah tidak sabar ingin menemui William, papanya. Mata Mirza berkaca saat melihat tubuh kekar itu terbaring. Kilat matanya redup saat menatap kehadiran Mirza.


"Pa...."


"Hei, Za. Kemari, Nak..."


Mendengar itu, Mirza langsung menghampiri William. Meraih tangan William dan mengecup punggung tangan laki-laki itu dengan takzim. Sejenak kemudian, keduanya berpelukan dan menitikkan air mata.


"Mengapa papa melarang mama untuk memberitahu Mirza?"


"Sejak kapan gunung es jadi mudah meleleh gini?" goda William.


"Sejak mengenal cinta..." timpal Dania.


"Aish...Pa, Ma. Kalau melihat orangtuanya sakit atau terkena masalah, siapa saja pasti sedih..."


"Ya...ya, betul. Lalu mantu papa, mana?"


"Belum ketemu, Pa. Sabar ya..."


"Mama doakan semoga cepat ketemu agar anak ganteng mama ini kembali ke dunianya"


"Egh..."


"Apa kami ga sadar? Tuh wajah ganteng sudah di tumbuhi rumput Jepang. Tuh rambut sudah gondrong kaya grandong. Ish kalau seperti ini mana ada yang mengenalkan kalau kamu Mirza Adyatma..."


"Mirza ga peduli, Ma..."


"Lah, harus peduli donk. Bagaimana jika Arumi juga tidak mengenali mu"


Deg.


Pernyataan ledekan Dania berhasil menohok hati Mirza. Ia pun menanggapinya dengan senyum tipis yang biasa saja. Pun demikian, dalam hatinya membenarkan pernyataan perempuan yang telah melahirkannya itu.


"Ya, juga. Waduh...bisa berabe nieh urusan jika Arumi Sampai tak mengenalinya nanti. Hahaha..." batin Mirza.


"KREEK....!


Derit pintu terbuka mengusik perbincangan orangtua dan anak itu. Tatapan ketiganya langsung beralih pada laki-laki yang baru saja berdiri di ambang pintu dengan senyum khasnya.


"Sudah siap Pa...?" ucap Faaz tanpa menatap Mirza yang duduk tak jauh dari brankar.


"Siap...."


"Sus...tolong dibawa ya ke ruang operasi"


"Baik, Dok.."


🌸🌸🌸🌸🌸


Sudah satu jam William berada dalam ruang operasi. Mata Mirza sejak tadi selalu tak lepas dari pintu ruang operasi. Bahkan sebelum itu Mirza berjalan mondar-mandir. Ia begitu gelisah menanti kabar hasil operasi.


"Ya, Allah...mohon dengan sangat beri kesembuhan papa. Jangan biarkan terjadi hal yang buruk padanya. Aku belum menjadi anak terbaik baginya dan membahagiakannya. Aamiin..." batin Mirza.


Mirza kembali duduk pada sofa dengan sedikit kasar. Kedua telapak tangannya menakup wajah, menahannya sejenak kemudian menyapunya. Bersamaan dengan itu, bahkan helaan nafasnya pun terasa begitu berat. Hatinya benar-benar gusar. Dan sejak ketiadaan Arumi, ia pun merasa sepi.


"Bersabarlah duhai hati, suatu hari akan hadir tempat terbaik yang dapat menjadi pelabuhan pertama dan terakhirmu. Bersabarlah Mirza..." batin Mirza.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Ponsel Mirza berpendar. Mirza meliriknya dan menilik si pembuat panggilan.


"Ya, El..."


"Bos, dimana?"


"Di rumah sakit. Papa operasi. Emang kau tidak tahu? Dasar anak ga da akhlak..."


"Wish...sebelum bos aku sudah terlebih dahulu menemui papa. Bos, bisa bertemu sebentar. Kangen nieh..."


"Najis...! Ogah gw kangen Lo, El..."


"Ish...suka gitu dech si bos..."


"Ya, sudah. Langsung ke RS saja"


"Siap, bos. Aisiteru..."


"Ogah...najis!"


Tut.


Tut.


Tut.


Mirza langsung mengakhiri percakapannya. Dan langsung memasukkan benda pipih ajaib itu ke dalam kantong celananya. Mirza pun kembali menatap ruangan operasi yang masih tertutup. Sesekali matanya menatap wajah Dania yang sedikit kuyu. Perempuan paruhbaya yang masih terlihat cantik itu sepertinya menyimpan kekhawatiran mendalam akan kondisi laki-laki yang sudah bersamanya hampir tiga puluh tahun itu.


"Ma..." sapa Elvano sambil duduk di sebelah Dania.


"El, bagaimana kerjaan mu?"


"Lancar, Ma. Tuan muda kemana, Ma? Katanya sudah ada di sini?"


"Di sebelah kanan mu itu apa...?"


Sontak Elvano mengalihkan perhatian kepada arah yang diberikan Dania. Mata Elvano membulat sempurna saat mendapati laki-laki yang tengah duduk sambil memainkan ponselnya.


"Eh, Busyet...! ga salah kan, Ma?" ucap Elvano tak percaya.


Mata Elvano menilik tajam penampilan laki-laki yang tengah duduk tak jauh darinya itu. Elvano tertegun menatap laki-laki dengan jambang dan kumis yang sedikit tak terawat. Apalagi saat melihat rambut yang hampir menyentuh bahu dan dibiarkan tergerai. Elvano makin tak yakin pada penglihatannya. Itu bukanlah Mirza seperti biasanya. Sementara Dania senyum-senyum melihat keterkejutan Elvano.


"Bos kau kah itu...?" tanya Elvano ragu sambil menghampiri Mirza.


"Dasar asisten tak punya akhlak..! Bos sendiri tak kau kenali...!"


"Maaf, Bos. Tapi sumpah, Bos tak seperti biasanya. Apa Bos se-putus asa ini?"


PLAK...!


Sebuah pukulan telak mengenai Elvano membuat laki-laki itu meringis.


"Dasar kutu kupret...! Ku potong gaji mu. Baru tahu rasa...!"


"Kau...!"


Bersamaan dengan itu pintu ruang operasi terbuka. Berdiri Faaz di ambang pintu. Matanya langsung menangkap sosok Dania yang seketika berdiri saat melihat kehadiran Faaz, dokter bedah termuda itu.


"Ma... operasinya berjalan lancar. Satu jam lagi papa akan di pindahkan ke ruang perawatan kembali" ucap Faaz saat tepat berdiri sempurna di hadapan Dania.


"Alhamdulillah...Syukurlah. Terima kasih, Faaz"


"Sama-sama, Ma. Em, mama jangan terlalu khawatir lagi ya..." ucap Faaz sambil memutar tubuh dan berlalu begitu saja.


"Masih perang, Za..." bisik Elvano pada Mirza yang masih saja sibuk mengotak-atik ponselnya.


"Mungkin..."


"Astaga..." Elvano tepok jidat dan langsung menyandarkan tubuh pada sandaran kursi.


"Bro, Arumi bagaimana? Apa sudah ada titik terang..?"


"Menghilang begitu saja. Bak ditelan bumi..."


"Ah, suatu hal yang mustahil"


"Aku pun semual tak percaya jika akan kesulitan seperti ini. Tapi ini fakta. Semua kemungkinan terbantahkan begitu saja. Pun demikian, aku masih berkeyakinan Arumi pasti dapat di temukan"


🌸🌸🌸🌸🌸


Sementara itu, di waktu yang sama di tempat yang berbeda. Tepatnya di kota B. King tengah melancarkan aksinya. Ia tengah menggunakan pesona dan ketampanannya terhadap seorang gadis yang duduk tak jauh darinya.


Mata King tak lepas menatap gadis itu. Dan sadar diperhatikan, gadis itu yang tak lain adalah Sarah balik menatap King.


"Dahsyat juga nieh, gadis. Matanya begitu indah dan tajam. Dari tatapannya sangat mencerminkan sifat ambisius. Gadis seperti ini tidak suka bertele-tele. Ia lebih senang laki-laki yang to the point. Ok, Sarah...sejauh mana kehebatan mu..." batin King.


King, tak ingin terintimidasi. Ia langsung mendekati Sarah dan langsung duduk di hadapan gadis yang tak lepas menatapnya.


"Hai...Aku King. Aku penggemar mu" Akunya.


"Suatu kemustahilan. Dilihat dari penampilanmu, aku yakin kau memiliki kepentingan berbeda dari sekedar mengurusi seni"


"Kau jeli, Nona Sarah. Aku memang sedang mencari seorang gadis.."


"Apa dia kekasih mu?"


"Justru sebaliknya. Ia musuh ku..." dusta King.


Mendengar ucapan King, Sarah tertegun. Matanya menatap lekat manik mata King seakan ingin mencari sesuatu di dalam nya. Ditatap demikian, King berusaha biasa saja. Bahkan terkesan dingin.


"Siapa gadis mu itu?"


"Ini..." King menyodorkan sebuah foto.


Deg.


"Arumi..." batin Sarah.


"Aku enggan menyebut namanya, jadi kau lihat sendiri saja" ucap King sambil mengambil kembali ponselnya.


"Apa urusan mu dengannya?"


"Ia membawa kabur uang ku. Gadis itu terlihat begitu polos, tapi ternyata itu hanya sebuah kedustaannya untuk melancarkan rencananya..."


"Hahaha....jadi kau tertipu?"


"Bukan aku, tapi kau yang tertipu Sarah...." batin King.


"Jika kau mau, aku bisa memberi kartu As nya"


"Maksudmu...?"


"Hahaha...Bukan hanya memberi kepuasan namun bisa membuatnya mendatangi mu. Bahkan uang pun akan mendatangi mu. Aku sudah melakukannya..."


"Aku tidak mengerti..."


Sarah mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya kemudian membuka sebuah fitur video dan memperlihatkannya kepada King. Sungguh suatu pemandangan yang tak mengenakkan. Pada ponsel itu terlihat Arumi yang tengah terlelap tidur bersama seorang laki-laki. Gemuruh dada King melihat itu.


"Apakah yang terjadi dengan mu, Arumi...?" batin King.


"Rekayasa kampungan..." ucap King sambil mengaktifkan mode merekam.


"Tentu saja rekayasa. Laki-laki itu pun bayaran agar mau meniduri Arumi. Dan keduanya pun tidak melakukan apa-apa. Hahaha.... Tapi jika tersebar maka akan cukup untuk membayar sakit hati padanya"


Tangan King terkepal di bawah meja. Tapi ia tetap berusaha setenang mungkin, mengingat ia tengah mengorek keterangan tentang Arumi sebanyak-banyaknya.


"Tapi ini tidak gratis. Jika kau berkenan hubungi aku. Jangan lama-lama, lusa aku harus kembali ke kota J"


Tangan Sarah mengetuk meja, isyarat jika ia meninggalkan sebuah memo yang berisi nomor kontaknya.


"Baiklah. Aku akan menghubungi mu"


King menatap lenggok Sarah yang nyaris membuatnya khilaf itu hingga hilang di balik pintu.


🌸🌸🌸🌸🌸


TAK...


King meletakkan secarik kertas sambil sedikit mengetuk meja di hadapannya. Melihat itu, Dewa dan Rio menegakkan tubuh. Mata keduanya langsung menatap isi secarik kertas tersebut.


"Itu nomor kontak Sarah. Dia menyimpan foto rekayasa tidak senonoh non Arumi bersama seorang laki-laki. Aku yakin ia berkaitan dengan hilangnya non Arumi..."


"Kamu yakin...?"


"1000%..."


"Bagaimana jika kita tangkap ia. Kita korek keterangan selengkap-lengkapnya. Dan foto-foto yang membahayakan itu harus kita dapatkan juga..."


"Kemana kita akan membawanya?"


"Ke markas bodyguard MA Group yang ada di kota ini"


"Aku setuju..."


"Aku juga..."


"Kalau begitu kita harus menyusun rencana..."


"Siap..."