150 Cm

150 Cm
Episode 87. Mangsa Memangsa Mangsa...



Drrt


Drrt.


Drrt.


"Ah, sial...siapa yang pagi-pagi sudah membangunkan ku seperti ini? Tidak tahu apa jika hari minggu" ucap Keive dengan telepon kondisi on.


"Pagi kata mu...! Ini sudah pukul sembilan...!!" sebuah suara di ujung telepon.


"Astaga....!" ucap Keive.


Keive menelengkan kepala dan menjauhkan ponsel dari telinganya karena suara meninggi Mirza. Keive mengernyitkan dahinya sambil menatap layar ponselnya yang sudah tak berpendar lagi.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Keive kembali berpendar. Kali ini sebuah pesan menghiasai layar ponsel Keive. Sedikit malas Keive membuka pesan tersebut.


"Hari ini hari pertama rencana akan dijalankan, tuan Casanova. Target mu berada pada tempat seperti kebiasaannya..." begitu isi pesan Mirza.


"Hadeuh....aku lupa" ucap Keive sambil tepok jidat.


Seketika itu Keive langsung menyambar selembar kertas berisi catatan aktivitas Andrea.


"Cafe X jam sepuluh. What! itu empat puluh lima menit lagi....!"


Keive pun segera beranjak dari tempat tidur. Ia menyambar handuk dan langsung menghambur ke kamar mandi.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Pukul sembilan lewat empat lima puluh menit. Keive sudah mematut diri di depan cermin.


"Ferfect...." ucap Keive mengomentari penampilannya.


Seulas senyum pun tersulam di bibirnya. Auto bertambahlah persentasi ketampanannya. Sekali lagi ia menatap pantulan dirinya dalam cermin. Dan sekali lagi pula ia tersenyum. Hatinya memberi penilaian atas penampilannya tersebut.


Setelah itu ia pun segera menuruni anak tangga yang langsung terhubung ke halaman rumah. Begitu cepat langkahnya hingga panggilan dari Aulia tak terdengar walau hanya beberapa langkah saja. Dan hal tersebut membuat Aulia kesal. Perempuan paruh baya itu langsung melangkah cepat dan menarik telinga Keive.


"Dasar anak nakal...!'


"Au...Au, Ma. Sakit, Ma..."


"Rasakan...." ucap Aulia kesal.


"Aduh, Ma. Keive buru-buru. Ada pekerjaan yang harus disegerakan..."


"Pekerjaan apa...?"


"Pekerjaan dari tuan Mirza..." ucap Keive merendahkan suaranya.


"Berbahaya kah?" tanya Aulia khawatir.


"Tidak. Hanya menemui seorang perempuan..."


"Perempuan? Apa dia istri tuan Mirza?"


"Bukan, Ma..."


"Apa musuh tuan Mirza? Atau simpanan tuan Mirza?"


"Ma...Ayolah jangan berspekulasi begitu. Tidak baik. Sudahlah...Keive bisa terlambat"


Keive melangkah cepat menuju mobil sport berwarna merah. Ia langsung duduk di belakang kemudi sambil mengenakan kacamata hitam. Hmm, auto meningkat ketampanannya.


"Ya sudah, pergilah. Jika bertemu tuan Mirza sampaikan salam mama. Jangan lupa, Keive. Mama mengundangnya ke rumah"


"Ya, Ma..." ucap Keive sambil melajukan mobil sport-nya.


"Jangan lupa, Keive....!!" teriak Aulia.


Keive melihat Aulia yang masih melambaikan tangan sambil berjinjit dari kaca spion. Senyum pun terbit dari sudut bibirnya.


"Apa kabar, Keive...?"


Sebuah suara tiba-tiba saja menyapa dari kursi belakang. Hal tersebut tentu saja membuat Keive terkejut bukan kepalang. Keive pun membanting setir ke kiri badan jalan. Seketika mobil pun berhenti. Suara hentakan mesin berbuah cicit yang cukup panjang.


Keive mendelik ke kursi belakang. Helaan nafasnya sedikit memburu. Katanya sudah di tersusun di ujung lidah dan siap diluncurkan. Namun Keive urung melakukannya saat mengetahui siapa si empunya suara.


"Dewa...!" pekiknya kemudian.


"Hahaha..... Bagaimana jika yang duduk di belakang cewek cantik, Keive?"


"Haish...langsung ku suruh pindah ke pangkuan ku. Haha..."


"Ngapain nongkrong dalam mobil ku...?"


"Surprise....! Tadi sudah izin mama Aulia"


"Gila..kalau jantung ku jatuh bagaimana, Wa?"


"Ambil lagi dan masukkan lagi donk. Haha..."


"Perilaku mu tak berubah, Wa. Cepat pindah. Lelah leherku melihat mu begini"


"Ogah...."


"Sial...! Kau pikir aku sopir mu apa?!"


"Ku anggap begitu..."


"Sial...! Pindah...!" pekik Keive.


Dewa pun tersenyum. Laki-laki tampan itu akhirnya menghentikan candaannya dan berpindah ke kursi depan seperti pinta Keive.


Setelah sempurna duduk, Keive pun melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Di tengah deru mesin, tiada obrolan penting yang terjadi. Hanya satu atau dua kali saja kata itu bersahutan.


"Apa kabar, Wa?"


"Baik..."


"Kau menghilang dari peredaran setelah menjadi bodyguard tuan Mirza"


"Tentu haruslah demikian"


"Aku sempat melihat mu berada di sekitaran tun Mirza. Dan itu keren sekali.."


"Aku memang keren..." seloroh Dewa.


"Apa kau menikmati pekerjaan mu...?"


"Tentu saja..."


Keive tersenyum mendapati jawaban sahabat saat kuliahnya itu. Seorang Dewa lebih memilih menjadi bodyguard ketimbang menjadi pengusaha sukses seperti yang pernah ia gaungkan dahulu.


"Mengapa kau lebih memilih menjadi bodyguard? Apa ini efek balas jasa...?"


"Tidak. Sudahlah, Keive banyak bicara sekali kau. Tuh, mangsa mu sudah terlihat. Ia baru saja masuk cafe..."


Keive pun langsung mengedarkan mata mencari sosok yang dimaksud Dewa sebagai mangsanya. Dan benar saja mata Keive langsung terkunci pada seorang perempuan berbaju merah. Dress pendek di atas lutut tanpa lengan itu sukses membuat mata para laki-laki yang dilaluinya melongo. Senyum Keive terurai memperhatikan setiap lekuk tubuh perempuan yang berusia kurang lebih lima tahun di atasnya itu.


"Kau tertarik, Keive...?"


"Aku? Haha...Dia bukan tipe ku"


"Oya...Lalu perempuan yang seperti apa tipe mu itu?"


"Perempuan yang tidak mengumbar indah tubuhnya. Perempuan seperti itu yang membuat ku penasaran"


"Kalau begitu kau harus sering berkunjung ke pondok pesantren..."


"Pon-dok pesantren...?"


"Ya. Hanya di pondok pesantren lah, aurat perempuan terjaga..."


"Haha.... Ada-ada saja kau ini, Wa. Sudahlah...aku akan mulai bergerilya ke dalam cafe"


"Ok, Keive. Good luck..."


"Thanks. Well, Andrea...I'am coming" ucap Keive sambil keluar dari mobil sport-nya.


Keive pun meninggalkan Dewa dan menuju cafe X dimana Andrea berada. Dan sesampainya di dalam cafe, Keive mulai menilik setiap sudut ruangan. Melalui ekor matanya ia mencari sosok Andrea.


"Haaa...itu dia, Andrea. Ow, dia tengah berbincang dengan beberapa teman perempuannya" batin Keive.


Kemudian Keive melangkah menuju mini bar dan memesan satu macam minuman.


"Berikan minuman ini pada perempuan berbaju merah itu...? ucap Keive kemudian kepada seorang pelayan.


Dan pelayan pun mengangguk takzim tanda mengerti. Bibirnya pun mengurai senyum sesaat sebelum ia berlalu.


Tak butuh waktu lama, pelayan itu pun sudah berdiri di dekat Andrea. Tangannya meletakkan minuman yang telah dipesan Keive.


"Maaf, Non. Minuman ini dari tuan yang ada di sana..." ucap pelayan itu sambil menunjuk ke arah Keive.


Andrea pun mengedarkan manik matanya. Ujung tatapannya langsung terkunci pada sosok laki-laki tampan yang tengah duduk dengan senyum mengembang ke arah Andrea.


"Ayolah, Andrea. Lihatlah aku..." batin Keive.


Andrea mengangkat minuman yang di berikan Keive sambil tersenyum. Matanya pun mengerling sebelah. Rupanya Andrea tengah menebar pesona untuk menggaet hati Keive. Wew... sama-sama punya tujuan menarik perhatian. Mangsa memangsa mangsa 😀.