150 Cm

150 Cm
Episode 28. Selamat Tinggal, Pak Mirza...



BRAAKK....!


Sekali lagi Mirza melempar berkas ke atas meja. Sorot matanya mengisyaratkan amarah. Tangannya berulangkali membuka ponsel yang berisi pesan dari Pramono, direktur Galeri Kencana.


"Namanya Kevin Aprillio Hadiningrat. Dia anak pertama dari dua bersaudara, yaitu Bima Saka Hadiningrat. Ayahnya seorang rektor di universitas XYZ. Kevin adalah satu diantara panitia pagelaran yang di rekrut galeri. Jadi bukan merupakan pegawai tetap. Dia tinggal di jalan Z.


"Aku khawatir kakak-beradik itu mempunyai rencana gila untuk Arumi mengingat kejadian di saat perhelatan kampus waktu itu"


"Apa kita ke kota B juga untuk menjaga Arumi?"


"Aku sudah mementa pak Pramono menyiapkan satu kamar di hotel yang sama dimana rombongan menginap. Jadi sewaktu-waktu jika kita berkunjung kita tidak susah mencari tempat...."


"O...begitu. Tumben encer tuh otak"


"Egh...Maksud mu selama ini aku bebal. Begitu? Dasar asisten ga da akhlak...!"


Dan sekali lagi bantal pun punya sayap, hinggap dengan cantik pada wajah Elvano.


"Ah, lagi-lagi KDRT ini namanya..."


"Ga peduli, Kalau perlu aku kasih bogem mentah sekalian..."


"Astaga....begini nieh kalau Bos lagi bucin. Maunya ya... semau-maunya"


"Au ach..."


"Oya, aku juga akan tempatkan Dewa dan Rio sebagai satu diantara crew pagelaran. Aku harap keduanya bisa berbaur dan menjaga Arumi..."


"Kenapa bukan Darius, Satrio atau pandu saja? Keduanya lebih mumpuni..."


"Kalau ketiga orang itu sudah dikenal Arumi. Dan aku tidak mau Arumi tahu jika aku menempatkan orang untuk menjaganya. Terlebih lagi Arumi melarang itu. Pakai mengancam segala lagi..."


"Mengancam? Hahaha....Sejak kapan Mirza takut dengan ancaman? Waduh, virus mu benar-benar membahayakan..."


"Virus? Membahayakan...? Virus apa? Membahayakan siapa?"


"Virus cinta yang sangat berbahaya karena sudah sukses membuat Mirza, pengusaha nomor satu di Indonesia yang dingin sedingin es mulai mencair dan berubah melow. Hahaha...."


"Dasar kutu kupret...! Tapi ada benar juga kamu, El. Aku merasakan cinta yang sangat berbeda ketika bersama Arumi"


"Lalu Andrea? Bukankah dulu kau sangat mencintai dan memujanya?"


"Entahlah, El. Aku memang mencintai Andrea tapi cintaku kepada Arumi ini benar-benar berbeda. Ada getaran dan rasa yang tidak pernah aku rasakan saat bersama gadis lain. Bahkan Andrea sekali pun. Sebuah perasaan yang luar biasa. Karena semua rasa menyatu, El. Ada cinta yang menggebu, cinta yang kadang disertai marah dan cemburu jika aku melihat dia dekat laki-laki lain. Dan satu lagi perasaan yang tak pernah ku rasakan saat bersama Andrea, yaitu kangen yang berlebihan. Ini benar-benar perasaan yang berbeda, El. Perasaan yang tidak dapat diajak kompromi..."


"Mungkin itu yang namanya cinta sejati..."


"Benarkah..."


"Tapi yang aku tahu, kau memang berbeda sejak kenal dan mencintai Arumi. Kau gila, Za"


Mirza menghela nafas. Hati dan fikirannya sebenarnya membenarkan apa yang dikatakan sahabatnya itu. Kemudian mata tajam Mirza melirik jam yang melingkar pada tangannya.


"Kita ke galeri dahulu..."


"Sebagai apa? Pemilik galeri atau pemuja Arumi...?"


"Em, saat ini aku lebih cenderung sebagai pemuja Arumi. Hahaha..."


"Dasar Bos bucin..."


"Oya, data laki-laki yang bersama Arumi di panti itu belum ku terima. Ada apa? Sulit menemukannya? Apa Elvano kehilangan sentuhannya..." ucap Mirza sambil menggerakkan ujung matanya ke arah Elvano yang berjalan di sebelahnya.


"Aish...bukan begitu. Laki-laki itu benar-benar penuh misteri. Informasi yang ku dapat minim sekali. Yang ku tahu namanya King. Dia anak panti yang sudah bekerja. Dan mulai membantu kebutuhan panti. Ia bekerja di salah satu anak perusahaan MA Group. Tepatnya di Mahadaya Utama. Dan tak tanggung-tanggung, ia menempati posisi asisten pribadi"


"Mahadaya Utama itu berbasis usaha Furniture, kan?"


"Ya, Bos. Dan penghasilan terbesar keempat setelah Garmen, Perhiasan, cafe n resort"


"Ya, aku ingat. Aku juga sudah menggelontorkan dan yang sangat besar untuk usaha itu..." ucap Mirza yang tampak mengangguk-angguk. Sementara tangannya masih asyik membuka-buka file laporan dari salah satu anak perusahaannya.


🌸🌸🌸🌸🌸


Mentari sudah mulai tergelincir dan memasuki peraduannya. Arumi sudah berdiri di depan galeri. Beberapa perlengkapan pun sudah tertata rapi dalam kendaraan. Sementara itu mata Arumi terlihat tidak tenang. Matanya terus bergerak seakan ada yang sedang ia cari.


"Hei..."


"King...? Kok disini? Sudah pulang kerja?"


"Aku izin pulang sedikit lebih cepat karena aku tahu kau akan berangkat sore ini"


"Tahu dari siapa?"


"Bu Salma..."


"O..."


"Tapi aku tidak bisa lama-lama. Aku ada janji dengan anak-anak. Mau tak mau aku harus menggantikan mu menghibur mereka. Hehehe..."


"Ah, kau ini ada-ada saja..."


"Hati-hati ya di sana. Jaga kesehatan mu. Jangan terlalu capek. Sering-sering kirim kabar. Anak-anak juga pasti sangat merindukanmu..." ucap King sambil menyodorkan sebuah paper bag.


"Vitamin..."


"Terima kasih ya, King..."


"Sama-sama. Salam dari Bu Salma dan anak-anak. Aku langsung cabut ya..." ucap King. Tangannya mengusek pucuk kepala Arumi sesaat sebelum berlalu.


"Terima kasih, King..."


"Aish....ada si Kingkong"


"Kingkong? Ah, mustahil. Buktinya tidak ada keributan..."


PLAKK...!


Mirza mendaratkan file ke kepala Elvano dengan tatapan tajam setajam golok Pitung 😜


"Lelet. itu..." ucap Mirza sambil menunjuk seorang laki-laki yang tengah memakai helm dan kemudian berlalu.


"Oh, King yang itu..." ucap Elvano sambil nyengir kuda dan mengusek kepalanya.


Pukul empat lewat lima belas menit. Arumi masuk ke galeri dimana acara pelepasan dimulai. Arumi memilih duduk pada deret paling belakang, karena memang hanya itu kursi yang tersisa. Matanya masih saja tak tenang, seperti mencari sesuatu.


Acara pelepasan berlangsung kurang lebih satu jam. Dan itu sudah cukup membuat Arumi untuk merasakan HIV (hasrat ingin vivis) saat ini. Arumi pun bersegera menuju toilet untuk menuntaskan hasratnya itu.


"Kau..." ucap seorang gadis cantik bertubuh proporsional saate mendapati Arumi yang tengah merapikan riasan wajah.


"Berani juga gadis seperti mu mengambil ikut bagian di pagelaran ini. Kau yakin karya mu itu bagus?"


"Memang aku gadis seperti apa?"


"Kita memang bak langit dan bumi. Aku baik dan kau jahat..."


"Kau...!" ucap gadis itu, Sarah.


Tangan Sarah sudah terangkat, namun ditangkap Arumi dengan cepat. Bahkan genggaman tangan Arumi sangat kuat, sehingga membuat Sarah meringis.


"Jangan coba-coba menggangguku...!" ucap Arumi penuh penekanan dan mata yang berkilat.


Perlahan kepalan tangan Sarah melemah, sehingga Arumi pun melepaskan genggamannya. Berlaku cepat Sarah meninggalkan Arumi dengan wajah merah padam.


Arumi menghela nafas panjang. Dan sekali lagi ia bercermin. Matanya menatap sendu bayangannya. Hatinya kembali gerimis, walau bibirnya menyunggingkan senyuman.


"Dimana pun kau berada, kau akan selalu di hina Ar. Karena itu terus menjadi kuat dan beranilah. Semangat, Arumi...!"


Kemudian Arumi melangkah ke luar toilet dengan gontai. Namun saat langkahnya baru saja melewati ambang pintu, seseorang meraih tangan Arumi dan membawanya seirama dengan langkahnya. Mau tidak mau, walau dengan susah payah Arumi menuruti laki-laki yang tengah melangkah panjang di depannya. Terlebih dia tahu siapa laki-laki itu.


"Maaf aku terlambat. Ada sedikit pekerjaan di kantor" ucap Mirza saat sukses menarik Arumi ke dalam ruang kerja Pramono.


"Kenapa bapak membawa saya ke ruangan ini. Ini ruangan Direktur. Ayo kita keluar..."


"Hei, kau meremehkan ku? Jangankan ruangan ini, gedung beserta isinya pun bisa ku beli.."


"Egh..."


"Sombong sekali. Hadeeuh...Aku lupa jika sedang berhadapan dengan Mirza Adyatma. Pengusaha muda sukses nomor satu di Indonesia..."


GREEP...


Mirza lagi-lagi membenamkan kepala Arumi dalam dada bidangnya. Sementara sebelah tangan lainnyaendekap erat bahu Arumi.


"Hati-hati. Jangan biarkan orang tak dikenal mendekati mu. Apalagi sampai mencuri perhatian mu. Aku tak kan bisa menerima itu"


"Egh..."


Wajah Arumi menatap Mirza yang sedikit jauh dari jangkauannya matanya saat mendengar ucapan absurd Mirza.


"Jangan melihat ku seperti itu..! Wajar kan jika aku mengutarakan kekhawatiran ku? Apalagi kau gadis ku. Hanya milik ku..."


"Egh..."


Lagi-lagi Arumi menatap Mirza dengan tatapan seakan tak percaya.


"Aish...Kenapa kau selalu menatapku seperti itu?" ucap Mirza sambil mengurai dekapannya.


"Mana dompet mu..?"


"Untuk apa...?"


"Mana...?" ucap Mirza lagi. Kali ini sambil membulatkan matanya dengan sempurna membuat Arumi mau tidak mau menurutinya. Kemudian Mirza mengeluarkan dompetnya dan menguras habis isinya. Ia memindahkannya ke dalam dompet Arumi. Jika dihitung nilainya tak kurang dari lima juta rupiah. Tak lupa Mirza pun memasukkan sebuah debit card berwarna hitam kedalam dompet Arumi. Wah, dari warnanya saja bisa diketahui jika isi dari debit card itu pastilah sangat fantastis.


"PIN-nya, tanggal, bulan dan tahun kelahiran mu"


Arumi hanya bisa menatapi polah Mirza. Ia tak ingin berkomentar karena ia tahu bagaimana tabiat Mirza yang sungkan di bantah.


"Kau harus menggunakannya. Aku akan sangat marah jika kau menolak menggunakannya. Dengar kan wahai Arumi Hirata Permana?"


"Apa tidak berlebihan, Pak.."


"Untuk istriku tidak ada yang berlebihan..."


"Egh...sejak kapan aku jadi istri bapak"


"Sejak aku memutuskan bahwa hanya kau gadis yang akan selalu mengisi jiwaku. Sejak aku memutuskan bahwa hanya kau yang berhak menjadi ibu dari anak-anakku..."


"Aneh sekali tiba-tiba ia mengatakan hal semanis itu. Duh..hati kuat-kuat ya" batin Arumi.


"Sering-sering kabari aku ya...Aku tidak ingin kangen ku jadi akut. Aku tidak akan kuat, Ar..."


"Gombal... Belajar dimana, Pak. Apa pak Elvano yang mengajari bapak?"


"Kau meremehkan ku lagi..." ucap Mirza. Tangannya menjepit hidung Arumi dan memainkannya membuat gadis itu meringis dan berusaha menepis tangan Mirza.


"Hahaha...!"


Mirza tertawa mendapati polah gadis yang dicintainya itu. Sementara itu Arumi yang baru saja terbebas dari jepitan tangan Mirza dengan hidungnya yang sedikit memerah terlihat sedikit kesal. Wajah Arumi ditekuk jelas ia tidak menyukai apa yang dilakukan Mirza. Namun melihat wajah Arumi yang demikian, justru membuat Mirza terkekeh.


Mirza mengurung Arumi diantara kedua lengannya yang menopang pada dinding.


"Beri aku sedikit hadiah yang akan membuatku mengingatnya saat aku merindukan mu. Hitung-hitung untuk bekal selama satu bulan..."


"Egh..."


"Dasar otak mesum..." ucap Arumi saat melihat bibir Mirza yang mulai bergerak mendekat bibirnya.


CUP...


Secepat kilat Arumi mencium pipi laki-laki tampan itu dan keluar dari kalungan lengan Mirza.


"Duh...kenapa juga aku mengecup pipinya? Aku malu. Ini ciuman pertama ku yang ku berikan kepada seorang laki-laki. Tapi...Em, daripada bibir ku yang di ***** dia lebih baik aku mengambil inisiatif itu. Semoga dia tak menuntut banyak setelah ini. Hehehe..." batin Arumi.


Sementara itu, mendapat kecupan di pipi, Mirza tersenyum sambil memegangi bekas kecupan bibir Arumi tersebut. Ini adalah kecupan pertamanya. Kecupan yang diberikan Arumi atas inisatif Arumi sendiri.


"Nice...." ucap Mirza sambil berlalu meninggalkan ruangan tersebut. Wajahnya sumringah dengan senyum yang tak henti ia sunggingkan. Langkah Mirza begitu panjang hingga ia kembali ke dalam mobil dimana Elvano menunggu.


"Bagaimana, sudah bertemu dengan Arumi..."


"Sudah..."


"Wah, Sepertinya ada yang sedang bahagia nieh..." ucap Elvano yang menatap Mirza lekat.


"Selamat jalan, cintaku. Aku akan merindukan mu..." batin Mirza.


Mata Mirza menatap Arumi yang melangkah menuju sebuah mobil yang terparkir. Baru saja kakinya menaiki stap pertama sebuah suara sukses menghentikan langkah Arumi.


"Arumiiiii...!"


Tergopoh langkah Arya dan Vanya menghampiri Arumi.


"Jahat...kau tidak memberitahuku" ucap Vanya manyun.


"Marahi saja, Nya. Biar tahu rasa..." ucap Arya.


"Ya, maaf..." ucap Arumi sambil memeluk sahabatnya itu.


"Kirimi aku kabar. Awas kalau tidak..." ucap Vanya saat Arumi sudah berada dalam mobil.


"Selamat tinggal, pak Mirza. Selain untuk mewujudkan cita-cita ku, aku pun ingin menjauh sesaat dari mu. Aku ingin tahu bagaimana sebenarnya perasaan ku padamu..." batin Arumi.