
Darah terus mengalir. Wajah Shereen pasi. Bukan saja karena kehilangan banyak darah, namun lebih pada melihat banyaknya ceceran darah di sekitarnya. Rasa cemas pun merayapi segenap jiwanya.
"King..." ucap Shereen di sela rintihan dan rasa khawatirnya.
King langsung mengangkat tubuh Shereen. Ia membawanya ke dalam mobil yang parkir. Selama kakinya melangkah, King terus menatapi wajah lesu Shereen. Menyaksikan kondisi perempuan yang ia cintai itu, khawatir pun kian menyelimuti jiwanya.
Sementara itu, Dewa tengah beradu jurus. Dewa tampak begitu mendominasi olah jurus itu. Sesekali ia menyunggingkan senyuman.
"Berhentilah bermain-main, Wa. Segera sudahi. King sudah sangat khawatir..." ucap Elvano.
"Haha....kau mengganggu kesenangan ku saja. Orang sombong seperti mereka ini harus diberi pelajaran" ucap Dewa.
"Kasih pelajaran matematika saja, Wa. Jangan olahraga..."
"Hahaa.... siap...!' ucap Dewa sambil tertawa.
Kakinya melayangkan sebuah tendangan lurus. Bibirnya menyunggingkan senyuman. Sekilas itu adalah senyum keangkuhan. Bahkan jelas terlihat di kilat matanya.
"Pamer...." ucap Elvano.
Senyumnya terbit di ujung bibirnya. Senyum yang misterius. Dan hanya bisa dimaknai oleh dirinya sendiri.
BUk...!
Buk...!
BUK...!
Elvano menghadiahi pukulan dan tendangan kepada Ken yang sejatinya adalah lawan dewa. Laki- yang dianggap tak bertanggungjawab itu tersungkur.
Dewa cemberut. Ia tak suka atas perbuatan El barusan.
"Tukang pamer. Pencuri..." ucap Dewa.
"Haha....sorry, sorry. Efek kelamaan. Shereen butuh pertolongan tuh"
"Ok...Ok"
Hanya selang dua menit dari percakapan itu, team medis pun datang. Suara sirine nya meraung dan menarik perhatian beberapa pengguna jalan ataupun pengunjung yang ada di sekitar tempat tersebut.
"Ah, si kutu kupret menghubungi team medis rupanya. Tahu begitu aku akan lebih lama bermain-main dengan si bangsat it....." kata Dewa terhenti.
Matanya mengikuti langkah cepat Ken dan bodyguard nya itu.
"Ah, sial....!!"
"Sudah jangan dikejar. Biarkan saja. Lain waktu jika masih berlaku seperti ini lagi, maka aku tak segan-segan tuk menghabisinya. Minimal ku kirim ke markas biar dimakan buaya..."
"Haha....kejam juga kau , Wa"
"Aku paling tidak suka melihat perempuan diperlakukan dengan semena-mena. Mendidih darah ku'
"Cie...Dewa" Ledek Elvano.
"Sial kau, El..." sambil melayangkan pukulan tak seberapa ke arah Elvano.
"Weit...." ucap Elvano sambil menangkis pukulan tak seberapa Dewa dengan mudah.
"Haha..." tawa keduanya mengisi udara sesaat.
Sementara itu, kehadiran team medis membuat King sedikit lega. Matanya menatap lekat wajah Shereen. King diliputi kekhawatiran.
"Shereen..." ucap King penuh perasaan.
Katanya tercekat dan hampir hilang.
"Kuat, sayang. Ada aku. Aku akan menjaga mu. Kita akan menua bersama..." batin King.
"Baby-nya siap dilahirkan..." ucap seorang petugas.
Deg.
.
.
.
.
"What....!' ucap King.
"Ditengah keterbatasan alat medis. Oh, no. Usia kandungannya belum cukup. Apa kalian yakin..." ucap King lagi.
"Tentu saja, Tuan. Jika tidak dilahirkan sekarang, justru bisa membahayakan nyawa ibu nya"
Deg.
.
.
.
Lagi-lagi King terdiam. Jantungnya bertalu. Ada riak yang siap menjadi badai dalam hatinya.
"Percayakan Shereen pada team medis. Kau tak perlu ragu seperti itu. Apalagi mereka dari MA Hospital..." ucap Elvano
"Ya, aku tahu. Tapi tetap saja aku khawatir. Apa Tidak bisa dilakukan di rumah sakit saja? ucap King.
"Kami khawatir waktunya tidak cukup, tuan. Dan hal tersebut bisa membahayakan keduanya..."
Deg.
.
.
.
King kembali terdiam. Fikirannya menerawang jauh entah kemana.
"Baiklah jika demikian. Mohon lakukan yang terbaik, Dok..." ucap King kemudian.
"Kita lakukan yang utama, selebihnya kita lakukan di MA Hospital"
"Baik, Dok...."
"King..." ucap Shereen ditengah erangannya.
"Aku disini. Kuatlah, sayang..." ucap King.
Sebelah tangannya menggenggam erat jemari Shereen.
"Tuan ingin disini atau di luar..." ucap seorang perawat.
"Em..."ucap King.
Matanya menatap lekat wajah cantik Shereen. Jelas ujung tatapannya bak meminta persetujuan perempuan cantik itu.
"Keluarlah, King. Aku akan baik-baik saja..." ucap Shereen terbata.
"Aku yakin. Akh....!" ucap Shereen diakhiri dengan erangan.
King akhirnya sampai pada sebuah keputusan. Ia pun keluar mobil team medis. Ia melangkah mendekati Dewa dan Elvano yang duduk pada sebuah kursi kayu.
"Bagaimana....?" ucap Elvano.
"Sudah mulai persalinannya?"ucap Dewa.
King tersenyum. Pun demikian, raut wajahnya masih mencerminkan kekhawatiran.
"Sedang bersiap..." ucap King sambil duduk di sebelah Dewa.
"Semoga lancar..."
"Aamiin..." ucap ketiganya bersamaan.
"Oya, apa rencana kalian selanjutnya? ucap Elvano.
"Membawa Kalila pada tempat dan kehidupan yang aman, nyaman dan bahagia"
"Kalila...?"
"Nama baby nya..."
"Ow...." ucap Dewa dan Elvano hampir bersamaan.
Tidak ada percakapan yang terjadi untuk selanjutnya. Kurang lebih tiga puluh menit diam dalam pemikiran masing-masing.
Waktu pun bak berlalu begitu lambat pada situasi tersebut. Jantung King berdegup begitu hebat. Segala kemungkinan atas kondisi Shereen silih berganti menghantuinya.
"Tenanglah, King. Ayahnya saja biasa-biasa saja. Bahkan ingin melenyapkannya"
"Hei, jangan samakan aku dengan laki-laki pengecut itu..."
"Owaaaa.....!"
Suara tangis terdengar. Suara khas seorang bayi. Mendengar itu, senyum pun terbit di wajah King.
Deg.
.
.
.
Jantung King kian bertalu. Degupnya kian hebat saat pintu kendaraan medis terbuka. Senyum mengembang di wajah seorang perawat perempuan. Ada seorang bayi yang meronta dalam buaian nya.
"Selamat ya, tuan. Anak anda perempuan.." ucap perawat itu.
Tangan King bergetar saat meraih tubuh mungil nan cantik itu.
"Tuan putri..." ucap King sambil menghadiahi kecupan pada kening baby yang diberi nama Kalila itu.
Ada bulir bening yang mengerubuti kedua mata King. Ia begitu suka cita atas kelahiran bocah cantik itu. Walau itu bukan darah dagingnya, namun mengapa rasa itu menyelimuti segenap jiwanya.
Bocah kecil itu mendadak diam dalam buaian King. Mata kecilnya menatap King. Sepertinya ia mengamati sosok laki-laki yang tengah menggendongnya itu.
Elvano dan Dewa pun turut larut dalam kebahagiaan King. Keduanya tampak tersenyum dan menatap takjub wajah bayi mungil yang cantik itu. Wajah yang tak menyiratkan permasalahan hidup sedikitpun. Wajah yang begitu polos. Wajah yang tidak tahu akan ada banyak permasalahan hidup yang akan dihadapi dalam perjalanan hidupnya.
"Berikan bayi ini..." ucap Ken yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan King.
Tangannya dengan cepat meraih bayi yang berada dalam buaian King. Beruntung King sigap mempertahankan bayi yang baru dilahirkan perempuan yang ia cintai itu.
"Jangan harap kau bisa memilikinya...!!" ucap King.
Matanya menatap nanar. Rahangnya mengeras menahan amarah.
"Dia anak ku...!"
"Anak..?! Jika kau ayahnya mengapa kau tega akan menghabisinya..."
"Itu urusanku...!!"
"Itu juga menjadi urusan ku...!!"
"Urusan mu. Hoho...rupanya kau sudah menjadi pelindung Shereen. Atau jangan-jangan kau pun turut andil dalam menghadirkan anak ini? Hah..!"
"Jaga bicara mu...! Aku bukan diri mu yang senang bercocok tanam, setelah itu ditinggalkan. Aku bukan pengecut seperti mu..."
"Ah, kau sudah terlalu banyak bicara...!
BUK...!
BUK...!
DUAK...!
"Akh.....!!"
To be continued....