150 Cm

150 Cm
Episode 80. Rindu Yang Membuncah



Arumi mencium punggung tangan Mirza dengan takzim. Ini kali pertama keduanya akan terpisah sejak pernikahan keduanya sebulan yang lalu. Lama Mirza mendekap Arumi. Sesekali ia menghadiahi kecupan lembut pada pucuk kepala juga bibir tipis Arumi.


"Aku akan kangen sekali, sayang..." ucap Mirza.


"Cepatlah pulang jika urusan kakak telah selesai. Aku akan menunggu kakak di sini"


"Sayang, andai aku bisa mengajak mu serta tentu sudah kulakukan"


"Maksud papa pasti baik..."


"Entahlah... Sepertinya papa hanya ingin memisahkan kita saja. Haha..." ucap Mirza yang diakhiri dengan tawa.


"Ah, sudahlah. Yang terpenting kakak harus ingat pakai baju hangatnya. Ku dengar cuaca dingin di sana extrim. Berjanjilah akan selalu berhati-hati..."


"Ya, sayang. Baju hangatnya akan kupakai. Dan aku akan selalu berhati-hati. Oya, satu lagi. Aku akan selalu mengunjungi mu..." ucap Mirza.


Tangannya mencubit hidung bangir Arumi.


"Aku akan berangkat ya. Baik-baik di rumah dan tunggu aku. Berjanjilah akan selalu bercerita kepadaku tentang semua hal yang terjadi..."


"Ya, kak. Arumi berjanji"


"Good...."


Mirza menarik koper berukuran sedang. Sedangkan tas kerjanya di jinjing Arumi. Kemudian keduanya menuju lantai dasar. Selama menyusuri anak tangga keduanya tak hentinya bergandengan tangan.


Ada mendung di wajah Arumi yang tak terelakkan lagi. Dan suasana itu pun ditangkap oleh William dan Dania yang sejak tadi memperhatikan keduanya. Bahkan dari ujung anak tangga.


"Arumi...kakak Mirza mu ingin pergi bekerja, bukan berperang. Jadi tak perlu khawatir begitu" ucap William bernada godaan.


Sementara itu Dania hanya tertawa kecil. Ia berusaha seminimal mungkin godaan itu tidak membuat Arumi dan Mirza rikuh.


"Ah, Papa bisa saja. Mirza berangkat Pa, Ma. Titip Arumi..."


"Astaga...Sudah pasti kami akan menjaganya, Za. Arumi kan anak perempuannya mama. Dasar anak nakal. Kau kira mama ini model mama mertua yang jahat? Hah...!" ucap Dania sambil mencubit perut Mirza.


"Bukan begitu, Ma, Pa. Aku hanya ingin memastikan Arumi aman dan nyaman..."


"Ya, baiklah. Dimengerti..." ucap William sambil memainkan alisnya naik dan turun.


"Em, sayang. Aku...."


Kata Mirza jadi hilang saat matanya menatap William dan Dania. Dan kedua orang tua nyentrik itu pun mengetahui kerikuhan putra semata wayangnya itu.


"Hadeeuh.... sepertinya pesan-pesannya belum selesai. Dasar anak nakal. Kita pergi saja Pa..."!ucap Dania.


Tangannya mengamit lengan William dan membawanya seiring langkahnya. Keduanya tahu betul.bagaimana perasaan dua sejoli yang ketika sedang sayang-sayangnya,. tiba-tiba harus berpisah. Terlebih keduanya masih terbilang sebagai pengantin baru. Hingga keduanya menghilang di balik dinding, barulah Mirza memulai katanya. Namun sebelum itu, lagi-lagi Mirza berisyarat agar para asisten memutar tubuh dan membelakanginya.


"Em, sayang. Aku berangkat. Ingat pesan-pesan ku..." ucap Mirza.


Lagi-lagi Mirza menatap Arumi lekat. Dan tangannya mendadak menarik Arumi dalam dekapannya hingga perempuan 150 cm itu hampir terpekik. Pekikan itu urung karena saat ini Mirza tengah kembali bermain dengan bibir tipisnya. Hingga habis nafas keduanya barulah permainan itu selesai. Dan Mirza pun langsung melangkah cepat dan masuk ke dalam mobilnya.


"I love you..." begitu isyarat gerak bibir Mirza yang ditangkap Arumi.


"I love you too..." balas Arumi sambil tersipu.


Ada rona merah di wajah Arumi karena permainan yang baru saja keduanya mainkan. Arumi tersenyum. Sebelah tangannya menyeka sisa permainan barusan di bibirnya.


Dan seiring laju mobil yang membawa Mirza, tangan Arumi tiada henti melambai. Hingga mobil mewah itu menghilang di ujung jalan, barulah Arumi menghentikan lambaian tangannya.


Arumi langsung meraih ponsel.di atas nakas. Hatinya menyeru agar ia melakukan itu. Dan benar saja, ternyata ponsel tersebut tengah berpendar. Bukan sekali, rupanya telah berulangkali. Arumi pun langsung menerima panggilan itu, karena ia tahu siapa si peneleponnya.


"Ya, Kak..."


"Kangen..." ucap sebuah suara di ujung telepon.


Suara tersebut tak lain adalah milik Mirza Adyatma. Arumi sumringah mendengar ungkapan itu. Bahkan saat ini ia tengah menjadi penari. Semua gaya tarian sudah ia tarikan. Mulai dari gaya jingkrak-jingkrak hingga gaya penari ular pun ia peragakan. Semua karena rasa bahagianya yang berlebihan saat perhatian Mirza terasa berlimpah untuknya.


"Sayang...apa jawaban mu?" ucap Mirza penuh perasaan.


Si singa kutub ternyata sudah berubah menjadi bucin sejak terkena virus cinta Arumi. Cinta yang sederhana dari perempuan 150 cm, namun mampu menggoyahkan benteng pertahanan yang sudah membeku selama ini.


"Aku tentu kangen. Walau baru beberapa menit kakak meninggalkan ku, namun kangen itu sudah melanda. Pun demikian, kita harus tetap menjalaninya. Semua demi prestasi perusahaan kita..."


"Ya, tentu saja. Selain orangtuaku, kau satu-satunya perempuan yang menjadi penyemangat hidup ku. Terima kasih sudah bersedia menjadi istriku..."


"Terima kasih juga, kakak sudah bersedia menerimaku dengan segala kekurangan yang ada menjadi pendamping kakak. Dengan demikian aku merasa sempurna..."


Perbincangan pun berlanjut hingga hampir tiga puluh menit. Dan waktu tersebut cukup mengantarkan Mirza hingga bandar udara yang akan menerbangkannya ke suatu negara . Dan akhirnya, mau tidak mau Mirza pun mengakhiri obrolannya itu.


"Nanti kita akan sambung lagi, Sayang. Aku bersiap menuju pesawat dahulu ya. Doakan suami tampan mu ini ya..."


"Selalu, Kak. Dalam ibadah ku, dalam kesendirian ku bahkan dalam diam ku sekalipun, doa itu akan selalu terucap untuk mu, suami ku tercinta yang paling tampan..."


"Mmuuach...Love you"


"Love you too..."


"Sekarang tutuplah teleponnya..."


"Kakak duluan saja..."


"Tidak kau saja yang terlebih dahulu menutupnya"


"Kalau begitu kita sama-sama saja menutupnya..."


"Pada hitungan ketiga ya. Satu...dua...tiga..."


Dan.....


Tiada satupun dari keduanya yang menutup telepon. Dan hal tersebut tentu saja membuat keduanya tertawa.


"Ayolah, sayang..." ucap Mirza.


"Baiklah. I love you..." ucap Arumi sesaat sebelum ia memutus sambungan telepon.


Arumi terdiam di tepi tempat tidur. Matanya menatap kasur beralas sprei berwarna putih itu dengan lesu. Hatinya sedikit beriak.


"Hingga tiga Minggu ke depan, tidak akan ada pergulatan seru di tempat ini..." ucap Arumi.


Tangannya tampak mengusap-usap perlahan kasur. Tempat tidur yang hampir sebulan ini menjadi saksi pergulatan panas sepasang kekasih itu.


Arumi rebah. Tangannya masih terus mengusap-usap kasur beralas sprei berwarna putih itu. Arumi membaui aroma yang menempel pada sprei. Aroma khas dari tubuh seorang Mirza Adyatma. Laki-laki tampan pemilik hati Arumi.


"Aku mencintaimu, Mirza Adyatma. Kini dan nanti. Selamanya..."