150 Cm

150 Cm
Episode 30. Arumi, Dimana Kau...?



"Tuan..."


Seorang pemuda menepuk bahu Mirza. Mata pemuda itu begitu sendu mengisyaratkan gerimis di hatinya.


"Kau...?"


"King..." ucapnya memperkenalkan diri.


"Ya, saya tahu. Yang saya maksud mengapa kau ada di sini? Apa kepentingan perusahaan?"


"Tidak, Tuan. Tidak ada hubungannya dengan perusahaan. Saya di sini sama seperti, Tuan. Saya mencari Arumi..."


"Darimana kau tahu tentang kondisi Arumi...?"


"Kak Faaz..."


"Faaz..."


"Kak Faaz meminta saya untuk menyertai Tuan mencari Arumi"


"Faaz...? O...aku mengerti sekarang. Jadi kalian berdua sekongkol?" tuduh Mirza.


"Tuan jangan salah sangka. Saya tahu diri. Saya hanya pegawai Tuan. Dan kak Faaz adalah penolong saya"


"Terserah...Aku tak peduli. Jika kau ingin mencari Arumi sebaiknya jangan membuat langkah sendiri. Karena itu akan merepotkan upaya pencarian"


"Baik, Tuan. Saya akan selalu berkoordinasi dengan bang Dewa dan bang Rio. Terutama pada Tuan"


"Em..."


Mirza duduk kembali pada kursi yang selama tiga pekan ini menjadi kursi kebesarannya. Bersandar Mirza sambil memejamkan matanya. Sebelah tangannya tampak memijat kepala. Sesekali ia meregangkan tubuhnya.


"Kemana kau, Arumi? Mengapa jejak mu tak terendus sama sekali. Kau bak hilang ditelan bumi. Arumi beri aku sedikit jejak mu agar aku dapat menemukan mu." batin Mirza.


"Tuan...." Suara Dewa sukses membuat mata Mirza terbuka.


"Ada satu orang kita yang melihat Non Arumi.."


"Jadi Arumi sudah ditemukan?"


Mirza bangkit posisi leyeh-leyeh nya. Matanya menatap Dewa dengan pendar harapan.


"Maaf, Tuan.Tidak demikian. Karena saat kami berusaha menghampirinya, non Arumi menghilang"


"Apa maksudmu menghilang? Arumi itu bukan sebangsa zin atau setan yang bisa datang dan pergi tanpa diketahui orang"


"Ya, Tuan. Maaf. Karena itu kami lebih memfokuskan pencarian ditempat terakhir non Arumi terlihat. Dan bermula dari titik itu juga kami memperluas range pencarian"


"Sial...!" ucap Mirza dengan suara meninggi.Tangannya menyapu segala benda di atas meja, termasuk menu makan paginya. Ruangan menjadi gaduh oleh suara benda jatuh ataupun pecah.


Melihat tuannya tengah melampiaskan amarahnya, Dewa hanya diam. Ia sangat mengerti bagaimana situasi tuannya itu. Dan rasa bersalahnya pun yang membuatnya menyimpan matanya di ujung kaki. Ia pun sudah bersiap jika Mirza melampiaskan amarahnya kepadanya.


KREEEK....


Semua mata mengalihkan perhatian pada pintu yang baru saja terbuka.


"Tuan..." sapa Rio yang dengan matanya memutari lantai yang berantakan.


"Bagaimana, Rio...?"


"Maaf, Tuan. Semua Rumah sakit sudah saya datangi kembali. Dan tidak ada pasien dengan ciri-ciri seperti non Arumi..."


"Syukurlah...Artinya sampai saat ini dia tidak sedang sakit atau terluka. Bagaimana dengan pihak berwajib?"


"Sejauh ini tidak ada laporan berarti. Saya pun meminta data laporan korban kejahatan atau kecelakaan. Hasilnya nihil. Tidak ada data yang merujuk pasti pada sosok Non Arumi..."


Mirza menghela nafas. Ia terduduk lesu pada kursi kebesarannya.


"Kalian boleh pergi dan melanjutkan pencarian..." ucap Mirza kemudian.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Mirza berpendar. Mata Mirza langsung menilik si pembuat panggilan. Di sudut hatinya ia berharap itu Arumi atau seseorang yang mengetahui keberadaan Arumi. Tapi nyatanya tidaklah seperti harapannya.


"Assalamu'alaikum...Ma?"


"Za, bagaimana kabar Arumi? Sudahkah ada titik terang tentang keberadaan nya?"


"Belum ada, Ma. Mirza belum menemukannya. Rupanya Tuhan sedang menguji Mirza sehingga Arumi masih sulit ditemukan. Doakan ya, moga cepat ditemukan..."


"Mama selalu berdoa untuk mu juga untuk Arumi. Nak..."


Ucap Sonia yang terakhir membuat Mirza berfikir sejenak. Karena suara perempuan yang telah melahirkannya itu terdengar sedikit bergetar.


"Ada apa, Ma. Mama baik-baik saja. Tapi..."


"Tapi apa, Ma...? Apa ada yang terjadi saat ini?"


"Za...Papa dirawat di rumah sakit. Kemarin papa pingsan. Dan setelah di cek ternyata ada pembuluh darah yang pecah di kepalanya. Em, hari ini papa operasi..."


"Kenapa mama baru memberitahu Mirza sekarang?"


"Mengapa papa bisa berfikiran demikian. Papa dan mama adalah yang terpenting bagi ku?"


"Lalu Arumi..."


"Ma, itu berbeda. Sudahlah, Ma. Saat ini juga Mirza kembali..."


"Baiklah, Nak. Berhati-hatilah..."


Sesaat kemudian, sambungan telepon ibu dan anak itu pun terputus. Mirza mengusek rambutnya dengan kasar. Ia merasa kebimbangan bergelayut di ujung hatinya. Berulangkali Mirza menghela nafas berat.


"King...ajak Dewa dan Rio ke ruangan saya" ucap Mirza melalui sambungan teleponnya.


"Baik, Tuan..." jawab King di ujung telepon.


Tak lama kemudian, ketiga orang itu memasuki ruangan Mirza. Dan ketiganya saling bertatapan saat melihat Mirza tengah memasukan beberapa berkas dengan cepat. Ia tampak begitu tergesa.


"Tuan...." ucap King.


"Em, ya. Aku akan kembali. Papa sakit. Hari ini papa akan operasi. Jadi aku harus mendampinginya. Sementara aku tidak ada, kalian bertiga bertanggungjawab atas pencarian calon istri ku itu. Laporkan segalanya kepada ku, sekecil apapun..."


"Baik, Tuan..."


"Em, maaf tuan. Saya hanya mengambil cuti empat hari saja. Dan hari ini sudah hari kedua saya di kota ini.."


"Kalau begitu pergunakan waktu dua harimu untuk menemukan calon istri saya itu..." ucap Mirza sambil menatap lalu King.


"Saya khawatir jika melewati batas waktu cuti saya, maka pekerjaan saya akan...."


Ucapan King terhenti saat tangan Mirza terangkat.


"Kau fokus saja di sini jika itu mau mu. Tentang pak Heru, atasan mu itu akan menjadi urusanku"


"Baik, Pak. Saya akan tetap di sini sampai Non Arumi ditemukan"


"Itu memang mau mu. Dasar Kingkong..." batin Mirza sambil melayangkan tatapan lalu pada King.


Sejurus kemudian, Mirza pun sudah meninggalkan hotel tempatnya menginap. Hotel yang juga merupakan anak perusahaannya dalam MA GROUP.


Sepeninggal Mirza, ketiga laki-laki itu duduk pada sebuah sofa. Ketiganya tampak menghela nafas panjang.


"Mengapa Non Arumi sangat sulit ditemukan..."


"Ya, bahkan semua CCTV sejak kedatangannya di hotel dan galeri sudah ku periksa ulang. Tapi tetap saja tidak ada yang bisa dijadikan petunjuk"


"Semua jalur transportasi darat dan udara sudah ku periksa dan hasilnya nihil..."


"Aku khawatir telah terjadi sesuatu pada non Arumi, King, Wa.."


"Sstt..jaga bicaramu. Jika tuan Mirza mendengarnya bisa habis kau, Rio..."


"Hadeeuh...." keluh Rio sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Jadi apa masalahnya...?"


"Apa mungkin, non Arumi sengaja menghilang dan tak ingin ditemukan...?'


"Egh..."


King dan Dewa bertatapan. Berfikir sejenak atas pendapat absurd Rio.


"Sebuah spekulasi yang buruk mu rasa. Non Arumi tidak mungkin berfikiran demikian. Aku kenal betul ia..."


"King... Setelah aku memikirkannya, itu bisa saja terjadi. Mungkin Non Arumi tengah menghadapi sebuah masalah sehingga ia ingin menghilang sejenak dan dan tentunya tidak ingin ditemukan untuk sementara waktu ini. Bagaimana?"


"Masalah apa? Seingat ku saat terakhir bertemu dia baik-baik saja. Dia tidak menunjukkan sedikit pun permasalahan..."


"Aku pun merasa demikian. Tapi...tunggu dulu"


"Ada apa...?"


"Kenapa aku bisa lupa. Satu hari sebelum non Arumi menghilang, aku melihat pak Kevin sedikit bersitegang dengan non Arumi. Pak Kevin menyebut sebuah nama lainnya. Em, Sarah. Ya, pak Kevin menyebut Sarah dan meminta non Arumi untuk tidak merusak lukisan Sarah..."


"Apa pak Kevin telah menuduh non Arumi telah merusak lukisan Sarah?"


"Sarah...? Bukankah ia salah satu pelukis yang digadang-gadang akan menjadi rising star. Dan semua orang tahu jika keduanya memiliki hubungan spesial..."


"Kita harus menyelidikinya. Kemarahan pak Kevin, tuduhan pak Kevin dan Sarah..."


"Tapi mungkin kah pak Kevin pelakunya?"


"Mungkin saja. Terlebih dia adalah kakak dari Bima yang sebelumnya pernah punya masalah dengan non Arumi..."


Ketiganya tampak terdiam. Hanya fikiran ketiganya saja yang melambung dan membuat bermacam kemungkinan.


"Kalau begitu lebih baik kita berbagi tugas. Kita harus menyelidiki setiap kemungkinan. Aku dan Rio menyelidiki pak Kevin. King, kau menyelidiki Sarah. Aku yakin dengan pesona ketampanan mu itu mampu memberi angin segar kepada kaum hawa terutama Sarah. Aku yakin kau akan mudah mendapatkan informasi.."


"Maksudnya..."


"Kau fikir sendiri sajalah..."


"Egh..."


"Hahahaha.....!"