
"Kau.....!" ucap Andrea menggantung.
Andrea tak dapat berkata. Lidahnya terasa kelu. Langkahnya pun jadi mandul. Terutama saat berbuat apa-apa lagi saat Mirza membawa Arumi keluar dari kamar yang sejatinya adalah kamar pribadi Mirza dan Arumi itu. Mata Andrea saat ini lebih memilih fokus pada Ryu yang tengah menghadang langkahnya.
Andrea mengumbar senyum. Senyum yang sedikit sulit untuk dijelaskan dengan kata.
"Aku bukan Andrea yang beberapa waktu berbagi ranjang dengan mu..."
"Bagi ku tetap sama. Dulu atau pun kini. Sama liciknya. Sama gilanya..."
"Hahaha....!" tawa Andrea pecah.
CKLIK...
Pintu kamar di kunci. Ryu yang melakukannya. Hal tersebut tentu saja membuat beberapa bodyguard yang bersiaga terkesiap.
"Tuan...apa yang tuan lakukan?!" ucap seorang bodyguard.
Tangannya berulangkali mengedor pintu yang sudah tertutup rapat itu.
"Berjagalah...! Siapa tahu aku gagal menaklukkan perempuan yang sudah tak waras ini...!" ucap Ryu.
"Haha....!" tawa Andrea.
"Mengapa kau tutup pintunya...?!' ucap Andrea lagi bernada sinis.
Tiada ketakutan sedikit pun yang terpancar di wajahnya.
"Apa kau ingin mengulang kisah di atas ranjang kita dahulu?" ucap Andrea bernada nakal.
"Cih...! tutup mulutmu, Andrea...! Aku hanya ingin memastikan hal yang akan terjadi hanya urusan kita berdua"
"Ow....menarik sekali kau Ryu. Baiklah jika demikian. Lalu apa yang ingin kau lakukan?"
"Aku ingin kau mendekam di balik jeruji besi. Atau lebih baik kau mati sekalian..." ucap Ryu dingin.
"Haha...Sudah ku katakan aku bukanlah Andrea yang dahulu. Dan untuk meluluskan kedua hal yang kau inginkan itu, tentu tidak akan mudah bagi mu..."
"Di ruangan ini hanya ada dua jalan keluar. Pintu yang terkunci ini dan pintu balkon yang terbuka itu. Ku serahkan pada mu untuk memilihnya..."
"Jika aku memilih pintu yang terkunci itu..." ucap Andrea bernada menggoda.
'Maka langkahi dulu mayat ku, sehingga kau bisa membuka pintu dan keluar kamar ini'
"Jika aku memilih pintu balkon..."
"Maka kecil kemungkinan kau akan selamat, mengingat ketinggian bangunan ini"
"Ow...pilihan yang cukup sulit ternyata. Haha..." ucap Andrea diakhiri dengan tawa.
"Tapi... sebenarnya masih ada satu jalan lagi yang bisa kau jadikan pilihan"
"Oya....apakah itu"
Ryu tersenyum. Tangannya menarik sebuah kursi untuk kemudian ia duduki.
"Menyerah. Tanpa perlawanan. Demi menyelamatkan hidup mu..."
"Cih..! Tak Sudi aku memilih jalan itu. Lebih baik aku mati jika harus menyerahkan diri"
"Nona Andrea....! Anda sudah terkepung. Menyerahlah...!"
Mata Andrea sontak menatap lekat Ryu. Jelas di ujung tatapannya tergambar rasa keterkejutannya.
"Kau takut....?" ucap Ryu setengah berbisik.
"Apa kau yang merencanakan semua ini?"
"Rencana ku hanya menjaga mu agar kau tidak keluar dari ruangan ini. Selebihnya kau pasti tahu siapa yang melakukannya.."
"Haha...aku lupa jika aku berada di rumah pengusaha sukses nomor satu di Indonesia..."
"Jadi apa pilihan mu...?"
Kakinya bergerak cepat. Bersamaan dengan itu tangannya lincah mengayunkan belati kesana-kemari. Ayunannya mencecar Ryu hingga membuat laki-laki bermata sipit itu sedikit kewalahan.
Ryu menghindar dengan cepat setiap sabetan belati Andrea.
"Bagaimana Ryu, Aku bukan Andrea yang dahulu bukan?" ucap Andrea di sela nafasnya yang memburu.
"Kemahiran mu memainkan belati bukan berarti akan merubah dirimu sepenuhnya. Kelicikan dan ketamakan mu masih kental ku rasa...."
"Kurang ajar kau, Ryu...! Lidah mu merusak penilaian ku...."
"Haha.....Aku tak peduli, Andrea. Aku tak peduli atas penilaian mu terhadap ku...!"
BRAAKKKK....!!
Pintu kamar berhasil di buka paksa. Bersamaan dengan itu berhamburan petugas kepolisian dan beberapa bodyguard keluarga Mirza.
"Haha....lihat Ryu. Hanya untuk menangkap ku kepolisian sampai harus mengerahkan pasukan khusus. Haha...!'
"Bukan berarti kau hebat, Andrea. Hal ini hanya karena kelicikan mu saja..." ucap Ryu.
"Menyerahlah, Nona Andrea...!" ucap seorang petugas.
"Tak sudi....!!"
Andrea merengkuh Ryu. Tangannya menodongkan belati tepat di leher laki-laki tampan bermata sipit itu.
"Kau..."
Kata Ryu terhenti saat Andrea mengeratkan dekapannya. Tangannya pun kian mengancam leher Ryu.
"Tembak saja, tuan...! Jangan hiraukan saja. Perempuan ini sangat berbahaya. Atau jika perlu lempari saja dengan bom. Tak perlu sungkan..." ucap Ryu.
"Diam kau...!!"
"Kau takut, Andrea? Ku dengar degup jantung mu mengobarkan aroma ketakutan. Haha..."
"Bangsat kau Ryu...!!"
BOUGH....!!
SREEETT....!!
Tangan Andrea telak memukul kepala Ryu dengan gagang belati untuk kemudian menyarangkan bilah belati ke tubuh Ryu. Darah pun mengucur dari luka yang menganga.
Semua terkejut. Terlebih saat tubuh Ryu tumbang. Tangannya mendekap luka yang kian mengeluarkan darah. Bersamaan dengan itu dua peluru dimuntahkan dari sarangnya.
DOR...!
DOR...!
"Akh....!" teriak Andrea.
Tubuhnya turut tumbang tepat di sisi Ryu. Dua butir peluru bersarang di tubuhnya. Tepat di paha kanan dan bahu kiri nya. Seketika Andrea mengaduh untuk kemudian jatuh terduduk.
Sekejap aparat pun langsung meringkus Andrea. Dan membawanya meninggalkan besar nan mewah itu.
Raungan sirine mengisi angkasa. Suaranya sungguh mengiris telinga.
TAP...
TAP...
TAP...
Terdengar langkah cepat mendekat.
"Kak Ryu....!" teriak Vanya saat mendapati tubuh lunglai Ryu yang dibawa tim medis.
Vanya begitu cemas. Dan ia pun langsung menyertai Ryu menuju MA Hospital.