
Mirza terpekur di sebelah brankar. Matanya menatap lekat Arumi yang terbaring belum tersadar karena pengaruh obat bius. Sudah hampir 24 jam sejak operasi dilakukan. Ada penyesalan yang mendalam mengisi ruang hatinya atas apa yang menimpa Arumi.
"Ya, Tuhan. Mengapa tidak kau biarkan saja aku yang terkena belati itu. Mengapa harus Arumi?" ucap sesal batin Mirza.
"Sayang maafkan aku. Aku tidak mampu menjaga mu..." batin Mirza kembali.
Walau hatinya beriak timbul tenggelam berucap sesal, namun Mirza nyatanya hanya diam. Kata di ujung lidahnya benar-benar telah menjadi hilang.
"Darno...Aku tidak akan melepaskan mu. Jeratan hukum mu akan semakin berat. Ku pastikan itu...!"
Kini matanya mulai dikerubuti bulir bening. Walau tak sampai jatuh, namun hal tersebut pastilah cukup membuat terkejut siapa saja yang melihatnya. Karena hal tersebut adalah sesuatu yang amat langka terjadi pada sosok sedingin Mirza selama ini.
"Kak Mirza...." ucap Arumi lirih.
Sadar namanya disebut, tentu saja membuat Mirza langsung menatap si empunya suara. Siapa lagi jika bukan Arumi. Mirza menatap lekat wajah Arumi. Seketika rasa hangat mulai menyelimuti hati Mirza saat senyum Arumi terbit dari sudut bibirnya. Senyum singkat Arumi itu ternyata sukses membuat wajahnya berangsur sumringah. Sebuah senyum pun tersulam di bibir Mirza sebagai balasan senyum Arumi yang hangat itu. Dan kini mata Mirza berangsur kembali bersih dari bulir bening yang sempat mengerubuti.
"Ya, sayang. Aku di sini..." ucap Mirza yang langsung mendekapnya sambil menghadiahi sebuah kecupan pada kening Arumi.
"Akh....!" keluh Arumi saat ia berusaha sedikit menggerakkan tangannya.
"Jangan bergerak dahulu, sayang. Luka mu masih basah"
Wajah Mirza mengisyaratkan kecemasan saat melihat perempuan yang amat ia cintai itu mengerang kesakitan.
"Dokter...!Dokter....!" panggil Mirza.
Hatinya hampir diamuk marah, jika saja team dokter yang ditugaskan itu tak kunjung datang. Beruntungnya, setelah panggilan kedua Mirza team dokter langsung datang dan memeriksa Arumi.
"Berikan diagnosa yang akurat. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada istriku. Dan jika kalian melakukan kesalahan, kalian tahu sendiri akibatnya...!" ucap Mirza bernada ancaman.
"Baik, Tuan..." ucap team dokter hampir bersamaan.
Pun demikian, ada rasa cemas tergambar di wajah para dokter. Mereka tahu betul bagaimana tabiat laki-laki pemilik MA Group itu. Pengusaha sukses nomor 1 itu tidak segan-segan mendepak dokter atau perawat yang dianggapnya tidak becus bekerja. Dan konsekwensi lain yang harus di terima adalah hengkang dari dunia perdokteran atau keperawatan. Hal tersebut karena tidak akan ada rumah sakit yang mau menerima siapa saja yang telah dikeluarkan dari MA Hospital. Sungguh luar biasa pengaruh dari seorang Mirza Adyatma.
"Kak...keluarlah. Biarkan team dokter melakukan tugasnya" pinta Arumi dengan suara sedikit parau.
"Kau mengusirku...?!"
"Kak...Aku mohon"
Tanpa menjawab, Mirza langsung memutar tubuh dan meninggalkan ruang perawatan tersebut. Ekor matanya kembali menilik para dokter yang berdiri sambil mengangguk takzim.
"Maafkan suami saya, dokter..."
"Ah, tidak apa-apa, Nyonya. Kami memakluminya..."
"Syu...kurlah. Akh...!" keluh Arumi.
Keluhan itu sempat terdengar oleh Mirza yang berdiri di balik pintu. Wajah Mirza penuh kecemasan. Sedikit peluh mengembun di keningnya. Hal tersebut seiring dengan jedak-jeduk irama degup jantung yang kian bertalu.
"Untuk sementara waktu Nyonya akan terganggu dengan rasa sakit tersebut. Dan Nyonya harus berhati-hati terutama dalam melakukan beberapa aktifitas seringan apa pun itu..." ucap dokter Raihan sambil memeriksa kondisi Arumi.
"Untuk beberapa waktu usahakan tetap kering, Nyonya" ucap dokter Raihan mengakhiri pemeriksaannya.
"Terima kasih, dokter..."
"Semoga cepat sembuh, Nyonya..."
"Terima kasih, dokter..." ucap Arumi sambil mengurai senyum saat team dokter itu berlalu.
"Maafkan aku, Ar..." gumam Mirza saat sesal mulai menggelitik hatinya.
Mirza masih setia berdiri menunggu saat team dokter keluar ruangan.
"Bagaimana kondisi istri saya..." cecar Mirza.
"Alhamdulillah... Nyonya baik-baik. Masa kritis sudah lewat. Dan kini tinggal masa pemulihan saja"
"Kau yakin...?"
"Sejauh ini ya, Tuan. Tapi semua akan selalu berada dalam pengawasan kami team dokter. Tuan harap bersabar dan berdoa untuk kesembuhan Nyonya..."
"Pasti. Saya akan melakukannya. Saya harap kalian benar-benar membantu istri saya. Jangan biarkan terjadi sesuatu terhadapnya"
"Kami berusaha sekuat tenaga, Tuan..."
"Syukurlah. Terima kasih..."
Bersamaan dengan itu, Mirza pun kembali ke dalam ruang perawatan VVIP dimana Arumi berada. Perlahan langkah Mirza mendekati brankar, tempat Arumi tergeletak. Hatinya kembali beriak saat mendapati sosok perempuan yang amat ia cintai itu lemah terbaring.
"Sayang..." ucap Mirza memecah kesunyian ruangan saat itu.
Mata Arumi spontan menatap Mirza yang ternyata sudah berada di sebelahnya.
"Aku baik-baik saja, Kak. Jangan terlalu mengkhawatirkan ku seperti itu..." ucap Arumi lirih dengan suara parau.
"Bagaimana kau bisa mengatakan itu, sementara beberapa sentimeter lagi belati itu mengenai organ vital mu?" ucap Mirza bernada tinggi.
"Semua karena doa, Kak. Ini adalah keajaiban dari sebuah doa..."
"Mengapa kau melakukan itu? Semestinya kau biarkan saja aku yang terkena belati itu"
"Aku tidak mungkin membiarkan suami ku dalam bahaya, karena aku yakin kakak pun tak akan membiarkan bahaya mengancam ku seandainya kakak mengetahuinya..."
"Ya. Aku akan memastikan itu..."
"Terima kasih ya atas semua kecemasan kakak terhadap ku. Semua itu tanda bahwa kakak mencintai ku"
"Tak perlu menunggu mu dalam situasi bahaya seperti ini untuk melihat cinta ku, sayang. Karena cinta ku bukan untuk diuji. Cinta ku adalah sebuah fakta yang tak dapat dipungkiri siapa pun..."
Arumi tersenyum. Ada bulir bening yang mengerubuti matanya seiring hatinya yang beriak dan menyendu haru.
"Ya, aku tahu. Aku pun sangat mencintai kakak. Maafkan telah mendustai mu"
"Kali ini aku sudah memaafkan mu. Tapi lain kali aku tak akan memberi mu maaf sedikitpun..."
"Ya. Aku berjanji akan selalu jujur kepada kakak..."
"Good. Karena aku tidak akan pernah mentolelir setiap kedustaan" ucap Mirza sambil mencomot hidung bangir Arumi.
"Maafku akan seluas samudra selama kedustaan itu tak mengandung sebuah kefatalan..."
"Maksudnya..."
"Aku akan sangat marah jika kakak mendustai ku dan bermain cinta di belakang ku"
"Oya....? Jadi istri ku bisa marah juga"
"Tentu saja aku bisa"
"Lalu apa yang akan kau lakukan jika aku melakukan itu...?"
"Aku akan menghajar mu juga perempuan itu. Mengikat kalian dan membuangnya ke laut.."
"Sadis sekali, Sayang..."
"Makanya jangan macam-macam..."
"Kalau begitu aku tidak macam-macam. Aku takut kau mengikat dan membuang ku ke laut. Haha...." ucap Mirza yang diakhiri dengan tawa.
Tawa yang mengisi udara ruangan tersebut. Namun tawa itu perlahan memudar saat mata keduanya berpadu. Perlahan tubuh Mirza menjura. Hanya beberapa sentimeter saja dari wajah cantik Arumi. Begitu dekatnya hingga hembusan pun dapat di rasakan pada wajah masing-masing. Tatapan keduanya benar-benar terkunci. Dan...
CUP...!
Mirza memberikan kecupan lembut pada bibir tipis Arumi yang tampak menggoda itu. Bukan hanya sekali Mirza melakukan itu. Bahkan Mirza menjadi asyik bermain pada bibir Arumi. Mirza ********** beberapa saat. Dan Arumi membiarkannya saja hingga rasa di sekujur tubuh dan jiwanya seakan menagih terus dan terus..."
"Mirza.....!!" teriak Dania saat melihat apa yang dilakukan anak semata wayangnya itu.
Mendengar lengkingan Dania, lumayan itu pun melonggar. Dan....
"Mama..." ucap Mirza.
"Dasar nakal. Mencari kesempatan dalam kesempitan..?!"
"Ma, akau hanya mencium Arumi. Apa aku salah?"
"Jelas salah...! Arumi sedang terluka. Kau enak-enakan mengerjainya...! Minggir...! Mulai sekarang mama yang akan menungguinya. Kau pulang saja. Urus pekerjaan mu.."
"Ma..." ucap Mirza merajuk.
"Mama saja. Titik..."
Arumi tersenyum melihat tingkah suaminya itu. Tapi jauh di lubuk hatinya, Arumi sungguh bahagia karena mendapatkan suami dan keluarga yang begitu memperhatikannya.