
Senja telah semakin tua. Karena mentari mulai beranjak pulang seiring kepergian Permana. Dan rasa sore hari itu pun semakin bercampur. Entah rasa apalagi yang akan di cobakan. Sebab segalanya sudah tercurah.
Duduk bersimpuh Arumi di pusara yang masih merah dan tampak basah itu. Walaupun laki-laki yang sudah bersemayam di tempat peristirahatannya itu bukanlah ayah kandungnya, namun bagi Arumi tidaklah demikian. Permana tetaplah seorang ayah baginya. Ayah yang sudah memberinya kasih sayang.
Berguncang tubuh tambun Arumi menahan isaknya. Sementara itu tepat di belakangnya tampak Mirza yang dengan kacamata hitamnya setia mendampingi dan menenangkan Arumi. Berulangkali tangannya mengusap lembut bahu perempuan 150 cm yang tambun itu dengan penuh perasaan. Ia tahu betul bagaimana perasaan perempuan yang sangat ia cintai itu.
"Sayang, sudah hampir maghrib. Kita pulang...?" ucap Mirza kemudian.
"Ndok...kita pulang ya" ucap Edward yang berdiri bersama Ryu dan tak jauh dari Arumi.
"Ayah...nanti Arumi datang lagi ya. Ayah akan baik-baik saja kan? Arumi sayang, ayah" ucap Arumi sambil mengusap ujung pusara Permana.
Tak lama kemudian Arumi pun beranjak dari duduknya. Sedu sedannya belum lagi usai saat kakinya mulai melangkah. Dan sekali lagi matanya menatap pusara sesaat setelah meninggalkannya.
"Ayah..." ucap Arumi lirih.
"Kuatlah, Sayang..." ucap Mirza.
Tangan Mirza erat mendekap Arumi sepanjang perjalanan. Sesekali sebelah tangan lainnya mengusap bulir bening yang masih membasahi wajah Arumi. Ataupun membetulkan kerudung yang dipakai Arumi.
Langkah gontai keduanya terus menapaki jalan setapak yang tampak basah karena gerimis beberapa saat lalu. Dan saat itu langit pun berangsur menjadi gelap. Bahkan semburat merah mentari sudah hampir menghilang. Sang mentari sudah benar-benar kembali ke peraduannya. Rupanya ia memberikan kesempatan kepada sang malam untuk berkuasa. Itulah sebuah keseimbangan. Ada siang, ada malam. Ada terang, ada gelap. Ada positif ada negatif. Dan ada suka tentu saja ada duka. Semua pasti akan silih berganti menghampiri. Dan setiap insan akan menerimanya dengan penuh kesyukuran.
"Em, kita kemana? Ke rumah kita atau ke rumah ayah Permana?" ucap Mirza hati-hati saat sudah berada dalam mobilnya.
Arumi menghela nafas. Ia menatap Mirza yang kini sudah menjadi suaminya itu. Lama ia menatapnya membuat laki-laki yang sempat ia juluki manusia es itu membalas tatapannya.
"Ke rumah kita.." ucap Arumi kemudian sambil merebahkan kepalanya pada bahu Mirza.
"Alhamdulillah..." ucap Mirza sedikit mengulum senyum khasnya.
Drrt.
Drrt.
Drrt.
Ponsel Arumi berpendar. Sederet angka tertera di sana. Mendapati itu Arumi mengernyitkan dahinya.
"Terimalah..." ucap Mirza sambil melajukan mobil mewahnya.
"Halo...." sapa Arumi singkat.
"Ndok, kalau ada waktu mampirlah ke rumah papa" ucap Edward di ujung telepon.
"Ya, Pa...Nanti Arumi berkunjung menemui papa"
"Terima kasih, Ar..."
"Ya, Pa..." ucap Arumi mengakhiri percakapan singkat itu.
Mirza tersenyum menatap Arumi. Sebelah tangannya mengusap lembut pucuk kepala perempuan tambun yang ia cintai itu.
"Kak, kalau kita langsung ke rumah kita bagaimana dengan perlengkapan ku?"
"Jangan khawatir, sayang. Mama sudah menyiapkan segalanya. Mami Sonia juga membantu menyiapkannya"
"Kak..."
"Hemmm...."
"Mungkin dua-tiga hari ini aku masih ingin sendiri. Walaupun kita serumah. Rasanya tangis ku belum usai, Kak..."
"Tenanglah. Suami tampan mu ini mengerti arah pembicaraan mu. Dan aku akan menunggu mu hingga kau benar-benar siap..."
"Terima kasih, Kak..."
"Sama-sama, sayang..."
Tak lama kemudian, laju mobil pun terhenti pada sebuah halaman rumah mewah berlantai dua. Sejenak Mirza menatap wajah Arumi penuh perasaan. Sebelah tangannya menggenggam erat jemari Arumi.
"Kuatkan diri mu, Sayang...." ucap Mirza yang dibalas senyuman oleh Arumi.
Sejenak keduanya saling melempar senyum dan tatapan yang merupakan manifestasi dari perasaan masing-masing. Perasaan yang terkadang mengharuskan keduanya menjauh untuk mengendalikannya.
"Terima kasih ya, Kak. Kakak selalu ada untuk ku. Aku janji akan menjadi istri yang baik untuk kakak"
"Terima kasih juga sudah menjadi istri ku. Aku janji akan menjadi suami yang selalu menjaga dan mengasihi mu..."
Tok.
Tok.
Tok.
Ketukan pada jendela mobil. Dan hal tersebut membuat keduanya sedikit memalingkan perhatian.
"Tuan dan Nyonya ingin menginap di mobil?" ucap Elvano.
"Kalau dengan istri ku, menginap dimana pun aku bisa..."
"Hadeeuh si bos bucin..." ucap Elvano sambil tepok jidat.
"So...ada apa kau mengganggu kami?"
"Nyonya dan Tuan menunggu pengantin baru di taman belakang..." ucap Elvano bernada meledek.
Mendengar itu Mirza dan Arumi langsung mengekori langkah Elvano menuju taman belakang. Tangan keduanya pun terkait erat sepanjang perjalanan menuju taman.
"Sayang...." ucap Dania saat melihat Arumi.
Arumi pun mendekati Dania, perempuan paruh baya yang masih cantik. Seorang nyonya besar yang kini telah resmi menjadi ibu mertuanya. Kini dikesempatan kali ini keduanya tampak berpelukan. Dan sekali lagi bulir bening itu pun mengerubuti mata keduanya. Dan untuk selanjutnya terjun bebas menjadi pernyataan dari sebuah kesedihan.
"Kuat ya, Ndok. Yang sabar. Ayah mi orang yang baik. Walau ia pernah berlaku tak adil padamu, namun di lubuk hatinya ia tetap menyayangimu. Mama tahu itu..." ucap Dania di sela isaknya. Itu pun dengan suara yang bergetar.
Arumi tak mampu berkata. Ia hanya melampiaskan sedihnya dalam dekapan hangat ibu mertuanya itu. Dekapan dari seorang ibu yang amat ia rindukan. Dan hari ini dekapan hangat itu kembali ia rasakan setelah sekian lama sejak ia kehilangan sosok ibunya belasan tahun yang lalu.
"Sudah...sekarang kita berdoa bersama. Ustadz Adnan sudah menunggu sejak tadi..."
Mendengar itu Dania dan Arumi pun mengurai dekapannya. Dan sebuah kecupan lembut Dania berikan tepat di pucuk kepala Arumi.
"Terima kasih, Ma..."
"Ya, sayang..."
"Mbak Arumi dan tuan muda silahkan berwudhu dahulu agar lebih khusyuk berdoa ya" ucap ustadz Adnan.
"Baik, Ustadz..." ucap Mirza sambil menggaet tangan Arumi dan berlalu menuju tempat berwudhu.
"Maklum pengantin baru, ustadz. Jadi semuanya harus sama-sama"
"Saya maklum. Hehe..."
"Ada tiga amalan yang tidak akan putus setelah seseorang meninggal dunia yaitu, sedekah jariyah yang bermanfaat, ilmu yang diajarkan dan doa anak saleh yang mendoakan kedua orang tuanya. Nah, malam ini kita akan melakukan point yang ketiga. Untuk selanjutnya nanti, mbak Arumi dapat melakukannya sendiri ataupun bersama dengan bimbingan suami yaitu tuan muda..." ucap ustadz Adnan sebelum memulai acara mengaji dan kirim doa untuk Permana.
Pukul sembilan lewat lima menit saat acara mengaji dan doa itu berakhir. Dan di penghujung acara terselip doa Arumi untuk ayahnya.
"Allaahummaghfirlii dzunuubii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiro, waliljamii'il muslimiina walmuslimaati, walmu'miniina wal mu'minaati Al ahyaa'i minhum wal amwaati, wataabi' bainanaa wa bainahum bil khoiraati, robbighfir warham wa annta khoirur roohimiin, walaa haula walaa quwwata illaa billaahil'aliyyil adhiimi"
Artinya :
"Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku, dan kasihanilah keduanya sebagaimana beliau berdua merawatku ketika aku masih kecil, begitu juga kepada seluruh kaum muslimin dan muslimat, semua orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, dan ikutkanlah diantara kami dan mereka dengan kebaikan. Ya Allah, berilah ampun dan belas kasihanilah karena Engkaulah Tuhan yang lebih berbelas kasih dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Mu."