
Sudah satu minggu sejak pernikahan mereka berlangsung. Arumi dan Mirza, tentu saja. Namun selama itu, keduanya belum lagi melakukan sesuatu hal sebagai layaknya pasangan pengantin baru. Tempat tidur pun masih rapi di waktu bangun pagi. Tanda jika belum ada badai yang terjadi sepanjang malam. Ada apa sebenarnya...?
Tok.
Tok.
Tok.
Pintu kamar Arumi di ketuk. Yang mengetuk rupanya sudah hilang sabar, hingga ia menerobos masuk dengan mudah karena memang tidak terkunci.
"Sayang....dimana?" panggil Mirza sambil menilik setiap sudut kamar.
Nihil. Mirza tak menjumpai sosok yang dicarinya itu. Namun, tiba-tiba saja langkahnya menjadi gamang saat melewati pintu kamar mandi yang terbuka sedikit. Mirza terkejut saat seketika menatap ke arah kamar mandi yang terbuka sedikit.
"Astaghfirullah...." ucap Mirza.
Mirza langsung berlalu meninggalkan kamarnya. Langkahnya begitu terburu-buru menuruni anak tangga seiring irama degup jantung yang berkejaran. Sampai di lantai dasar, Mirza langsung duduk pada kursi tak jauh dari Dania. Wajahnya sedikit pasi.
Dania yang melihat itu sedikit heran. Bahkan sampai menatap dengan lekat wajah putra tunggalnya itu.
"Sayang, ada apa?"
"Siapa tamu di kamar? Mengapa Arumi tidak bilang jika ada temannya yang datang?"
"Tamu? Teman Arumi...? Ah, suka bercanda deh. Mama yakin tidak ada siapa pun yang datang pagi ini.."
"Lalu siapa yang ada di kamar mandi dalam kamar ku?"
"Siapa lagi jika bukan istri mu...?"
"Bukan, Ma. Aku yakin itu bukan dia..."
"Mengapa kau seyakin itu..?"
"Karena tanpa sengaja aku melihatnya di kamar mandi..."
"Mirza....!!! Sejak kapan kau melakukan hal seperti itu..!"
"Ma, aku kira itu Arumi. Tapi ternyata bukan. Tubuhnya..."
"Tubuhnya kenapa...?"
"Lang-langsing, Ma. Berbeda dengan Arumi. Ma, katakan dengan perempuan itu untuk segera keluar dari kamar ku. Aku tidak suka ada perempuan lain yang menggunakan kamar ku..."
"Jangan bercanda, Za...Sepengetahuan mama tidak ada siapa pun yang datang" ucap Dania sambil berdiri dari kursinya.
Namun belum lagi melangkah, niat Dania urung. Matanya langsung mengarah pada sosok perempuan yang tengah menuruni anak tangga. Dania menilik wajah perempuan itu. Begitu lekat. Hampir tak percaya Dania hingga matanya membulat sempurna. Begitu pun dengan Mirza. Mata gelapnya menatap tajam perempuan yang kini berada di ujung anak tangga.
"Selamat pagi..." ucap perempuan itu yang tak lain adalah Arumi..
CRANK....!
Cangkir berisi teh terjatuh dari tangan Mirza saat menyadari siapa sosok yang kini berdiri di hadapannya. Tumpahannya sempat mengenai kaki Mirza. Begitu pun dengan pecahan kacanya. Mirza termangu menatap Perempuan cantik di hadapannya yang sudah berbeda. Pun bertubuh dengan tinggi 150 cm, namun ia tiada tambun lagi. Perempuan itu sungguhlah bertubuh langsing.
"Rasanya tidak mungkin. Dalam waktu semalam, Arumi bisa berupa sederastis ini. Apakah ia putri Cinderella yang dapat berubah dalam sekejap? Ada apa sebenarnya, Ar...?" batin Mirza.
"Duduklah, Kak. Aku obati lukanya..."
Mendengar kalimat itu, Mirza bak tersihir. Ia sontak duduk dengan mata yang terus lekat menatap Arumi. Mirza tak merasa apa pun saat Arumi membersihkan luka di kakinya yang sejak tadi meneteskan darah. Mirza terlalu fokus pada Arumi.
"Kau mendustai ku, Ar? Mengapa...?" batin Mirza.
"Sudah selesai...." ucap Arumi sambil merapikan kotak P3K.
"Siapa, Kau...? Aku tidak mengenal mu...?"
"Jangan bercanda dech, Kak. Aku Arumi...istri kakak" ucap Arumi sambil tersenyum.
"Za, dia Arumi. Istri mu..."
"Mama juga rupanya sudah dipengaruhi oleh nya. Tidak, aku tidak mengenalnya. Jangan paksa aku..." ucap Mirza.
Langkah Mirza begitu cepat meninggalkan Arumi yang begitu terkejut atas sikap dan reaksi Mirza pagi itu.
"Kak...! Tunggu aku. Dengarkan aku...! Biar aku jelaskan...!" ucap Arumi sambil berusaha mengekori langkah Mirza.
"Cukup...! Jangan ikuti aku. Aku sungguh tak mengenal mu" ucap Mirza.
Langkah Mirza terhenti. Mata gelapnya menatap Arumi tajam bak elang mengintai mangsa.
"Kak, dengarkan aku...! Aku akan menjelaskan!"
"Cukup...!" ucap Mirza lantang.
Tangannya telah sampai pada kemudi. Dan Mirza pun segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Aku tahu itu kau, Arumi. Tapi yang membuatku tak habis fikir mengapa kau mendustai ku tentang kondisimu yang sebenarnya. Apa pun alasan mu, aku tak dapat menerimanya..." batin Mirza yang terus melajukan mobil mewahnya di jalanan yang basah.
Sementara itu, Arumi hanya mampu menatap kepergian Mirza. Ada bulir bening yang mulai mengerubuti matanya.
"Mengapa kau tak mau mendengarkan penjelasan ku dahulu, Kak. Mengapa, Kak..." batin Arumi.
"Sayang....Mirza hanya terkejut melihat mu. Nanti juga ia mengerti. Berikan penjelasan dengan perlahan ya, Ndok. Mama yakin Mirza akan mengerti." ucap Dania.
Tangannya memeluk bahu Arumi.
"Arumi faham, Ma. Kak Mirza pasti merasa di bohongi. Tapi setidaknya dengarkan dahulu alasan yang akan Arumi jelaskan"
"Mama percaya, Arumi dapat menjinakkan amarah, Mirza..."
"Bagaimana jika tidak...?"
Dania tersenyum mendapati tanya Arumi. Tangannya mengusap lembut pucuk kepala Arumi.
"Kau tidak Ar bagaimana dalamnya cinta Mirza kepada mu. Ujian fisik pun telah mulus ia lalui. Cintanya bukan hanya pada fisik mu. Tapi lebih dari itu. Cinta Mirza mampu melihat jauh ke dalam jiwa mu. Yakinlah, Ar...tindakan Mirza saat ini hanya amarah sesaat saja. Karena cintanya kepada mu bukan hanya sekedar kata. Yakinlah, Ar..." batin Dania.
"Ada apa, Ma...? Dan siapa gadis yang mama peluk itu" tanya William yang tiba-tiba saja berada di belakang keduanya.
"Biasa, Pa. Anak muda..." ucap Dania sambil memutar tubuh menghadap William.
"Gadis apaan sih, Pa. Ini Arumi. Anak perempuan kita"
"Arumi...?!"
Penasaran dengan ucapan Dania, William pun memutari Arumi dan berdiri tepat di hadapan Arumi yang masih terpaku menatap pintu pagar.
"Arumi....!"
Sadar namanya disebut, Arumi pun terkesiap dari lamunannya. Matanya langsung menatap William.
"Ya, Pa..." Jawab Arumi.
"Walah, Ndok. Pantas saja Mirza bersikap begitu. Haha...anak nakal" ucap William sambil mengusap pucuk kepala Arumi.
"Sudah...nanti juga pulang. Jangan khawatir...Kakak mu itu hanya butuh waktu menerima kenyataan yang sesungguhnya membahagiakan ini. Kita sarapan dahulu, papa sudah lapar..."
Kemudian ketiganya pun melangkah menuju meja makan lagi. Sepanjang langkah, Arumi tercenung. Fikirannya masih mengingat setiap kata Mirza yang tadi ia dengar.
"Maafkan aku, Kak. Tiada maksud untuk mendustai mu. Aku hanya ingin menguji cinta mu, tapi ternyata berbuah salah faham. Maafkan aku" batin Arumi.
Makanan yang sudah tersedia di piring pun, belum ia sentuh. Fikiran Arumi masih asyik dipenuhi dengan bermacam kata. Kata penyesalan dan rancangan kata penjelasan untuk Mirza. Dan sekali lagi, mata Arumi menatap pintu. Hatinya berharap ada sosok tampan laki-laki yang ia cintai itu tengah berdiri di ambang nya. Namun sekali lagi, Arumi kecewa. Laki-laki yang tengah ia nanti itu tak kunjung datang.
"Kak, dimana kau. Dengarkan penjelasan ku dahulu..."