150 Cm

150 Cm
Episode 29. Arumi Menghilang



Satu pekan sudah Arumi terlibat dalam pagelaran seni lukis. Selain bertemu dengan pelukis-pelukis ternama, Arumi pun bisa belajar langsung kepada mereka terutama dalam hal pengalaman bagaimana perjuangan mereka merintis karir hingga menjadi pelukis ternama seperti saat ini.


Arumi menghela nafas panjang. Langkahnya cukup cepat menyusuri jalanan di depan galeri menuju gerai makanan. Cukup jauh Arumi melangkah hingga di sebuah belokan seseorang membekap mulutnya dan menariknya ke sebuah sudut gelap di sisi lain jalan.


"Hei kemana Non Arumi tadi..?" tanya Dewa yang saat itu tengah mengikuti Arumi bersama Rio.


"Astaga...! Barusan ia di sini. Mampus gue...!" ucap Dewa lagi.


"Wa, kau cari ke sebelah sana. Aku ke jalan lainnya..." ucap Rio.


Wajah keduanya tampak gusar. Langkah keduanya pun begitu cepat menyusuri jalanan hingga sudut tertentu yang diperkiraan menjadi tempat tujuan Arumi. Namun setelah beberapa waktu mencari, keduanya sedikit putus asa. Hal tersebut karena keduanya bum menemukan.


"Apa non Arumi sudah kembali ke galeri ya? Atau ke hotel? Sebaiknya kita cek"


"Wa, kau ke hotel. Aku ke galeri. Dan tetap terus hubungi ponsel Non Arumi. Aku akan menghubungi orang-orang kita yang ada di kota ini. Kita harus meminta bantuan"


"Benar...Asyiaap!"


Keduanya pun berpisah. Masing-masing menuju tempat yang sudah di sepakati. Sesekali keduanya tampak sibuk dengan ponsel dan membuat panggilan. Dewa berusaha menghubungi Arumi. Sementara Rio menghubungi rekan sesama bodyguard MA Group di kota tersebut.


Hingga menjelang sore keduanya belum memperoleh titik terang sedikitpun tentang keberadaan Arumi.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Dewa berpendar membuat laki-laki bertubuh kekar itu sedikit kecut saat melihat si penelepon.


"Mampus gue..." ucapnya sambil memperlihatkan layar ponselnya kepada Rio. Seperti halnya Dewa, Rio pun gemetar dan jadi ciut.


"Ya, Tu-tuan..."


"Telepon ku tidak pernah direspon sejak pagi tadi. Dan sejak siang tadi aku tidak dapat menghubunginya. Ponselnya tidak aktif. Apa dia baik-baik saja?"


"Maafkan saya, Tuan. Kami sedang mencari Non Arumi. Kami kehilangan Non Arumi sejak pagi tadi.."


"Apa...!" teriak Mirza.


Teriakan Mirza mengharuskan Dewa sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya. Ia tidak ingin telinganya rusak akibat polusi suara dari teriakan bos-nya itu.


"Mengapa kau tidak melaporkannya kepada ku..!"


"Maaf, Tuan. Saat ini kami masih terus mencari keberadaan non Arumi"


"Sebaiknya begitu. Jika tidak, maka kalian tahu akibatnya...!!"


"Baik, Tuan..."


🌸🌸🌸🌸🌸


"Ada apa, Za..?" ucap Elvano yang baru saja membuka pintu karena mendengar suara keras Mirza.


"Aku harus ke kota B sekarang. Arumi menghilang..." ucap Mirza tanpa menatap Elvano.


Sementara tangannya sibuk merapikan berkas yang berserakan di meja dengan tergesa.


"Aku akan menyertai mu..."


"Tidak. Aku membutuhkan mu di sini untuk menjalankan rutinitas kantor. Sementara aku akan ke kota B"


"Baiklah. Tapi setidaknya sertakan Faaz atau hubungi Keanu..."


"Kau hubungi keduanya. Aku menunggu di bandara"


Mirza melangkah dengan tergesa ke luar gedung perkantoran miliknya. Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan Mirza.


"Langsung ke bandara, Pak..." ucap Mirza sesaat setelah duduk sempurna dalam mobil.


"Baik, Tuan..."


Tak lama kemudian, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Saat itu hujan baru saja menyapa bumi. Rintiknya meninggalkan titik pada jendela. Hawa dinginnya langsung mengaburkan pandangan pada kaca jendela.


Mirza menghela nafas panjang. Matanya menatap menerobos jendela kaca yang tampak buram. Mungkin seburam hatinya yang kini kian resah. Kemudian Mirza mengambil benda pipih dari balik jaket hitamnya. Ia berusaha membuat panggilan ke ponsel Arumi. Namun lagi-lagi nihil. Ponsel Arumi masih belum dapat dihubungi. Frustasi Mirza. Hatinya makin gusar. Tangannya berulangkali memijat kepala yang sandar sambil memejamkan mata.


"Kemana kau, Arumi? Apa kau baik-baik saja? Mengapa kau tak menghubungiku? Ya, Robby...Ku mohon dengan sangat jaga dia. Karena dia adalah segalanya bagi ku saat ini" batin Mirza.


Mobil terus melaju menembus guyuran hujan. Melewati waktu yang terasa panjang. Dan hawa dingin yang makin menggigit tubuh.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Begitu pesan yang diterima Mirza dari Faaz. Dan Mirza hanya membacanya tanpa membalasnya.


"Nan, Mirza hanya membacanya, tapi tiada balasan.."


"Ah, kau seperti tidak tahu sifat si es batu itu kalau sedang panik"


"Hehe..si kaku yang sedang bucin. Saking kakunya ia harus kursus singkat pada Elvano hanya sekedar ingin berkata manis dengan luwes kepada Arumi..."


"Astaga...." ucap Kenan sambil tepok jidat.


"Tapi ya itulah Mirza, semua kata romantis menjadi aneh jika keluar dari mulutnya..."


*PLAK...


PLAK*...


Masing-masing satu pukulan menyasar ke kepala Faaz dan Kenan.


"Dasar sahabat tak punya akhlak...! Berani-beraninya membicarakan ku di belakang. Ingin izin praktikmu ku cabut, Faaz? Dan kau anggota aparatur negara ingin ku buat turun pangkat..? Heh...!!"


"Bhuahaha.....!"


Kedua sahabat itu tertawa. Sementara Mirza sendiri hanya menatap keduanya dengan tatapan setajam golok si Pitung.


"Ya, kami tahu. Apa sih yang tidak bisa dilakukan seorang Mirza Adyatma? Cuma satu yang sulit ia lakukan.."


"Apa, Faaz...?"


"Menaklukkan hati Arumi...?"


"Kau...! Ingin ku hadiahi bogem mentah?!"


Mirza merangsek mendekati Faaz dengan amarah. Tangannya sudah terkepal. Faaz sendiri sudah siap menyambut serangan Mirza. Jika bukan karena Kenan yang ada diantara keduanya, tentu sudah terjadi baku hantam diantara kedua sahabat itu.


"Jaga mulut mu, Faaz...!"


"Aku akan tetap menjaganya dengan baik. Tapi kenyataannya bukankah demikian? Kau pengecut, Za...!"


"Kau...!"


Mirza kembali merangsek. Kali ini tangannya berhasil meraih kerah kemeja Faaz. Faaz pun terlihat memegang kerah kemeja Mirza.


"Dengar... kita memang bersahabat. Tapi jika kau sekali lagi menyakiti Arumi. Aku tidak akan tinggal diam..!"


"Aku tidak akan menyakiti Arumi, karena aku mencintainya...!" ucap Mirza lebih keras.


"Hadeeuh....cukup! Kita di sini berencana untuk mencari Arumi. Bukan adu jotos. Faaz, apa kau pun mencintai Arumi seperti halnya Mirza...?"


"Ya. Bahkan jauh sebelum Mirza mencintainya. Aku sudah mencintainya..."


"Kau...!" ucap Mirza menggelegar.


Suara keras Mirza sukse membuat beberapa pasang mata menatap ketiganya. Sadar mulai menjadi perhatian, Mirza dan Faaz pun merendahkan suaranya.


"Aku rasa aku tidak akan menyertaimu secara langsung mencari Arumi. Karena hal tersebut akan membuat kita selalu bersitegang..." ucap Faaz yang kemudian berlalu begitu saja.


"Hadeuuh....!" ucap Kenan sambil tepok jidat.


Kenan duduk di sebelah Mirza. Ia menghela nafas dan menghembuskan dengan sedikit berat.


"Sungguh merepotkan jika dua sahabat bertengkar hanya karena seorang perempuan..."


Mata Mirza langsung beralih menatap Kenan yang baru saja berceloteh. Sadar ditatap Mirza, Kenan tersenyum dan menepuk bahu sahabat luar biasanya itu.


"Kita bersama bukan satu-dua tahun. Jangan sampai masalah seorang gadis merusak hubungan persahabatan kau dan Faaz..."


"Aku tidak benar-benar marah. Aku hanya kesal atas semua ucapannya yang seakan kami baru mengenal saja"


"Justru karena ia merasa kita bersahabat jadi dia yakin kau tidak mempermasalahkan ucapannya. Faaz tidak bermaksud mengejekmu atau menghinamu, Bro..."


"Ya yang sebelumnya. Tapi kata-kata yang menunjukkan bahwa ia juga mencintai Arumi, itu yang membuatku gerah..."


"Ya, sudahlah kita hentikan pembahasan perasaan Faaz. Kita fokus saja untuk mencari Arumi. Aku tidak dapat menyertaimu secara langsung. Tapi sebagai awal aku akan menghubungi temanku di kantor kepolisian kota B. Dia akan membantumu..."