150 Cm

150 Cm
Episode 74. Apakah Korban itu Mirza...?



Arumi lagi-lagi berdiri di balkon kamar. Matanya menyapu langit senja yang sudah sedikit pekat. Warna yang seakan memberi isyarat tentang suasana hati Arumi saat ini. Yuph....saat ini hanya ada kegamangan yang dirasa Arumi. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus di lakukan. Kegamangan tersebut terjadi karena reaksi Mirza terhadap dirinya saat ini yang sudah tidak tambun lagi. Hal tersebut karena Arumi sudah melepas bahan penambah berat tubuh yang beberapa waktu lalu ia kenakan. Ia tidak menduga jika reaksi Mirza akan seperti itu.


Hati Arumi kini semakin beriak saat ponsel Mirza tak dapat di hubungi. Segudang tanya pun mulai mengisi relung hatinya. Seharian ini, Arumi benar-benar bak orang linglung. Pergi ke kamar mandi, tapi akhirnya ia keluar kembali. Pergi ke dapur, ia pun hanya terpaku dan tak melakukan apapun. Duduk di taman ia pun tak tenang. Segalanya berasa serba salah.


"Astaga..!" ucap lirih Arumi sambil tepok jidat.


"Mengapa aku jadi kacau begini? Ya, Tuhan..." ucap Arumi lagi.


Sadar dengan kekacauan prilakunya, Arumi pun segera berlalu. Ia menaiki anak tangga dengan cepat. Satu tujuannya kini adalah kamar dimana ia berada hampir sepekan ini.


Sementara itu tanpa Arumi sadari, Di sisi lain ruangan Dania menatap menantunya itu. Mata Dania begitu sendu menatap Arumi. Ia tahu bagaimana perasaan menantu 150 cm nya itu.


Dania menggelengkan kepalanya. Hatinya benar-benar beriak. Sesekali tangannya mengusap dadanya tanda bahwa perasaannya tengah tak tenang. Mata Dania kemudian menatap ponsel yang masih berpendar. Hal tersebut karena Dania tengah menghubungi anak laki-laki semata wayangnya itu.


Kesal pun merayapi hati Dania saat ini, ketika tiada tanggapan Mirza. Bukan hanya sekali tapi berulangkali ia menghubungi, dan tetap saja berbuah nihil. Mirza benar-benar tiada menanggapi. Akhirnya Dania memilih mengirimkan pesan singkat untuk Mirza.


"Ingin di pecat jadi anak, Za? Kalau tidak ingin, maka angkat telepon mama. Sekarang...!" begitu pesan Dania.


Dania meletakkan ponselnya begitu saja pada sofa yang ia duduki. Wajahnya menyimpan kesal. Sementara matanya berulangkali menatap ponselnya yang tak kunjung berpendar.


"Mirza belum pulang juga?" ucap William yang tiba-tiba muncul.


"Ih, Papa suka muncul tiba-tiba. Mama sampai terkejut. Untung nih jantung buatan Tuhan. Coba kalau bukan, pasti sudah copot..." ucap Dania.


"Haha...Mama ada-ada saja" ucap William sambil mencomot hidung Dania.


"Mulai dech, Papa..." ucap Dania sambil membulatkan matanya dengan sempurna.


"Sudah ah, Mama sedang kesal nih. Anak laki-laki papa tuh buat ulah. Kasihan kan Arumi..."


Dania bersungut-sungut.


"Tak perlu marah begitu. Marahnya Mirza tentu beralasan"


"Ya, betul. Tapi paling tidak dengarkan penjelasan Arumi dahulu..."


"Sstt...pelan kan suara mu. Nanti seisi rumah bisa mendengar ucapan mu"


"Pa, anak nakal itu tidak menjawab telepon mama. Mama jadi khawatir"


"Mirza sudah dewasa, Ma. Mama tak perlu se-khawatir itu"


"Justru karena sudah dewasa itu, mama makin khawatir..."


"Apa yang mama khawatirkan?"


"Mama khawatir Mirza melakukan hal yang tidak-tidak..."


"Mama seperti tidak mengenal Mirza saja. Percayalah, Mirza anak baik Ma. Oya, apa mama sudah menanyakannya pada Elvano?"


"Astaga...kok mama bisa lupa begini"


"Faktor U itu, Ma. Haha..."


"Ah, papa kalau bicara suka benar..." ucap Dania sambil mencubit lengan William.


"Astaga, sayang...." ucap William yang terkejut karena perlakuan Dania tersebut.


Pun demikian, Dania seakan tak mempedulikan ekspresi suaminya itu. Dania sudah disibukkan oleh urusan mengotak-atik ponselnya. Tak membutuhkan waktu lama, sebuah kontak pun tertera di layar ponselnya. Hanya sekali saja Dania menghubungi Elvano dan langsung terhubung.


"Assalamu'alaikum...Nyonya" ucap Elvano di ujung telepon.


"Wa'alaikumussalam...El, mama ingin tanya. El harus jawab dengan jujur. El tahu kan mama paling tidak suka orang yang berdusta..."


"Ya, Ma. Em, memang ada apa? Kok terdengar khawatir begitu..."


"Mirza bersama mu...?"


"Tumben mama menanyakan tuan muda..."


"Jangan main-main loh, El..."


"Hehe....Maaf, ma. Sebenarnya pagi tadi, El masi bertemu tuan muda. Tuan masih menandatangani beberapa berkas. Tapi setelah itu tuan muda keluar kantor. Saat ditanya beliau tidak menjawab. Ada apa, Ma..."


"Kalau begitu cari keberadaan Mirza. Mama khawatir"


"Apa tuan muda belum kembali...?"


"Sejak pagi. Dan itu pun tiada kabar..."


"Aneh. Tidak biasanya tuan muda seperti itu"


"Mama minta bantuan mu, El..."


"Ya, Ma..." ucap Elvano sesaat sebelum telepon terputus.


"Bagaimana...?"


"Dewa..."


"Ya, Nyonya..." ucap seorang laki-laki di ujung telepon.


Laki-laki itu tak lain adalah bodyguard keluarga William.


"Saya ingin bertemu tuan muda mu. Tolong sampaikan kepadanya. Penting..."


"Tu-tuan Muda? Bukankah satu jam lalu tuan muda sudah kembali ke rumah?"


"Jangan bercanda, Dewa. Saya sejak pagi belum bertemu tuan muda mu itu..."


"Kalau begitu saya akan mencari keberadaan tuan muda..."


"Itu yang saya maksud. Segera cari...!"


"Baik, Nyonya..."


Dania menghela nafas. Di ujung tatapannya tersimpan kekhawatiran akan anak semata wayangnya itu.


"Apa Dewa pun tidak mengetahui keberadaan Mirza..?!" ucap William sedikit bersungut.


Belum lagi Dania menjawab, langkah tergesa pun terdengar. Hal tersebut tentu saja menarik perhatian Dania dan William. Keduanya hingga menghentikan pembicaraan. Tampak di beberapa anak tangga terakhir, Arumi melangkah tergesa. Wajahnya begitu khawatir. Kemudian tanpa kata Arumi langsung menyalakan televisi berlayar big size. Dania dan William sontak melihat ke layar kaca tersebut.


"Mirza...!" teriak Dania.


Matanya tak henti menatap layar kaca yang tengah menayangkan sebuah mobil sport silver mengalami kecelakaan. Kondisinya ringsek dan terkabar. Luruh airmata Arumi dan Dania mendapati kabar tersebut.


Arumi tertegun. Seluruh tubuhnya lunglai. Terlebih saat dikabarkan ada seseorang yang berada dalam mobil yang masih dilalap si jago merah itu. Ada badai yang tengah berkecamuk dalam dada Arumi. Badai yang kian lama kian hebat.


Berdiri Arumi. Tangannya mengusap bulir bening yang membanjir itu dengan cepat. Kemudian ia melangkah dengan cepat. Tangannya menyambar kunci mobil yang tergeletak di meja. Arumi terus melangkah dengan cepat. Panggilan Dania pun tak ia hiraukan.


"Arumi...! Mau kemana, Ndok...?!" ucap Dania sambil mengikuti langkah cepat Arumi.


Dania pun berusaha merengkih tubuh Arumi. Namun gagal. Langkah Arumi begitu cepat dan begitu sampai di halaman, langsung melakukan mobil merahnya.


"Papa...! Danu...! mang Darno...!" teriak Dania memanggil suaminya, bodyguard dan sopir keluarganya bergantian.


William yang sejak tadi di belakang Dania langsung merengkuh tubuh istri yang paling ia cintai itu. William mendekapnya erat. Sementara itu beberapa langkah di depan terlihat Danu dan mang Darno melangkah degan setengah berlari menuju tuan dan nyonya nya.


"Danu, ikuti Non Arumi. Mang Darno ambil mobil, kita ikuti Arumi"


Mendapat perintah itu, keduanya menatap William yang langsung mengangguk mantap.


"Apa yang kalian tunggu. Cepat....!"


ucap Dania yang bernada perintah itu membuat Danu maupun mang Darno langsung terlejit menuju mobil.


Sementara itu, Arumi yang tengah melaju dengan mobil merahnya sudah hampir mendekati tempat kejadian. Derai bulir bening sudah dapat terbendung lagi. Bahkan laju mobilnya pun tak stabil, kadang cepat, kadang cepat sekali.


Arumi menghentikan mobilnya tepat di sisi kiri jalan tak jauh dari tempat dimana mobil Mirza terbakar. Arumi berlari sekonyong-konyong hampir menerobos garis polisi line. Jika tidak dihentikan seorang perwira polisi, tentu Arumi berhasil mendekati mobil yang terbakar itu.


"Mobil itu milik suami ku. Apakah suami ku ada di dalam seperti yang diberitakan?!"


"Apa Nyonya yakin itu mobil suami, Nyonya...?'


"Ya. Aki yakin. Nomor polisinya sesuai" ucap Arumi setengah histeris.


"Apakah yang di dalam mobil itu juga suami, Nyonya?"


Arumi tertegun. Ia tak mampu membayangkan jika laki-laki yang ada di dalam mobil itu adalah suaminya, Mirza.


"Nyonya...?" ucap perwira polisi itu.


"Aku tidak tahu, Pak. Hati ku berharap dan berusaha yakin itu bukanlah suami ku" ucap Arumi lesu.


Matanya terus menatap sosok yang baru saja berhasil dikeluarkan dari dalam mobil.


Arumi kembali terisak. Tubuhnya hingga terguncang hebat.


"Sayang..." ucap Dania sambil memeluk Arumi yang kini sudah terduduk lesu.


"Ma, kak Mirza..." ucap lirih Arumi dengan deraian air mata.


"Nyonya sudah bisa mendekat dan cobalah untuk mengenali korban..." ucap perwira polisi itu.


Dengan langkah yang berat Arumi, Dania dan William mendekati sosok laki-laki yang menjadi korban. Degup jantung Arumi begitu bertalu. Kemudian, langkah Arumi menjadi semakin berat hingga Arumi menghentikan langkahnya.


"Mama dan papa duluan saja" ucap Arumi lirih.


"Sayang...." ucap Dania dan William hampir bersamaan.


Langkah Arumi surut. Ia tertegun. Ada banyak rasa yang berkecamuk di dadanya. Terlebih saat melihat reaksi Dania yang begitu histeris ketika mengenali sosok laki-laki itu.


"Mengapa mama begitu histeris? Apakah ia adalah kak Mirza? Tidak....Tidak mungkin" batin Arumi.