150 Cm

150 Cm
Episode 32. Pencarian Mirza



Senja datang menjemput. Langit kemerahan karena semburat sinar matahari yang menyambanginya.


Tampak King berdiri menyandar pada sisi mobil mewahnya. Matanya menatap tak tenang ke sana kemari. Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di dekat King. Seorang gadis tersenyum menatapnya. Langkahnya begitu percaya diri dan menghampiri King yang masih saja bersandar pada mobil.


"Sudah kau siapkan uangnya?"


"Tentu saja. Silahkan masuk ke dalam mobil ku?"


"Kenapa ke dalam mobil?"


"Hei..apa kau ingin orang-orang melihat?"


Sarah terkekeh. Hatinya membenarkan ucapan King. Kemudian Sarah pun langsung memasuki mobil mewah King yang berkaca gelap itu. Saat kaki jenjang itu baru saja menapak dasar mobil tiba-tiba saja...


GREEP...


Dewa langsung membekap Sarah. Memberikan sedikit tekanan pada leher Sarah. Mendapati situasi tersebut, sejenak Sarah meronta. Ia berusaha melepaskan dekapan tersebut. Namun nihil, semua jadi sia-sia. Kemudian perlahan Sarah melemah dan akhirnya berhenti dan lunglai. Ini adalah penyergapan seperti yang telah direncanakan ketiga laki-laki tampan itu.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Dimana, aku...?"


Ucapan Sarah begitu lirih. Bahkan ia saja membuka matanya dengan perlahan sekali.


"Di markas kami, nona Sarah..."


"King...! Kau...!"


Sadar dengan situasinya yang tangan dan kakinya terikat, Sarah yang semula tenang kini mulai berontak kembali. Berulangkali ia meminta untuk dilepaskan. Namun baik King, Dewa maupun Rio benar-benar tak ada niat untuk meluluskan keinginan Sarah tersebut.


"Diamlah...! Ada yang ingin mengajukan pertanyaan kepada mu. Sebentar lagi akan datang"


Wajah Sarah pasi. Hatinya ciut. Apa sebenarnya yang akan menimpanya membuatnya gusar. Beberapa spekulasi bermunculan. Dan hal tersebut sukses membuatnya semakin ciut tak bernyali.


Tak lama, pintu ruangan pun terbuka. Berdiri seorang laki-laki tampan di ambang pintu. Kilat matanya mengisyaratkan amarah. Berdiri Dewa, King dan Rio saat mengetahui kehadiran Mirza. Kemudian sebuah kursi segera ditarik Mirza hingga mendekati Sarah.


"Aku akan melepaskan mu. Tapi aku memiliki beberapa pertanyaan untuk mu. Ku harap kau menjawabnya dengan jujur. Karena jika sedikit saja kau berdusta, maka tak segan-segan aku akan membuat perhitungan dengan mu. Perhitungan yang tak sanggup kau bayangkan sekali pun. Bisa...?"


Ucapan Mirza sukses mengintimidasi Sarah sehingga ia langsung bergidik terutama sesaat setelah menatap Mirza. Sarah pun mengangguk lemah. Sepertinya ia tak punya pilihan lain. Selain menuruti Mirza.


"Apa foto ini kau yang merencanakannya?" ucap Mirza sambil memperlihatkan sebuah foto Arumi bersama seorang laki-laki.


"Ya. aku yang merencanakannya"


"Bagaimana kau melakukannya?"


"Aku memberinya obat tidur, membayar laki-laki dan memintanya untuk tidur di sebelahnya. Lalu aku mengabadikannya"


"Mengapa kau menyakiti Arumi? Apa masalah mu?"


"A-aku cemburu. Ia selalu mendapat perhatian dari laki-laki yang ku cintai"


Tangan Mirza terkepal. Matanya makin tajam menatap Sarah.


"Dimana Arumi sekarang?!"


"Aku tidak tahu. Aku melakukan itu sebulan yang lalu" ucap Sarah dengan suara sedikit bergetar setelah ucapan terakhir Mirza yang cukup menggelegar.


"Dimana terakhir kau meninggalkannya..?!"


"Em...Em..." Sarah gamang.


"Dimana...?!"


"Di salah satu rumah remang-remang..."


Mirza tercekat. Amarahnya meluap hingga ubun-ubun. Tak terasa ia melayangkan sebuah tamparan yang telak pada wajah Sarah. Gadis meringis hebat. Terlebih saat darah menitik dari sudut bibirnya.


"Bangsat...! Perempuan tak punya hati..!"


"Akh....!!" seru Sarah menahan sakit.


"Tuan..." ucap King memperingatkan.


"Aku tahu batasan, King. Kau tak perlu khawatir"


"Nah, Nona Sarah...dimana tepatnya tempat itu?"


"Mami Marla. Di jalan Akasia no 6" ucap Sarah di sela rintihannya.


"Kalian dengar? Cari itu...!"


"Baik, Tuan..."


"Aku akan menyusul kalian tiga puluh menit lagi"


"Baik, Tuan..."


"Aku tidak ingin mendengar atau melihat kau menyebarkan foto-foto itu. Jika kau masih melakukannya maka kau akan berhadapan dengan ku. Yang pasti kau tidak akan mati, karena aku tidak akan membunuh mu. Tapi kupastikan kau sendiri yang menginginkan kematian itu karena pembalasan ku itu..."


GLEKK...


Sarah menelan saliva lekatnya dengan susah saat mendengar ancaman yang cukup membuatnya bergidik itu.


"King, bisa kau cari kan makan malam untuk kita. Aku sendiri belum makan sejak siang tadi..."


"Baik, Tuan..."


King pun berlalu meninggalkan ruangan. Tinggallah Mirza bersama Sarah yang terduduk lesu di sudut ruangan.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Aku berharap non Arumi tidak ada di tempat tersebut"


"Jika demikian, maka waktu pencarian kita semakin panjang"


"Benar. Tapi paling tidak, non Arumi selamat dari tangan-tangan kotor para laki-laki hidung belang. Aku tak dapat membayangkan bagaimana kemarahan tuan Mirza jika terjadi sesuatu pada calon istrinya itu..."


"Ah, ya. Tapi paling tidak, semoga kita mendapatkan informasi tentang non Arumi.."


"Semoga..."


Tak lama kemudian keduanya bersama beberapa orang lainnya sampai pada tempat yang dimaksud Sarah. Segera saja mereka memasuki tempat tersebut.


Suara musik menghentak terdengar begitu kaki melangkah melewati pintu. Para perempuan dengan riasan tebal tampak bersiliweran diantara para laki-laki hidung belang yang menatap nakal.


"Aku mencari mami Marla. Bos ku mencari teman untuk malam ini" ucap Dewa kepada seorang perempuan yang memakai riasan tak kalah tebal. Dewa yakin itu adalah orang ia cari.


"Aku mami Marla. Mari ikut aku..."


"Bos kami tidak menyukai barang bekas. Tidak cantik tidak apa-apa, tapi masih bersegel..."


Senyum Marla mengembang saat mendengar ucapan Dewa setelah sampai dalam ruangannya.


"Bagaimana dengan bayarannya...?"


"Itu tidak masalah..."


Marla makin tersenyum lebar. Terbayang sudah gepokan uang yang akan ia peroleh sebagai keuntungan malam ini.


KREEEK.....


Pintu ruangan terbuka. Mirza melangkah. Wajahnya dingin dengan kilat mata menatap tajam pada Marla.


"Astaga...menyeramkan sekali laki-laki itu. Tapi... Sepertinya aku pernah melihatnya. Dimana ya...?" batin Marla.


"Jadi Tuan ingin barang yang bersegel ya? Satu atau dua, Tuan...?"


Mendengar kata Marla, Mirza mengedarkan tatapannya pada Dewa dan Rio yang tengah senyum-senyum kecut sambil menghindari tatapan mata Mirza.


"Ya, benar. Tapi sebelumnya aku ingin bertanya tentang seseorang..."


Mirza memberi isyarat kepada Rio untuk memperlihatkan foto Arumi. Wajah Marla terlihat terkejut. Ia ingat betul dengan gadis yang telah membuat hidungnya berdarah itu. Saking ingatnya, sampai-sampai Marla memegangi hidungnya.


"Kau mengenalnya?"


"Apa hubungan tuan dengan gadis itu...?"


"Tidak ada. Aku hanya mempunyai urusan sedikit dengannya. Dan aku harus menyeselesaikan malam ini juga. Aku harus mendapatkan Gadis itu"


"Tapi dia sudah tidak ada di sini. Malam pada saat ia dibawa, ia sudah langsung dapat melarikan diri. Bahkan hidung saya pun berhasil ia lukai"


"Alhamdulillah...Terima ya, Allah. Kau telah melindungi Arumi ku..." batin Mirza.


"Kemana?"


"Mana saya tahu, Tuan. Tapi malam itu saya melihat ada seseorang yang membantunya. Laki-laki paruh baya dan seorang lagi seusia gadis itu"


"Benarkah? Apakah ucapan mu bisa dipercaya?"


"Tentu saja, Tuan. Anak muda itu sempat beradu jotos dengan keamanan di sini"


"Ooo...Wa, tolong cek CCTV"


"Baik, Tuan..." ucap Dewa yang langsung mengambil langkah panjang.


"Ingat mami Marla, jkka ternyata kau berdusta atau justru kau menyembunyikannya, maka aku tak segan-segan untuk menghancurkan usaha mu ini hingga tak tersisa"


Terdiam Marla. Ia menatap lekat Mirza. Dan saat tatapannya bertemu ia makin bergidik. Ia tak menemukan keraguan sedikitpun di kilat mata Mirza.


"Sungguh, Tuan. Saya tidak tahu..."


"Baiklah..."


"Tetap tempatkan orang kita disini. Awasi dan laporkan segera mungkin jika ada yang mencurigakan..." bisik Mirza.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Mirza berpendar. Sebuah video terunduh di galerinya. Mirza pun langsung membukanya. Mata Mirza membulat sempurna saat melihat isi video yang dikirimkan Dewa.


"Arya...Pak Permana?" gumam Mirza lirih.


"Mengapa pak Permana menyembunyikan Arumi dari ku? Apakah ada yang telah terjadi? batin Mirza.


Mirza terdiam. Hatinya berdenyut penuh tanya. Permainan apakah yang sedang dimainkan keluarga Permana? Mirza benar-benar tak dapat mengerti.


"Baiklah, mami Marla. Terima kasih atas informasinya. Dan ini untukmu. Gadisnya kau simpan saja. Aku tidak butuh..." ucap Mirza sambil melemparkan segepok uang ke hadapan Marla.


Sumringah Marla melihat segepok uang yang ada di hadapannya. Bahkan tanpa diketahui Mirza dan lainnya telah meninggalkan ruangannya.


"Aku harus bagaimana...?" batin Mirza. Ia begitu gamang.