150 Cm

150 Cm
Episode 25. Keyakinan Mirza



Tin.


Tin.


Tin.


Suara klakson mengejutkan Arumi. Ia langsung memutar tubuh karena ia tahu siapa yang melakukannya. Senyum Arumi pun mengembang saat dugaannya benar.


"Ayah..."


Arumi mengecup punggung tangan Permana dengan takzim seraya duduk di sebelah ayahnya itu.


"Kita mau kemana, Yah...?"


"Ada aja..." ucap Permana sambil menyulam senyum.


"Ish...main rahasiaan segala"


"Hahaha.... Kita makan siang dulu ya"


"Mami tidak diajak...?"


"Ayah sudah menceritakan acara kita hari ini kok. Dan mami bisa mengerti. Lagian esok kita juga makan malam bersama di luar. Kot berdua, mami dan juga Arya. Sayang sekali Andrea sudah pulang ya..."


Deg.


"Andrea...." batin Arumi.


"Nah kita sudah sampai. Cafe S. Arumi suka kan dengan menu dicafe ini?"


"Em, ada juga sih yang tidak suka..."


Tak lama kemudian, ayah dan anak itu pun masuk ke dalam cafe dan langsung menuju lantai dua. Sesampainya di lantai dua, bukannya mencari tempat Permana justru membuat panggilan melalui ponselnya.


Dan Mata Arumi langsung terkunci pada sosok laki-laki tampan bertubuh jangkung yang dengan gagah yang tengah melangkah menghampiri. Ia tersenyum saat melihat ke arah Arumi.


"Ck.. Ck...ada si manusia kulkas? Em, pasti ada kaitannya dengan permintaan ku waktu itu. Ish, gercep juga nieh cowok...." batin Arumi.


Mirza tampak sedikit membungkuk mencium punggung tangan Permana. Hal itu membuat Arumi menyipitkan matanya.


"Bisa juga nieh cowok berbuat manis seperti ini..." batin Arumi.


"Sebelah sini Om, Arumi..." ucap Mirza menyilahkan Permana dan Arumi untuk mengikutinya.


Mata Arumi sejenak mengitari seisi ruangan yang ia lalui terutama sebuah ruangan dimana ia berada kini. Decak kagum Arumi pun terbit saat melihat isi ruangan yang nampak indah dengan ornamen klasik.


Kemudian tatapan Arumi terkunci pada dua lukisan yang tergantung di dinding. Arumi membulatkan matanya dengan sempurna. Ia ingin meyakinkan diri dengan penglihatannya.


"Itu memang lukisan mu. Mama yang memajangnya disana. Dia sangat terkesan dengan semua lukisan mu..." bisik Mirza.


"Permana...Apa kabar?" ucap William yang langsung memeluk sahabatnya itu.


"Arumi..." sapa Dania yang berdiri tersenyum menatap kehadiran gadis yang ia gadang-gadang sebagai calon menantunya itu.


"Tante Dania..." ucap Arumi yang langsung mencium punggung tangan perempuan cantik itu. Bagi Arumi pertemuan dengan Dania adalah suatu hal yang paling menyenangkan. Selain karena kebaikannya, Dania adalah sosok ibu yang membuat nyaman siapapun yang berinteraksi dengannya. Tak terkecuali Arumi.


"Silahkan...silahkan. Mau pesan apa nieh?" ucap William sambil menyodorkan menu.


"Em, Arumi pesan apa?" tanya Mirza datar sambil melihat daftar menu.


"Apa ya..? Em, nasi putih dan capcay lengkap saja dech..."


"Pilihan yang buruk. Yang lain saja..."


"Aku kan diet, Paaak..." ucap Arumi kesal.


"Ga perlu diet lagi, Ar..."


"Enak aja. Siapa tahu ada cowok ganteng yang bisa ku lirik..."


"Ini aja ya...yang lain tidak boleh" ucap Mirza sambil memutar kepala Arumi agar menatap wajahnya.


"Ada cowok seganteng ini di hadapan mu, masih mau melirik yang lain?"


"Siapa tahu kan ketemu cowok yang hangat ga sedingin kulkas..."


"Kalau mau hangat, aku bisa belikan kompor. Mau...?"


"Ogah..."


"Hahaha....." tawa William, Dania dan Permana pecah mendengar perbincangan Mirza dan Arumi yang absurd itu.


"Anak muda..." ucap Dania terkekeh.


Sambil menunggu pesanan datang mereka pun berbincang ringan saja. Dan tawa kelimanya kadang terdengar di sela perbincangan. Tawa yang berhasil mencairkan suasana canggung antara Mirza dan Arumi yang sempat terjadi.


Tak lama kemudian, pesanan pun datang tertata rapih di meja.


"Mari silahkan dinikmati..."


"Apa enaknya...?" ucap Mirza setengah berbisik pada Arumi saat melihat Arumi menikmati menu makan siangnya.


"Enak kok. Mau coba...?" ucap Arumi.


Tangannya langsung mendorong piring makannya mendekati Mirza.


"Kalau makan dari tangan mu langsung, aku mau..." ucap Mirza yang membuat Arumi rikuh.


"Wah sepertinya kita salah tempat, Pa..."


"Kalau begitu kita bergeser ke meja lainnya saja ya" ucap Permana sambil tertawa kecil.


Arumi dan Mirza hanya tersenyum saja sambil mendengar godaan orang tua masing-masing.


"Em...maaf Om, papa, mama dan Arumi. Em, saya tidak dapat berlama-lama karena ada meeting satu jam mendatang. Kalau diperkenankan saya ingin berbicara di sela makan siang ini"


"Oya, tidak apa-apa, Za. Bicaralah. Om, tidak merasa terganggu sama sekali".


"Terima kasih, Om. Begini...pertama, saya minta maaf pada Om dan Arumi. Karena saya sudah meminta Arumi menyetujui beberapa point di tengah perjodohan waktu lalu. Tapi itu sudah tidak berlaku lagi. Karena sesungguhnya saya sudah kalah atas Arum. Bahkan kurang dari lima bulan saya sudah harus mengakui kekalahan saya tersebut.


Arumi telah berhasil membuat saya jatuh cinta kepadanya. Maka dengan ini di hadapana Om, papa dan mama sekali lagi, saya mengakui bahwa saya...saya sudah jatuh hati pada Arumi. Dan saya benar-benar mencintai Arumi. Entah jika Arumi?"


Blush...


Wajah Arumi memerah mendengar pengakuan Mirza. Semula ia yakin bahwa ia tidak akan terpengaruh seperti saat ini jika Mirza mengungkapkan perasaan nya. Tapi nyatanya tidak demikian. Arumi sampai menyembunyikan wajah pada pangkuannya.


"Menurut Om, bagaimana?"


"Kalau om sih terserah Arumi..."


Uhuk.


Uhuk.


Uhuk.


"Jadi bagaimana, Arumi? Apa jawaban mu?"


Arumi tertegun. Matanya belum sanggup menatap satu persatu wajah orang-orang di hadapannya karena rona di wajahnya belum lagi usai.


"Ar..." ucap Mirza seakan menanti jawaban.


"Em, Arumi.... ... ... Arumi memang mencintai pak Mirza"


"Ah, lega rasanya mendengarnya..." ucap Dania.


"Tapi itu dahulu..."


"Arumi..." ucap Permana dengan wajah sedikit tegang. Pun demikian dengan William dan Dania. Keduanya menatap wajah Mirza.


"Mama tidak menduga jika anak laki-laki semata wayang yang begitu mama banggakan akan mengalami patah hati. Kuatlah, Za..." batin Dania.


"Maafkan Arumi. Perasaan cinta itu semakin berkurang seiring berjalannya waktu dan beberapa peristiwa yang Arumi alami dan lihat"


"Tante mengerti, Ar..." ucap Dania dari seberang meja.


"Tapi...jika bapak memang benar-benar mencintai saya apa adanya, maka saya punya satu permintaan"


Mirza tersenyum, karena sejatinya ia sudah mengetahui isi permintaan tersebut.


"Apa...?" tanya Mirza.


"Tolong buat saya jatuh cinta lagi kepada bapak. Seperti halnya bapak yang saat itu memberikan saya kesempatan, maka saya pun akan memberikannya kepada bapak. Empat bulan saya berikan kepada bapak untuk membuat saya jatuh cinta kepada bapak. Bagaimana?"


Mendengar penuturan Arumi senyum William dan Dania tampak mengembang. Keduanya sangat mengerti bagaimana perasaan Arumi saat ini.


"Kami rasa itu adil. Bagaimana, Za..." ucap William.


"Em, Mirza sanggup Pa. Mirza akan membuat Arumi jatuh hati lagi kepada Mirza"


"Semoga bapak berhasil, ya..."


"Egh..."


"Om, bolehkah Arumi minta satu hal pada Om?


"Apa, Ndok..."


"Arumi ingin Om mengeluarkan surat sakti untuk Arumi. Maksud Arumi, Arumi ada projects satu bulan. Tepatnya dimulai awal bulan depan, tapi Arumi tidak bisa meninggalkan perkuliahan. Bisakah ketidakhadiran Arumi ditutupi dengan tugas-tugas atau semacamnya?"


"Om, mengerti. Biar nanti Mirza atau Elvano yang mengurusnya. Om tinggal tanda tangan saja. Hehehe..."


"Terima kasih, Om..."


"Memang projects nya apa dan dimana? Sampai-sampai harus meninggalkan perkuliahan.."


"Pagelaran seni lukis. Kota nya belum ditentukan. Tapi yang jelas bukan di kota ini"


"Saya bisa menyiapkan pagelaran itu. Apa sih susahnya. Bahkan mungkin berkali lipat besarnya pun, bisa saya siapkan. Jadi Arumi tidak perlu sampai harus meninggalkan kota ataupun perkuliahan.


"Ah, bapak. Akan jauh terasa sesuatu sekali jika dihasilkan dari kerja keras sendiri. Dan lagi nanti akan ada pelukis-pelukis ternama yang turut andil. Jadi Arumi bisa belajar juga"


Mirza terdiam. Ia menghela nafas panjang.


"Maaf, Om, ma, pa...Mirza harus pamit. Lima belas menit lagi harus meeting. Maaf sekali lagi.."


"Tidak apa-apa Za. Om tidak keberatan. Silahkan"


"Terima kasih, Om. Em, tapi Om bisakah saya meminjam Arumi sebentar?"


"Silahkan..."


Mendengar itu, Mirza langsung menarik Arumi yang masih meneguk air minum. Mau tidak mau, Arumi menyudahi acara minumnya dan langsung menyambar tasnya untuk kemudian mengikuti langkah Mirza yang tampak tergesa.


"Ah, anak muda..." ucap Permana.


"Hahaha...tidak apa-apa yang penting rencana kita berhasil. Arumi memang ajaib..."


"Hahaha...."


🌸🌸🌸🌸🌸


"Pelan-pelan, Pak..."


"Oya, aku lupa kalau kaki mu pendek..." ucap Mirza sambil menghentikan langkahnya pada sudut ruangan ini cafe yang sepi dan tampak seperti ruang private.


Mirza berdiri dekat jendela. Di sebelahnya tampak Arumi yang sesekali menatap laki-laki jangkung nan tampan itu.


"Mengapa kau tidak menceritakan apa pun tentang rencana mu itu?


"Belum waktunya.."


"Belum waktunya? Apa maksud mu...? Apa ini sebagai cara mu untuk lari dari ku?"


"Aku tidak tahu harus menjawab apa. Yang pasti rencana ku itu tidak ada kaitannya dengan bapak. Itu murni dorongan untuk mewujudkan cita-cita saya"


"Ar, aku ingin sekecil apa pun itu, jika itu berkaitan dengan mu maka aku harus tahu..."


"Oh, nice banget..." ucap Arumi sambil memukul-mukul perlahan lengan Mirza.


"Cute banget sih Nieh anak. Makin jatuh hati saja..." batin Mirza.


"Aku minta maaf jika belum memberitahu bapak. Maaf ya..." ucap Arumi sambil duduk di bibir jendela dekat Mirza berdiri.


"Ya aku maafkan. Tapi lain kali jangan seperti itu. Ingin pergi jauh dari ku rupanya. Tidak boleh..."


Mirza meraih kepala Arumi dan membenamkannya pada dada bidangnya.


"Aku tak kan sanggup jauh dari mu? Em, boleh aku menyertai mu?"


"Enggak..."


"Please..."


"Enggak..."


"Hah...Katakan pada ku, apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu jatuh hati padaku...?"


"Entahlah...Aku sendiri tidak tahu" ucap Arumi berusaha terlepas dari rengkuhan Mirza.


"Oya, bapak tidak meeting...?"


"Egh..."


"Astaga...aku lupa" ucap Mirza tepok jidat.