150 Cm

150 Cm
Episode 13. Bertemu Wewe Gombel



Berdiri Mirza menghadang jalan Arumi. Matanya menatap Arumi dengan tajam. Di tatap demikian, Arumi berusaha tetap tenang. Ia ingin menunjukkan bahwa ia sudah benar-benar berubah dan tidak mudah diintimidasi lagi. Pun demikian, dalam hati Arumi tetaplah Arumi yang menyimpan segala gejolak rasa dan kegamangannya.


"Aduh, mengapa pak Mirza berdiri di jalan ku? Mau apa dia? Ya, Tuhan...tampan sekali. Terlebih lagi saat di bawah pendar cahaya lampu begitu. Seandainya...Hus jangan halu, Arumi" batin Arumi.


"Kenapa Arumi terlihat cantik malam ini? Tubuhnya juga sudah mulai kurus. Ah, tidak! Aku tidak boleh seperti ini..." batin Mirza.


"Pak Mirza...sedang apa di sini?"


"Menurut kamu...?"


"Mana saya tahu..." ucap Arumi sambil melangkah melewati Mirza.


Tap...


Mendadak tangan Mirza menangkap tangan Arumi. Tak butuh tenaga yang besar untuk membuat Arumi berada dalam dekapan Mirza.


Blush...


Wajah Arumi merah padam. Dadanya bergemuruh hebat. Desiran Aneh yang selalu ia rasa saat berada di dekat Mirza kini kian membuncah. Degup jantungnya serasa berloncatan tak menentu.


"Biarkan begini sejenak..." pinta Mirza.


"Ap-apa yang bapak lakukan..?"


"Sudah ku katakan diam. Biarkan begini sebentar lagi..."


Mendengar kata yang begitu mengintimidasi, Arumi diam. Ia membiarkan apa yang tengah dilakukan Mirza.


"Inikah yang aku rasakan saat berdekatan dengan Arumi? Jantungku menjadi tak karuan begini. Mirza...jangan katakan jika seleramu telah berubah..." batin Mirza.


Tak lama kemudian, Mirza mengurai pelukannya. Matanya lagi-lagi menatap Arumi.


"Apa kau mencintaiku...?"


Arumi tertegun. Wajahnya sedang ia sembunyikan di ujung kakinya. Karena saat ini wajahnya bak dikerubuti ratusan semut.


"Ini untuk mu. Aku harap kau cuci tangan mu itu? Aku tidak mau ada bekas tangan Faaz menempel disana..." ucap Mirza sambil menyodorkan sabun.


"Maksud bapak?"


"Lelet..." ucap Mirza sambil menolak kepala Arumi hingga berayun kebelakang.


"Egh..." Arumi kontan mengangkat kepalanya. Matanya menilik wajah Mirza. Ia penasaran apa sebenarnya maksud dari semua ucapan dan perilakunya.


"Apa?! Ow...ternyata kau senang atas perlakuan Faaz? Baguslah..."


Mirza berlalu meninggalkan Arumi yang termangu.


"Oya...Setelah aku memelukmu, aku tidak merasakan apa pun dalam dada ini. Artinya tidak ada perasaan khusus apa pun terhadapmu. Artinya aku tidak mencintaimu..." aku Mirza lagi.


Arumi makin tertegun. Ada air mata yang mulai mengambang di kedua matanya. Namun sekuat tenaga ia tahan.


"Apa sih maunya tuh manusia kulkas. Saat lalu ia mencium ku lalu bilang diabtak mencintaiku. Sekarang dia memelukku dan bilang juga tak mencintai ku. Lalu maunya apa? iih...keseeeel.....!" batin Arumi sambil melangkah menuju kamarnya.


Sementara itu, tanpa sepengetahuan Mirza dan Arumi, ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya. Tatapannya menaruh amarah hingga tangannya ikut mengepal. Bibirnya mendesis geram setiap interaksi Mirza dan Arumi terjadi.


"Dasar gadis kampung...! Berani-beraninya kau menggoda Mirza ku. Awas kau ya. Tunggu pembalasan ku..." batin Andrea.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Ar, tidur di kamar ku yuk. Aku takut. Atau aku tidur di kamar mu ya. Please..." pesan Vanya pada Arumi.


"Kau ke kamar ku saja, Nya..."


"Jempuuut...." ucap Vanya dengan nada manja.


"Ish...ya ampun, Nya"


Sedikit kesal, Arumi pun akhirnya meluluskan permintaan sahabatnya itu. Langkah Arumi cukup cepat saat menuruni anak tangga menuju kamar yang ditempati Vanya. Letaknya memang agak terpisah dari villa utama.


Langkah Arumi semakin cepat saat ia melihat kelebatan bayangan di balik pepohonan. Ia khawatir ketakutan Vanya benar adanya.


Hos.


Hos.


Hos.


Nafas Arumi tak beraturan. Sejenak ia menghentikan langkahnya tepat di depan kamar Vanya. Ia tengah mengatur nafasnya kembali.


Setelah beberapa saat kemudian, barulah Arumi mengetuk pintu.


Tok.


Tok.


Tok.


Kreeek...


Pintu kamar terbuka dengan si empunya kamar yang tampak pasi. Vanya langsung menarik kasar Arumi.


"Cepat masuk..."


Arumi mengikuti saja. Matanya memperhatikan polah Vanya.


"Ada apa, Nya..? Tubuh mu gemetar begitu..."


"Ar, aku baru melihat makhluk astral. Seram, Ar..."


"Kalau bercanda jangan nakutin gitu..." ucap Arumi sambil menghadiahi Vanya dengan beberapa pukulan menggunakan bantal.


"Aku tidak bercanda, Ar. Sungguh..." aku Vanya yakin.


"Ah, sudahlah..Ayo cepat kita ke kamar ku"


"Ar, tapi aku takut jalannya..."


"Aish... Vanya. Memang makhluk astral nya seperti apa?"


"Tadi dia berdiri di luar dekat jendela itu. Rambutnya panjang menutupi wajahnya. Bajunya putih. Hiiii....serem, Ar"


"Halu loh..." ucap Arumi sambil menolak tubuh Vanya yang duduk memeluk kedua lututnya yang terlipat.


"Ar, itu...Ar...!" ucap Vanya ketakutan.


Arumi penasaran. Ia pun langsung menuju arah yang di tunjuk Vanya. Di bukanya jendela dengan cepat. Sejenak Arumi merasakan hembusan hawa dingin mengenai wajahnya.


Kemudian matanya menilik setiap sudut sejauh mata memandang dari jendela.


"Benarkah yang dilihat, Vanya? Atau itu hanya rasa takut yang berlebihan saja?" batin Arumi.


"Tidak ada apa-apa, Nya...? Ah, sudahlah. Ayo kita ke kamar ku saja"


"Kamu yakin, Ar..."


"Daripada di sini. Ayok...cepatlah"


Arumi membuka pintu dengan kasar. Kemudian melangkah cepat diikuti Vanya yang dengan erat terus memegangi lengan Arumi. Hati-hati keduanya melangkah menyusuri jalan paving menuju vill utama.


Tatapan Vanya disembunyikan pada punggung Arumi. Sementara Arumi sendiri menatap dengan waspada.


Gubrak...!!


"Kucing meong....!" ucap Vanya sambil melonjak memeluk Arumi dengan erat saat terdengar bunyi seperti benda jatuh. Tubuh Vanya gemetar. Wajahnya semakin pasi.


"Astaga...Vanya" ucap Arumi yang turut terkejut karena polah Vanya.


Kemudian, langkah keduanya pun kembali menyusuri jalan paving. Mendadak Arumi menghentikan langkahnya hingga Vanya menabrak punggungnya.


"Vanya..."


"Maaf...Tapi kenapa berhenti mendadak?"


"Sstt...aku mendengar suara perempuan menagis"


"What...! jangan bercanda, Ar"


"Serius...makanya jangan berisik. Kita perhatikan betul-betul suaranya. Siapa tahu bisa kita tanya nomor togel..."


"Bercanda...bercanda..." ucap Vanya sambil memukul lengan Arumi.


"Ok. ok..." ucap Arumi menahan gelak.


"Kenapa kau tega, Za. Aku mencintai mu. Semua akan aku lakukan, asal kita bisa bersama..."


"Iya. Aku tahu. Tapi apa salah ku hingga kau marah-marah kepada ku"


"Aku tidak rela jika aku dikalahkan oleh gadis kampung itu..."


"Gadis kampung...?" gumam Arumi. Ia menajamkan telinga menilik percakapan yang terjadi.


"Ar... suaranya berhenti. Kita dekati yuk..Aku siapkan senter. Kau yang menangkapnya"


Arumi mengangguk. Tangannya kemudian meraih cabang kayu yang terserak di bawah pohon. Kemudian keduanya mengendap-endap mendekati sumber suara.


"Satu, dua, tiga..." bisik Vanya.


Tangan Arumi terangkat keatas bersamaan dengan aba-aba Vanya. Namun saat mendapati kenyataan dihadapannya, Arumi lesu begitu pun dengan Vanya. Keduanya menyaksikan pemandangan membuat hati berdenyut pilu. Mirza pun terkejut bukan kepalang melihat kehadiran dua sahabat itu, terutama Arumi.


"Pak Mirza..." batin Arumi ditengah keterkejutannya.


Mata Arumi menatap kedua insan di balik pohon yang tengah berpagut penuh gairah. Sadar dengan yang tengah terjadi Arumi mendadak berteriak sekuat tenaga.


"Wewe Gombel....!!! Ada Wewe Gombel...!!!" teriak Arumi sambil berlari menuju Villa utama. Mendengar itu Vanya pun mengambil langkah seribu. Bahkan langkahnya lebih cepat dari Arumi.


Seiring langkah cepatnya hati Arumi mulai gerimis. Ia kecewa atas apa yang di lihatnya.


Tes.


Tes.


Tes.


Air mata itu jatuh juga. Semakin deras mengalahkan langkah seribunya.


Hos.


Hos.


Hos.


Nafas Arumi sulit terkendali. Ia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu Villa utama.


Greep....


Sebuah pelukan terasa begitu hangat menyentuh Arumi. Sadar siapa pemilik tubuh yang memeluknya, Arumi justru melampiaskan tangisnya pada dada besar laki-laki itu.


"Kak Faaz..." ucap Arumi lirih di sela tangisnya.


"Kita ke dalam ya. Vanya sudah ada di dalam bersama yang lain"


Arumi pun mengangguk perlahan. Langkahnya begitu perlahan hingga di ruang utama dimana Vanya, William, Dania, Elvano berada.


"Sayang...." ucap Dania yang langsung menyambut Arumi dan mendekapnya.


Jika Vanya begitu gemetaran dan berwajah pasi, beda halnya dengan Arumi yang berwajah murung.


"Jadi betul kalian melihat makhluk astral?"


Arumi diam. Hanya Vanya yang berceloteh panjang dan lebar. Ia bercerita tentang makhluk astral yang dilihatnya. Sementara Arumi memilih merebahkan kepala di pangkuan Dania. sesekaki tangannya mengusap air mata yang terus saja membanjir.


"Mengapa kau melakukan hal seperti itu di sembarang tempat. Apakah kau sengaja melakukannya? Kau jahat, pak. Jika kau tidak menyukaiku, tak perlu kau melakukan hal seperti itu. Sungguh memalukan..." gerutu Arumi.


🌸🌸🌸🌸🌸


Tok.


Tok.


Tok.


Terdengar pintu kamar di ketuk. Arumi yang masih bergeming di bawah selimut mau tidak mau beranjak menuju pintu.


"Faaz..."


CEKLIK....


Arumi membuka pintu sekenanya saja hanya untuk meloloskan kepalanya.


"Ya, kak..."


"Aku hanya ingin memastikan keadaan mu?


"Arumi baik-baik saja, kak..."


"Syukurlah..." ucap Faaz lega. Tangannya mengacak pucuk kepala Arumi.


"Mandi sana...Bau joging nieh..."


"Hah... masih harum kok" ucap Arumi dengan mengeluarkan nafas lewat mulutnya pada telapak tangan. Faaz tertawa.


"Sudah sana, siap-siap. Di tunggu di meja makan ya, kesayangan kakak"


Arumi mengerutkan wajahnya selucu mungkin. Dan benar saja Arumi sukses membuat Faaz terkekeh.


"Dokter Faaz ya..."


"Eh, sudah bangun juga ya..."


"Ya. Kekeh kalian mengganggu tidur ku..."


"Hehehe....maaf ya" ucap Arumi sambil menimpa dan memeluk erat Vanya membuat gadis itu berontak.


"Arumi hentikan...! hahahaha.....!"


Bukannya berhenti, Arumi makin bersemangat. Jadilah pergulatan pagi itu antara dua sahabat.


Hos.


Hos.


Hos.


Nafas keduanya begitu memburu setelah acara gelitik-menggelitik juga tindih-menindih. Perlahan namun pasti keduanya berhasil mengatur nafas hingga teratur kembali.


"Nya, apa yang kau lihat semalam jangan di ceritakan kepada siapapun ya...?"


"Emang semalam ada Wewe Gombel beneran ya...?"


"Vanya....!"


"Ya Arumi... Jujur ya, semalam aku tidak melihat apa pun. Karena setelah hitungan ketiga mataku terpejam. Dan saat mendengar teriakan mu aku langsung mengikuti mu. Dah...gitu aza. Hehehe..."


"Astaga...Vanya...!"


"ya, Arumi. Wewe Gombel nya besar ga?


"Hem, besar banget. Hitam lagi. Beruntung kau tak melihatnya" ucap Arumi sambil menghambur ke kamar mandi.


"Arumi....!!"


"Ya, Vanya..."


"Ikut ke kamar mandi..."


"Ogah...."


"Arumi....!!"


"Ogah...!!"


🌸🌸🌸🌸🌸


"Itu gadis-gadis kenapa...?"


"Biasa Tante, kalau kampungan ya begitu..."


"Hus...jaga bicaramu"


"Tapi, Za...benerkan..."


"Kamu tidak berhak memberi penilaian kepada mereka"


Andrea terdiam saat mendengar pernyataan Mirza dengan tatapan mengintimidasi.


"Perang dingin sudah mulai nieh..."


"Sepertinya begitu..."


"Nah, ini dia yang ditunggu sudah datang" ucap Faaz saat melihat kehadiran Arumi dan Vanya.


"Duh, kenapa jantung ku serasa lari maraton begini...? Hah, pak Mirza pun seperti sedikit terganggu dengan kehadiranku. Sikapnya jadi rikuh..." batin Arumi.


"Aku harus bicara dengan mu Arumi. Harus..." batin Mirza.


"Baik kita mulai. Silahkan dinikmati menu sarapannya. Setelah ini kita akan melanjutkan tantangan semalam..."


"Huu...yeeah...!!" sorak semua hampir bersamaan.


"Ga bisa ditunda, Ma...?"


"What...! Ga salah nieh? Seorang Mirza Adyatma meminta penundaan sebuah tantangan..."


"Sialan kau..."


"Hahaha...." tawa semua bersamaan.


Acara makan pagi pun di selingi obrolan ringan seputar pekerjaan dan kegiatan para gadis.


"Arumi...Apa yang menyebabkan tinggi tubuh mu hanya 150 cm?"


Uhuk.


Uhuk.


Uhuk.


Arumi tersedak mendengar pertanyaan Andrea. Namun yang tak terduga adalah Mirza dan Faaz sama-sama menyodorkan segelas air mineral kepada Arumi. Dan hal itu disaksikan oleh semua.


"Aish....perang panas kalo begini" ucap Elvano sambil duduk bersandar. Tangannya memijat kepalanya.


Melihat situasi tersebut Arumi mengambil gelas yang di sodorkan Mirza dan langsung menegukkannya hingga tak bersisa. Senyum pun menghiasi sudut bibir Mirza atas tindakan Arumi. Namun diluar dugaan, Arumi pun ternyata mengambil gelas yang disodorkan Faaz dan juga meminumnya hingga habis.


Melihat itu William dan Dania saling menatap. Sesaat kemudian keduanya tampak tersenyum. Entah apa yang ada dalam fikiran keduanya.


🌸🌸🌸🌸🌸


Pukul delapan lewat lima menit. Semua sudah duduk di depan sebuah stage yang sudah dipersiapkan para asisten rumah tangga atas perintah William dan Dania Rupanya, pasangan tajir itu tidak main-main dalam menggulirkan bola panas persaingan untuk ketiga pasang muda mudi yang tengah dilanda cinta. Sultan mah bebas. Hehe..


"Bagaimana perasaan mu?"


"Entahlah, kak. Arumi merasa ini adalah pembuktian diri bahwa Arumi bisa....! Tapi sejauh ini rasanya semua akan menjadi sia-sia..."


"Tidak ada yang sia-sia, Arumi..." ucap Faaz sambil menggenggam tangan Arumi. Arumi segera menarik tangannya dengan cepat. Sikapnya jadi kikuk. Melihat itu, Faaz tersenyum. Ia hanya menyarangkan tangannya di pucuk kepala Arumi dan mengacaknya sedikit.


"Kenapa Faaz selalu saja memperlakukan Arumi seperti itu? Ah, sial kenapa aku seperti ini?" batin Mirza.


"Aish...kenapa Mirza selalu mencuri pandang ke arah Arumi terus ya? Apa Mirza berubah. Ah! apa sih kelebihan gadis kampung itu...? Awas kau semampai, 150 tak sampai...! Aku akan membalas mu..." batin Andrea geram.


"Ayo...Vanya!! Go...Vanya, Go Vanya, Go...!!" ucap Arumi setengah teriak saat Vanya dan Elvano memulai aksinya.


"Wah, belum mulai saja aku sudah terguncang...!"


"Diam kau, Faaz. Dasar kutu kupret...!" ucap Elvano sambil menghadiahi Faaz kusekan di kepalanya.


"Misi Om, Tante..." ucap Elvano meniru gaya abang-abang gemulai yang sering mangkal. Suaranya pun dibuat menyerupai perempuan.


"Apaan sih, Kak....?"


"Ga papa, Tanggung. Kepalang malu. Malu sekalian. Dan lagi ini kan cuma seru-seruan aza"


"Tapi kan Vanya malu..."


"Ga perlu malu..." ucap Elvano sambil merangkul bahu Vanya.


"Ehem...sepertinya lanjut ini El ke pelaminan" William terkekeh.


"Hahaha....Om tahu aja"


"Ayo mulai, El, Nya..."


Arumi menutup mata seakan enggan melihat aksi yang sebentar lagi di mulai. Dan benar saja saat Vanya memulai memetik gitar yang terdengar adalah suara kesumbangan.


"Booo....!" ucap Faaz saat penampilan tak sesuai ekspektasi.


Petikan gitar Vanya jauh dari kata sempurna. Hanya suara Elvano saja yang terdengar masih enak. Berkali-kali Vanya sendiri terkekeh saat menyadari minimnya kemampuannya. Tapi ia tetap melanjutkan karena semangat yang diberikan Elvano.


"Ini sih lagu kemana, musik kemana. Biar dikate anjing menggonggong, kafilah tetap aje berlalu. Ditarik terus, kaang..." Faaz tak henti tertawa. Sementara William dan Dania sebisa mungkin menahan tawa. Keduanya hanya ingin menjaga perasaan Elvano dan Vanya.


Bhuahaha....


Tawa pun tak kunjung mereda hingga akhir lagu. Bahkan Mirza yang biasanya dingin, kini turut teetawa.


"Pak Mirza makin ganteng aja kalau tertawa seperti itu. Duh..." batin Arumi.


Memerah wajah Vanya karena malu. Tangannya tak henti mencubit lengan Elvano. Sementara itu Arumi sesekali menghapus air bening di sudut matanya hasil dari melihat kelucuan yang ditunjukkan


"it's ok...." ucap Arumi memeluk Vanya.


"Malu tau...."


"Malu-malu tapi menikmati. Cieee.... cubit cubit..."


"Apaan sih..."


"Mantaff, El...Biar malu dapet juga tuh cubitan sayang"


"Egh..."


"Dasar kutu kupret..."


"Hahaha.....!"


Setelah melihat kelucuan, kini ketegangan yang berhasil diciptakan Mirza. Ia berdiri dengan tatapan membunuhnya.


"Siapa saja yang meledek apalagi yang menghina akan mendapat hukuman. El dan Faaz, ku potong gaji mu. Vanya, Arumi...aku pastikan kalian tak lulus mata kuliah ku..."


"Ah, jahat nieh...bapak"


"Ya, seperti bapak tiri saja"


"Hepk..." Semua menahan tawanya mendengar coteh dua sahabat itu.


"Ga adil, Bro...Ayoklah..."


"Eh, membantah? Ku hajar nanti..."


William dan Dania tersenyum melihat interaksi putranya dengan dua sahabatnya itu. Kemudian atraksi pun di mulai. Eng...ing...eng...


Arumi menutup mulutnya saat melihat aksi lesu Mirza dan Andrea. Begitupun dengan Vanya, Elvano dan Faaz. Tak terkecuali William dan Dania.


"Lesu ye..." ucap Dania sambil celingukan membuat Mirza keki.


"Iya. Kaya sayur tanpa garam..."


"Kaya matahari tanpa sinarnya..."


"Kaya cewek tanpa bra-nya.."


"Bhu-bhuahahaa......" tawa semua.


"Kaliaaaaan......!!!"