
Berdiri Ryu di tepi balkon. Matanya menatap jauh entah kemana. Sesekali wajahnya menyiratkan rasa sakit karena luka yang belum sembuh. Ryu, benar-benar tak menyadari kehadiran Edward. Fikirannya benar tengah mengembara jauh.
"Ryu..." ucap Edward.
Sebelah tangannya menepuk bahu anak laki-lakinya itu. Mendapat perlakuan itu, barulah Ryu kembali memusatkan perhatiannya pada Edward, ayahnya.
"Pa...." ucap Ryu.
"Bagaimana keadaan mu, Ryu...?"
"Jauh lebih baik, Pa..." ucap Ryu sambil duduk pada sebuah kursi di sudut balkon.
"Syukurlah. Papa sempat khawatir melihat kondisi mu, Nak..." ucap Edward sambil mengikuti Ryu duduk pada kursi di sebelahnya.
"Papa tidak perlu khawatir. Sekarang pun Ryu bisa adu lari dengan papa..."
"Haha... ada-ada saja"
"Oya, Pa. Bagaimana keadaan Arumi?'
"Sejauh ini makin membaik. Terlebih ada suami yang selalu menjaga dan mencurahkan kasih sayang terhadap nya"
"Syukurlah...." ucap Ryu lega sambil menghela nafas.
Mata Ryu menatap jauh. Entah apa yang menjadi perhatiannya saat itu.
"Apanysng sedang kau Fikirkan? Papa perhatikan kau sering terdiam. Melamun..."
"Pa...." ucap Ryu lesu tanpa melihat Edward.
"Ya..." ucap Edward.
Wajahnya sedikit serius menanggapi kata Ryu. Edward yakin jika ada sesuatu hal yang sangat mengganggu anak laki-lakinya itu.
"Apa tidak lebih baik kita kembali ke Jepang. Aku lebih nyaman di sana. Usaha ku pun ada di sana..."
Deg.
.
.
.
Edward menatap lekat wajah anak laki-lakinya itu. Rupanya ia menilik penyebab ketidaknyamanan Ryu saat ini.
"Pa...?"
Edward menghela nafas. Ia menyandarkan kepalanya pada kursi untuk kemudian menatap langit-langit yang berwarna putih bersih itu.
"Papa berusaha mengerti maksud mu. Tapi...apa tidak terkesan kau melarikan diri?"
"Pa...! bukan seperti itu maksud ku. Aku hanya merasa lebih nyaman saja di sana. Terlebih usaha ku juga di sana, Pa..." ucap Ryu sedikit penekanan.
"Bagaimana dengan papa? Bagaimana dengan adik mu?"
"Papa harus menyertai ku. Kita akan bersama seperti dahulu. Kita ke negara ini, untuk menemukan Mama Yuki dan Arumi. Dan itu sudah terlaksana, walau hasilnya sedikit mengecewakan. Tentang Arumi, aku tidak khawatir. Ada Mirza Adyatma, suaminya yang akan menjadi malaikat pelindungnya. Papa bersedia kan bersama ku kembali ke Jepang?"
"Tentu. Papa akan senang bersama mu..."
"Sungguh...? Papa tidak keberatan berpisah lagi dari anak perempuan papa yang lain?'
"Tentu tidak. Jarak kita hanya dibatasi perputaran waktu yang beberapa jam saja. Maka jika kangen itu melanda, papa tinggal terbang menemui adik mu..." ucap Edward sambil tersenyum.
"Tapi aku yang keberatan...!"
Suara seorang perempuan mengisi udara saat itu. Dan tentu saja langsung menjadi pusat perhatian.
Hanya beberapa langkah saja, gadis manis itu telah berdiri di hadapan ayah dan anak. Ia pun menjura, meraih tangan Edward dan mengecupnya dengan takzim.
"Assalamu'alaikum, Om..." ucap Vanya.
"Wa'alaikumussalam, Nya... Darimana, sayang?"
"Dari rumah, Om. Ini Vanya bawa makanan kesukaan Om dan kak Ryu..." ucap Vanya.
Tangannya mengangkat paper bag yang dijinjingnya. Senyum pun terurai dari bibir tipis yang dipulas warna nude itu. Kemudian Vanya pun meletakkan paper bag tersebut di atas meja. Ekor matanya sekilas menilik wajah Ryu yang sejak tadi tampak dingin.
"Wah... repot-repot nak Vanya ini loh"
"Tidak repot kok, Om...Vanya sajikan ya, Om"
"Ah, Vanya di sini saja biar Om yang nanti meminta bi Par yang menyajikannya" ucap Edward sambil meraih paper bag.
"Ah, ya..Om" ucap Vanya rikuh.
"Tak perlu sungkan. Kita keluarga. Berbincang kah dengan Ryu. Kalau ada masalah bicarakan baik-baik.."
"Iy-ya...Om" ucap Vanya makin rikuh.
"Berhentilah berbuat baik kepada ku, Nya. Karena aku tidak pantas menerimanya" ucap Ryu.
"Kakak tidak perlu repot-repot memberikan penilaian terhadap setiap hal yang aku lakukan. Karena aku melakukannya dengan bahagia untuk orang yang pantas menerimanya"
"Tapi....bisa saja aku tak dapat membalasnya"
"Aku tak butuh balasan, kakak..."
"Aku tahu, tapi...." ucap Ryu.
Katanya jadi terhenti saat manik matanya bertemu keteduhan mata Vanya yang tengah menatapnya.
Deg.
.
.
.
"Kak...kalau yang kakak maksud adalah membalas cinta ku, maka aku ingin bertanya satu hal. Apa maksud kakak ingin kembali ke Jepang adalah demi menghindari cinta ku?"
"Nya...kau baik. Pasti ada banyak laki-laki yang sesuai dan akan mencintai mu sepenuh hati. Semula aku berniat untuk meminta kesempatan kepada mu demi membalikkan semua rasa ini. Tapi setelah ku fikir, alangkah jahatnya aku. Setelah aku terjatuh, aku memanfaatkan mu untuk mengobati luka ku. Aku tak sanggup, Nya. Kau gadis baik. Terlebih kau adalah sahabat adik ku..."
Vanya terdiam.
.
.
.
"Berarti benar kakak pergi untuk melarikan diri..."
"Tidak, Nya...Aku hanya tidak ingin menyakiti orang-orang yang ku sayangi"
"Jika begitu jangan pergi. Buktikan..."
"Maaf, Nya. Aku tidak bisa. Aku harus pergi. Usaha ku juga ada di sana. Di sini hanya persinggahan ku saja..."
"Bagaimana dengan adik mu, Arumi"
"Arumi. Aku yakin ia akan mengerti..."
"Kakak yakin?"
"Ya...." ucap singkat Ryu.
Kepalanya mengangguk walau tampak tak mantap alias terkesan gamang.
"Apa sudah tidak ada tempat di hati kakak untuk ku...?" ucap Vanya dengan suara bergetar.
Vanya sendiri sedikit terkejut, darimana keberanian untuk mengungkapkan pertanyaan itu. Wajahnya pun serasa di kerubuti semut yang ratusan jumlahnya.
Sementara itu, Ryu kian menilik jauh ke dalam mata indah milik Vanya. Jantungnya berdenyut. Bukan karena rasa cintanya, tapi terlebih pada rasa bersalahnya lah yang lebih menguasai segala rasa yang ada.
"Kak...." ucap Vanya.
Ada banyak bulir bening yang mengerubuti kedua matanya. Gambaran atas kecewa yang tengah memporak-porandakan taman indah dalam hatinya.
Ryu menatap jauh. Entah kemana. Fikirannya kembali mengembara.
"Aku sudah berusaha, Nya. Tapi aku tidak bisa..." ucap Ryu kemudian.
"Apa kakak terlalu mencintai perempuan jahat itu?"
"Bukan...! Tapi rasa sakit ini yang sulit disembuhkan. Dan aku tidak mau kau menjadi obatnya. Sungguh jahat jika aku hingga melakukannya pada mu..."
"Kalau begitu sembuhkan dahulu luka kakak. Setelah itu beri keputusan untuk ku..."
"Entahlah, Nya....Bisa jadi akan memakan waktu yang lama"
"Aku akan menunggu. Umur ku juga masih muda. Heheh...." ucap Vanya diakhiri tawa walau ada sedikit gamang di sana.
"Jika begitu. Biarkan aku kembali ke Jepang terlebih dahulu..."
Vanya terdiam.
.
.
.
Sementara itu, sepasang telinga tengah menyimak setiap rangajian kata yang mengisi udara saat itu. Ia berdiri tepat di balik dinding dimana Ryu dan Vanya berada.
"Semoga Vanya berhasil mencegah kepergian Ryu. Sungguh aku lebih memilih berada di sini, di kota ini. Sebab di kota aku bisa menemui Yuki Hirata, walau di pekuburan. Dan ada anak perempuan ku yang baru saja aku temukan" batin Edward.