
"Cepatlah,.kak. Sepertinya dokter Faaz ingin berbicara hal yang penting kepada kakak..."
"Hal penting? Mengapa ia tidak memberitahuku langsung...?" ucap Mirza diakhir percakapan.
Langkah Mirza langsung panjang. Membuat kedua asistennya bertanya-tanya atas perilaku tuannya itu. Pun demikian, keduanya tetap mengekori langkah Mirza tanpa bertanya apa pun.
Tak menghabiskan waktu lama, laki-laki tampan pengusaha sukses itu sudah berdiri di ambang pintu ruang perawatan VVIP. Tempat dimana istri yang amat ia cintai tengah di rawat.
"Ehem..." Mirza berdehem.
Rupanya ia tengah menarik perhatian seisi ruangan. Dan benar saja, mendapati polah singkat Mirza, perhatian sontak menjadi miliknya. Segenap asisten dokter dan perawat yang ada langsung mengangguk takzim sambil memberi ruang kepada laki-laki super tajir itu untuk lebih dekat ke sisi istri 150 cm nya itu.
"Bagaimana kabar istri tercinta ku ini?" ucap Mirza.
Ekor matanya sekolah mengarah pada Faaz yang sejak tadi berdiri di dekat Arumi. Rupanya percikan api cemburu mulai tumbuh saat ini.
"Baik, kak. Semua berkat dokter Faaz dan perawat di sini" ucap Arumi sambil mengumbar senyum.
"Berterima kasihlah pada suami mu ini yang telah mendirikan rumah sakit ini..." ucap Mirza .
Jelas ada cemburu di sana. Mendengar itu Faaz dan Elvano saling bertukar mata dan tersenyum. Keduanya faham betul apa maksud dari ucapan laki-laki tampan itu yang merupakan sahabat mereka.
"Mulai cemburu dech..." bisik Elvano pada Faaz.
"Ternyata belum selesai juga pubertas nya?" canda Faaz sambil menyimpan senyumnya.
"Tentu...tentu aku sangat berterima kasih pada suami ku yang tampan dan sangat ku cintai ini. Terima kasih ya, sayang..." ucap Arumi.
Rupanya Arumi jadi faham akan tabiat laki-laki pengisi hatinya itu. Karenanya ia langsung merespon ucapan suaminya itu.
"Alhamdulillah... jika demikian. Lalu apa yang dokter Faaz sampaikan?" ucap Mirza.
Ekor matanya lagi-lagi mengarah Faaz sebentar saja. Di tatap demikian, Faaz lebih mendekat. Bibirnya menyulam senyum.
"Maaf, Nyonya...Saya atau nyonya yang menyampaikannya?" ucap Faaz.
Sepertinya Faaz berniat memercikkan rasa penasaran pada hati Mirza. Dan benar saja, sesuai dugaan. Mirza terpancing. Wajahnya langsung terangkat dengan tatapan yang langsung mengarah pada Faaz.
"Mulai berteka-teki kepada ku...?" ucap Mirza.
Dari katanya jelas menunjukkan ketidaksukaan atas ucapan Faaz sebentar lalu.
"Singa mulai terpancing..." ucap Elvano sambil memalingkan wajah.
Elvano berlagak slebor. Ia tidak ingin bos sekaligus sahabatnya itu melihat wajahnya.
"Sayang....?" ucap Mirza.
Kali ini ia menatap Arumi. Jelas ia meminta penjelasan.
Melihat itu Arumi tersenyum. Untuk kemudian, manik matanya beralih pada Faaz.
"Biar saya saja yang mengatakannya, dok. Singa nya mulai bangun..."
"Hehe....Kalau begitu kami permisi Nyonya, Tuan..." ucap Faaz untuk kemudian berlalu meninggalkan ruangan.
Tak lupa Elvano dan Danu pun turut serta mengekori langkah Faaz.
"Sayang...." ucap Mirza sepeninggal ketiga sohib dan perawat.
Sebelah tangannya menggenggam erat jemari Arumi. Sementara sebelah lainnya mengusap lembut pipi perempuan yang ia cintai itu. Arumi tersenyum. Manik matanya menatap lekat wajah tampan laki-laki yang wajahnya kini tepat di depannya.
"Em, Arumi harap kakak tidak akan marah setelah mendengar apa yang akan Arumi sampaikan.."
"Mengapa harus marah, sayang..." ucap Mirza.
Tangannya mengusap lembut pucuk kepala Arumi. Sesekali ia pun membetulkan helai rambut yang menutupi sebagian wajah perempuan 150 cm nya itu. Sementara manik matanya jelas menilik lekat jauh ke dalam mata Arumi.
Mendengar jawaban itu, Arumi tersenyum. Ia meraih tangan Mirza dan mengecup takzim punggung dan telapak tangannya.
Bertanya-tanya? Tentu saja Mirza mengalaminya. Hatinya pun sudah ditaburi benih penasaran.
"Em, boleh Arumi memeluk kakak..."
"Kakak....ih" ucap Arumi sambil mencubit kecil lengan Mirza.
"Akh...sakit sayang. Kalau boleh cubitnya pakai bibir saja. Di sini..." ucap Mirza sambil menunjuk bibirnya.
"Apaan sih, Kak...." ucap Arumi.
Kali ini dibarengi dengan menghambur memeluk tubuh kekar laki-laki super tajir itu. Mendapati polah istrinya, Mirza langsung menyambut hamburan Arumi. Mirza mendekap erat Arumi. Sesekali ia menghadiahi kecupan lembut pada pipi ataupun pucuk kepala Arumi.
"So....Apa yang ingin istri ku ini sampaikan? Jangan bertele-tele, sayang. Kamu tahu kan suami mu ini orang yang to the point?"
Arumi makin membenamkan kepalanya pada dada bidang laki-laki yang selalu ia cintai itu. Bahkan ia pun memberi kecupan pada tempat sandaran kepalaku itu.
"Kak..." ucap Arumi.
"Ya, sayang..." ucap Mirza sambil mengusap lembut pucuk kepala Arumi berulangkali.
"In Syaa Allah....kakak akan menjadi seorang ayah"
Deg.
.
.
.
Mirza menghentikan belaian tangannya. Bahkan dekapannya pun melonggar.
"Ya, Kak...aku mengandung anak kita"
"Anak...? Kita...?" ucap Mirza seakan tak percaya.
Manik matanya menilik setiap inchi wajah Arumi. Bahkan ujung tatapannya menilik hingga jauh ke dalam mata indah Arumi.
"Ya, kak. Aku mengandung anak kita. Kondisi ku yang tidak stabil akhir-akhir ini ternyata karena tengah mengandung..."
"Hu Robby.... Alhamdulillah" ucap Mirza.
Ia pun kembali mengeratkan dekapannya pada Arumi. Bahkan ia pun sampai menitikkan air mata. Jadilah keduanya berisak tangis karena bahagia.
"Aku akan menjadi ayah...sayang. Aku menjadi ayah...!" ucap Mirza.
Kali ini ia melepaskan dekapannya. Untuk kemudian menari-nari sambil mengungkapkan rasa bahagianya.
"Aku seorang ayah...! Alhamdulillah...! Aku ayah...! Aku ayah...!" ucap Mirza berulangkali.
Yang tak kalah penting dari Moment pengungkapan rasa bahagia itu adalah Arumi bisa melihat tingkah ke-absurd-an suami tampannya itu.
Arumi tertawa melihat polah Mirza. Tawa Mirza jelas mengisi udara saat itu. Begitu pun dengan tariannya yang absurd itu membuat Arumi kian menahan tawa. Bagaimana tidak gerakan Mirza begitu menggelitik rongga tawanya. Mulai dari gerakan langkah ke kanan-kiri, berjingkat girang sampai gaya ubur-ubur pun Mirza.
KREEEK.....!
Pintu terbuka. Mirza sontak terdiam. Ia membetulkan letak kemejanya.
"Ehem...." Mirza berdehem.
Suasana mendadak jadi cangung. Mirza pun memilih esduduk pada sofa. Matanya langsung terpusat pada koran yang tergeletak di atas meja. Ini adalah bentuk pengalihan dari segala rasa yang tengah berkecamuk dalam dadanya.
Melihat situasi tersebut, Arumi menahan tawanya.
"Maaf tuan, nyonya...saya mengantarkan vitamin untuk nyonya" ucap seorang perawat.
"Ya, terima kasih. Letakkan di meja saja..." ucap Arumi.
"Permisi tuan, nyonya...." ucap perawat itu sambil mengangguk takzim.
Langkahnya cepat meninggalkan ruang VVIP perawatan. Tatapannya disimpan pada lantai berwarna putih yang ia lalui.
"Aduh..mengapa aku harus melihat tingkah absurd tuan Mirza. Ah, jadi bingung kan harus bagaimana. Tapi....Hehe. Baru kali ini aku melihat tuan Mirza bertingkah seperti itu. Lucu...! Jadi ini berkah atau musibah? Ah, ada-ada saja..." batin perawat itu.