150 Cm

150 Cm
Episode 69. Jangan Tinggalkan Arumi, Yah...



Matahari sudah hampir kembali ke peraduannya saat tangan Mirza menjabat erat tangan Edward, wali nikah Arumi saat ini. Suasana pun menjadi hening ketika kata ijab Qabul meluncur dari bibir Mirza.


"Saya terima nikah dan kawinnya Arumi Hirata binti Edward dengan maskawin cincin emas dibayar...tunai"


"Sah....!" ucap kedua saksi dengan mantap.


Puji syukur pun menggema mengisi udara di ruangan. Senyum sumringah pun terpancar menghiasi setiap wajah saat itu. Namun yang paling merasakan kebahagiaan adalah Permana. Hatinya benar-benar penuh kesyukuran. Tugas dan tanggungjawabnya hampir tuntas saat itu terasa sedikit longgar.


Kebahagiaan pun diabadikan dalam jepretan sang fotografer dadakan. Siapa lagi jika bukan Elvano dan Vanya. Yang masih tetap selalu silang pendapat karena hal sepele.


"Minggir, Aku mau foto dari sebelah sini.." ucap Vanya.


"Eits...tidak bisa. Sejak tadi aku sudah di sini. Vanya di sana saja. Jadi dokumentasinya dari berbagai sisi. Kan keren jadinya..."


"B-o-d-o...Ogah"


"Astaga..." ucap Elvano kesal.


Sementara itu, Permana yang terbaring tampak terisak. Penulis yakin ia tengah bahagia saat melihat kebersamaan Arumi dan Mirza. ☺️🙏


"Yuki...aku sudah memenuhi semua janjiku padamu. Lihat Arumi sudah bahagia bersama laki-laki yang ia cintai. Apa kau bahagia, sayang? Kini giliran ku yang ingin bahagia bersama mu" ucap Permana lirih. Matanya basah dengan air mata, walau menyunggingkan senyuman.


"Ayah..." ucap Arumi.


Arumi meraih tangan Permana dan mencium lembut punggung tangan laki-laki yang sudah membesarkannya itu.


"Mirza, ayah titipkan Arumi pada mu. Kasihi dan jaga ia. Arumi adalah putri ayah satu-satunya.."


"Iya, Yah. Mirza akan selalu menjaga dan memenuhi kewajiban Mirza atas Arumi"


"Ayah bahagia mendengarnya..." ucap Permana lirih.


"*Mengapa ucapan ayah terasa lain? Ah, semoga perasaan ku saja" batin Arumi.


"Mengapa Permana seakan mengucapkan salam perpisahan? Ah, semoga perasaan ku saja..." batin William


"Kata mu terasa seperti perpisahan. Ah, semoga saja tidak demikian" batin Edward.


"Kau harus kuat, Ar. Apa pun yang terjadi aku akan selalu menjaga mu..." batin Mirza*.


"Arumi...ayah bahagia mendapatkan mu sebagai putri ayah. Jadilah istri yang selalu membahagiakan suami dan keluarga mu" ucap Permana yang begitu panjang karena terucap lirih dan terbata.


Luruh air mata Arumi. Semua kata yang terucap bak pesan perpisahan. Terlebih saat melihat kondisi ayahnya kini.


"Ayah tidak perlu banyak bicara. Lebih baik ayah beristirahat. Sekarang Arumi sudah baik-baik saja. Sekarang Arumi sudah bersama kak Mirza seperti harapan ayah"


"Ya, Ndok. Ayah bahagia. Terima kasih sudah menjadi putri ayah...." ucap Permana dengan suara parau.


"Arumi yang berterima kasih pada ayah. Karena ayah sudah menjadi ayah yang begitu baik bagi Arumi. Maafkan Arumi yang sudah menyakiti perasaan ayah. Arumi yang egois..."


"Arumi anak baik. Ayah yang sudah pernah berbuat salah. Maafkan ayah, Ndok"


"Ayah...."


Arumi memeluk Permana yang terbaring tak berdaya. Begitu erat seakan tak ingin melepaskan lagi.


Dan suasana sore itu benar-benar sendu. Tiada satu pun yang tidak terisak. Entah bahagia, entah bersedih. Yang pasti semua rasa menjadi satu sore itu. Bahagia atas pernikahan Arumi dan Mirza. Sedih saat melihat kondisi kesehatan Permana. Entahlah...penulis sendiri bimbang ingin menuliskan apa, karena penulis sendiri tengah terisak di pojokan melihat situasi Permana. Hiks...Hiks...


"Ayah ingin beristirahat, Ndok. Ayah lelah..." ucap Permana.


"Ya, Ayah..."


Arumi melepaskan pelukannya. Tangannya membetulkan letak selimut hingga menutup dada laki-laki yang tengah terbaring itu.


"Sayang kemarilah..." ajak Mirza.


Arumi pun menuruti ajakan laki-laki yang baru saja menikahinya itu. Arumi duduk di antara Mirza dan Dania, ibu mertuanya itu.


"Jika ingin berganti pakaian, aku akan menemani..." bisik Mirza.


"Hehe...tajam juga pendengaran mama. Hanya menawarkan bantuan, Ma"


"Nanti mama yang membantu Arumi. Kamu di sini saja..."


"Ish....Mama" bisik Mirza lagi.


Arumi yang menyimak perbisikan ibu dan anak itu hanya tersenyum. Hatinya beriak berwarna merah jambu. Ia tak menduga jika Mirza bisa se-absurd itu. Laki-laki yang selalu menampakkan wajah dingin bak es batu, hari ini mencair. Dan hal itu membuat Arumi semakin yakin bahwa apa yang tampak belumlah tentu yang sebenarnya. Seperti itulah Mirza Aditama. Pemilik MA Group. Seorang pengusaha muda yang sudah mengantongi segudang prestasi. Wajar jika dinoktahkan sebagai pengusaha nomor Wahid saat ini.


"Arumi...." suara parau Permana.


Sonia yang sejak tadi duduk terpekur di dekat Permana menajamkan pendengarannya.


"Ayah, butuh sesuatu...?" tanya Sonia.


"Arumi..." panggil Permana lagi.


"Arumi kemarilah...Ayah mu memanggilmu"


Sadar namanya disebut. Arumi segera mendekati Permana. Dan Sonia pun memberi ruang kepada Arumi agar gadis itu lebih leluasa bersama ayahnya. Ada bulir bening yang kembali mengerubuti mata Sonia saat melihat kebersamaan keduanya. Entah mengapa demikian. Sonia sendiri tak mengerti.


"Arumi di sini, Yah..." ucap Arumi.


"Yuki..." ucap lirih Permana. Katanya begitu terbata di sela helaan nafasnya yang begitu berat.


Mendadak Elektrokardiogram yang terpasang menunjukkan grafik yang tak stabil. Bunyinya pun sontak membuat terkejut seisi ruangan. Permana anfal.


"Ayah...ayah!! Dokter....!!" teriak Arumi.


Mirza yang semula duduk, kini langsung berdiri dan menghampiri Arumi. Tangan kekarnya langsung merengkuh Arumi yang histeris mengguncang-guncang tubuh Permana. Mirza mendekapnya erat.


"Ayah...ayah...!! Ini Arumi ayah. Ini Arumi...!"


"Sayang..." ucap Mirza penuh perasaan.


Tak lama Faaz dan beberapa perawat datang. Tangannya begitu terampil memeriksa kondisi Permana.


"Maaf Tuan dan Nyonya. Silahkan tunggu di luar..." ucap seorang perawat.


"Aku tidak mau...!" ucap Arumi dengan nada penekanan.


"Tapi...."


Kata perawat itu terhenti saat melihat isyarat Mirza. Isyarat yang bak perintah berisi untuk membiarkan Arumi dalam ruangan tersebut.


"Baik, Tuan..." jawab perawat itu kemudian.


Arumi menyimpan wajahnya dalam dada suaminya itu. Ia tak sanggup melihat saat alat kejut jantung itu beberapa kali bersarang di dada ayahnya. Terlebih saat grafik Elektrokardiogram tak menunjukkan perubahan. Grafiknya hanya menunjukkan garis lurus saja. Bersamaan dengan itu tanda- tanda kehidupan Permana pun menurun kemudian menghilang.


Faaz mengangkat tangannya. Dan menangkupkannya penuh perasaan. Melihat itu Arumi semakin histeris. Tangisnya pecah.


"Ayah.....!!" teriak Arumi.


Langkahnya begitu cepat meninggalkan dekapan Mirza untuk selanjutnya menghampiri Permana. Mirza tertegun. Ia membiarkan saja Arumi lari dari dalam dekapannya. Ia mengerti bagaimana perasaan Arumi saat itu.


"Bangun, Ayah...! Bangun...! Jangan tinggalkan Arumi...!!"


"Mas Permana...!" teriak Sonia.


"Ayah...!!" teriak Arya.


Sebagian keluarga yang semula di luar ruangan kini telah berada dalam ruangan.


Sedu sedan pun sontak mengisi udara di ruangan. Kepergian yang begitu memilukan.


Senja telah semakin tua. Karena mentari mulai beranjak pulang seiring kepergian Permana. Dan rasa sore hari itu pun semakin bercampur. Entah rasa apalagi yang akan di cobakan. Sebab segalanya sudah tercurah.