
Keive, duduk pada sofa berwarna hitam. Matanya begitu lincah menilik setiap sudut ruangan yang begitu apik tertata. Tak terlewat sebuah figura yang berisikan gambar si empunya rumah, Keive tatapi. Terutama wajah perempuan yang bersanding di sebelah laki-laki tampan, pemilik MA Group itu. Keive menghela nafas. Hatinya beriak. Ada kecewa yang menduduki hatinya sejak mengetahui bahwa perempuan yang ia taksir adalah milik Mirza Adyatma.
"Kak Keive...." sebuah suara nan lembut menyapa.
Keive pun mengalihkan perhatiannya pada sumber suara. Tampak seorang perempuan dengan tinggi 150 cm, namun tetap terlihat cantik tengah menuruni beberapa anak tangga. Dia adalah Arumi.
"Nyo-nyonya..." ucap Keive terkesiap.
Keive berdiri. Matanya terus menemani setiap langkah Arumi hingga tepat di hadapannya.
"Astaga...Arumi Hirata" batin Keive.
"Jangan sungkan begitu, Kak. Duduklah..." ucap Arumi ramah.
"Terima kasih, Nyonya..."
"Kak Mirza memberitahu saya, bahwa kak Keive akan datang. Dan ternyata tidak habis lima belas menit kakak sudah datang. Hehe..." ucap Arumi diakhiri dengan tawa ringan memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Benar, Nyonya. Saya ada janji dengan Tuan. Dan beliau meminta untuk datang ke rumah tidak ke kantor. Mungkin sebentar lagi juga Tuan akan pulang?"
"Ku rasa juga demikian. Oya, ingin minum apa?"
"Tidak perlu, Nyonya. Terima kasih..."
"Jangan sungkan begitu. Tamu adalah raja"
"Hehe... Kalau begitu apa saja, Nyonya"
"Ah, jadi canggung manakala ada yang memanggil saya Nyonya selain para bodyguard. Hehe...Mungkin kak Keive bisa mencari panggilan yang pas untuk saya"
"Ah, nyonya. Ada-ada saja..."
"Sebentar ya..." ucap Arumi ramah sesaat sebelum berlalu. Bahkan senyum khas Arumi sempat membuat berdenyut hati Keive.
"Ya, Tuhan...." batin Keive.
Mata Keive kembali mengembara ke sekitar ruangan. Tatapannya hingga menyasar pada taman di sebelah rumah yang terlihat jelas dari jendela besar yang ada.
"Mbok, tolong sajikan ya..." ucap Arumi.
Bersamaan dengan itu terdengar suara deru mesin mobil di halaman mengudara. Arumi tahu betul siapa pemilik deru mesin itu. Dan Arumi pun langsung melangkah cepat meninggalkan Keive. Sementara Keive mengiringi langkah Arumi dengan tatapan yang sulit dimaknai.
Sumringah wajah Arumi saat mendapati laki-laki yang sudah menduduki hatinya itu. Begitu pun dengan Mirza yang tengah melangkah berlawanan arah dengan Arumi. Langkahnya kian cepat manakala wajah sumringah itu kian dekat.
"Assalamu'alaikum...." ucap Mirza dengan senyum yang luar biasa.
"wa'alaikumussalam...." jawab Arumi.
Tangannya langsung meraih tangan Mirza dan mengecup punggung tangan itu dengan takzim. Bukan hanya punggung tangan Mirza, namun telapak tangan Mirza pun ia kecupi dengan lembut.
"Ada kak Keive, Kak..." ucap Arumi.
"Oya? Cepat juga tuh bocah..." ucap Mirza.
Tangannya merengkuh Arumi dan mendekapnya erat. Walau hanya sesaat, namun perlakuan yang terjadi tentu saja dilihat oleh hampir semua asisten rumah tangga. Begitu pun dengan Keive. Sejak tadi matanya tak lepas menatap romantisme dua insan yang mengaku terus jatuh cinta setiap hari.
"Keive...Sudah lama?" ucap Mirza.
"Baru saja, Tuan. Teh nya pun masih mengebul. Hehe..."
"Tunggu sebentar ya, saya bersih-bersih dahulu"
"Silahkan Tuan..."
Mirza pun melangkah meninggalkan Keive yang termangu. Dalam hatinya beriak
Dia berfikir selagi Mirza bersih-bersih, kemungkinan Arumi yang akan menemaninya. Faktanya ia salah. Arumi justru melenggang anggun di sebelah Mirza. Langkahnya larut dalam irama langkah Mirza. Tangan Arumi pun bergelayut pada lengan Mirza. Sungguh pemandangan yang ganjil bagi siapapun yang belum mengetahui kondisi hati keduanya. Bagaimana tidak Mirza yang tingginya hampir mencapai 190 cm, telah jatuh hati pada gadis hanya memiliki tinggi tubuh 150 cm. Tapi itulah cinta. Ceritanya tiada pernah berakhir...
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pukul lima lewat dua puluh menit. Mirza dan Arumi sudah duduk di hadapan Keive yang sejak tadi terus menghela nafas. Melihat itu, Mirza hanya mengumbar senyum khasnya.
"Keive, Bagaimana misi mu? Aku sudah tahu, tapi aku ingin kau mengatakannya sekali lagi di depan istri ku ini yang mempunyai kaitan langsung dengan Ryu Hirata.
"Baik, Tuan..." Keive menggeser posisi duduknya.
Ekor mata Keive menilik wajah cantik Arumi yang tengah menatapnya penuh tanya.
"Maafkan saya, Nyonya..." kata Keive terhenti.
Ia tengah bergelut dengan riak di hatinya.
"Arumi...Tidak bisakah aku memanggil mu dengan nama mu saja? Arumi..."
"Keive...?!"
"Ya, Maaf..."
"Sepertinya kak Keive sedang banyak fikiran..." ucap Arumi.
"Keive. Panggil saja Keive. Dan lagi saya ini adik bang....Mirza" ucap Keive sambil menatap Mirza.
"Nah, akhirnya kau mengakuinya juga, Keive..."
"Ow, begitu. Sekarang jadi rumit ya. Haha..." tawa singkat Arumi menghiasi ruangan.
"Haha...." tawa Mirza dan Keive pun menyertai Arumi.
"Nyonya...Em, Kak. Oh, bukan. Aku panggil nama saja boleh, bang? Umur kami juga tidak jauh. Hehe..."
"Terserah Arumi..." ucap Mirza sambil membetulkan posisi duduknya.
"Apa saja boleh. Asal jangan nenek, Oma, atau Bude saja..."
"Hehe...bisa saja"
"Sudah basa-basi nya..." ucap Mirza.
"Sepekan saya menjalankan misi dari bang Mirza. Dan ini hasilnya. Silahkan diperiksa..." ucap Keive.
Tangannya menyodorkan sebuah map. Melihat itu Arumi menatap Mirza seakan meminta persetujuan. Dan Mirza pun mengurai senyum sambil berisyarat dengan menganggukkan kepalanya.
Setelah mendapatkan isyarat tersebut, Arumi pun langsung mengambil map yang masih di pegang Keive. Ada penasaran di ujung tatapannya. Perlahan, Arumi membuka map. Sebuah berkas tersusun di dalamnya. Mata Arumi lincah menilik setiap deret kalimat yang tertuang dalam berkas.
"Perusahaan dikembalikan kepada pemilik sah, yaitu Ryu Hirata. Ditanda tangani oleh Andrea....Dan ini?"
Arumi membekap mulutnya seakan tak percaya.
"Bla...bla...bla...saya Andrea meminta maaf karena sudah membuat kegaduhan..."
Arumi terdiam. Matanya mulai dikerubuti bulir bening.
"Kak...? Ini...?"
"Ya, sayang. Semua sudah dikembalikan pada Ryu. Keive berhasil menyelesaikan misinya"
"Pasti memakai cara licik juga ya...?''
"Jika tidak begitu, bagaimana mungkin perempuan rakus seperti Andrea akan merelakan apa yang sudah dimilikinya. Walaupun itu pun dengan cara-cara yang jauh dari kata baik"
"Ya aku tahu. Tapi...tidak selamanya kelicikan dibalas dengan kelicikan"
"Mulia hatimu, Ar..." batin Keive.
Mata Keive diam-diam menilik wajah cantik Arumi.
"Aduh, sayang...Besok kita minta baik-baik ya. Andrea...! Aku minta perusahaan kakak ku yang telah kau ambil...! Kira-kira Kau akan memberikannya atau tidak? Jika tidak, ya..sudah. Kau ambil saja. Mau begitu, Nyonya Mirza Adyatma?"
"Ya, tidak begitu juga..." ucap Arumi manyun. Bibirnya mengerucut, bak kram air yang bisa dikucir.
"Astaga...kau jadi cute jika sedang manyun begitu. Iiih, gemes..." batin Keive.
CUP....
Mirza mengecup bibir yang mengerucut itu dengan cepat.
"Oh, dasar pencuri...! Malu kan ada Keive..."
"Sial nih tuan tajir melintir, seenaknya saja mengecup bibir Arumi di hadapan ku. Wait...Keive? Arumi memanggilku Keive...!!! Aku ingin bersorak rasanya, Tuhaaan...!!! batin Keive.
"Sayang ke atas lah terlebih dahulu. Aku ingin berbincang sebentar dengan Keive"
"Ya, Kak..." jawab Arumi yang dibarengi dengan langkah menuju anak tangga yang mengular itu.
"Ke ruang kerja ku, Keive.." ucap Mirza sambil melangkah mendahului Keive.
Sesampainya di ruang kerjanya, Mirza berdiri dekat jendela. Tangannya terlipat di depan dada. Dan matanya menatap dedaunan yang menghijau.
"Bang..." ucap Keive saat tepat di belakang Mirza.
"Kau tahu siapa, aku?" ucap Mirza tanpa memutar tubuh.
"Tentu aku tahu. Bahkan semua orangpun tahu"
"Jika tahu, mengapa kau mencoba bermain api dengan ku?"
"Maksud Abang...?"
"Arumi Hirata itu istri ku...." ucap Mirza sambil memutar tubuh.
Mata elang Mirza menatap Keive tajam. Tanpa melangkah sedikit pun Mirza menilik setiap ekspresi di wajah Keive.
Deg.
.
.
.
Keive terdiam. Hanya matanya yang bergerak lincah bak mencari sesuatu.
"Apa Mirza tahu perasaan ku terhadap Arumi, istrinya?"
"Apa perlu ku perjelas, Keive...?!" suara Mirza meninggi.
"Bang...!"
CRANG....!!
Gelas berisi air mineral jadi sasaran amuk amarah Mirza.