
Langkah Arumi surut. Ia tertegun. Ada banyak rasa yang berkecamuk di dadanya. Terlebih saat melihat reaksi Dania yang begitu histeris ketika mengenali sosok laki-laki itu.
"Mengapa mama begitu histeris? Apakah ia adalah kak Mirza? Tidak....Tidak mungkin" batin Arumi.
Langkah Arumi semakin surut dari tempat kejadian. Hatinya menolak informasi tentang kemungkinan si korban. Alih-alih menolak, Arumi justru semakin sedu sedan. Ia terduduk lesu. Tubuhnya kembali terguncang karena isaknya.
Tak lama Dania dan William menghampiri. Dania memeluk menantunya itu dengan erat.
"Dengarkan mama. Jangan bereaksi berlebihan. Laki-laki yang berada di mobil bukanlah Mirza. Mama yakin, dari ciri-ciri yang ada. Tapi seorang perwira polisi memberikan sebuah rekaman. Ia meminta kita untuk melihatnya di mobil..." bisik Dania
"Jadi maksud mama kak Mirza..."
"Sstt...Tetaplah menunjukkan kesedihan mu. Sekarang kita ke dalam mobil" Bisik William.
Arumi pun mengangguk perlahan. Dan ketiganya pun langsung menuju mobil mengiringi mobil ambulance menuju AA Hospital. Selama perjalanan ketiganya menilik sebuah video yang diberikan seorang perwira polisi, Bayu. Seorang laki-laki tampan terlihat di dalam rekaman. Laki-laki itu tidak lain adalah Aidhan.
"Ma, Pa dan istriku Arumi. Maaf jika peristiwa barusan sangat mengejutkan. Jangan khawatir aku baik-baik saja. Allah memberi keselamatan kepada ku. Bayu memberiku informasi bahwa aku adalah target dari sebuah gangster. Karena itu Bayu bersama team menyusun skenario ini. Dan aku sendiri tidak menduga kejadiannya akan seperti ini. Seorang perwira menjadi korban. Namun bersyukur seluruh anggota komplotan dapat di tangkap. Ma, Pa...kita bertemu di MA Hospital. Di ruang VVIP..."
"Kak Mirza hanya menyebut Arumi satu kali. Rupanya kak Mirza benar-benar marah kepada Arumi, Ma, Pa..." ucap Arumi sambil menyusut bulir bening yang sejak tadi mengerubuti matanya.
"Ah, tidak perlu di fikirkan. Yang terpenting Mirza selamat. Nanti kalian bisa menyelesaikan masalah sepele kalian itu..." ucap William.
Arumi menghela nafas. Matanya menatap pepohonan yang bak berkejaran dari jendela. Hatinya makin beriak. Antara bersyukur karena Mirza berada pada tempat teraman saat ini juga rasa penyesalan atas peristiwa pagi tadi. Semua menjadi satu tanpa jeda diantaranya.
Sepanjang perjalanan Arumi berusaha menyusun rencana apa yang akan ia lakukan saat bertemu Mirza nanti. Berbagai skenario disusunnya, namun tak satupun yang berhasil membuat hatinya memilih skenario yang sesuai. Wal hasil hingga mobil mewah milik keluarga William itu merapat di parkiran VVIP MA Hospital, tak satu skenario pun yang sukses ia pilih.
Langkah Arumi begitu gontai mengekori langkah kedua mertuanya itu. Mengenai skenario yang di susun akhirnya sampai pada titik kesimpulan bahwa 'mengalir seperti air adalah yang terbaik. Apa adanya.
Sampai di depan pintu ruang VVIP MA Hospital Arumi menghentikan langkahnya. Ia membiarkan Dania dan William masuk ke dalam terlebih dahulu.
Arumi memilih duduk pada sebuah kursi di dekat pintu ruangan. Matanya ia simpan di pangkuannya. Dan sekali lagi bulir bening itu mengerubuti matanya yang akhirnya jatuh ke pangkuannya. Karena isaknya menjadi, Arumi memilih melarikannya ke toilet di sisi kiri ruangan.
Arumi menatap pantulan wajahnya pada cermin di toilet. Berulangkali kali ia mengusap wajahnya yang sudah basah oleh bulir bening dari kedua mata indahnya. Entah mengapa tangisnya tak sanggup ia kendalikan. Ia sendiri tak mengetahuinya.
Setelah merasa cukup tenang, Arumi pun keluar toilet. Ia melangkah biasa saja. Dan tak menaruh curiga sedikit pun pada situasi sekitar. Ketiak Arumi sudah melewati ambang pintu, seorang laki-laki menarik tangan Arumi dan membawanya mengikuti langkahnya. Mendapat perlakuan tersebut, tentu saja Arumi terkejut. Hampir saja ia melayangkan tendangan tanpa bayangan ya. Namun hal tersebut urung ia lakukan saat mengetahui siapa sosok yang tengah menariknya itu.
"Kak Mirza..." ucap Arumi lirih.
Langkah Arumi sedikit terseret oleh langkah panjang Mirza hingga sudut lain dari rumah sakit. Tepatnya pada sebuah ruangan VVIP lainnya. Mirza mendekap erat Arumi. Bahkan Mirza pun menghadiahi pucuk kepala Arumi dengan kecupan lembut yang membuat hati jadi merah jambu.
"Apa kakak sudah tak marah lagi kepada ku?"
"Siapa bilang? Tentu saja aku masih marah pada mu. Tapi rasa cinta ku telah mengalahkannya..."
Kalimat yang meluncur dari Mirza membuat senyum Arumi terbit. Arumi pun langsung membenamkan kepala pada dada Mirza.
"Jangan pergi saat marah. Lebih baik kakak mendengarkan dahulu penjelasan ku..."
"Baiklah. Sekarang aku akan mendengarkan mu. Bicaralah..."
Arumi menatap wajah Mirza, sang manusia es yang kini telah mencair.
"Aku memang salah. Pertama karena aku meragukan ketulusan cinta kakak. Kedua pada akhirnya aku memilih menguji cinta dan setia kakak. Dan jadilah aku memakai penambah berat tubuh itu. Maafkan karena aku sudah meragukan cinta kakak. Maafkan..."
"Ow, jadi kau meragukan cinta ku...?"
"Karena awal hubungan kita begitu membingungkan"
"Membingungkan...?"
"Jadi karena itu, kau rela berpenat-penat dan berberat ria?"
"Ya, Kak. Maaf..."
"Apa tidak ada cara lain?"
"Maafkan, Kak..."
"Aku sudah perduli dengan hal seperti itu. Cinta ku bukan sebatas fisik, Ar. Kepribadian mu yang membuat ku jatuh hati. Kau berbeda, Ar"
"Aku memang berbeda, Kak. Lihat...aku hanya150 cm"
"Bukan itu, Sayang. Di saat gadis-gadis lain berlomba mendekati ku karena harta dan ketenaran yang ku miliki, kau tidak demikian. Bahkan kau acuh, seakan tak butuh. Aku sempat frustasi karena itu. Apa kau memang tidak mencintai ku sama sekali saat itu...?"
"Apa penting di bahas, Kak...?"
"Ya, penting tidak penting. Aku penasaran saja..."
"Sesungguhnya aku tertarik pada mu, Kak. Saat itu. Namun karena kata dan perilaku mu aku berusaha mengubur rasa itu. Dan tantangan itu aku jalani apa adanya. Aku memang ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik, karena aku harus berubah. Aku tidak ingin selalu dilecehkan karena kekurangan ku. Dan kalau pun kakak merubah segala pendapat kakak terhadap ku, maka hal itu ku anggap sebagai bonus.."
"Bo-bonus? Jadi kau menganggapku sebagai hadiah lotre. Dapat syukur, tidak dapat bukan masalah. Bukan seseorang yang patut diperjuangkan?"
"Saat itu bukan. Maaf. Makanya jadi cowok jangan jutek amat..."
"Haha... begitu ya. Tapi sekarang aku sudah tidak begitu kan? Apa sekarang kau sudah mengetahui ketulusan cinta ku..."
"Ya, Kak..." ucap Arumi.
"Good. Tapi sekarang aku yang meragukan cinta mu.." ucap Mirza.
"Kak...." ucap Arumi bernada manja.
"Hehe..bercanda, sayang. Apa kau mencintaiku?"
"Dengan segenap hati ku..."
"Tapi aku belum percaya.."
"kenapa.begitu...."
"Karena kita belum melakukan malam pertama. Jadi aku belum tahu apakah kau mencintai ku seperti yang di katakan tadi.." bisik Mirza.
"Kakak...ish" ucap Arumi manja sambil mencubit dada Mirza.
"Aduh...sakit, Sayang..." keluh Mirza.
"Aduh, maaf..."
CUP...!
Arumi memberi kecupan pada bekas cubitannya itu. Dan hal tersebut tentu saja membuat Mirza tersenyum lebar. Hatinya bergemuruh bak badai tengah berkecamuk. Segala rasa sontak melanda jiwanya. Mirza tengah merasakan kedahsyatan cinta.
Pun dengan Arumi. Alih-alih mengecup dada Mirza, justru dia sendirilah yang terjebak pada sebuah perasaan yang luar biasa. Perasaan kehausan yang tak dapat di bendung. Ia tengah merasakan jatuh cinta. itu pun untuk kesekian kalinya. Dan pada orang yang sama, yaitu Mirza. Laki-laki yang sangat ia cintai itu. Laki-laki yang mencintainya dengan segala kekurangannya.
Perasaan seperti itulah yang baru keduanya rasakan. Jatuh cinta. Berulangkali. Itu pun pada orang yang sama...
Keduanya masih saling berbagi rasa dalam diamnya. Hening. Hanya irama degup jantung masing-masing saja yang saling bersahutan. Irama yang mengungkapkan segala rasa cinta. Pada titik ini, cinta keduanya telah sampai pada BAGAIMANA, bukan APA.