
Drrt.
Drrt.
Drrt.
Sebuah pesan tampak menghiasi layar ponsel Arumi dan membuatnya berpendar sejenak. Arumi melirik jam yang bertengger di dinding kamarnya.
"Sebelas lewat dua puluh menit..." batin Arumi.
Rasa penasaran terus menggelitik hatinya sehingga Arumi meraih benda pipih itu dan membacanya. Berdesir hati Arumi saat melihat siapa si pengirim pesan. Terlebih isi pesan singkat.
"*Awan malam berlarian dalam rindu
Riaknya sejenak membentuk bayangmu dan sejenak jadi pijar senyummu membingkai cuacaku, dan mengalungkan kerinduan karena ketiadaanmu di sisiku.
Ar, Aku kangen*..."
Arumi tertegun menatap deretan huruf yang jelas di layar ponselnya. Seakan tak percaya akan apa yang diungkapkan seorang Mirza--si manusia kulkas, si wajah lempeng, Arumi membacanya bukan hanya sekali tapi berulangkali.
"Bisa juga nieh si manusia kulkas berujar romantis. Hihihi....Tapi, Ah...paling juga atas rekomendasi kak Elvano. Aku yakin itu" batin Arumi.
Alih-alih menyimpan ketidakpercayaan, hati Arumi digelayuti desiran aneh saat membacanya. Desiran yang selalu ia rasakan saat bersama Mirza. Ataupun saat memikirkan Mirza.
"Oh, no...rasa apa ini? Apakah pertanda bahwa aku dilanda kangen juga? Duh, apa balasanku?" batin Arumi.
Arumi terdiam. Hatinya menimang-nimang apa yang harus ia kirimkan.
Sementara itu, di waktu yang sama pada tempat yang berbeda. Mirza tengah gelisah. Matanya bolak-balik menatap ponsel yang belum lagi berpendar. Ia tengah menunggu balasan Arumi.
"El, kenapa Arumi belum membalasnya..?" ucap Mirza saat menghubungi Elvano.
"Sabar, Bro. Mungkin Arumi sedang di kamar mandi"
"Ngapain di kamar mandi?"
"Hahaha..Kalau aku tahu Arumi di kamar mandi ngapain, berarti aku sedang bersama Arumi di kamar mandi"
"Ah, Ya. Tapi...Ah, sialan kau El. Awas ya, sampai aku berfikiran aneh-aneh tentang Arumi. Ku hukum kau nanti..."
"Lagian si bos ada-ada saja. Kangen kok buat gagal mikir.."
"Ah, sudah-sudah. Awas kalau Arumi tidak membalas, artinya puisimu gagal"
"Hadeuh...bos yang kangen, aku yang kelimpungan"
"Salah sendiri, buat puisi kok jelek..."
"Waduh...! Bos, mestinya bos jadi diri sendiri. Bilang saja : Arumi Abang kangen. Gitu aja, bos. Lempeng..."
"Sudah tak usah berisik, El. Kuhapus bonus mu, baru tau rasa.."
"Waduh...ampun Bos. Kasian istriku"
"Istri yang mana lagi, El?"
"Istri yang masih masih di awang-awang. Hehehe..."
"Hm, dasar kutu kupret...!"
Tut.
Tut.
Tut.
"Hei, El...! El...! Dasar sial...!main kabur saja tuh orang!"
Drrt.
Drrt.
Drrt.
Ponsel yang masih di tangan Mirza berpendar.
"*Aku ingin tarikan rinduku pada desau angin yang terdengar parau. Bilakah ia akan bisikkan balasan rindu ku pada mu,
agar hilang kecemasan ku...?
Pak, aku juga kangen*"
"Arumi...." gumam Mirza.
Senyumnya terbit di sudut bibirnya. Bukan...! itu bukan senyum. Itu tawa. Tawa yang mampu memporak-porandakan segala egoismenya.
Mirza terjun bebas ke kasur empuk di hadapannya. Mirza terlalu bahagia hingga berekspresi diluar kebiasaannya. Mirza menggeliat bak ular. Semua gaya ia lakoni.
Mulai gaya uget uget, joget ular di atas kasur hingga gaya jejakan kaki-tangan bayi ke atas saat merajuk minta mimik susu. Hadeuh...tepok jidat dah siapapun yang melihatnya.
"Lagi apa, Ar...?"
Pesan Mirza kembali kirimkan setelah berhasil mendamaikan tingkah abnormalnya. Ditatapnya layar ponsel, berharap Arumi segera mengirim balasan. Lima menit, lima belas menit hingga satu jam Arumi tidak membalas.
"Kemana, Arumi..." batin Mirza.
Mirza resah. Bak setrikaan, Mirza berjalan mondar-mandir dalam kamarnya. Duduk tak tenang, berdiri tak tenang, jalan-jalan pun makin tak tenang. Mirza benar-benar tengah dilanda virus kecemasan.
"Hallo..." ucap Elvano dengan suara parau khas orang bangun tidur.
"El, apa ada yang terjadi dengan Arumi. Dia tidak membalas pesan ku..."
"Aduh Taun Mirza Adyatma. Pengusaha nomor satu di Indonesia. Ini jam berapa? Jam satu dini hari...! Mungkin Nyonya Arumi sudah tidur. Hadeuuh...mebangunkan ku yang jelas-jelas sedang ehem-ehem dengan istri di jam segini cuma karena masalah pesan tak dibalas. Sehat, Bro...?"
"Mau gaji mu ku potong...?!"
"Aduh jangan, Bos. Ampun Bos..."
"Lagian istri orang saja di pake, El..."
"Egh...is-istri orang?"
"Ya..Itu kamu lagi ehem-ehem sama istri. Istri yang mana, kutu kupret...?!
Tut.
Tut.
Tut.
Mirza menutup teleponnya. Ia kesal, tanggapan Elvano tidak sesuai dengan keinginannya.
Mirza menimbang segala kemungkinan.
"Jika aku menemui Arumi sekarang rasanya kurang etis karena saat ini bukan waktu yang tepat untuk berkunjung. Tapi jika aku tidak menemuinya sekarang, aku khawatir dia sedang tidak baik-baik saja..." batin Mirza.
.
.
.
.
.
Hening. Mirza terdiam. Tangannya tampak memijat kepala. Sementara matanya terpejam. Dan mendadak tubuhnya tegak dari posisi semula yang duduk menyandar pada sofa.
"Lebih baik aku meneleponnya saja. Tapi...apa alasanku menghubunginya pada jam segini. Ah, terserahlah...aku pasti menjawab seandainya ditanya Arumi. Otak ku pasti bekerja sangat cepat. Aku ini kan Mirza Adyatma..." gumam Mirza.
Mirza pun langsung menghubungi Arumi. Saat itu pukul dua lewat lima menit dini hari.
"Hal-hallo...." suara Arumi parau.
"Hei, suruh siapa kau tidur! Sementara pesan ku belum kau balas!"
"Pak Mirza...!"
Arumi terhenyak dari tidurnya hingga terduduk.
"Astaga, Pak. Jam berapa ini?"
"Aku tak peduli jam berapapun ini. Yang pasti kau harus ku hukum karena tidak mengindahkan pesan ku..."
"Ter-se-rah....!" ucap Arumi sambil memutus pembicaraan yang unfaedah itu.
"Hei...Yak, yak! Dasar tukang tidur...!"
Mirza kesal. Pun demikian, dari sudut bibirnya terbitlah sebuah senyuman. Hatinya lega paling tidak ia tahu bahwa Arumi baik-baik saja.
"Selamat melanjutkan tidur, Arumi. Istriku..." gumam Mirza.
Sementara itu, di waktu yang sama di tempat yang berbeda. Arumi tengah duduk di bibir tempat tidurnya. Matanya lincah bergerak membaca pesan singkat Mirza.
"Hadeeuh...maafkan Arumi, Pak.. Kalau saja bisa menahan kantuk, mungkin kita akan berbincang hingga jauh malam" batin Arumi.
🌸🌸🌸🌸🌸
Pagi hari. Mirza tengah menikmati menu sarapannya bersama William dan Dania.
Drrt.
Drrt.
Drrt.
Mirza menghentikan suapannya saat ponselnya berpendar. Senyum pun lagi-lagi terbit dari sudut bibirnya saat membaca sebuah pesan singkat yang menghiasi layar ponselnya.
"Assalamu'alaikum...Met pagi calon imam ku! Semoga harimu indah dan bahgia melingkupi mu. Aamiin..."
Sikap Mirza sungguhlah aneh Dimata Wiliam dan Dania. Mirza yang tampak senyum-senyum sambil meletakkan sebelah telapak tangannya pada pipi lalu beralih menopang pada dahi hingga mengusap wajah untuk beberapa saat.
"Ma, setelah sarapan kita bawa Mirza check up ke MA Hospital ya. Papa khawatir, Mirza gila..."
"Ho oh, Pa. Sepertinya begitu. Za...Mirza!"
Sadar namanya disebut, Mirza tergagap hingga tersebutlah sebuah nama.
"Ya, Arumi...!"
"Hmm...." ucap William dan Dania hampir bersamaan sambil saling menatap.
"Maaf. Maaf. Apa, Ma...?"
"Arumi, apa kabarnya?"
"Em..baik, Ma"
"Kalau kangen, datangi atau paling tidak kirim pesan atau telepon..."
"Ya, Pa. Nanti Mir..."
"Tuan Bos mana berani, Pak..." ucap Elvano yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Mirza.
"Sembarangan...!"
"Fakta... Semalam saja harus membangunkan orang hanya ingin mengucapkan bahwa kangen. Hadeuh...ribet banget"
KTAK...
Mirza menghadiahi pukulan pada kening Elvano. Kali ini sendok lah yang menjadi senjatanya.
"Waduh, Bos. KDRT lagi ini..."
"Terserah...! Ada apa pagi-pagi sudah kesini. Apa sarapan di rumah mu tak enak lagi? Ah, ngabisin jatah makan ku saja.."
"Hehehe...bukan, Bos. Saya menjemput Tuan Mirza Adyatma untuk ke kampus selain ingin numpang sarapan juga. Boleh kan,Ma?"
"Tentu saja boleh, El. Kamu kan anak mama juga.."
"Tuh kan, Bos. Mama saja tak keberatan"
"Bodok ah...! Eh, tapi tunggu. Ke kampus? Pagi ini? Bukankah jadwalku pukul sembilan..?"
"Hadeuh...apa bos belum membaca pesan ku semalam? Ah, pasti belum. Semalam kan sedang risau. Hahaha..."
"Risau. Risau kenapa?" tanya Dania penasaran.
"Itu, Ma ada kucing minta naik kuda..." ucap Mirza menutup obrolan pagi dengan cepat. Ia khawatir perbincangkan akan berlarut-larut. Atau bisa jadi akan berubah menjadi olokan kepada dirinya.
"Ayo, El. Kita berangkat..." ajak Mirza sambil menyambar tas kerja di sebelahnya.
"Tunggu, Bos. Tanggung ini..."
"Ya sudah kau lanjutakn saja. Aku akan ke kampus tanpa mu" ancam Mirza.
"Waduh... alamat potong gaji jika sudah begini" ucap Elvano yang langsung menghentikan suapannya dan berlalu mengejar Mirza.
William dan Dania tersenyum sambil menggelengkan kepalanya menyaksikan kedua laki-laki tampan itu.
"Ada-ada saja..."