
Pada Buku Catatan Keive...
Mirza Adyatma, laki-laki bak dewa bagi ku dan juga keluarga ku. Hari ini ia meminta bantuan ku. Tentu saja aku menerimanya. Terlebih ini berkaitan dengan ketampanan ku. Menggaet seorang gadis. Oh, bukan. Tapi seorang perempuan yang telah menghancurkan hati seorang laki-laki sekaligus harga dirinya. Dia adalah Andrea.
*Sialnya laki-laki itu adalah kakak dari gadis ku itu. Oh, Tuhan....
Dengan segala cara dan upaya aku berusaha menjalankan misi ku itu. Bukan hanya karena Mirza Adyatma, tapi juga karena gadis ku itu, Arumi Hirata yang kini telah menjadi milik orang lain.
Pun demikian aku harus berbesar hati. Terlebih orang yang memiliki mu adalah Mirza Adyatma, laki-laki yang bak dewa bagi ku juga keluarga...
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Misi selesai....
Aku bersorak-sorai. Bukan karena misi ku selesai, namun karena aku berkesempatan menemui Arumi secara pribadi. Tepat nya siang tadi.
Fiuh...jantungku berdegup hebat saat melihatnya tengah menuruni tiap anak tangga. Cantik....
Hah, mungkin aku sudah gila, mencintai istri orang lain. Tapi sah saja bukan. Terlebih aku mencintainya jauh sebelum ia bertemu Mirza Adyatma.
Kembali tentang Arumi Hirata...
Mata indahnya sempat ku nikmati saat ia menatapku sejenak. Indah sekali. Menyejukkan, bak oase di tengah gurun.
Satu-satu aku mengutarakan kata ku. Aku menjelaskan tentang misi ku yang telah usai. Bahkan berkas kepemilikan Ryu pun sudah aku serahkan. Berbinar mata Arumi. Seketika ada bulir bening yang mengerubuti* *matanya dan berujung dengan terjun bebas membasahi pipi yang merona itu.
Tuhan...Aku berada dalam sebuah dilema. Ingin rasanya aku memeluknya dan menenangkannya, namun apa daya ku. Dia adalah istri dari laki-laki yang telah menjadi bak dewa bagi ku dan keluarga ku.
Alih-alih mencintainya, aku justru meminta hal gila kepada Mirza Adyatma. Dan sepekan adalah waktu yang di berikannya untuk ku mengutarakan cinta ku pada istri yang amat* ia cintai itu. Sebegitu percayanya ia pada istrinya. Sebegitu yakinnya ia akan cinta istrinya itu. Ah, aku cemburu*...
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
*Sebuah rencana gila aku dengar. Rencana yang berhasil aku curi dengar dari mulut seorang perempuan murahan, Andrea.
Oh, Tuhan...
Andrea ingin melarikan diri bersama seorang laki-laki, Roy. Cih...! laki-laki hilang harga diri. Memohon tuk kembali bersama Andrea dengan syarat yang menjijikkan. Ia harus membantu Andrea meloloskan diri dari jerat hukum.
Jantungku berdegup hebat saat sebuah nama di sebutnya. Arumi Hirata...
What apa hubungannya dengan Arumi? Apa benar ia masih kerabat Arumi? Astaga...kisah yang amat rumit.
Dan atas rencana gila itu, aku sudah memberitahukannya kepada Arumi. Tujuanku adalah agar Arumi berhati-hati.
Namun sepertinya aku salah langkah. Setelah memberitahunya aku menjadi tak tenang. Fikiran ku selalu tertuju padanya. Tuhan...apa yang harus aku lakukan?
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Malam mulai menjelang. Aku gelisah. Fikiran ku kian mengembara entah kemana. Apa pun yang aku lakukan, serba salah. Aku kian tak tenang.
Arumi...
Cinta ku bukan cinta biasa. Cinta yang tak dapat ditaksir ataupun di takar. Entah sebagai laki-laki ataupun seorang adik. Yang pasti aku mencintai mu. Itu yang sudah aku putuskan.
Arumi...
Sepertinya rasa ini kian tak tentu. Ada gelisah, ada rindu yang membuncah. Ada apakah...?
Ku coba berdoa, namun hanya sebentar saja tenang ku untuk kemudian kembali gamang. Sebuah rasa bak akan kehilangan. Sungguh aku tak suka dengan rasa ini.
Tapi jauh di kedalaman hati, tak ku pungkiri ada doa yang selalu terselip. Doa diantara rasa kangen yang membuncah. Doa memohon pengampunan..Entah mengapa...
Ma, maafkan aku...
Lidya, adikku. Maafkan kakak...
Bang Mirza, maafkan aku. Aku menitipkan mama dan adik ku...
Arumi...
perempuan yang aku cintai...
Istri dari kakak ku, maafkan aku*...
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Arumi terdiam. Begitu pun dengan Mirza. Hanya ******* nafasnya saja yang dapat di dengar oleh masing-masing telinga. Kemudian Mirza mengeratkan dekapannya pada Arumi. Ada rasa yang kian membuncah menyelimuti jiwanya. Sesekali ia mengecup lembut pucuk kepala Arumi.
"Aku terenyuh. Bukan karena cintanya, tapi karena usahanya menolongku. Aku berhutang pada Keive..."
"Kalau aku yang berada di sana pun, tentu aku akan melakukan hal yang sama seperti Keive yaitu menyelamatkan mu, sayang..."
"Ya, tapi aku tidak ingin setelah itu kakak pergi meninggalkan ku" ucap Arumi sambil mendekap lengan kekar Mirza.
"Tanpa seizin mu, aku tak akan pernah meninggalkan mu..." ucap Mirza sambil mengecup pipi mulus Arumi.
"Oya..." ucap Arumi memasang mode tak percaya.
"Haha...rupanya istri ku ini lebih percaya Keive dari pada suaminya" ucap Mirza bernada sindiran.
"Egh..." Arumi mengangkat wajah.
Kini Ia duduk berhadapan dengan Mirza. Matanya menatap lekat Mirza.
"Tega sekali bapak berkata demikian...?" ucap Arumi.
Arumi bangkit dari duduknya dan kian lekat menatap laki-laki tampannya itu.
Ditatap demikian, Mirza mengurai senyum khasnya.
"Aku bercanda, sayang..." ucap Mirza kemudian.
Arumi memutar tubuh dan berlalu meninggalkan Mirza.
"Sayang, aku hanya bercanda..."
"Bapak bilang bercanda? Tapi di telinga ku tidak terdengar demikian. Bapak sama saja menuduh ku istri yang tidak setia..." ucap Arumi kian mempercepat langkahnya.
"Em,, bakal perang dunia nieh..." ucap Elvano yang tiba-tiba saja berdiri di ambang pintu.
Mendapati kehadiran Elvano yang tiba-tiba, Mirza mengedarkan tatapan elangnya. Di ujung tatapannya itu ada tanya.
"Dasar jelangkung....!"
"Ish...mana ada jelangkung tampan seperti ku?"
"Ada. Ini di hadapan ku..."
"Haha...paling tidak bos mengakui jika aku tampan"
"Ribet. Ada apa datang...?'
"Kangen..?'
"Ogah..." ucap Mirza sambil duduk di sebuah kursi.
"Haha...." tawa Elvano mengisi udara senja itu.
Elvano pun turut serta duduk. Ia duduk di hadapan Mirza yang tengah menyeruput wedang jahe sajian mbok Min barusan.
"El, bagaimana perkembangan kasus Ryu..." tanya Mirza.
"Sesuai prediksi, berdasarkan bukti yang ada tuan Ryu dipastikan bebas lusa"
"Good...Aku ingin semua rangkaian penjemputan dan lainnya tak terendus media. Aku ingin Arumi tetap aman dan nyaman..."
"Siap, Bos. Semua sudah diatur berdasar permintaan, Bos..."
"Good. Oya, Vanya bagaimana, El...?"
Pertanyaan sederhana yang terlontar dari Mirza, nyatanya membuat Elvano bungkam. Ia tak mampu memberi jawaban apapun kepada Mirza. Hanya matanya saja yang menatap langit senja dengan helaan nafas yang cukup panjang.
"Semua ada waktunya, El. Kalau jodoh ga kemana?"
"Tapi bos, sepertinya aku tak akan sanggup menyaksikan kebersamaan keduanya nanti. Untuk itu aku izin untuk tidak membersamai bos saat penjemputan nanti.."
"El, kita ini laki-laki. Kekuatan kita adalah bukan terletak pada rasa, tapi fikiran. Jadi gunakan itu. Jangan sampai kecewa menguasai mu..."
Elvano menatap Mirza. Tampak jelas helaan nafasnya begitu berat. Hati Elvano beriak. Sebagian membenarkan ucapan Mirza. Sebagian lainnya menolak mentah-mentah.
"Kau tidak tahu rasanya di tolak, Mirza. Karena dalam sejarah, kau belum pernah merasakan bagaimana ditolak..." batin Elvano.