
"Perut ku sakit, Kak..." keluh Arumi sambil memasang mode mengiba.
Melihat itu, Mirza tampak terkejut sekaligus bersyukur. Bagaimana tidak, mestinya ia lah yang meminta hal tersebut. Tapi karena keegoisannya, ia lebih memilih diam.
"El, kita ke rumah sakit. El...." ucap Mirza kemudian mengakhiri diamnya.
"Siap, Bos..."
"Tidak perlu, Kak. Arumi ingin makan saja. Sejak siang tadi belum terisi apa pun..."
"Astaga...Kalau begitu kita makan dulu. El, cari tempat makan yang enak dan nyaman" ucap Mirza dengan mode datar, khasnya.
"Siap, Bos..." ucap Elvano sambil tersenyum.
Mata Elvano melirik Arumi. Ia tahu betul jika sakitnya Arumi hanya sandiwara. Arumi hanya ingin memenuhi hasrat cacing dalam perut Mirza yang tengah berdemo itu.
"Nice...Arumi" batin Elvano.
Mobil pun melaju cepat. Titik hujan yang menempel pada kaca jendela, satu-satu jatuh membentuk garis yang kadang lurus kadang berkelok. Mata Arumi menatapnya. Hatinya beriak memaknai setiap goresan hasil karya sang hujan.
Arumi pun menjadi tak sabar mendapati kisah hidupnya selanjutnya. Kisah yang terasa bak menaiki sebuah rollercoaster - kadang di atas kadang di bawah. Kadang harus berteriak histeris, kadang hanya menyulam senyum. Hal itu yang selalu dirasa Arumi terutama saat berdampingan dengan Mirza. Sosok laki-laki yang terlihat sempurna di mata dan hati Arumi.
Kemudian tiba-tiba saja dari sudut bibirnya terbitlah sebuah senyuman. Senyum yang masih dapat ditangkap sudut mata Mirza karena pantulannya pada kaca jendela.
"Mengapa Arumi tersenyum? Apakah ia tengah bahagia? Atau...ia justru tengah menertawakan ku atas inSiden terdengarnya bunyi perut ku? Jika ya, ah...sungguh sial. Aku malu sekali" batin Mirza.
"Tapi dari caranya tersenyum, aku yakin Arumi tidak tengah menertawakan sesuatu. Terlebih aku. Em, mungkin ia tengah mengingat situasi yang lain dan tak berkaitan dengan ku" batin Mirza lagi" batin Mirza berusaha membuat spekulasi.
Sementara itu mobil perlahan memasuki areal parkir sebuah c**afe, salah satu besutan MA Group. Sebuah cafe yang terkenal di kalangan muda bahkan wisatawan mancanegara. Bukan saja karena suasana cafe yang menjual, namun sajian makanannya pun begitu memanjakan lidah. Maha karya olah fikir dan tangan dingin chef ternama Indonesia.
Tak lama langkah kaki keempatnya memasuki cafe. Hingga di ambang pintu pak Daniel, orang yang dipercaya mengelola cafe menyapa penuh ramah dengan senyum khasnya.
"Selamat datang, Tuan..." ucapnya sambil menjura takzim ke arah Mirza yang tampak biasa saja.
"Sudah disiapkan mejanya, pak Daniel..?"
"Sudah, Tuan. Tempat biasa. Menu seperti biasanya"
"Terima kasih, pak Daniel. Lanjutkan pekerjaan mu" ucap Mirza.
Kaki panjangnya pun kembali melangkah menuju tempat yang dimaksud pak Daniel. Matanya tetap fokus tanpa memperhatikan sekitar. Berbeda dengan Elvano. Laki-laki bertubuh tegap itu selalu bersikap waspada. Layaknya seorang bodyguard.
Sementara itu, Arumi yang berjalan beriringan dengan Vanya tampak menikmati perjalanan menuju tempat yang sudah di pesan. Matanya tiada henti menatap setiap ornamen yang dilalui. Ada kesan takjub yang terpancar di ujung tatapannya.
"Indah sekali, Ar..." bisik Vanya yang ternyata juga mengagumi.
"Betul banget. Ada ya kolam di dalam ruangan begini. Jadi kepingin nyebur kan" ucap Arumi.
"Hahaha...."
Tawa keduanya mengiringi langkah hingga di ujung anak tangga. Dan tentu saja tawa tersebut menjadi perhatian Mirza dan Elvano. Hal tersebut membuat Arumi dan Vanya menutup mulutnya masing-masing dan saling menatap satu sama lain.
Kemudian keempatnya duduk pada sebuah sofa putih yang berada di sudut ruangan. Ruangan yang khusus di buat untuk keluarga William.
"Nya, ke dekat jendela yuk. Pemandangannya indah loh..." ucap Elvano.
"Oya...?"
"Yuph... Ayok" ajak Elvano.
"Ogah....!' ucap Vanya sambil memasang mode menggemaskan.
"Ayoklah...."
Elvano menggaet lengan Vanya dan menariknya menjauh dari tempat dimana Arumi dan Mirza berada.
"Apaan sih, Kak...?!"
Vanya tampak kesal diperlakukan demikian. Ia berusaha menahan tubuhnya agar tak ikut serta dalam irama langkah Elvano.
BUK....!
Menyeringai Elvano menahan sakit. Pun demikian, Elvano tetap menarik Vanya mendekati sisi lain ruangan.
"Menurut saja apa tidak bisa, Hah...!"
"Kau membentak ku...?!"
"Bukan. Bukan seperti itu. Aku hanya ingin kita sedikit menjauh dan memberi ruang mereka berbincang. Aku yakin ada banyak hal yang ingin mereka bicarakan..." ucap Elvano setengah merendahkan suaranya.
Vanya pun menatap Elvano sejenak untuk kemudian mengangguk perlahan. Tubuhnya pun tak lagi melakukan penolakan atas perlakuan Elvano. Bahkan terkesan manut.
Sementara itu, Arumi tersenyum mendapati polah keduanya dari sofa yang ia duduki bersama Mirza.
"Ehem..."
Mirza terbatuk. Seperti ia ingin memulai perbincangan. Dan perlakuan Mirza tersebut sukses membuat Arumi menarik ekor matanya ke arah Mirza.
"Apa kau bahagia...?"
"Egh...."
Arumi mengangkat kepalanya dan sejenak memusatkan perhatiannya pada Mirza.
"Apa kau bahagia, pagelaran seni yang kau inginkan terlaksana dan sukses...?"
Mirza kembali bertanya dari tempat duduknya tanpa bergeming sedikit pun. Ia masih duduk setengah bersandar. Sebelah lengannya menopang pada sandaran sofa. Sementara sebelahnya lagi bertumpu pada pahanya. Mata Mirza tak lepas menatap ke depan pada sebuah titik. Entah apa itu.
"Aku...Aku bahagia. Terima kasih atas semua support kakak"
"Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu..."
"Terima kasih..."
Sebuah senyum terbit diujung bibir Mirza. Hatinya beriak mendengar ungkapan Arumi. Rasanya melambung pada sebuah keputusan bahwa ia begitu bahagia. Terlebih saat teringat akan janji Arumi beberapa waktu lalu. Janji akan segera menerima pinangannya dan menikah dengannya jika dua cita-cita Arumi tercapai. Dan gelaran pagelaran adalah satu diantaranya.
"Tersisa satu lagi. Kau akan segera menjadi milik ku, Arumi..." batin Mirza.
"Mengapa kak Mirza senyum-senyum begitu? Apa ada sesuatu yang tengah membuatnya bahagia? Ah, biarlah tak perlu ku tanya. Kalau pun ia tengah bahagia maka sudah sepatutnya demikian. Berbahagialah, Kak. Kau patut bahagia..." batin Arumi.
"Ah, ingin rasanya aku mengingatkan Arumi tentang janjinya itu. Tapi....Aku khawatir itu akan membebaninya. Em, sebaiknya jangan ku lakukan. Biarlah semua berjalan bak air mengalir" batin Mirza.
"Yak...yak. Senyum kak Mirza kembali mengembang. Ada apa dengan nya? Aku makin penasaran..." batin Arumi.
"Et dach... Dari tadi cuma diam saja. Makan pil bengong kalian?" canda Elvano.
Elvano melangkah menghampiri saat menyadari kedua orang yang saling mencinta itu hanya terpaku pada fikiran masing-masing. Tanpa saling berkata.
"Aku menyingkir dari hadapan kalian, berharap kalian dapat berbicara santai. Saling mencurahkan perasaan. Lah, ternyata di luar ekspektasi. Sungguh terlalu kalian..."
"Maaf jika mengecewakan. Tapi jika kami ingin mengobrol santai, rasanya tak perlu sampai mengusir kalian atau berbincang di belakang kalian. Emang siapa kalian?"
"Hei....Tuan Bos. Sungguh perkataan mu melukai perasaan ku"
"Terserah....Kau rasakan saja itu sendiri"
Arumi menyimpan senyum karena percakapan unfaedah dari kedua sahabat itu. Kemudian Arumi pun mengalihkan perhatiannya pada Vanya. Gadis itu tampak gamang. Duduknya pun tak tenang. Hanya sesekali saja matanya bertukar tempat menatap Elvano dan pangkuannya.
"Ada apa apa...?" bisik Arumi.
"Ti-tidak ada apa-apa...?"jawab Vanya juga berbisik.
"Aku tidak yakin...."
"Sungguh aku baik-baik saja..."
Vanya menghela nafas. Hatinya telah berkata lain berbanding terbalik dengan apa yang sudah ia coba ciptakan dihadapan Arumi.
"Dari sikapnya aku yakin ada sesuatu yang terjadi pada Vanya. Tapi apa? Mengapa begitu tiba-tiba...?" batin Arumi.