150 Cm

150 Cm
Episode 118. Cerita Danu



"Hei...bukan kah itu Shereen. Satu diantara mahasiswa ku yang sudah menjadi pem-bully Arumi. Mengapa ia ada di sini? Apa ada kaitannya dengan keberadaan Arumi? Ah, tidak mungkin. Keberadaan Arumi di rumah sakit ini dirahasiakan. Tapi....Hei! Mengapa perut Shereen tampak membesar? Apakah ia tengah mengandung? Mengapa Danu tidak melaporkan apa pun kepada ku" batin Mirza.


Ia berdiri di balik dinding. Sesekali ia mengamati sosok perempuan yang dikenalnya sebagai Shereen itu.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Mirza terkesiap saat ponselnya berpendar. Tangannya segera meraih benda pipih berwarna hitam itu dari balik setelan jasnya.


"Assalamu'alaikum..." ucap Mirza tanpa menilik siapa penelepon.


"Apa tuan Mirza Adyatma sudah berubah jadi seorang pengecut hingga melihat seorang perempuan saja harus dengan bersembunyi?" ucap laki-laki di ujung telepon.


"Aish...sialan kau, El...." ucap Mirza saat matanya menilik sesaat layar ponselnya.


"Haha...ada apa, Bos. Sampai sebegitunya melihat perempuan itu?"


"Ah, sudahlah. Bicara dengan mu lama-lama naik darah ku..."


"Haha...."


"Temui aku di VVIP office. Ajak serta Danu..."


"Siap, Bos..." ucap Elvano diakhir percakapan.


Tak menghabiskan separuh dupa, Mirza sudah duduk di sebuah kursi berukuran besar. Sebelah kakinya menopang dia tas kaki lainnya. Sementara manik matanya tajam menilik wajah dua laki-laki di hadapannya. Keduanya adalah Elvano dan Danu.


"Apa yang akan kau laporkan tentang misi mu, Danu?" ucap Mirza datar.


"Nona Shereen menjalani hukuman seperti yang tuan berikan..."


"Sudah semestinya demikian. Sebab jika tidak aku akan mengirimnya ke balik jeruji besi. Atau kandang harimau sekalian..."


"Beberapa waktu menilik kehidupan Nona Shereen, saya jadi mengetahui siapa dan bagaimana dia"


"Memang itu tujuan kau diberikan misi itu, pak Danu. Ups...." ucap Elvano yang diakhiri dengan menutup mulut karena mata elang Mirza tengah meniliknya.


"Lanjutkan...." ucap Mirza dingin.


"Nona Shereen adalah saudara perempuan Sarah dan saudara lain ibu dari Andrea. Terlepas dari hubungan itu, Nona Shereen mencintai Ken, laki-laki yang juga kekasih kakaknya Sarah..."


"Wow...rumit sekali"


"El...."


"I-iya, Bos. Maaf. Tapi tunggu dulu, Bos. Bukankah Shereen mencintai bos, seperti ucapannya saat di markas kita dulu, tapi mengapa fakta berbicara lain..." ucap Elvano.


"Saya fikir mencintai bos hanya sebuah obsesi, tapi cinta sejatinya adalah Ken..." ucap Danu.


"Wow.... amazing"


"El...!'


"I-iya, Bos...."


"Ada fakta lain yang membuat saya terkejut bos. Ken adalah sebuah nama panggilan atau nama alias saja. Nama asli dari Ken adalah Kevin Aprilio Hadiningrat"


"Kevin Aprilio Hadiningrat. Nama yang tak asing..." ucap Mirza.


Fikirannya beterbangan menyusuri keping kenangan. Sementara itu Danu tersenyum tipis.


"Kevin Aprilio Hadiningrat adalah kakak dari Bima Saka Hadiningrat, laki-laki yang pernah berurusan dengan tuan saat di kampus. Saat itu ia telah melecehkan non...."


"Ya...ya, cukup Danu. Aku ingat..." ucap Mirza.


"Dan apa mereka berpotensi akan membahayakan keluarga ku..." tanya Mirza kemudian.


"Tuan, berdasar rentetan peristiwa yang terjadi maka kemungkinan itu selalu ada. Bagaimana nona Sarah memperlakukan non Arumi sebagai wujud balas dendam untuk nona Andrea dan atau nona Shereen kecewa atas kegagalannya memenuhi obsesinya atas tuan. Tapi terlepas dari itu semua, sepertinya nona Shereen mempunyai masalah lain yang membuatnya frustasi..."


"Oya...Aku jadi penasaran"


"El...."


"Ya, Tuan. Aku hanya penasaran..."


"Rasa penasaran mu membuat alur cerita terputus. Atau....sebagai hukuman aku akan menghapus bonus mu yang tak seberapa itu?!"


"Ah, jangan tuan. Kasihan anak-anak..."


"Hehe....lupa, Bos"


"Dasar penghayal. Menaklukkan hati seorang perempuan saja tak mampu, bagaimana mau punya anak..."


"Hehe...si Bos. Kata-katanya suka betul" ucap Elvano, nyengir kuda.


"Lanjutkan, Danu..."


"Baik, Tuan. Em, nona Shereen saat ini tengah mengandung"


"Apa....!!" teriak Elvano.


BUK....!


Mirza melempar bantal sofa. Lemparan itu telak mengenai wajah Elvano.


"Maaf, Tuan. Haha...!" ucap Elvano diakhiri tawa.


"Apakah Shereen telah menikah?" ucap Mirza.


"Tidak, Tuan. Itu adalah hasil hubungannya dengan Ken atau Kevin. Dan mirisnya Ken tidak mengakuinya. Dan Ken sendiri memilih melanjutkan pernikahan dengan Sarah..."


"Laki-laki pengecut..." umpat Elvano.


Elvano tak peduli pada tatapan elang Mirza saat itu. Hati Elvano dipenuhi kekesalan atas perilaku Ken terhadap Shereen.


"Dan di tengah rasa frustasinya itu, nona Shereen hampir saja mengakhiri hidupnya. Jika saja King tidak menolongnya, tentu nona Shereen benar-benar melakukannya..."


"King...."


"Ya, Tuan. Dia adalah..."


"Ya, aku tahu..." potong Mirza.


Mirza menghela nafas. Matanya menerawang jauh. Entah apa yang tengah ia fikirkan.


"Lalu siapa yang paling dimungkinkan dapat mengancam ketenangan keluarga ku?"


"Sarah, Ken, dan Putra Jaya..."


"Shereen...?"


"Dengan kondisinya saat ini kecil kemungkinan ia akan melakukan hal tersebut. Terlebih ada King di sisinya kini..."


"Apa King mencintai Shereen?"


"Cintanya tetap pada nyonya Arumi, tapi sisi kemanusiaannya telah mengalihkan segala rasa dalam jiwanya. Dan menurut pengakuan King, ia akan menjaga Shereen dan memastikan keselamatannya..."


"Bantu Shereen dan King...."


"Tapi, Tuan...."


"Jangan membantah. Bantu dan lindungi Shereen. Dalam kondisinya saat ini aku yakin ia justru dalam bahaya..."


"Baik, Taun.."


Sesaat suasana menjadi hening. Semua berada dalam pemikiran masing-masing.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Mirza kembali berpendar. Kali ini ada senyum yang menghiasi wajahnya.


"Assalamu'alaikum....sayang"


"Wa'alaikumussalam.... Kakak dimana? Dokter Faaz ada di ruang perawatan ku" ucap Arumi di ujung telepon.


"Oya, sebentar lagi aku menemui mu..."


"Cepatlah. Sepertinya dokter Faaz ingin berbicara hal yang penting kepada kakak..."


"Hal penting? Mengapa ia tidak memberitahuku...?" ucap Mirza diakhir percakapan.


Langkahnya langsung panjang. Membuat kedua asistennya bertanya-tanya atas perilaku tuannya itu. Pun demikian, keduanya tetap mengekori langkah Mirza tanpa bertanya apa pun.