
Berdiri Mirza membelakangi Keive yang saat itu tengah duduk pada sebuah kursi taman. Tanpa kata. Hanya helaan nafasnya saja yang terkadang terdengar. Fikirnya tengah memaknai setiap penjelasan Keive tentang bagaimana perasaan Andrea. Terutama berkenaan dengan ungkapan cinta Andrea empat hari lalu.
Ya, hari ini genap sudah tenggat waktu yang ditentukan Mirza bagi Keive untuk menaklukkan hati Andrea. Dan kabar keberhasilan Keive sukses membuat senyum khas Mirza tersulam pada bibirnya. Dan rangkaian rencana selanjutnya pun sudah tersusun rapi pada Fikirnya.
"Good job, Keive..." puji Mirza.
Sebuah pujian yang selalu sukses membuat Keive melonjak kegirangan. Bagaimana tidak, Mirza yang sudah menjadi satu diantara sederet pengusaha muda idolanya telah memujinya. Sebuah perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata tentunya.
"Thanks, Mr..." ucap Keive dengan sumringah.
"Dan sekarang adalah rencana sebenarnya. Apakah kau siap, Keive?"
"Saya siap, Tuan..."
"Ambil kembali perusahaan Ryu yang sudah diambil Andrea dengan curang"
"Perusahaan...?"
"Andrea telah mengambil alih PT Ryu Permata. Dalihnya adalah atas nama cinta Ryu kepada Andrea" jelas Mirza.
Mirza memutar tubuhnya dan menghampiri Keive yang duduk. Kini keduanya sudah duduk sejajar. Tampak Mirza menghela nafas sedikit panjang. Matanya hanya menatap dedaunan yang menghijau.
"Picik sekali perempuan itu..." gumam Keive.
"Jika kau sudah berhasil mendapatkan perusahaannya, maka tetaplah menjalin hubungan dengannya karena aku masih memiliki rencana lain untuknya..."
"Apa tuan bermaksud mengirimnya ke penjara?"
"Jika diperlukan. Mengapa? Apa kau keberatan? Emm, jangan-jangan kau sudah jatuh hati terhadapnya?"
"Ah, Tuan bisa saja. Andrea bukan tipeku..."
"Lalu tipe mu yang seperti apa?"
"Gadis sederhana tapi luar biasa?"
"Mana ada gadis seperti itu. Kalau sederhana ya sederhana. Kalau luar biasa ya luar biasa"
"Haha... hanya saya yang tahu, Tuan. Bagi saya ia luar biasa, walau di mata orang lain dia gadis sederhana atau mungkin biasa-biasa saja. Gadis yang mampu menenangkan hati yang selalu bergejolak ini..."
Mirza tersenyum. Ia menatap Keive. Kemudian sebelah tangannya menepuk bahu Keive.
"Well, Keive semoga kau menemukan gadis itu..."
"Ya, Tuan. Terima kasih"
"Oya, aku tidak ingin terlalu lama menerima kabar baik dari mu. Maka aku memberi mu waktu satu pekan untuk menyelesaikan misi ini"
"Baiklah. Jika gagal...?"
Mirza tersenyum. Tangannya lagi-lagi menepuk bahu Keive. Tanpa kata Mirza bangkit dari duduknya dan berlalu begitu saja.
Keive menatap kepergian laki-laki yang di usia muda sudah menjadi pengusaha nomor satu itu. Laki-laki yang juga sudah menjadi penolong keluarganya. Laki-laki yang sudah menyematkan kata adik untuknya, tapi belum ia aminkan sebagai kakak karena bagi Keive istilah Tuan lebih cocok disematkan kepada pengusaha nomor satu itu ketimbang kakak.
Keive menghela nafas. Ia pun bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan tempat tersebut dengan gontai. Kedua tangannya di masukkan ke kedua kantong ******. ***** fikirnya mulai beterbangan rencana-rencana mulai dari yang sederhana hingga yang glamor. Rencana tersebut disusun untuk memuluskan maksud dan tujuan misi yang diberikan Mirza.
Kemudian tangan Keive merogoh saku bajunya. Keive mengambil benda pipih berwarna hitam. Sesaat lalu ia membuat benda pipih itu berpendar. Keive tengah menghubungi seseorang.
Drrt.
Drrt.
Drrt.
Berulangkali ia melakukan panggilan, namun tiada jawaban. Wajahnya melukiskan kekesalan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara itu, di dalam sebuah mobil sport berwarna silver...
"Sudah bertemu Keive...?"
"Sudah..."
"Lalu...?"
"Sabar ya, sayang..."
"Emm, maksud saya bagaimana perkembangan misi nya?"
"Cukup baik. Andrea mulai tertarik kepada Keive. Bahkan berakhir pada pernyataan cinta Andrea dan Keive"
"Kakak mempercayai Keive...?"
"Menurut mu...?"
"Entahlah..."
"Apa kakak sudah menyelidiki Keive..."
"Tenanglah,sayang. Keive bisa dipercaya..."
"Kalau begitu aku pun akan mempercayainya..."
Mirza tersenyum. Tangannya merengkuh kepala Arumi. Perempuan 150 cm itu tersenyum. Kepalanya pun langsung rebah pada bahu Mirza.
"Terima kasih kakak sudah bersedia membantu keluargaku.."
"Hei...keluarga mu adalah keluarga ku. Tiada beda"
Tangan Mirza kian erat mendekap bahu Arumi. Sesekali ia mengusap lembut pucuk kepala Arumi. Ia pun menghadiahinya dengan beberapa kecupan lembut. Dan hal tersebut tentu saja membuat Arumi sumringah. Ada banyak kuncup kembang yang bermekaran memenuhi hatinya. Mata Arumi pun kemudian kian terkunci pada wajah tampan laki-laki yang juga tengah menatapnya penuh perasaan.
"Aku mencintai mu...." ucap Mirza.
Merona wajah Arumi. Senyum khasnya seketika terbit dari ujung bibirnya, saat tiga kata ajaib itu meluncur di antara bibir Mirza.
"Fix...Tiada salah lagi. Aku ngontrak di dunia ini..."
"Kok, begitu kak El..." ucap Arumi sedikit terkesiap.
"Elvano....bin mail bin Abdul Mail...!"
"Ups...." ucap Elvano.
Sebelah tangannya menutup mulut. Sementara sebelah lagi mulai mengendalikan laju mobil.
"Jika ingin seperti kami, cepat-cepatlah kau kawin..."
"Kawin mudah, bos. susahnya belum ada yang pas. Ada yang pas tuan sudah ambil..."
"Ow, jadi kau pun mengincar istri ku?! Awas kau ya..."
PLAK...!
Mirza melancarkan sebuah pukulan pada bahu Elvano. Dan berkas file menjadi perantaranya. Elvano pun mengaduh. Bukan karena sakit, tapi terlebih pada rasa terkejutnya.
"Ya, Tuhan. Bos...." ucap Elvano.
"Kau sendiri yang mencari gara-gara. Beruntung bukan bogem mentah yang ku layangkan..."
"Bonus aman kan, Bos...?"
"Untuk saat ini aman..."
"Haha....."
Tawa keduanya menghiasi segenap ruang mobil mewah yang terus melaju. Lajunya menerobos hujan yang baru saja mengguyur bumi. Rupanya langit tengah bersekongkol dengan bumi yang sebelumnya sudah meraung merapal mantra agar hujan menjelma.
Arumi menatap keluar jendela mobil yang buram dikerubuti hawa dingin. Di ujung tatapannya ada sedih yang menyelimuti. Dan hal tersebut tentu saja membuat Mirza terusik.
"Ada apa, sayang...?" tanya Mirza.
Tangannya kembali merengkuh bahu Arumi dan mengusapnya perlahan.
Arumi menghela nafas. Helaan nafasnya terasa penuh perasaan. Tanpa mengubah perhatiannya, Arumi menyandarkan kepalanya pada Mirza.
"Aku tidak dapat membayangkan jika saja kakak tidak ada. Mungkin permasalahan hidup ku semakin pelik..."
"Aku selalu berdoa, semoga saja kau selalu diberi kemudahan oleh Tuhan. Ada atau tidaknya aku..."
"Ah, itu tidak mungkin. Takdir saja sudah menyatukan. Rasanya mustahil jika tidak demikian...."
"Elvano bin Mail bin Abdul Mail..!"
"Yah, salah lagi gue...." ucap Elvano.
"Jelas salah. Kau seperti api saja yang selalu menyambar..."
"Hehe....maaf. Jika mendengar percakapan seperti tadi lidah ini suka gatal"
"Dasar. Sudah diam. Lebih baik kau tutup telinga mu dengan tisu ini agar tak mendengar percakapan kami..."
"Siap, Tuan...." ucap Elvano sambil memasang tisu pada telinganya.
"Aku akan selalu bersama mu. Berbagi suka dan duka sebanyak kau mau"
"Aku mencintai mu, Kak..." ucap Arumi.
Akhirnya tiga kata ajaib itu meluncur juga dari bibir tipis Arumi, walau ada rona malu menghiasi wajahnya.
"Sudah sejak lama aku merasakan itu, Ar. Aku sangat mencintai mu. Mari kita bersama sepanjang mau kita. Selamanya...."
"Tentu saja...."