
Pagi hari. Suara nyanyian burung telah memberi warna bersama hadirnya sang mentari. Mirza yang baru saja mengecup bibir tipis Arumi segera mengumbar senyum. Terutama ketika mata Arumi mengerjap manja saat hawa hangat menyapa wajahnya
"Pagi, sayang..." ucap Mirza setengah berbisik.
Arumi menggeliat, meregangkan tubuh mungilnya, mengusap pelupuk matanya, dan menguap sebentar sebelum menutupi mulut dengan punggung tangan kanannya.
"Pagi, suami ku...." ucap Arumi dengan suara parau khas bangun tidur.
Arumi pun mengalungkan lengannya pada leher Mirza.
"Kakak sudah bersiap?"
"E...em" ucap Mirza sambil tersenyum.
"Mengapa tidak membangunkan ku?"
"Tak tega. Tidur mu lelap sekali, sayang. Sampai-sampai suara dengkuran mu membahana.."
"Men-deng-kur...? Tak mungkin..." ucap Arumi.
Tangannya menolak tubuh Mirza hingga laki-laki tampan itu sedikit surut ke belakang dan tertawa. Terlebih saat melihat Arumi yang langsung lari menuju kamar mandi.
"Sayang...." panggil Mirza.
Arumi sama sekali tak mengindahkan panggilan itu. Ia terlalu malu memikirkan kebenaran tentang dengkurannya itu.
Tok.
Tok.
Tok.
Pintu kamar mandi diketuk Mirza berulangkali. Namun tiada jawaban. Mirza tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya.
"Sayang... Ayoklah. Aku hanya bercanda" ucap Mirza kemudian.
KREEEK.....!
Derit pintu terdengar saat pintu terbuka setelah beberapa saat tertutup. Arumi berdiri sambil memegangi daun pintu yang ia buka setengahnya saja. Matanya menatap Mirza yang masih berdiri di ambang pintu.
"Aku hanya bercanda, sayang. Maaf..." ucap Mirza.
Arumi hanya tersenyum. Dan melenggang melewati Mirza. Belum sempurna langkah Arumi melewati Mirza, tangannya sudah diraih Mirza.
"Mau kemana?" tanya Mirza.
"Ke dapur menyiapkan sarapan tuk kakak..."
"Kemarilah..." ucap Mirza sambil menarik tubuh Arumi ke dalam dekapannya.
"Maaf, ya sudah menggoda mu. Istri cantik ku ini tidak mendengkur, tapi...." ucap Mirza terhenti.
Mendengar kata Mirza yang tak lanjut, Arumi mendongakkan kepalanya. Ia menatap wajah Mirza. Sebuah tatapan yang mengandung sebuah tanya. Mirza menyulam senyum khasnya saat mendapat tatapan itu.
"Tidak mendengkur, tapi... ngorok" ucap Mirza sambil tertawa.
"Ish...! Apaan sih, Kak..." ucap Arumi.
Tangannya mencubit lengan Mirza, hingga laki-laki tampan itu meringis menahan sakit.
"Au...sakit, sayang"
"Rasakan...!" ucap Arumi dengan wajah manyun dan berlalu.
"Hei...." ucap Mirza sambil mengikuti langkah Arumi.
"Aku bercanda, sayang..." ucap Mirza sambil mendekap Arumi dari belakang.
"Ya. Tapi lepaskan...Aku ingin ke dapur dan memasak tuk kakak. Kalau begini terus kakak bisa terlambat" ucap Arumi sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Mirza.
"Tak perlu, sayang. Sekarang tutuplah mata mu. Ikuti langkah dan ucapanku ya..." bisik Mirza.
Tangannya perlahan menutup kedua mata Arumi. Ia pun berusaha membawa Arumi untuk mengikuti langkah-langkahnya. Perlahan namun pasti Mirza membawa Arumi melangkah menuju balkon.
"Kak, mengapa harus menutup mata begini? Apakah ada surprise?"
"Sebentar lagi, sayang...Nah, sampai. Tepat di hadapan mu, sayang..." ucap Mirza.
"Apa boleh aku membuka mata sekarang?"
"Tentu saja..."
Mendengar itu, Arumi pun mulai membuka matanya. Mengerjap sebentar lalu membulatkan matanya dengan sempurna. Arumi menatap hidangan di meja.
"Siapa yang membuat ini, kak?"
"Duduklah dahulu..." ucap Mirza.
Tangannya memegang bahu Arumi dengan perlahan.
"Kak...." ucap Arumi.
Matanya terus menatap Mirza yang berdiri setengah berjongkok di sebelahnya. Sebelah tangannya menopang pada meja. Dan sebelahnya lagi membelai pucuk kepala Arumi dengan lembut dan penuh perasaan.
Tangan Mirza menyuguhkan sepiring nasi goreng lengkap dengan lauknya. Ini adalah menu favorit keduanya.
"Aku membuatnya khusus untuk istri ku yang sudah luar biasa malam tadi"
"Maaf ya, kak. Jadi kesiangan begini. Setelah sholat subuh tadi aku memilih tidur sejenak. Ku fikir hanya satu jam, ternyata hingga dua jam lebih..."
"Tidak apa-apa, sayang..."
"Tapi kakak jadi terlambat..."
"Tidak apa-apa. Kebetulan pekerjaan kantor pun sedikit longgar hari ini. Terlebih aku baru saja pulang semalam..."
"Mama, papa bagaimana? Sudah sarapan kah?"
"Sudah, sayang..." ucap Mirza sambil menyorong satu suapan penuh ke mulutnya.
"Bagaimana rasa nasi goreng nya? Enak?"
"Em, enak sekali kak. Ini masakan terenak yang aku rasakan..."
"Wah, sejak kapan istri ku ini pandai menggombal...?"
"Hehe...sejak menikah dengan kakak"
"Haha..." Mirza tertawa.
Tangannya mengusap lembut pucuk kepala Arumi. Sekali waktu ia pun mencubit pipi perempuan yang berhasil memikat hatinya itu.
"Sayang...." ucap Mirza.
Tangannya menyodorkan selembar kertas yang terlipat rapi. Arumi menatap kertas tesebut bergantian dengan tatapan tanya pada Mirza.
"Bukalah..."
Arumi pun segera meraihnya dan membukanya dengan penasaran. Mata Arumi membulat sempurna. Dan saat itu juga kedua matanya jelas dikerubuti bulir bening.
"Apa isinya....?" tanya Mirza pura-pura tidak tahu.
"Undangan pameran....!!" ucap Arumi.
Berjingkrak Arumi mendapat undangan tersebut.
"Terima kasih, Kak..." ucap Arumi berulangkali.
"Hanya itu....?" ucap Mirza tanpa melihat Arumi.
Mendapat tanya absurd itu, Arumi mengerti. Ia pun langsung menghambur memeluk Mirza. Bahkan berada pada pangkuan Mirza. Sebuah kecupan pun ia sarangkan pada pipi suami tampannya itu.
"Terima kasih ya, suami tampan yang super baik..."
"Sama-sama, istri 150 cm ku yang super luar biasa..."
"Norak...." ucap Arumi sambil memukul perlahan lengan Mirza.
"Kok norak sih..."
"Kenapa harus dibawa-bawa 150 cm nya..." ucap Arumi yang mengerucutkan bibirnya.
"Loh...memang kenapa? Kalau bukan karena 150 cm ini, istri ku ini pasti sama saja dengan perempuan lainnya. Tapi karena berbeda, maka sudah sukses memikat hati ku..." ucap Mirza sambil mengusek gemas pucuk kepala Arumi.
"Ok. Baiklah..." ucap Arumi.
Arumi langsung melonggarkan dekapannya dan turun dari pangkuan Mirza. Arumi kembali duduk pada kursi di hadapan Mirza. Matanya belum lepas dari lembar surat undangan pameran lukisan di tangannya. Arumi sudah berangan bagaimana berada pada acara semegah itu. Senyum Arumi terus menghiasi wajahnya.
Sementara itu, Mirza pun tersenyum. Hatinya ditumbuhi kembang berwarna-warni. Hal tersebut karena ia telah sukses membuat perempuan 150 cm itu bahagia. Mirza bertopang dagu. Matanya tiada henti menatap Arumi yang tengah diliputi bahagia.
Drrt.
Drrt.
Drrt.
Ponsel Mirza berpendar. Hal tersebut langsung memecah perhatiannya.
"Bos, semua persiapan sudah selesai. Termasuk pengiriman undangan kepada para pelukis. Bahkan beberapa pelukis langsung memberikan konfirmasi kesediaan turut ambil bagian pada acara tersebut..." ucap Elvano di ujung telepon.
"Good. Kita bicarakan di kantor"
"Jadi bos belum sampai kantor...?"
"Saya ini baru sampai semalam. Apa tidak ada dispensasi kehadiran di kantor...!"
"Hehe...tentu saja, Bos. Apalagi bos kan pemiliknya"
"Beruntung jawaban mi demikian. Jika tidak...! Sudah ku potong bonus mu.."
"Waduh..."
Eng...ing...eng....😁