
"Kemari kau laki-laki pelangi. Biar ku hajar wajah mu itu. Atau....ku potong perkutut mu itu" ucap King nanar.
Dalam hati dan fikirannya hanya satu tujuan yaitu segera menyudahi berbasa-basi dengan laki-laki kekar namun kemayu itu. Untuk kemudian segera menolong Shereen.
BUGH...!
BUGH...!
King berhasil menyarangkan beberapa pukulan dsn tendangan ke tubuh laki-laki itu di suatu kesempatan. Dan tak ayal lagi laki-laki itu pun jatuh tak berdaya.
"Cih...!"
Laki-laki itu mengeluarkan darah segar dari rongga mulutnya.
"Kau membuatku semakin bergairah, King. Mari kita lanjutkan. Setelah itu kita akan bersenang-senang. Hehe..." ucap laki-laki itu diakhiri dengan tawa yang mengerikan menurut King.
"Aku tak peduli dengan segala ocehan mu, bangsat...!" ucap King.
King langsung menyerang kembali. Kali ini jurus-jurusnya benar-benar mematikan. King tak ingin menyia-nyiakan kesempatan sedikit pun demi menyelamatkan Shereen. Perempuan yang nyatanya ia cintai.
"Menyerahlah, Bangsat....!" ucap King saat ia berhasil mengunci pergerakan laki-laki itu.
BUGH...!
BUGH...!
"Am-ampun...." ucap laki-laki itu.
"Baik. Aku akan mengampuni mu dengan syarat katakan kemana Ken membawa Shereen.
"Aku tidak tahu..."
"Ow, tidak tahu ya. Tiga pilihan mu, mati, cacat atau selamat. Pilihlah..."
"Aw...jahat sekali kau, King"
"Apa peduli mu. Cepatlah katakan. Sudah hampir habis kesabaran ku atas mu"
"Aku...." ucap laki-laki itu terhenti saat King menekan kuat pangkal leher laki-laki itu.
"Ba-baik...akan ku katakan..."
Tekanan kuat itu pun melonggar.
"Cepat katakan...!"
"Jalan Xyz. Daerah tebing rawan..."
"Sial...!"
BUGH....!"
King menyarangkan pakulan mautnya. Tak ayal lagi laki-laki itu pun tersungkur, tak sadarkan diri.
"King....!" teriak Elvano yang baru saja sampai.
"Maaf, El. Aku sedang tak bisa berbasa-basi. Shereen membutuhkan bantuan ku"
"Kami bantu..." ucap Mirza.
Laki-laki tampan pengusaha sukses itu muncul dari balik tubuh Elvano.
"Tuan...." ucap King seakan tak percaya.
"Danu, Dewa, El tolong bantu King. Temukan Shereen segera. Dan kemudian bawa ke rumah ku ketika sudah ditemukan"
"Baik, Tuan..." ucap Danu, El, Dewa hampir bersamaan.
"Tapi bagaimana dengan Tuan dan Nyonya..?" ucap Dewa.
"Kalian fikir aku tak dapat menjaga keluarga ku...?" ucap Mirza.
Matanya menatap bak elang mengintai mangsa. Melihat itu ketiga orang kepercayaan Mirza itu pun langsung berlalu. Tanpa ba-bi-bu lagi menarik King meninggalkan Mirza dan Arumi bersama beberapa orang bodyguard.
"Kak...." ucap Arumi.
Tangannya mengusap perlahan lengan Mirza. Sontak kilat amarah yang sempat terlihat kembali meredup. Riak yang semula siap menjadi badai kini kembali tenang.
"Kita pulang, sayang...." ucap Mirza.
Sementara itu....
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Lajunya meninggalkan areal parkir menuju tempat yang diinformasikan King.
"Apa tuan Mirza selalu seperti itu?"
"Haha...kenapa, King? Kau takut...?"
"Saat Nyonya Arumi sempat menghilang dahulu, aku sering melihatnya. Tapi saat ini situasi yang ia hadapi tak segenting itu bukan?"
"Bak baik roller coaster. Kau tahu itu...."
"Haha...." tawa ketiganya pecah.
"Tapi bagaimana pun juga aku mengakui tuan Mirza laki-laki yang luar biasa. Dan ia pun sangat baik. Ia contoh yang sempurna ku rasa. Pantas jika banyak digilai perempuan"
"Benar. Tapi baginya cukup satu cinta saja, yaitu nyonya Arumi..."
"Wah... semakin kagum aku dibuatnya" ucap King.
"Hei... seperti nya itu lokasi yang dimaksud" ucap King saat melihat papan peringatan bertulis Kawasan Tebing Rawan.
"Sebuah tempat yang cocok untuk melakukan kejahatan tersembunyi. Dasar pengecut...!" ucap Dewa.
Tak lama kemudian, mobil pun diparkir dengan tersembunyi. Ketiganya mengendap di balik rimbunnya pepohonan. Menilik setiap sudut tebing. Mencari segala pergerakan yang mungkin terjadi. Dan benar saja, sayup-sayup terdengar suara percakapan. Dan nama Shereen pun disebut dengan jelas.
"Kau akan menghalangi hubungan ku, Shereen. Dan aku tidak suka..."
"Maksud mu menghalangi mu dalam mendapatkan perusahaan yang sudah diwariskan kepada kak Sarah?"
"Pintar...Dan aku ingin hanya ada aku, Sarah dan anak-anak kami saja dalam catatan sejarah keluarga kami. Mungkin benar anak yang kau kandung itu adalah anak ku, tapi anak itu ada dari hubungan yang dapat menghancurkan kehidupan ku di kemudian hari..."
"Picik sekali pemikiran mu itu. Apa kau lupa jika kita melakukannya atas dasar saling suka. Dan kau pun menyatakan bahwa kau mencintaiku. Aku cinta mu, bukan kak Sarah..."
"Mungkin kau cinta ku, tapi hidup dan kebahagiaan ku ada bersama Sarah..."
"Lalu untuk apa kau membawaku ke tempat ini?!'
"Aku ingin anak yang kau kandung itu..."
"Mengapa? Bukankah kau tidak menginginkannya?"
"Aku akan membunuhnya. Dia penghalang kebahagiaan ku..."
"Dan aku...?"
"Kau adik istri ku. Tak mungkin aku menyakitimu. Aku hanya ingin anak itu..." ucap Ken.
"Kau mengambil anak yang sudah ku pertahankan selama hampir sembilan bulan ini. Cih, sampai nyawa ku taruhannya aku tak kan pernah menyerahkannya..."
"Aku tahu. Dan aku tak berniat untuk memintanya secara baik-baik..."
PLAK....!
Ken melayangkan pukulan ke wajah cantik Shereen. Perempuan yang tengah mengandung itu mengaduh. Sebelah tangannya sontak mengusap pipinya yang terasa memanas. Pun demikian, dari sudut bibirnya ia menyunggingkan senyum.
"Perlakuan mu membuktikan bahwa kau adalah laki-laki yang pengecut dan tak berperasaan. Kau pasti takut untuk melaksanakan niat mu itu, bukan. Haha.... ambillah jika kau berani..." tantang Shereen.
Shereen kalap. Otak nya sedang tak mampu berfikir jernih. Ia tengah meletakkan sebuah pertaruhan kepada Tuhannya akan nasib hidupnya dan juga anak dalam kandungannya.
Mata Ken menatap nanar perut besar Shereen. Tangannya mengepal hebat. Dan sekilas ada getar di sana.Ken tengah menghadapi sebuah dilema.
"Ah, sial. Mengapa tiba-tiba aku jadi takut dan bimbang begini. Haruskah aku membunuhnya? Tapi jika tidak ku bunuh, maka bisa jadi duri dalam kehidupan ku nanti. Ah, sial....!" batin Ken.
Pun demikian, ternyata rasa bimbang nya dikalahkan oleh amarahnya. Ken mendadak melangkah cepat untuk kemudian mengayunkan tangan ke arah perut besar Shereen. Dan....
BUK....!
Ken menghantam perut Shereen cukup keras. Perempuan yang tengah menanti kelahiran itu mengaduh hebat. Ada rasa sakit yang kini mendera.
"Pengecut kau, Ken...!!" ucap King dari balik persembunyiannya.
Tidka hanya itu, King mulai memacu langkah menuju Shereen. Hatinya kian dipenuhi amarah hingga tangannya mengepal hebat.
BUK....!!
BUK....!!
BUK...!!
King langsung menyarangkan kepalan tangannya ke wajah dan bagian tubuh lain Ken. Jelas, walau pukulannya merupakan jurus maut namun terlihat sedikit membabi buta. Suatu kewajaran karena saat itu hatinya tengah diamuk amarah.
"King...!!" ucap Shereen lesu.
Dari mimik wajahnya, jelas jika situasi yang tengah ia hadapi tidak sedang baik-baik saja. King langsung menghampiri Shereen dengan penuh kekhawatiran.
"Shereen...." ucap King.
Matanya tak lepas dari ceceran darah yang mengalir dari sela kedua kaki Shereen.
"Shereen....!" ucap King.
Tangannya cekatan menangkap tubuh Shereen yang limbung.
"Shereen....!!!" ucap King lagi.