150 Cm

150 Cm
Episode 63. Dilema Dua Hati



Acara makan malam pun berakhir tanpa percakapan berarti. Mirza yang lebih memilih diam. Vanya yang diam dalam kegamangannya. Dan Elvano yang seperti biasanya begitu banyak berceloteh walau tak terlalu mendapat tanggapan.


Kemudian keempatnya kembali ke dalam mobil sport silver dan meninggalkan cafe. Tiada percakapan yang terjadi sedikit pun. Semua terbenam dalam fikiran masing-masing.


"Mengapa suasana terasa begitu dingin...?" batin Arumi.


Ekor mata Arumi menilik laki-laki yang duduk di sebelahnya. Laki-laki yang sejak di dalam cafe begitu minim bicara. Laki-laki yang sejak duduk tadi menampilkan mode dingin. Tiada ekspresi sedikit pun. Bahkan keberadaan Arumi pun seakan tiada saja.


"Ada apa dengan kak Mirza...? Apa telah terjadi sesuatu...?" batin Arumi.


"Vanya, haruskah ku antar hingga ke dalam?" tanya Elvano membuyarkan angan panjang Arumi.


Mata Arumi menatap luar jendela mobil. Ia baru menyadari bahwa mobil mewah yang mereka tumpangi telah parkir di depan rumah sahabatnya itu.


"Tidak perlu..." jawab Vanya datar.


"Ah, tapi rasanya tidak enak sekali jika membiarkan mu masuk begitu saja tanpa pengawalan laki-laki tampan seperti ku"


"Ah, modus..." canda Arumi.


"Hehehe...Arumi bisa ae" ucap Elvano sambil tertawa kecil.


Kakinya langsung mengekori langkah Vanya begitu menyentuh tanah. Sementara suara tawa kecilnya masih terus terdengar hingga ambang pintu.


"Eh, Nak El...." sapa Karin, ibu dari Vanya.


"Malam, Tante. Maaf terlambat pulang..."


"Ah, tidak apa-apa. Baru jam sembilan. Hehe... Bagaimana pagelarannya sukses?"


"Sukses, Tante. Pasti karena doa-doa, Tante..."


"Ah, Nak El bisa saja...Mari masuk dahulu"


"Terima kasih, Tante. Lain kali saja. Sudah malam"


"Ah, belum malam juga..."


"Ya, terima kasih. Lain kali, Tante. Elvano janji..."


"Ow, ya sudah. Tante tangis loh janjinya...


"Ya, Tante. Pasti. Kalau begitu Elvano pamit, Tante. Vanya..."


Sadar namanya disebut Elvano, Vanya mengangguk sambil mengurai senyum khasnya.


"Terima kasih, Kak..."


"Sama-sama. Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumussalam..." jawab Karin dan Vanya hampir bersamaan.


Keduanya mengiringi langkah Elvano yang semakin cepat hingga ke dalam mobil sport silver yang sejak tadi parkir.


Tak lama kemudian, mobil pun kembali melaju meninggalkan halaman rumah Vanya yang saat itu masih saja tertegun. Matanya masih saja menatap laju mobil sport silver hingga hilang di ujung jalan.


"Mama senang sekali Elvano mau mengantar mu seperti itu. Dan mama perhatikan sepertinya Elvano menyukaimu..."


"Ah, itu hanya perasaan mama saja" ucap Vanya sambil berlalu.


Langkahnya begitu cepat meninggalkan Karin, ibunya. Segera ia memasuki kamar tidurnya dan menutup pintu kamar rapat-rapat. Vanya menghela nafas untuk mendamaikan kegamangan hatinya. Bukan hanya sekali tapi berulangkali.


Bersandar Vanya pada daun pintu yang tertutup rapat itu. Matanya terpejam. Fikirannya melayang pada sebuah ingatan tentang perkataan Elvano saat di cafe. Perkataan yang diutarakan Elvano sesaat setelah Elvano berhasil membawa Vanya menjauh dari Arumi dan Mirza.


Vanya Flashback On


"Nya...ada yang ingin aku sampaikan"


"Egh..."


Vanya langsung mendongakkan kepala dan menatap wajah serius Elvano.


"Jangan menatapku seperti itu. Aku jadi rikuh..." ucap Elvano dengan gaya kocaknya.


"Hehe...Ada apa, Kak?"


"Em, mungkin caraku ini menurutmu kurang elegan. Atau tidak romantis. Tapi sungguh aku tidak mempedulikan hal tersebut. Aku hanya ingin apa yang ku rasa tersampaikan kepadamu"


"Apaan sih, Kak? Vanya makin tidak mengerti..."


"Hehehe...." tawa kecil Vanya menghiasi udara sekitar saat itu.


"Aku sungguh-sungguh, Vanya. Jangan tertawa. Karen ini bukan hal yang patut ditertawakan"


"Ya, Kak...katakanlah. Sejak tadi kakak hanya berbelit-belit saja"


Deg.


Kata Vanya berhasil menohok hati Elvano yang sesungguhnya tengah gelisah. Elvano gamang tentang pikihan kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya terhadap Vanya.


"Kak...!" ucap Vanya setengah teriak.


"Ya, Vanya. Aku tidak tidur"


"Kirain makan pil bengong..."


"Wis...enak saja"


"Lalu apa yang ingin kakak sampaikan?" desak Vanya terdorong rasa penasarannya.


Elvano menghela nafas. Kali ini matanya menatap lekat Vanya penuh perasaan. Tak terelakkan lagi gemuruh dalam dadanya hampir membuatnya gila.


"Aku mencintai mu... Maukah kau menjadi istriku?"


"Egh...."


Vanya menatap Elvano. Ada rasa keterkejutan yang seketika menjalari jiwanya. Vanya tak menduga sama sekali akan pernyataan Elvano barusan. Kalimat pertam saja sudah cukup membuatnya terkejut. Dan ini ditambah dengan perkataan kedua Elvano yang semakin membuat Vanya terkesiap hingga kedua matanya membulat sempurna.


.


.


.


Suasana menjadi hening seketika. Tiada kata-kata yang terdengar. Hany helaan nafas keduanya saja yang terdengar berkejaran saat itu.


Elvano sendiri terlihat sedikit menyesal asal pengungkapannya yang terkesan begitu tiba-tiba dan tak terencana itu. Pun demikian, ia bersyukur karena telah berhasil mengutarakan perasaan yang selama ini serasa menghimpit jiwanya. Perasaan cinta yang kian membuncah dikala kebersamaannya dengan Vanya.


"Apa jawaban mu..."


"Aku...Aku..."


Dan lagi-lagi Elvano menghela nafas saat mendapati kegaguan Vanya. Elvano semakin menyesal karenanya.


"Em, tak perlu dijawab sekarang. Matahari masih akan terbit kok esok hari..."


Vanya diam. Tiada tanggapan berarti yang keluar dari bibirnya. Karena saat ini Vanya tengah sibuk menelusuri relung hatinya untuk menemukan sebuah jawaban yang paling tepat.


Vanya pun mengangguk perlahan. Ia mengiyakan bahwa jawabannya tak kan ia berikan saat itu.


"Maafkan aku, Nya. Mungkin ini terlalu tiba-tiba bagi mu. Tapi sungguh ini bukan tiba-tiba bagi ku. Perasaan ini sudah sukses membujuk lidah ku untuk mengolah kata dan mengutarakannya kepadamu"


Vanya tersenyum tipis. Tatapannya mensrobos bingkai jendela yang menawarkan pemandangan yang cukup memanjakan mata itu.


Vanya Flashback Off


Vanya menghempaskan tubuhnya pada kasur empuk yang selalu memanggil-manggil tubuh lelahnya itu.


"Aku harus bagaimana...?" ucap Vanya.


Tangannya berulangkali mengusap wajah lelahnya. Semenjak itu fikirannya makin mengembara menelusuri tiap relung hatinya yang tengah beriak.


"Apakah aku pun mencintai kak Elvano? Tapi...rasa yang ku rasakan selama kedekatan kami, aku yakin itu bukanlah cinta. Karena getar dan degup pada jiwa ku tak mengisyaratkan apa pun. Dan itu sebuah perasaan yang amat biasa saja. Lain halnya saat aku melihat dan berada dekat Ryu. Ah, apa yang harus aku lakukan...?"


Perang batin Vanya sudah di mulai. Sebuah kegamangan terhadap perasaannya saat ini. Sungguh sebuah dilama yang pasti akan membuat Vanya tak nyenyak tidur danntak enak makan.


"Ryu...apakah perasaan mu terhadapku Sama seperti yang kurasakan? Ah, bagaimana jika tidak? Apa yang harus aku lakukan? Kak Elvano...aku harus apa?"


Perang batin pun terus berlanjut tanpa disadari jika malam sudah merangkak semakin jauh. Vanya masih terus menelusuri setiap rasa yang ia temui di tiap relung hatinya.


"Kak El...sedikit saja getaran di hati ini. Dan Kak Ryu...Ya, Tuhan mengapa aku menjadi semakin gelisah saat mengingatnya. Apa kak Ryu adalah sosok yang aku cintai sebenarnya...?"


🌸🌸🌸🌸🌸


Sementara itu jauh dikeheningan malam seorang laki-laki tengah berdiri di balkon ruang pribadinya. Matanya menatap langit yang masih saja ditemani bintang dan bulan separuh di sudutnya. Laki-laki itu berulangkali menghela nafas. Dan bibirnya pun berulangkali menyebut sebuah nama dengan penuh perasaan.


"Vanya..." begitu ucapnya.