150 Cm

150 Cm
Episode 17. Terungkapnya Kejahatan Andrea



"Tangani dengan teliti. Satu kesalahan kecil saja akan membaut kalian menerima hukuman..." ucap Mirza pada dokter, perawat dan staf yang ada saat itu.


"Baik, Tuan. Kami berusaha semaksimal mungkin..."


"Mungkin katamu...?!" Mirza berang.


"Maaf, Tuan. Maksudnya berusaha dengan maksimal..." ucap Faaz yang baru saja datang. Wajahnya tampak lelah setelah dua jam berjibaku di ruang operasi.


Melihat kedatangan Faaz, Mirza memilih duduk pada sebuah kursi.


"Ingat perbincangan terakhir kita..." ucap Mirza setengah berbisik sesaat sebelum berlalu.


Rupanya perang dingin sudah di mulai sejak pernyataan perasaan Faaz kepada Arumi pagi tadi. Mata Mirza tajam mengawasi pintu ruang tindakan. Ini adalah kali dua ia berada di rumah sakit untuk orang yang bukan siapa-siapa dan untuk orang yang sama.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Mirza berpendar. Ia tampak menghela nafas panjang saat mengetahui si penelepon.


"Ya, Ma...?"


"Bagaimana kabar, Arumi..?" dari suaranya, jelas jika Dania khawatir.


"Sedang di tangani team dokter..."


"Jangan buat ulah dengan mengancam dokter dan perawat, Za..."


"Ya, Ma.."


"Om Permana sudah di hubungi belum?"


"Belum. Dan sepertinya Om Permana juga masih di luar kota..."


"Ya, sudah nanti papa mu yang berkirim kabar kepada Om Permana. Kau jaga Arumi. Jangan lupa perhatikan juga Darius. Dia sudah membantu menjaga Arumi..."


"Ya, Ma..."


Tut.


Tut.


Tut.


Sambungan pun terputus membuat dahi Mirza mengernyit. Sesaat tangan Mirza memijat kepalanya sambil menyandarkan tubuh pada sandaran kursi yang ia duduki.


"Maaf kan aku, Arumi. Aku gagal menjaga mu kali ini seperti janji ku pada ayah mu" batin Mirza.


KREEEK...!


Pintu ruang tindakan terbuka. Faaz melangkah gontai menghampiri Mirza yang tengah memejamkan mata, walau tak tidur.


"Tuan, Bro... Gadismu ingin diinapkan di sini atau di rumah?"


"Di rumah..." ucap Mirza cepat. Karena ia tahu jika Faaz sudah memberikan pilihan tersebut artinya Arumi baik-baik saja.


"Apa Arumi baik-baik saja..?"


"Semua hasil Rontgen, CT scan dan hasil observasi team dokter Arumi baik-baik saja. Luka lebamnya satu-dua hari akan hilang..."


"Baiklah. Aku bawa dia pulang..."


Berdiri Mirza menuju ruang tindakan. Langkahnya sedikit cepat di iringi Faaz. Sesampainya dalam ruangan mata Mirza menatap Arumi yang tengah duduk di bibir brankar. Tanpa bertanya apa pun, Mirza langsung mengajak pulang Arumi.


"Kita pulang sekarang. Cepat..." ucap Mirza datar dengan wajah mode dingin.


Tampak dua perawat membantu Arumi turun dari brankar. Dan tanpa ba-bi-bu lagi Mirza pun berlalu meninggalkan ruang tindakan diiringi Arumi yang berkali-kali mengucapkan maaf dan terima kasih kepada dokter dan perawat yang ada. Dan saat matanya beradu dengan Faaz ia menghentikan langkahnya.


"Terim kasih, Kak..." ucapnya.


Faaz mengangguk kecil dan tersenyum tanpa mengeluarkan kata apa pun. Faaz masih berdiri menatapi kepergian gadis yang sudah membuat hatinya cenat-cenut itu hingga sebuah pesan membuat ponselnya berpendar.


TRING...


"Rawat Darius dengan sungguh-sungguh jika ingin ku maafkan perbuatanmu yang sudah berani-berani menyentuh gadisku..." begitu pesan Mirza.


"Hadeuh... dasar tuan arogan!" ucap Faaz direspon dengan senyum oleh dokter dan perawat yang mendengarnya.


"Cepatlah, Arumi. Pendek sekali kaki mi itu. Merepotkan sekali. Ternyata musuh mu itu banyak juga ya..."


"Aku tidak merasa memiliki musuh, pak. Mereka saja yang menganggap ku musuh. Oya, mas Darius giman?"


"Darius sudah ditangani..." ucap Mirza datar.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Sial.....!! teriak Andrea.


BRAK...!!


PRANG...!!


Amarah tengah ia rasakan saat mengetahui rencananya gagal. Karena amarahnya beberapa benda di sekitarnya menjadi sasaran amukannya. Gemuruh di dadanya benar-benar membuatnya arogan.


Duduk Andrea di bibir meja. Matanya menatap nanar dibarengi nafas yang memburu. Bibirnya tak henti komat-kamit bergumam.


"Tunggulah pembalasanku, Arumi. Malam ini kau boleh lolos, tapi tidak di malam-malam selanjutnya. Aku bersumpah dengan tangan ku sendirilah kau akan mendapat pelajaran. Mati pun aku akan menghalalkannya untuk mu. Awas kau gadis abnormal...! Ini akibat jika ingin merebut kekasih ku.." batin Andrea.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


"Ya, Mi..." ucap Andrea memulai percakapan di ponsel yang baru saja berpendar.


"Sayang kamu dimana..?"


"Di apartement..."


"Tak bisakah pulang? Ada yang ingin mami bicarakan padamu?"


"Sepenting itukah? Kalau tidak terlalu penting, mami bicarakan lewat telepon saja. Pekerjaan kantor Andrea sedang banyak-banyaknya Mi..."


"Begitu ya. Kalau begitu sebagai pendahuluan mami sampaikan bahwa mami ingin menikah lagi..."


"What...! Mami tidak salah kan?"


"Tidak. Kami saling mencintai, Andrea. Apa itu salah...?"


Tut.


Tut.


Tut.


Andrea menutup paksa percakapan tersebut. Hatinya makin geram.


"Sial....!!" teriak Andrea.


Tangannya menyapu semua hal di atas meja kerjanya. Tak ayal lagi suasana menjadi begitu gaduh. Dimulai dengan suara gedebukan benda jatuh hingga suara klontang banda beradu mewarnai ruang kerja di apartemennya.


Tak lama kemudian, Andrea memilih berlalu keluar ruangan. Tangannya menyambar tas dan ponsel dan menutup pintu dengan keras hingga membuat terkejut dirinya sendiri.


Langkah Andrea begitu cepat menuruni anak tangga hingga ke areal parkir dimana mobil mewahnya terparkir. Dan kemudian secepat kilat Andrea memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Satu tujuannya kini memenuhi permintaan maminya.


Satu jam perjalanan, akhirnya Andrea sampai di halaman sebuah rumah mewah di kawasan elite kota B. Tanpa bersuara sedikitpun, Andrea masuk dan menghempaskan tubuhnya pada sebuah sofa. Sadar kehadiran putri pertamanya, Sonia datang dan memeluknya erat.


"Anak mami datang juga..."


"Jangan terlalu banyak basa-basi, Mi. Cepat jelaskan maksud mami di telepon tadi..."


"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Hanya perlu dimengerti saja..."


Seorang laki-laki melangkah mendekati keduanya. Laki-laki paruh baya itu tampak berkharisma dan jelas jika ia laki-laki yang tampan. Terlebih tubuhnya masih kekar dan tegap.


"Oh, ini Tuan Permana. Laki-laki yang akan menikahi mami"


"Wah, kedua anak mu cantik-cantik ya..."


"Anak mas juga cantik..."


Mendengar kedua orang tua yang saling memuji itu, Andrea pun memutar matanya. Jengah...


"Bagaimana...?" Bisik Sonia sambil mencolek dagu Andrea.


"Baiklah. Tapi aku punya syarat..."


"Katakan..." ucap Permana.


"Aku ingin mobil mewah keluaran terbaru..."


"An...!" seru Sonia.


"Tidak apa-apa..." ucap Permana.


"Tapi, Mas..."


"It's ok. Kemana saya harus mengirimnya?"


"Gunakan saja alamat rumah ini..." ucap Andrea sambil berlalu.


"An, mau kemana sudah malam?"


"Bertemu teman...Setelah itu aku baru pulang besok aku mulai kerja lagi"


Sikap Andrea benar-benar membuat Sonia jengah. Ingin rasanya ia menampar wajah putri pertamanya itu jika saja laki-laki yang akan segera menjadi suaminya itu mencegahnya.


🌸🌸🌸🌸🌸


Mobil mewah Andrea kembali melesat. Kali ini ia hanya menempuh perjalanan selama dua puluh menit dari rumah mami nya.


Andrea menerobos pintu rumah yang tampak tertutup namun tak dikunci itu. Seorang laki-laki berwajah tampan tampak mengembangkan tangan dan mendekap erat Andrea.


"Hei, kok cemberut...? Ada apa?"


"Ah, si gadis sialan itu selalu saja berhasil lolos..."


"Sudahlah. Jangan terlalu difikirkan. Lebih baik kita bersenang-senang..." ucap laki-laki itu yang ternyata bernama Billy. Ia menciumi daun telinga Andrea. Memberi sedikit hembusan hangat di sana hingga sukses membuat gadis itu terkikih merasakan sensasi yang dibuat laki-laki teman bersenang-senangnya itu.


Melihat tawa gadis yang ia cintai itu, Billy semakin bergairah. Terlebih saat melihat bibir merona Andrea. Billy langsung ********** tanpa ampun. Tubuh Andrea bergelinjang menerima sensasi tersebut. Dan pada akhirnya keduanya asyik bermain pada **** *****.


(Eaaa....untuk selanjutkan ditebak-tebak sendiri aza ya apa yang dilakukan keduanya. Mamake takut melanjutkan. Khawatir keterusan. 😁😁


🌸🌸🌸🌸🌸


Malam semakin merangkak jauh. Pekatnya malam mulai melenakan insan setelah peluh membidik lelah di siang hari. Arumi bersandar pada kursi dalam mobil. Matanya terpejam. Mungkin rasa lelahnya telah mengalahkan kesadarannya hingga tak peduli jika sejak tadi pucuk kepalanya selalu di usap Mirza dengan sebelah tangannya.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


"Ya, El..."


"Satrio dan lainnya telah berhasil menemukan siapa dalang dari peristiwa malam dan aku harap kau datang ke markas dahulu agar kita bisa bincangkan sejenak..."


"Baik. Aku OTW... Aku bersama Arumi"


Lima belas menit perjalanan, akhirnya mobil pun berhenti pada sebuah bangunan. Mata Mirza menatap Arumi yang masih terlelap. Sekali lagi ia mengusap pucuk kepala Arumi. Bibirnya menyunggingkan senyuman. Entah apa yang ada dalam hati dan fikiran Mirza saat itu. Apakah ia mencintai Arumi? Atau....Ah, sepertinya hanya dia dan Tuhan yang tahu.


Kesadaran Mirza pulih saat kaca jendelanya di ketuk. Mirza terjengkit karena baru saja kembali dari suatu pengembaraan fikiran yang panjang


Tok.


Tok.


Tok.


Mirza membuka kaca jendela. Matanya menatap Arumi sejenak sebelum beralih pada sosok yang kini tengah menjura takzim.


"Tuan..."


"Satrio...tolong siapkan meja dsn kursi. Kita berbincang di halaman ini saja"


"Egh..."


Mendengar perintah sang tuan, Satrio mendongakkan kepalanya sesaat. Ia ingin tahu apa yang sedang terjadi pada tuannya itu. Karena hal tersebut di luar kebiasaan.


"Kamu tidak dengar apa yang saya katakan barusan...?!" ucap Mirza. Suaranya sedikit penekanan dengan kilat mata yang tajam.


"Baik, Tuan..."


Satrio pun berlalu dan langsung mempersiapkan hal yang diminta sang tuan. Sedikit tergesa langkah Satrio saat meninggalkan Mirza yang masih memasang mode perang itu.


Sejurus kemudian, semua telah berkumpul. Soft drink dan cemilan pun menghiasi meja. Mirza pun keluar mobil dengan hati-hati. Ia khawatir pergerakannya dapat membangunkan Arumi yang tertidur pulas.


Elvano tersenyum melihat polah sahabat sekaligus bosnya itu.


"Seperti bukan Mirza..." batin Elvano.


Mirza duduk dengan memasang mode datar pada wajahnya. Tak ada yang berani membuka suara. Terlebih hal yang akan dibicarakan merupakan sesuatu yang sangat sensitif karena berkenaan dengan masalah pribadinya.


"Satrio...jelas hasil penyelidikan mu..." ucap Elvano sambil menatap Satrio.


"Baik, tuan. Em, kita sudah memiliki bukti kuat untuk menjerat pelaku utama atas tindakannya terhadap nona Arumi di dua peristiwa yang dialaminya. Dari penyelidikan yang dilakukankita mendapat bukti-bukti berupa rekaman CCTV, transkrip pesan dan percakapan di ponsel pelaku juga pengakuan pelaku berdasar informasi kepolisian, maka pelakunya mengarah pada...."


Penjelasan panjang Satrio berhenti pada saat ia harus menyebutkan sosok pelaku utama. Mirza mengangkat kepalanya menatap Satrio yang tengah tergugu tak sanggup berkata lagi.


"Lanjutkan...." ucap Mirza menatap Satrio. Wajah dinginnya tampak menunggu hasil akhir penjelasan Satrio.


Bersamaan dengan itu semua yang hadir tampak menyimpan tatapannya pada ujung sepatu mereka yang tampak berkilat ditimpa pendar lampu taman.


"Ada apa dengan kalian? Mengapa semua diam? Aku tak butuh diamnya kalian. Aku hanya butuh nama dari pelaku tersebut. Katakan...!" nada bicara Mirza mulai berubah. Begitu pun dengan wajahnya.


"Kecuali saya, Satrio dan Pandu. Yang lainnya boleh meninggalkan tempat ini. Kembali pada posisi masing-masing..." ucap Elvano.


Mendengar itu, kesepuluh laki-laki bertubuh kekar dan tegap itu berlalu meninggalkan tempat menyisakan orang yang disebut Elvano.


Mata Mirza menatap satu-satu orang-orang kepercayaannya itu. Ada sebuah tanya besar di ujung tatapannya.


"Terkadang kalian senang sekali berteka-teki. Sial menjadi seorang Mirza yang hanya dijadikan objek tatapan tak penting kalian itu..." ucap Mirza.


"Jadi dari hasil penyelidikan, pelaku itu adalah...Andrea" ucap Elvano.


JGAARRR.....


Tersentak hati Mirza. Wajah kaku nya sedikit berubah. Ada gemuruh dalam dadanya kian membuncah. Separuh hatinya tengah menolak setiap keterangan yang mengarah pada sebuah kenyataan.


Mengetahui dengan pasti bagaimana perasaan Mirza saat ini, Elvano pun memutar transkrip percakapan antara Andrea dan eksekutor yang tak lain adalah laki-laki berpakaian nyentrik. Mirza terdiam. Kedua tangannya mengusap wajah dengan perlahan. Dan kemudian, tanpa berkata apa pun Mirza meninggalkan sahabat dan kedua orang kepercayaannya itu.


Mirza kembali duduk di belakang kemudi mobil sport silver miliknya. Matanya menatap Arumi sejenak yang masih terlelap. Kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Sementara itu, Elvano, Satrio dan Pandu masih duduk pada kursi masing-masing. Ketiganya saling bertatapan saat mendapati sikap Mirza yang tak sesuai prediksi mereka. Semula mereka berprediksi akan ada emosi yang meledak-ledak dengan benda melayang atau hancur, namun ternyata semuanya terbantahkan. Mirza lebih memilih diam, hanya kilatan matanya saja yang tampak berbeda.


"Lalu bagaimana, tuan El...?"


"Kita tunggu perintah tuan Mirza. Tapi tetap awasi Andrea, ikuti setiap pergerakannya. Laporkan segala sesuatunya kepada saya kapan pun itu. Dan satu lagi tambah penjagaan terhadap nona Arumi..."


"Baik, Tuan..." jawab Satrio dan Pandu hampir bersamaan.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Elvano berpendar. Matanya menyipit saat mengetahui isi sebuah pesan yang di kirim Mirza.


"Aku butuh waktu dan memberi kesempatan hatiku untuk menerima kenyataan ini. Tak lama. Tetap awasi Andrea..."


Elvano menghela nafas. Ia tahu betul apa yang tengah dihadapi sahabatnya itu. Sebuah dilema besar tengah mengguncang pendiriannya. Dan sikap melemah yang di tunjukkan Mirza adalah sebuah kewajaran karena kenyataan yang ada berkaitan dengan gadis yang sangat ia cintai, Andrea.