
Elvano memacu motor sport nya dengan kecepatan tinggi. Lajunya sukses membuat debu dan dedaunan kering beterbangan sesaat untuk kemudian kembali menyentuh bumi.
Fikiran Elvano melambung jauh. Sesaat hingga pada seulas wajah manis milik Vanya. Gadis manis itu selalu membuat Elvano tak enak makan dan tidur. Terlebih pada situasinya saat ini. Elvano tengah dilanda wabah cemburu. Lebih tepatnya patah hati.
Elvano kian memacu laju motor sport nya. Kali ini bak angin melintasi setiap lajur jalan raya. Karena kecepatan yang maksimal, Elvano menjadi kurang waspada. Ia tak melihat jika arah sebelah kirinya ada sebuah kendaraan yang melaju.
CIIIIIIT....!
Suara mesin mencicit. Suaranya mengisi udara penuh kepanikan. Bak terbang, motor sport Elvano terangkat bagian belakangnya dan berhenti hanya beberapa cm saja dari sebuah kendaraan lainnya.
BREEEM.....!
Waktu seakan bergerak lambat saat itu. Pun demikian, tetap saja menyisakan deru motor sport Elvano. Dedaunan kering pun sempat beterbangan sesaat mengiringinya.
Bukan hanya kepanikan yang timbul, namun decak kagum dari pengguna jalan lainnya atas aksi Elvano tersebut. Sementara Elvano sendiri, tengah terkesiap. Bukan disebabkan peristiwa yang hampir menimpanya, namun karena sosok perempuan yang tengah menatapnya. Perempuan yang hampir saja bertabrakan dengan nya.
Deg.
.
.
.
Irama degup jantungnya begitu terasa. Irama yang begitu lama hanya untuk Vanya. Tapi hari menjadi aneh bagi Elvano saat merasakan hal tersebut.
"Apa ini? Mengapa jantung ku berdegup seperti ini!" batin Elvano.
"Heeei....!!" ucap gadis itu sambil menatap tajam Elvano.
"Yang bayar pajak bukan kau saja. Aku juga bayar pajak. Jadi jangan semena-mena di jalan..." ucap gadis itu penuh penekanan.
Deg.
.
.
.
Barulah kali ini Elvano diam seribu bahasa. Ia terpesona. Sejenak bayangan Vanya menghilang dari peredaran fikirannya.
"Ma-maaf...." ucap Elvano rikuh.
Gadis itu pun langsung men-starter motor metik-nya. Dan langsung berlalu tanpa menatap Elvano yang masih terdiam.
"Sial...! Baru kali ini aku terdiam di hadapan seorang gadis" batin Elvano.
"Em, tunggu...." ucap Elvano.
Tak butuh waktu lama, Elvano berhasil mensejajari motor metik gadis tersebut.
"Aku Elvano...! Nama mu siapa?!"
Gadis itu hanya melihat dengan ekor matanya. Katanya pun mandul karena ia kembali fokus pada laju kendaraannya.
"Ah, sial...! Dicuekin lagi..." batin Elvano.
"Apa nona baik-baik saja..?!" ucap Elvano berusaha menghentikan laju motor metik gadis tersebut.
"Heeei...Apa mau mu?!" ucap gadis itu.
"Aku hanya ingin memastikan keadaan mu"
"Seperti yang anda lihat, aku baik-baik saja. Hanya jantung ku saja yang tadi sempat hampir copot"
"Copot...? Kalau begitu kita cek ke rumah sakit dahulu. Demi kebaikan mu dan ketenangan ku"
"Ketenangan mu? Setelah tindakan arogan mu tadi, seenaknya saja anda berkata seperti itu"
"Ya...untuk hal itu aku minta maaf. Aku sedang dalam masalah"
"Curhat...?"
"Oh, tidak. Sekedar informasi. Hehe..." ucap Elvano sambil menggaruk tak gatal.
"Karena aku sudah diketahui baik-baik saja, maka aku harap anda jangan mengikuti ku lagi..."
"Oh, tidak bisa demikian. Aku harus memastikan kondisi mu dahulu selama....3 bulan. Ya 3 bulan" modus Elvano.
"Aku Elvina...." ucap gadis itu disertai senyum tipis.
"Elvina...?"
"Kenapa...? Aneh?"
"Oh, tidak. Bagus dan..."
"Dan apa...?"
"Em, mirip dengan nama ku. Elvano. Hehe..."
Gadis yang baru diketahui bernama Elvina itu tersenyum. Matanya menatap Elvano ramah.
"Astaga.... matanya begitu indah" batin Elvano.
"Mengapa aku begitu mudah memberikan nama mu kepada laki-laki ini. Hal di luar kebiasaan ku. Tapi...mengapa jantung ku tak karuan seperti ini? Ya, Tuhan..." batin Elvina.