150 Cm

150 Cm
Episode 36. Hukuman



Mata Mirza menatap bola mata indah itu dengan penuh perasaan.


"Kenapa bapak menatap saya seperti itu?"


"Mata mu indah, Ar. Mata mampu membuat ku tenang. Bahkan saat amarah ku memuncak mencapai ubun-ubun"


"Ah, bapak. Bisa juga nge-gombal..." ucap Arumi sambil memutar tubuh menatap keriuhan di bawahnya. Ya, Arumi dan Mirza memang tengah berada pada sebuah balkon di salah satu ruangan kediaman keluarga William.


"Aku tidak nge-gombal. Ini kenyataan. Kau tahu, aku sudah jatuh hati kepadamu berulangkali...?"


"Egh..."


Mata Arumi beralih menatap Mirza yang berdiri di sebelahnya dengan tubuh tinggi menjulangnya. Arumi menghela nafas.


"Ada apa...?"


"Apa bapak tidak akan lelah untuk selalu membela saya saat dicemooh seperti tadi? Apa bapak tidak akan terganggu dengan tatapan miring tentang bapak jika bersama saya?"


"Sayang...Aku tidak peduli dengan semua ocehan orang. Toh, aku yang menjalaninya bukan mereka..."


"Sampai kapan bapak akan memperlakukan saya seperti ini?"


"Sampai maut memisahkan kita..."


"Sungguh...?"


"Andrea bagaimana?"


"Mengapa kau menyebutnya...?"


Mirza surut ke belakang dan memilih duduk pada sebuah kursi.


"Bukankah bapak sangat mencintainya...?"


"Itu bukan cinta. Itu hanya obsesi untuk menaklukkan gadis cantik..."


"Apa bapak seorang Casanova yang dengan mudahnya bergonta-ganti pasangan...?"


KTAK....!


"Aw...."


Jemari Mirza kembali mampir di kening Arumi dan membuat gadis itu meringis. Tangannya tampak mengusap-usap bekas sentilan maut Mirza.


"Aku bukan Casanova, tapi aku Casablanca. Puas...!"


"Egh...apalagi itu?"


"Casablanca itu laki-laki yang lebih kejam dari Casanova. Karena ia akan suka sekali menerkam gadis-gadis. Seperti ini, Aauum..." ucap Mirza seakan hendak menerkam Arumi.


Melihat gelagat yang kurang baik, Arumi langsung membuka jurus. Mirza lupa jika gadisnya itu mahir ilmu beladiri.


BUK...


DHUAK...


"Akh....!"


Mirza meringis. Dua buah pukulan tepat hinggap pada wajahnya. Tangannya mendekap bekas pukulan Arumi. Mata Mirza sedikit terpejam, karena pada kenyataannya Mirza masih dapat melihat bagaimana reaksi Arumi setelah memberinya dua pukulan.


Mirza hampir tertawa saat mendapati reaksi Arumi. Terbersit di benak Mirza untuk mengerjainya. Mirza terduduk lesu sambil menahan sakit.


"Sesekali acting dan mengerjai Arumi rasanya sah-sah saja. Hehe.." batin Mirza.


"Bapak...tidak apa-apa? Maaf aku tidak sengaja. Itu refleks" ucap Arumi sambil menggigit bibir dan mengibaskan jemarinya. Ia khawatir.


Melihat Mirza terduduk lesu di lantai. Arumi benar-benar khawatir. Kemudian secepat mungkin Arumi menghampiri Mirza.


"Pak..Pak...!" ucap Arumi sambil mengguncang tubuh Mirza.


"Bhak....!!!"


Mirza mengejutkan Arumi hingga gadis itu berjingkat menjauh. Wajahnya pasi karena rasa terkejutnya. Berhasil dengan kejutannya, Mirza justru tertawa.


"Bhuahaha....."


"Ish, bapak mengerjaiku ya...?"


"Maaf. Maaf, sayang. Jika tidak demikian, mana mungkin aku tahu bagaimana rasa khawatir mu itu.."


"Au ach..." jawab Arumi sekenanya saja.


Mirza masih saja terkekeh kecil.


"Pukulan mu boleh juga, Ar. Wajah tampan ku saja sukses kau buat begini..." ucap Mirza sambil mengusap ujung bibirnya yang tampak basah oleh lelehan darah.


"Duh...maaf ya, Pak?" ucap Arumi dengan rasa bersalah.


"Hei...tidak apa-apa. Sungguh. Dengan begitu aku bisa sedikit tenang jika kau berada jauh dari ku. Karena kau bisa menjaga dirimu..."


"Oya, tentang Andrea. Jujur aku hanya ingin merasakan yang namanya cinta. Menikmati perasaan itu. Aku memilihnya karena ia teman semasa kuliah ku dahulu. Ia baik, perhatian dan tentu saja cantik. Walau ada hal yang terkadang sedikit menggangguku. Dia materialistis. Tapi ku anggap itu bukan sifatnya. Itu terlebih bahwa ia ingin menyatakan diri sebagai wujud kedekatannya kepada ku. Dan rasa memiliki ku. Dan aku senang-senang saja. Toh hartaku tidak akan habis hanya karena aku memberinya beberapa ratus juta saat ia membutuhkannya. Ku harap kau pun demikian. Jangan sungkan kepada ku. Terlebih aku adalah calon suami mu..."


"Jika aku demikian. Lalu apa bedanya aku dan Andrea...?"


"Jelas kau berbeda. Bersama mu aku mendapatkan cinta sesungguhnya. Aku merasakan perasaan yang luar biasa saat dekat atau pun jauh dari mu. Perasaan yang tak pernah kudapat saat menjalin hubungan dengan Andrea sekali pun..."


Mirza meraih tangan Arumi dan menariknya agar lebih mendekatinya. Sekali waktu ia pun mencium lembut tangan Arumi dan mengusapnya penuh perasaan.


"Oya, aku memberi mu debit card. Dan kau tidak menggunakannya sedikit pun. Ini juga membuatku penasaran. Kenapa?"


"Karena aku tidak butuh. Uang bulanan dari ayah saja sudah cukup bahkan terkadang lebih. Jadi untuk apa aku memakai kartu ajaib milik bapak..."


"Itu milik mu. Aku sengaja membuatnya agar aku bisa memenuhi segala kebutuhan mu..."


"Itu bukan kewajiban, bapak. Ayah ku masih mampu melakukannya. Jangan mengambil tanggung jawab yang belum menjadi tanggungjawab bapak..."


"Tapi aku calon suami mu..?"


"Calon...bukan suami"


"Apa salahnya aku memberikannya. Aku hanya ingin membuat mu bahagia.."


"Ada banyak cara membuat ku bahagia. Dan bagi ku harta bukanlah hal utama untuk membuat bahagia..."


"Ah, aku jadi malu dengan semua ucapan mu itu. Kemarilah..." ucap Mirza.


Tangan Mirza menarik Arumi dengan sedikit menghentaknya membuat Arumi semakin dekat dengannya. Bahkan terlalu dekat. Hampir tak berjarak.


K**REEP...


Mirza memeluk erat Arumi.


"Egh..."


Jantung Arumi berdegup hebat. Iramanya kian bertalu saat tangan kekar itu makin mengeratkan kalungan tangannya pada tubuh Arumi.


"Ap-apa yang bapak lakukan..."


"Aku sedang menghukum mu. Biarkan seperti ini beberapa saat"


"Ini tidak baik, Pak. Kita belum suami istri"


"Hanya seperti ini..." ucap Mirza sambil memberi kecupan lembut pada bahu dan naik ke area tengkuk Arumi.


"Ah, sial...! Mengapa aku menikmatinya? Dan mengapa ada perasaan menuntut yang sulit ku kendalikan..." batin Mirza.


Bersamaan dengan itu, Arumi pun langsung berdiri dari pangkuan Mirza. Matanya menatap Mirza lekat.


"Apa bapak memperlakukan semua gadis seperti itu..." ucap Arumi dengan nafas sedikit memburu. Rupanya Arumi pun turut menikmati perlakuan Mirza barusan. Beruntung ia berhasil membangunkan kesadarannya.


"Maaf...Aku tidak bisa menahan diri. Jujur ini yang pertama kali"


"Apa dengan Andrea bapak tidak melakukannya?" ucap Arumi bernada sindiran.


"Tidak. Selama ini Andrea yang menuntun ku. Dan aku tidak pernah merasakan hasrat yang seperti tadi. Maafkan aku..." ucap Mirza sambil membuang tatapannya. Ia merasa malu atas perlakuannya barusan.


"Setelah ini jangan lakukan lagi. Aku tidak bisa menerimanya. Berjanjilah..."


Mirza tersenyum. Upayanya berhasil untuk mengetahui bagaimana Arumi sebenarnya. Dan seratus persen Mirza yakin bahwa Arumi masih perawan tingting.


"Maafkan aku, sayang..."


"Duh, aku bermaksud menguji cintanya. Tapi jika begini terus maka iman ku lah yang sedang di uji. Kuat...kuatlah Arumi" batin Arumi.