
Pagi ini. Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit. Vanya duduk pada sofa di sebuah kantor. Ia tengah menunggu giliran last interview di perusahaan yang pernah dimiliki Ryu. Seperti yang sudah direncanakan, penampilan Vanya berbeda dari biasanya. Bahkan sulit dikenali. Berkacamata tebal, tahi lalat tampak mejeng di sudut bibir atas. Rambutnya pun diikat hingga leher jenjangnya terlihat jelas.
Vanya berdiri saat dipersilahkan untuk masuk ruangan HRD. Langkahnya gontai, bahkan lenggoknya untuk beberapa saat menarik perhatian pegawai yang mulai berdatangan.
Tok.
Tok.
Tok
"Masuk...." ucap seseorang dari dalam.
CILIK...
KREEEK....!!
Derit pintu terdengar saat daun pintu di buka. Vanya berdiri di ambang pintu. Ekor matanya menilik seisi ruangan.
"Mari silahkan, nona Vania..." ucap seorang laki-laki.
Vanya pun melangkah penuh percaya diri. Senyumnya terurai. Lagi-lagi lenggoknya menjadi pusat perhatian. Dan ketika sampai di hadapan seorang laki-laki, Vanya mengangguk takzim.
"Silahkan duduk...." ucap laki-laki itu yang tak lain adalah Wahyu. Orang kepercayaan Andrea dalam menjalankan perusahaan hasil dari merampas dari Ryu.
"Wahyu..." batin Vanya.
Wahyu mengumbar senyum. Selain senyum keramahan, juga terselip niat jahil yang mulai menduduki hatinya. Wahyu terpesona dengan kecantikan Vanya.
"Nona Vania...melihat Curriculum vitae (CV) dan pengalaman kerja anda, saya terkesan. Dan akhirnya saya harus mengatakan ini. Selamat anda diterima di perusahaan ini..."
"Sungguh, Pak...?" ucap Vanya berlagak tak percaya.
Karena dengan CV dan pengalaman kerja yang demikian, mustahil ada perusahaan yang menolak dirinya.
"Ya. Tentu saja..." ucap Wahyu sambil mengulurkan tangan.
Vanya pun langsung membalas uluran tangan Wahyu tersebut. Pun demikian ia tiada menatap mata Wahyu yang terasa melucuti dirinya itu.
"Baru kali ini aku merasakan jantung ku berdegup hebat. Semua karena pesona yang ada pada Vania. Wait...apa aku sedang jatuh hati?" batin Wahyu.
"Maaf, pak Wahyu. Apakah posisi yang akan saya tempati?"
Wahyu tersenyum yang sulit dilukiskan dengan kata.
"Kau asisten pribadi ku..." ucap Wahyu bernada menggoda.
"Egh...."
Vanya mengangkat wajahnya. Kali ini, Vanya menatap wajah Wahyu.
Deg.
.
.
.
"Astaga mata mu indah, Va. Dan perasaan ku semakin tak karuan begini. Fix...aku jatuh hati. Ternyata beginilah rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Haha.." batin Wahyu.
"Tatapannya bak ingin melahap ku. Waduh, ngeriii...." batin Vanya.
"Aku membutuhkan orang seperti mu, Va. Pekerjaan ku semakin menumpuk dan hampir seluruhnya date line..."
"Ow..." ucap Vanya singkat.
"Bagaimana...?"
"Siap, Pak..."
"Good...."
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"El, bagaimana Vanya. Sukses penyamarannya?"
"Berdasar info terakhir dari Vanya, ia berhasil diterima di perusahaan tersebut"
"Good. Dan ingatkan kembali misi yang harus ia jalankan.." ucap Mirza sambil terus memeriksa dan membubuhkan tanda tangannya pada berkas.
"Tapi...saya khawatir, Tuan"
"Hehe...Aku mengerti perasaan mu. Em, tempatkan satu atau dua orang kita di sana. OB atau OG..." ucap Mirza.
"Baiklah. Terima kasih, Tuan..." ucap Elvano sumringah.
Secepat mungkin, Elvano memutar tubuh. Ia bermaksud segera meluluskan ucapan Mirza yang bak perintah baginya itu. Namun niatnya itu terhalang karena kata yang Mirza ucapkan.
"Tapi tunggu..."
Kata Mirza sukses menghentikan langkah Elvano. Kini matanya menatap Mirza. Jelas ia menanti kelanjutan ucapan Mirza yang terasa menggantung itu.
"Kau harus tetap berhati-hati. Pilih orang kita yang benar-benar gesit dan mudah menguasai situasi segenting apa pun"
"Owh....Baik, Tuan" ucap Elvano sumringah.
Ada kelegaan yang luar biasa menelusup dalam relung hatinya. Artinya dengan menempatkan Vanya dalam penjagaan orang kepercayaannya, maka keamanan Vanya aman terjamin. Itu pun untuk beberapa waktu.
"Hei...segeralah, El"
"Ya, Tuan..."
Elvano pun melenggang meninggalkan ruangan bos besar pemilik MA Group itu. Langkahnya begitu panjang dan cepat. Ia tidak ingin menjadi terlambat atas rencana penjagaan Vanya, gadis yang sejak lama ia cintai itu.
Sembari melangkah, tangan kekar Elvano mengotak-atik benda pipih berwarna hitam yang baru saja ia keluarkan dari balik balero yang ia kenakan. Sebuah kontak pun berhasil ia hubungi.
"Siap, pak.Elvano. Ada perintah apa dari, Tuan?" ucap Dewa di ujung telepon.
"Tempatkan dua orang sebagai OB atau OG di perusahaan Ryu. Misinya adalah menjaga Nona Vanya dan membantunya memperlancar misi yang tengah ia lakukan"
"Siap, Pak Elvano. Segera saya kirimkan orang terpercaya kita yang cocok untuk tugas tersebut.."
"Terima kasih..." ucap Elvano di akhir teleponnya.
Elvano mengedarkan matanya dari balik jendela. Ia menatap sudut area taman di sudut kanan ruang kerjanya. Elvano menghela nafas. Ada riak yang timbul tenggelam dalam hatinya. Sejenak ia memejamkan matanya. Ia tersenyum saat seulas wajah nan cantik menyata dalam fikirannya.
"Vanya...." ucapnya lirih.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Uhuk...Uhuk...Uhuk..." Banyak terbatuk saat tersedak menu santap siangnya.
"Hati-hati, Vania..." ucap seorang laki-laki yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapan Vanya.
Sebelah tangannya menepuk-nepuk punggung Vanya atau Vania, begitu yang dikenal laki-laki itu. Dan Laki-laki itu tidak lain adalah Wahyu. Kemudian tangan menyodorkan segelas air mineral. Vanya langsung menyambar segelas air mineral itu dan menenggaknya hingga tandas.
Merah wajah Vanya. Nafasnya turun-naik dengan cepat. Bahkan matanya pun sudah dikerubuti bulir bening.
"Hati-hati, Vania. Ada apa? Ada yang sedang kau Fikirkan...?"
"Apa yang sedang aku fikirkan? Entahlah..."
"Vania..." ucap Wahyu.
Tangannya menggugah lengan Vanya yang masih tertegun.
"Ah, ya..Pak" Vanya terkesiap.
"Astaga... bisa-bisanya melamun ketika berada di hadapan ku. Atasan mu.."
"Maaf, Pak. Em...tadi ada pegawai yang membicarakan pak Ryu. Siapa dia? Apakah dia pemilik perusahaan ini seperti nama perusahaan ini?"
"Apa yang kau dengar?" ucap Wahyu bernada tegas.
Ada kesal yang terasa dari katanya. Matanya menatap lekat wajah cantik Vanya.
"Maaf, Pak. Saya hanya mendengar saja, tiada menanggapi pernyataan itu"
"Ya. Jadi apa yang kau dengar?"
"Sebuah perbandingan kepemimpinan saja. Segala keputusan dan kebijakan Pak Ryu jauh lebih berpihak pada pegawai. Berbeda dengan yang sekarang. Pak Wahyu....pak Ryu itu siapa?"
"Pemilik terdahulu perusahaan ini"
"Ow, jadi benar apa yang dibicarakan pegawai tadi?"
"Sudahlah...Aku harap kau tidak menanggapi pembicaraan mereka. Itu urusan atasan Kita bawahan. Tugas kita hanya bekerja..."
"Ya, Pak..." ucap Vanya sambil mengangkat tangan,, menghormat.
Wahyu tersenyum mendapati polah Vanya yang menurutnya cute itu.
"Aku akan mencoba mendekati pegawai tadi. Semoga aku mendapat dukungan dari mereka..." batin Vanya.