150 Cm

150 Cm
Episode 26. Gadis Ajaib itu...Gadisku



"Hei...bukankah itu Arumi" ucap Elvano.


"Ya, betul. Mengapa ia naik kendaraan umum begitu. Mau kemana dia?"


"Haruskah kita mengikutinya? Siapa tahu saja ada yang kangen setelah dua hari tak bertemu. Hehehe..."


PLAK....!


"Dasar kutu kupret...!" ucap Mirza sambil memukulkan lembar file kepada Elvano.


"Aduh, bos...tindak KDRT ini namanya" ucap Elvano sambil terkekeh.


"Rasakan itu..! Mau ku tambah dengan memotong gaji atau bonus mu? Hah...!"


"Jangan, Bos. Saya milih tindak KDRT saja. Hehehe..."


"Bagus. Hehehe..."


"Kita ikuti kah?"


"Sudah sejak tadi kau mengikutinya, kutu kupret..."


"Oya...Hahaha...."


"Pergi kemana kau, Arumi..."


Mobil mewah sport silver yang di kendarai Elvano melaju mengiringi kendaraan umum. Sedikit mengatur jarak khawatir Arumi menyadari kehadiran Mirza dan Elvano.


Tak lama kemudian, Arumi sudah kembali melangkah menuju sebuah rumah sederhana namun terbilang cukup luas. Tangannya membawa dua kantong berukuran besar berisi penganan dan beberapa keperluan lainnya. Dan saat kaki Arumi tepat di ambang pintu pagar terdengar suara riuh yang menyambutnya.


"Kak Arumiiiii....!" sambut anak-anak yang ditaksir usianya antara lima sampai sepuluh tahun.


"Kak Arumi lama sekali. Kami sudah menunggu sejak tadi..."


"Ya, maaf. Tadi ada kegiatan di kampus. Maaf ya...? Please...." ucap memelas Arumi sambil memainkan matanya berulangkali membuat anak-anak terkekeh.


"Kak Arumi boleh bertemu Bu Salma dulu tidak, sebelum kita belajar?"


"Boleh. Tapi jangan lama-lama ya..."


"Ok. Janji..." ucap Arumi sambil menyodorkan jari kelingkingnya dan mengaitkannya kepada jari kelingking salah satu anak, Darma namanya.


"Oya, kakak ada oleh-oleh. Sekarang ayo berbaris....!" ucap Arumi yang langsung diikuti anak-anak yang membuat barisan.


"Satu anak satu cemilan. Kalian bisa saling berbagi agar...???"


"Merasakan semua cemilan...." koor anak-anak yang di sambut dengan senyum khas Arumi.


Tanpa di sadari Arumi ada dua pasang mata yang memperhatikan aktifitasnya.


"Panti Asuhan Sekar..." baca Elvano.


"Arumi..." gumam Mirza sambil menyulam senyum kagumnya.


"Wow...gadis Lo ajaib, Bro..."


"Ya, aku baru tahu sisi lain gadis ku itu. El, ku rasa aku makin jatuh hati..."


"Cie....dari benci jadi rindu. Dari cuek jadi cinta. Hahaha...."


"Aku tak peduli dengan ocehan mu, kutu kupret...!"


Langkah Arumi gontai. Ia menemui seorang perempuan paruh baya. Ia adalah Bu Salma. Tersenyum Bu Salma saat melihat kehadiran Arumi, gadis yang beberapa bulan ini selalu rutin mengunjungi panti asuhannya.


"Assalamu'alaikum...Bu Salma?"


"Wa'alaikumussalam..."


Keduanya saling berpelukan. Terlihat sangat akrab.


"Kita duduk di teras saja Bu. Biar adem. Hehehe..."


"Terserah mbak Arumi saja. Yang penting mbak senang..."


"Ah, ibu bisa saja... Oya, Bu. Ini ada beberapa keperluan yang mungkin di butuhkan adik-adik di sini. Dan ini ada sedikit tambahan biaya. Mudah-mudahan bisa mengurangi beban pengeluaran panti..."


"Walah, mbak. Baru dua Minggu yang lalu mbak memberi uang dan keperluan anak-anak, sekarang mbak msmberi lagi. Ibu harus bagaimana membalas semua kebaikan mbak Arumi?" ucap Bu Salma sambil mengusap air matanya yang mulai terjun bebas.


"Jangan sungkan, Bu. Jika ada setiap hari pun Arumi akan berikan untuk adik-adik..."


"Mbak dapat darimana lagi uangnya?"


"Kemarin di kampus ada quiz, semacam ujian dadakan. Dan nilai tertingginya dapat hadiah. Ya, itu hadiahnya. Lima juta rupiah..."


Deg.


Mendengar penjelasan Arumi, Mirza tertegun. Hatinya beriak. Sisi kemanusiaannya tersentuh.


"Ah, kalau tahu uangnya akan dipakai untuk anak-anak panti mengapa tidak ku masukkan saja debit card platinum ku. Hehehe..." Mirza berseloroh.


Setelah berbincang sesaat, Arumi pun langsung menuju halaman kembali dimana anak-anak berkumpul. Bersorak anak-anak saat melihat kehadiran Arumi.


"Baik adik-adik, sekarang kita mulai...!!"


"Yeee.....!!!" sambut anak-anak. Suasana pun jadi gaduh sesaat.


Tak lama Arumi pun sudah duduk di depan anak-anak dengan memetik gitar. Riang dan bahagia terlihat dari interaksi yang terlihat. Menyanyi bersama anak-anak adalah hal yang paling menyenangkan bagi Arumi. Menurutnya itu ada hubungan mutualisme, yang saling menguntungkan. Sama-sama saling melengkapi untuk menjadi bahagia. Terlebih saat melihat wajah-wajah poLos itu tertawa dan ikut menyanyi bersama.


"El, aku makin jatuh hati..." ucap Mirza sambil terus menatap Arumi.


"Sabar ya, Bos. Dia akan menjadi milik Bos, jika Bos berhasil mendapatkan hati ya. Hehehe...."


"Dasar kutu kupret...! Ya, iyalah. Aku juga ngerti soal itu"


"Za, lihat..." ucap Elvano.


Mata keduanya langsung terkunci pada sosok laki-laki yang baru saja memarkir motor. Laki-laki itu tampak tersenyum saat Arumi melambaikan tangannya.


"Kak King......!!!" seru anak-anak yang langsung mengerubuti laki-laki yang cukup tampan itu.


"Kak King sudah pulang kerja ya..." ucap seorang gadis kecil, Nina.


"Ya, sayang. Nah, kalau begitu kakak masuk dahulu ya. Mau mandi dulu. Sudah bau acem. Belajar yang rajin dengan kak Arumi..."


"Siap laksanakan...!" ucap anak-anak sambil memberi hormat ala-ala aparat.


Arumi yang melihat itu terlihat menyulam senyum sambil menutup hidung dan memasang wajah lucu. Mendapati perilaku itu King langsung menyikut lengan Arumi. Dan sontak membuat gadis itu berkelit menghindar.


"Hati-hati...tunggu pembalasan ku"


"Aku tunggu pembalasan hanya..." ucap Arumi sambil menjulurkan lidah menggod King.


"Cieee...." seru anak-anak sambil terkikih.


Deg.


Deg.


Deg.


Jantung Mirza berdegup hebat menyaksikan interaksi tersebut. Tangannya mengepal dengan tatapan setajam golok si Pitung๐Ÿ˜œ


"Aku cemburu, Ar. Interaksimu begitu natural tidak kaku seperti saat bersamaku. Aku cemburu, Ar..." batin Mirza.


"El, cari tahu siapa laki-laki itu...?"


Elvano tersenyum. Ia tahu jika bos-nya itu sedang dilanda cemburu.


"Ada saingan, Bos...?"


PLAK...


Lagi-lagi gulungan file menyasar ke kepala Elvano dan membuat laki-laki itu meringis sambil mengusek kepalanya.


"Aku tidak tersaingi..." ucap Mirza angkuh.


Pun demikian, hati Mirza tetap berbisik untuk lebih berhati-hati dengan laki-laki yang baru saja meninggalkan Arumi dengan senyumnya itu.


"El, aku ingin tahu sejelas mungkin tentang dia. Latar belakang, pekerjaan dan sekecil apapun tentang laki-laki itu. Aku ingin informasi tentangnya sudah ada di meja ku esok sore..."


"Baik, Bos. Laksanakan...."


"Sekarang kita pulang..."


"Yakin? Tidak ingin melihat kelanjutan kisah sore ini?"


"Apa maksudmu...?" tanya Mirza dibarengi kekeh sesaat. Karena Mirza merasa pertanyaan Elvano menggelitik sisi konyolnya.


Namun saat melihat isyarat yang diberikan Elvano dengan kepala dan Tatapannya, mau tidak mau Mirza mengikuti isyarat tersebut.


Mirza tertegun saat melihat Arumi Arumi menerima helm dari tangan King. Rupanya King bermaksud mengantar Arumi pulang saat itu. Terkepal tangan Mirza menyaksikannya.


"Sial...!!"


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


"Terima kasih, King..."


"Sama-sama tuan putri..."


"Hahaha..."


"Kemana saya harus antar? Ke rumah atau ada tempat yang ingin di kunjungi dahulu?"


"Aku ingin ke galeri. Jadi tolong antar kan aku ke sana saja...."


"Baiklah..."


"Terima kasih ya sudah menjadi kakak untuk anak-anak panti. Mereka sangat menyukaimu..."


"Aku juga menyukai mereka. Adik-adik panti itu bagai obat bagi ku yang memberi ku semangat dan mengembalikan rasa percaya diri ku"


"Oya, bagaimana program diet mu?"


"Seperti yang kau lihat. Semua berjalan dengan baik. Kau tahu, aku merubah tujuanku berubah. Dan kau juga kak Faaz benar. Ketika aku berubah dengan tujuan untuk diriku sendiri, maka aku merasakan kebahagiaan. Tanpa beban. Semua berjalan lebih menyenangkan"


"Ya, aku tahu. Lalu bagaimana dengan laki-laki yang memberi mu kesepakatan itu? Apa dia sudah berubah menilai mu?"


"Dia sudah berubah. Dan dia sudah mengaku kalah. Dia mengatakan sudah jatuh cinta kepadaku. Tapi dengan perubahnnya itu, aku justru jadi takut dan aku sempat memikirkan perkataan mu..."


"Yang mana?"


"Bahwa mencintai itu harus ikhlas apa adanya, bukan ada apanya..."


"So...jadi sekarang kau mulai mempertimbangkan lagi cinta mu terhadap nya?'


"Hahaha....."


"Jadi kini sudah ada benih kebimbangan di hati mu nieh...?" ucap King saat tepat berhenti di galeri tujuan Arumi.


"Seperti dia aku pun memintanya agar dia mampu membuat ku jatuh cinta lagi kepadanya. Dan aku memberinya waktu empat bulan..."


"Bhuahaha....pembalasan terus berlanjut rupanya"


"Bukan pembalasan tapi pelajaran ringan. Hahaha..."


"Bagaimana jika ternyata dia tidak berhasil membuat mu jatuh cinta lagi padanya? Atau...justru dia menyerah di tengah perjalanan karena keegoisannya?"


"Artinya...kami tidak berjodoh. Hehehe.."


"Hehehe...Ok, baiklah. Yakin tidak ingin ditemani atau ditunggu?"


"Ya. Aku yakin. Terima kasih sudah mengantarku kakak King...'


"Sama-sama adik Arumi..." ucap King sambil mengusek pucuk kepala Arumi.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


"Ah, sial...!!" ucap Mirza sambil memukul kemudi. Rupanya kendali mobil mewah itu sudah berpindah kepadanya.


"Berani-beraninya dia melakukan itu kepada gadis ku. Hah..." dengus Mirza yang sukses membuat Elvano terhenyak dari tidurnya yang sesaat itu.


"Kenapa, Bos..? Sorry aku tertidur..."


"Kau bisa pulang sendiri kan? Kuberi ongkos taxi. Ok...?"


"Aish...selalu begini kalau berhubungan dengan cinta. Baiklah, mana ongkosnya...?"


Mirza pun mengeluarkan isi dompetnya dan menyodorkannya kepada Elvano.


"Astaga...cum selembar? Pengusaha nomor satu di Indonesia hanya memberikan uang selembar Rp100.000, kepada sahabatnya. Pelit sekali..."


"Itu karena kau menyebut diri mu sahabat. Seandainya menyebut diri mu asisten tentu aku tidak akan memberi mu apa-apa"


"Aish...bos pelit" ucap Elvano sambil menutup pintu mobil dan berlalu menuju jalan utama.


Sementara itu, Mirza yang mengenakan kemeja berwarna hitam langsung menuju galeri. Langkahnya begitu cepat seiring gerak bola matanya yang mencari sosok Arumi.


"Tuan..." sapa seorang laki-laki paruh baya yang sedikit terkejut dengan kehadiran Mirza.


"Mengapa Tuan tidak memberitahu jika ingin datang..."


"Tidak perlu sungkan pak Pramono. Saya hanya mampir karena melihat teman saya masuk galeri. Tapi tolong jangan memberitahunya jika saya pemilik galeri ini..."


"Baik, Tuan. Tapi siapa teman anda itu?"


"Nanti bapak akan mengetahuinya.." ucap Mirza dengan mata yang terus mengamati Arumi.


"Saya tinggal dahulu, Pak Pram..." ucap Mirza saat tubuh Arumi hampir menghilang di sisi ruangan lainnya.


"Baik. Silahkan, Tuan..."


Langkah Mirza begitu cepat menyongsong Arumi yang berada cukup jauh di depan nya. Setelah berhasil mengatur jarak, Mirza kembali tersenyum dan mengamati Arumi yang tengah asyik menikmati lukisan-lukisan yang tergantung di dinding. Tak lama seorang laki-laki datang menemui Arumi dan secepat mungkin Mirza menjaga jarak. Lebih tepatnya menyembunyikan diri di balik sebuah pembatas ruangan.


"Siapa laki-laki itu. Apakah pegawai di galeri ini? Ah, aku akan mencari tahu melalui pak Pramono. Em, ku ambil fotonya dan kirim ke pak Pram. Ok..." batin Mirza.


"Hei, Ar...Sudah lama?"


"Belum. Baru satu putaran melihat isi galeri"


"Hahaha...itu sih sudah lama, Ar..."


"Hehehe...."


"Bagaimana jadi ikutan pagelaran?"


"Jadi kak..."


"Kuliah mu, bagaimana?"


"Sudah mendapatkan izin..."


"Wih, hebat kamu..."


"Hahaha...ada seorang teman yang membantu"


"Aku tahu siapa yang membantu mu, Ar..." batin Kevin, laki-laki yang tengah berbincang dengan Arumi saat ini.


"Hebat kamu. Oya, kita berangkat besok sore ya. Kita berkumpul di galeri ini"


"Oke. Asyiap kk..."


"Kamu pulanh dengan siapa...?"


"Dengan saya...?"


Sontak Arumi dan Kevin menatap si empunya suara.


"Pak Mirza..." gumam Arumi


"Kita pulang sekarang?"


"A...Em. Ya, pulang sekarang" jawab Arumi setelah melihat kilat di mata Mirza.


Kemudian langkah keduanya yang hampir beriringan itu keluar dari galeri. Pintu mobil pun dibuka Mirza untuk Arumi. Setelah menutup pintu, Mirza mengitari mobil dan segera duduk di belakang kemudi dengan cepat.


"kenapa bapak ada di galeri ini?"


Mendengar pertanyaan Arumi, Mirza urung melajukan mobil mewahnya. Ia memilih sedikit menyandarkan bahunya dan menatap Arumi.


"Tidak penting..." ucap Mirza kemudian.


"Kita makan dahulu ya. Kau ingin makan dimana?"


"Terserah bapak saja...?"


"Baiklah..." ucap Mirza dengan menyimpan sedikit kesalnya.


Mirza pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga membuat Arumi kecut.


"Bapak sudah gila mengendari mobil seperti ini...?!


"Menurut mu...?"


"Aish...!" dengus Arumi kesal.


"Drive thru...?"


"Ya. Karena aku tidak ingin gadis yang aku cintai dilihat sembarang orang..."


"Aish...gombal"


"Hahaha...."


Arumi menatap Mirza yang sedang tertawa memperlihatkan deretan gigi putihnya. Ditambah lagi dua lubang yang menghiasi pipinya.


"Tampan sekali, Pak. Ah, dua lubang pada kedua pipinya membuat ia semakin tampan saja. Aish, sadar Arumi..Jangan terpengaruh" batin Arumi.


"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang aku yakini kau akan menyukainya. Kita makan di sana ya..." ucap Mirza sambil menunjuk paper bag berisi makanan.


Mobil pun kembali melaju mengarah ke tepi kota. Tak lama kemudian, pada sebuah tempat parkir Mirza menghentikan mobilnya. Merapikan sebentar pakaiannya lalu keluar mobil bersamaan dengan Arumi yang menjinjing paper bag.


Setelah melalui beberapa anak tangga, keduanya langsung dihadapkan pada pemandangan yang luar biasa. Arumi begitu takjub menatap kerlip lampu yang bak bintang bertaburan di angkasa bersaing dengan kerling bintang itu sendiri di sekitar bulan yang menggantung sempurna.


"Bagaimana persiapan pagelaran mu?"


"Em, lancar. Besok sore kami berangkat ke kota J"


"Wah, tak terasa sudah waktunya kau mengikuti pagelaran" ucap Mirza.


"Kenapa..."


"Kau akan lama di sana. Satu bulan. Dan aku akan dilanda kangen akut sepertinya..."


"Egh..."


Mata Arumi menatap laki-laki tampan di hadapannya. Ia masih belum bisa percaya bahwa laki-laki yang biasa irit bicara itu kini begitu lancar mengutarakan perasaannya.


"Apakah ini mimpi.." batin Arumi sambil mengucek telinganya.


To Be Continued...