150 Cm

150 Cm
Episode 33. Flashback Arumi



"Ya...Tuhan. Aku harus bagaimana? ucap lirih Mirza berulangkali.


Hatinya benar-benar gamang. Ia tak tahu langkah apa yang harus ia tempuh. Mirza tampak merenung. Ia hanya terdiam. Tiada kata yang terlontar sedikit mengikis tanya Bima, King dan Rio. Ketiganya tampak gamang melihat polah tuannya yang penuh misteri itu.


"Ada apa dengan Tuan Mirza. Aku jadi khawatir.."


"Ya, sejak tadi tingkahnya aneh dan mencurigakan"


"Benar sekali. Sejak pulang dari rumah remang-remang. Tepatnya setelah melihat rekaman CCTV. Sejak itu aku perhatikannya. Tuan hanya berjalan mondar-mandir atau pun berlama-lama duduk sambil menatap langit. Dan dari gesturnya aku tahu bahwa ia sedang tidak baik-baik saja"


"Assalamu'alaikum...Ayah"


"Wa'alaikumussalam....Za. Ada apa malam-malam begini menghubungi ayah? Adakah hal penting yang terjadi? Bagaimana kabar, Arumi?"


"Mengapa ayah masih berpura-pura tidak mengetahui keberadaan Arumi? Mirza tidak mengerti mengapa ayah melakukan ini?"


.


.


.


.


.


Hening. Tiada sahutan dari ujung telepon, dimana Permana berada.


"Maafkan ayah, Za. Ayah juga terikat sumpah. Jika Mirza ingin menemui Arumi datang saja ke jalan Anggrek 2 kota B. Tapi ayah harap Mirza tidak membuat Arumi menangis mengingat kondisinya kini"


"Ada apa dengan Arumi, Yah..."


"Lebih baik Mirza menemuinya dan bertanya langsung padanya"


"Terima kasih, Yah..."


"Apa yang terjadi pada mu, sayang? Mengapa kau tak menceritakannya kepadaku? Bukankah kita sudah sepakat..." batin Mirza.


Kemudian langkah Mirza semakin panjang menuju parkiran. Dan melajukan mobil sport silver dengan kecepatan tinggi. Mirza menuju sebuah alamat yang baru saja ia dapatkan dari Permana.


Dua puluh menit berkendara telah mengantarkan Mirza pada sebuah rumah di alamat yang diberikan Permana.


Malam merangkak semakin jauh. Hanya bintang dan bulan saja yang masih bertahan menghiasi langit. Sementara itu sebagian insan sudah mulai terlelap bergelung mimpi setelah beraktifitas pada siang hari.


Duduk termenung menatap langit. Mata Arumi menatap penuh perasaan. Setelah jauh dari Mirza selama hampir enam pekan, Arumi mantap dengan hati dan pilihannya. Pun demikian, bukan suatu keharusan bahwa ia berjodoh dengan Mirza. Karena masih ada satu tahap lagi untuk mencapai sebuah keyakinan. Arumi ingin menguji cinta Mirza. Karena Arumi ingin cinta yang ikhlas, dan apa adanya.


Arumi menghela nafas. Fikiranny kembali mengembara dan menyulam kenangan beberapa waktu terakhir.


Arumi Flashback On


HFFFTT...


Arumi sempat berontak saat sebuah tangan besar menarik dan membekap nya hingga ke dalam sebuah mobil. Saat itu suasana belum lagi ramai. Bahkan galeri dan kedai di sekitar penginapan belum buka sempurna. Sehingga tiada yang tahu jika ada kejadian menimpa seorang gadis saat itu. Kemudian Arumi lunglai setelah sebuah pukulan menghantam tengkuknya. Beberapa saat kemudian, mobil pun melaju meninggalkan pelataran pagelaran seni.


Sejurus kemudian, mobil pun berhenti pada sebuah rumah kayu bergaya tradisional. Kedua laki-laki itu pun menempatkan Arumi pada sebuah kamar dan meninggalkannya begitu saja setelah mengikat tangan dan kaki Arumi.


.


.


.


.


"Akh..." ucap Arumi tiba-tiba.


Mata Arumi mengerjap sebentar. Fikirannya berusaha mengambil kembali kesadarannya. Tak lama, mta Arumi sudah mengitari seisi ruangan serba putih itu. Ingatannya kembali menyasar pada kejadian sebelum ia berada di ruangan tersebut.


"Aku dimana?" ucap Arumi sambil berusaha melepaskan ikatan pada tangan dan kakinya.


KREEEK....!


Pintu ruangan terbuka. Dua laki-laki berdiri tak jauh dari ambang pintu.


"Siapa kalian?! Apa mau kalian?!"


Kedua laki-laki itu mengurai tawa nakal. Memperlihatkan deretan gigi besarnya.


"Kami hanya orang suruhan. Jangan khawatir kami tidak akan mengganggu mu. Oya, apakah kau haus...?" tanya seorang laki-laki yang lebih berkulit sedikit putih.


Arumi menggeleng, walau sebenarnya rasa haus sudah menyekat kerongkongannya.


"Hah...! Tak perlu berdusta, Nona. Aku tahu kau haus"


GLEKK...!


Arumi terpaksa menelan saliva dengan susah saat diiming-imingi segelas air mineral. Arumi menggigit bibirnya. Matanya tak mampu lepas dari gelas berisi air mineral tertentu. Seorang laki-laki tersenyum lebar seakan mengerti apa yang diinginkan Arumi. Dan laki-laki itu pun menghampiri Arumi. Tangannya bergerak mendekati bibir Arumi. Walhasil, Arumi pun meneguk habis air mineral yang diberikan.


Lega dirasa Arumi saat air mineral itu mengaliri kerongkongannya. Namun beberapa saat kemudian, Arumi merasa keganjilan pada dirinya. Mendadak kepalanya terasa amat berat.


"Ya, Robby...Ada apa ini? Mengapa kepala ku mendadak berat sekali. Apakah...." batin Arumi.


Dalam hitungan detik Arumi sudah terkulai lemah. Arumi tidak akan pernah membayangkan apa yang akan terjadi sesudah hari ini. Arumi hanya tahu bahwa dirinya tak sadarkan diri setelah minum air mineral.


"Sudah tertidur, kah?" ucap seorang perempuan yang tak lain adalah Sarah.


"Sudah, nona..."


"Kalau begitu kita siapkan segalanya sesuai rencana..."


"Baik, Nona. Em, haruskah kita melucuti seluruh pakaiannya?"


"Tidak perlu. Aku hanya ingin merusak nama baiknya, bukan kesuciannya untuk saat ini. Dan lagi aku punya rencana yang jauh lebih menguntungkannya ketimbang memberikannya kepada kalian..."


"Hahaha....." tawa kedua laki-laki itu.


"Baringkan dia diatas tempat tidur. Dan kau David cepat buka pakaian atasan mu dan rebah di sampingnya"


"Baik, Nona..."


"Sedikit ke atas agar dada mu terekspos. Letakkan kepala Arumi pada lenganmu sedikit menyentuh dada mu. Aku akan menutup tubuh Arumi hingga dada dan membiarkan betisnya terlihat..."


"Jadi seakan-akan Arumi tidak berpakaian. Good idea, Non..." puji David.


Kemudian Sarah mengambil beberapa hasil jepretan setelah berhasil mengganti pose keduanya. Senyum puas terlihat jelas pada wajah Sarah.


"Selanjutnya kita apakan dia...?"


"Kita jual saja ke mami Marla..."


"Egh..."


Mata David langsung menatap Sarah yang tengah menyeringai puas penuh tanya.


"Nona tidak ingin merusak kesuciannya, tapi nona malah akan membawanya ke mami Marla..."


"Hadeuuh...tulalit juga kamu ya. Dia adalah penghasil uang. Jika masih gadis. Jika sudah bolong tentu harganya akan murah"


"Benar juga, nona.." ucap Darno sambil terkekeh.


"Dengan demikian sekali merengkuh dayung, dua, tiga pulau terlampaui..."


"Ya, benar. Selain musuh berkurang, uang pun dapat. Hebat kau, Nona. Hahaha...."


"Lalu fotonya bagaimana? Apakah akan langsung disebar?"


"Tidak. Belum saatnya. Sudahlah, kalian ikat lagi tangan dan kakinya dan malam nanti kita akan membawanya ke mami Marla"


"Baik, Nona..."


🌸🌸🌸🌸🌸


Malam datang menjemput siang hingga langit berubah gelap. Dan mentari meminjamkan sedikit cahayanya kepada bulan dan bintang hingga mampu memberi warna pada langit.


Mobil berwarna merah meluncur ke jalan Akasia. Ke salah satu tempat yang dikenal sebagai daerah lokalisasi.


"Non, sepertinya kita diikuti...?"


"Oya..." ucap Sarah sambil melihat ke spion untuk memastikan keberadaan penguntit itu.


"Fiuh...." Sarah lega saat melihat mobil yang dimaksud menghentikan lajunya.


Mobil pun setelah melaju dan menelan beberapa menit, akhirnya sampai pada daerah lokalisasi. Tepatnya milik dari seorang perempuan yang di sebut namai Marla.


Tersenyum sumringah Marla saat melihat kehadiran Saran, terlebih saat ada seorang gadis lain yang tengah tak berdaya bersamanya.


"Hei, mami. Ini ada mangsa baru. Masih bersegel..."


"Wow...luar biasa. Aku punya stock baru lagi. Hahaha...."


"Dua puluh juta..." ucap Sarah sambil menjulurkan tangan.


"Besok ya...malam ini belum ada uangnya"


"Ah, kalau bukan mami, aku tak mau ditunda-tunda begini..."


"Hahaha...bisnis kita bukan sehari duahari, Sarah..."


"Hahaha....betul, Mami"


Sarah pun meninggalkan Arumi pada sebuah ruangan. Karena permintaan mami Marla, maka tangan dan kaki Arumi dibebaskan dari ikatannya.


"Akh...!" Untuk kedua kalinya Arumi terbangun dan meraih kesadarannya.


Matanya lagi-lagi mengitari ruangan yang kembali terasa asing itu. Namun berbeda ditempat sebelumnya, kali ini Arumi tidak terikat. Sehingga Arumi dapat leluasa mengintai kondisi di luar ruangan.


"Akh...kenapa kepalaku pusing sekali? Tak bisakah di ajak kompromi? Aduh..." batin Arumi.


Tangannya memijati kepala berulangkali. Kemudian dengan langkah perlahan Arumi mendekati pintu yang selanya tampak berkerlip karena lampu. Terlebih saat telinganya menangkap suara musik yang menghentak sejak tersadar tadi.


Lewat lobang kunci dan sela pintu, Arumi mengintai. Hatinya berdesir hebat saat melihat situasi di luar ruangannya.


"Apakah ini klub malam pinggir kota B yang sering dibicarakan orang-orang itu. Jadi..."


CKLEK....


Pintu kamar di buka dari luar. Namun belum terbuka sempurna, terjadi kegaduhan.


"Bangsat...! siapa kau?! Berani-beraninya masuk area ini tanpa izin..!"


"Apa peduli mu...?!"


Bak.


Buk.


Dhuak.


Adu jotos pun Tan terelakkan lagi seperinya. Dan hal tersebut tentu saja membuat Arumi penasaran. Ia pun langsung meraih gagang pintu dan membukanya.


KREEEK....!


Pintu terbuka lebar. Dan benar saja, arena tinju telah berpindah ke area sempit itu. Namun yang membuat Arumi terkejut adalah laki-laki yang menjadi lawan para laki-laki bertubuh kekar itu.


"Kak Arya...!" teriak Arumi.


Sadar namanya di sebut, Arya pun mengalihkan seje6perhatiannya ke arah Arumi. Dan hal tersebut diambal sebagai sebuah kesempatan oleh laki-laki bertubuh kekar untuk menjatuhkannya.


Buk...


Dhuak...


Arya terjungkal. Ia meringis memegangi perutnya yang baru saja dihantam pukulan dan tendangan keras.


"Larilah, Arumi. Larilah...!" ucap Arya.


Namun bukannya lari, Arumi justru menghampiri Arya yang tengah tak berdaya.


"Larilah, di luar ada ayah..." ucap Arya sambil memegangi perutnya.


"Kalau aku keluar, maka kak Arya juga harus keluar bersama ku..."


"Duh, so sweet...!" ucap Arya sambil mengusek pucuk kepala Arumi dengan sebelah tangannya yang lain.


"Kalau begitu mari kita keluar..." ucap Arya sambil bangkit dan memasang kuda-kuda.


"Arumi, menepilah..."


"Kakak saja yang menepi..."


"Ish, kau tidak akan bisa melawan mereka..."


"Aku bisa, Kak..."


"Dasar keras kepala..."


"Kalian ini terlalu banyak cincong...! Cepat majulah. Aku akan menjatuhkan kalian bersamaan...!"


"Sombong...!"


"Banyak cakap kau...!"


Arya melirik Arumi dan tersenyum saat mendengar lontaran kata yang baru saja ia dengar.


Sejurus kemudian, Arumi dan Arya pun meladeni jurus-jurus para pria bodyguard rumah remang-remang itu.


"Berhentiiiii.....?" ucap mami Marla tiba-tiba yang berdiri tak jauh dari posisi Arumi. Mendengar suara dengan oktaf tertinggi itu, adu jotos pun terhenti begitu saja dan langsung terbagi dalam dua kelompok. Namun berbeda halnya dengan Arumi, karena rasa terkejutnya ia justru melayangkan jotosan pada wajah Marla. Jotosan itu pun telak mengenai hidung Marla.


"Akh...!" rintih Marla panjang.


Dengan hidung yang mengeluarkan darah, Marla langsung mengeluarkan kata ajaibnya.


"Tangkat mereka...!"


Belum sempat para laki-laki bertubuh kekar itu bergerak. Arumi langsung bergerak membekap Marla. Mengalungkan sebelah lengannya. Sementara sebelahnya lagi menodongkan sebilah badik yang tadi sempat ia rebut dari lawannya.


"Jangan ada yang mendekat, jika ingin perempuan ini selamat..."


Tanpa komando, semua laki-laki bertubuh kekar itu beringsut menjauh dengan sikap tetap waspada. Melihat situasi Arumi, Arya langsung menggantikan posisi Arumi.


"Jalan...! Jalan...!" bentak Arya membuat Marla meluluskan keinginkan Arya dan Arumi hingga ke luar bangunan.


Mata Arumi langsung menyapu halaman yang sedikit kacau. Sisa pergulatan. Hal tersebut diperkuat dengan masih adanya beberapa orang yang tergeletak dengan luka lebam dan sabetan benda tajam.


"Non..."


"Pak Darman..."


"Bapak ada di dalam mobil..."


Arumi pun langsung melangkah menuju sebuah mobil yang amat ia kenal.


"Jangan ada yang mencoba menghentikan kami...!" ucap Arya.


Buk...


Sebuah sikutan menyasar ke perut Arya kembali dan membuat laki-laki itu sedikit terkejut dan meringis menahan sakit. Setelah melancarkan serangan, Marla yang berhasil keluar dari todongan senjata Arya langsung lari ke dalam bangunan.


"Sial...! Dasar Wewe Gombel...!" ucap Arya geram.


"Arya....!" panggil Permana dari dalam mobil dan langsung membuat Arya mengarahkan langkahnya ke tempat dimana ayah sambungnya itu berada.


"Aw...!" teriak Arya saat lukanya tak sengaja tersentuh Arumi.


"Duh, maaf kak...." ucap Arumi yang langsung dibalas dengan anggukan dan senyum Arya.


"Terima kasih ya, Kak. Senang rasanya punya seorang kakak.."


"Ya. Kalau tidak bisa jadi kekasih, jadi kakak pun jadilah..."


"Ish, konyol..."


"Aw...sakit, Ar!" ucap Arya saat luka lebamnya diisengi Arumi.


Permana terkekeh melihat kekonyolan dua anaknya itu.


"Kok makasihnya cuma ke Arya? Ke bang Billy juga donk..."


"Bang Billy...?"


"Suami kak Andrea..." jelas Arya.


"Oya, terima kasih bang Billy..."


"Beruntung ada bang Billy. Dia yang membantu menunjukkan tempat-tempat yang dimungkinkan para penjahat membawa mu..."


"Ya iyalah tahu. Lah memang tempat yang sering dikunjungi. Kan tukang celup..." bisik Arya dekat Arumi.


"Tukang celup...?"


"Ayah...tidak memberi tahu pak Mirza kan?"


"Belum..."


"Arumi minta jangan memberitahunya..."


"Kenapa?"


"Arumi ingin memastikan perasaan di hati ini. Dan sekalian memberinya pelajaran. Arumi ingin dianggap hilang olehnya untuk beberapa waktu ini. Bisakah ayah, kak Arya, bang Billy membantu Arumi..."


"Bang Billy tidak masalah...Bahkan kak Andrea pun tidak akan tahu. Hehe..."


"Kak Arya pun demikian...."


"Ayah...?"


Permana menghela nafas. Matanya menatap Arumi lekat.


"Ndok, dia calon suami mu. Jangan berlaku tidak adil seperti itu..."


"Ayolah, Yah. Arumi hanya ingin meliihat kegigihannya saja"


"Anak nakal...Baiklah. Tapi sampai batas menurut ayah cukup. Jangan membantah jika menurut ayah kamu harus sudah menyudahinya"


"Ya, ayah..."


"Rasakan tuh, pak dosen. Pembalasan mahasiswi nya. Hehee..."


"Arya...."


"Ya, Yah. Bercanda..."


*Arumi F**lashback off*