
Dalam dunia cinta-cintaan, tikung menikung adalah hal biasa. Yang pasti sebelum janur kuning melengkung semua masih bisa terjadi. Namun berbeda dengan kasus dokter Faaz kali ini. Perempuan yang ia cintai sesungguhnya telah menjadi milik orang lain. Hal tersebut karena perempuan yang ia cintai telah sah terikat baik berdasar hukum negara dan hukum agama kepada seorang laki-laki.
Hari-harinya Faaz begitu tertekan. Terlebih saat ia melihat kebersamaan perempuan yang ia cintai bersama orang lain yaitu suaminya. Faaz hanya dapat memandang perempuan yang telah menarik hatinya itu dari kejauhan. Ia tak mampu mendekati ataupun mencurahkan perasaannya secara langsung. Hal tersebut karena sosok laki-laki di sampingnyalah yang menjadi salah satu penyebabnya. Laki-laki itu tak lain adalah sahabatnya sendiri, Mirza. Dan perempuan yang ia cintai itu tentu saja Arumi.
Seperti halnya hari ini. Tepatnya tiga hari setelah insiden pisau belati. Faaz terlihat berdiri di ujung lorong ruang VVIP. Matanya terpaku pada ruangan yang tertutup itu. Sebuah ruangan dimana Arumi berada. Faaz ingin sekali berlari dan membawa pergi jauh Arumi. Karena matanya telah menilik lama bahwa berada dekat dengan Mirza, hidup Arumi dalam lingkaran bahaya yang bisa saja merenggut nyawa Arumi. Namun niat itu urung setiap melihat senyum ataupun tawa Arumi yang terurai ketika berada di dekat Mirza.
Tapi hari ini Faaz benar-benar berbeda. Hatinya menjadi kuat setelah melihat kondisi Arumi. Mungkin hari ini Arumi terluka karena menyelamatkan Mirza, mungkin saja esok hari ia akan bertaruh nyawa lagi-lagi untuk menyelamatkan Mirza. Faaz benar-benar tak sanggup melihat perempuan yang ia cintai itu terluka kembali.
Tekad pun sudah bulat. Selain keinginannya menyatakan perasaannya, Faaz pun berkeinginan cintanya di dengar dan diketahui Arumi. Harapannya begitu besar bahwa ia akan diberi kesempatan untuk selalu menjaga Arumi. Tapi mungkinkah...??
Faaz melangkah menuju ruang VVIP dimana Arumi berada. Dalihnya hanya satu yaitu pemeriksaan rutin. Faaz berdiri sejenak di depan pintu. Ia menghela nafas. Rupanya ia tengah mencoba mendamaikan degup jantung yang berkejaran.
Sekali lagi Faaz menghela nafas sebelum membuka pintu ruangan VVIP itu. Faaz berdiri di ambang pintu. Matanya menatap sosok yang tengah berbaring.
"Bagaimana kabarmu, Nyonya..." ucap Faaz memecah keheningan.
Arumi yang baru saja ditinggalkan Mirza ke kantin membeli keperluan, segera mengalihkan perhatiannya. Sontak Arumi mendapati Faaz yang tengah melangkah ke arahnya sambil mengurai senyum.
"Baik, dokter..." ucap Arumi sambil tersenyum.
"Tuan Mirza kemana?" tanya Faaz seakan tak mengetahuinya.
"Em, kantin..."
"Kantin? Mengapa tidak menghubungi layanan cepat saji nya?"
"Mungkin udara segar di luar sana telah menggodanya. Heheh..." ucap Arumi diakhiri kekeh yang sedikit ia tahan karena sakit pada lukanya akan terasa jika ia tertawa.
"Heheh....Bisa saja, Nyonya" tawa Faaz sedikit terasa garing karena beban yang menghimpit hatinya.
"Dokter akan memeriksa ku...?"
"Tidak. Aku hanya ingin berbincang. Sebentar saja. Bolehkah...?"
"Tentu saja boleh, dok..."
"Berhentilah memanggilku dengan sebutan itu. Apa panggilan yang biasa kau sematkan kepada ku benar-benar telah berubah...?"
"Hehe...kakak sendiri yang memulai memanggil ku dengan sebutan Nyonya..."
"Karena kau layak mendapatkannya. Terlebih suami mu adalah seorang laki-laki yang menyandang Predikat Tuan..."
"Ah, kakak bisa ae..."
"Loh, benar kan...?"
"Tapi kak Mirza tidak pernah memintanya..."
"Ya, aku tahu. Tuan Mirza memang tidak pernah meminta itu semua. Sama seperti dirimu..."
"Ar, kau tidak pernah meminta untuk dicintai. Tapi ada banyak laki-laki yang mencintai. Seperti aku yang akan terus mencintaimu walau telah menjadi milik orang lain"
Deg.
.
.
.
Arumi terdiam. Senyum yang tadi menghiasi wajahnya pun kini memudar.
"Ya, Ar. Aku mencintai mu. Langkahku menjadi surut saat melihat senyum indah mu mengembang ketika kau bersama Mirza. Kau mungkin tidak tahu bahwa kami pernah adu jotos" ucap Faaz.
Matanya menerawang jauh. Mengingat peristiwa beberapa tahun lalu.
"Adu jotos itu terjadi saat di vila. Status mu belum siapa-siapa bagi Mirza. Tapi ternyata aku salah. Karena sesungguhnya Mirza sudah tertarik pada mu ketika itu. Hanya saja ia gengsi mengakuinya. Ah, biarlah. Yang pasti Ar....aku tak sanggup melihat mu terluka seperti saat ini. Aku yakin kau akan selalu seperti ini jika bersama Mirza..."
"Apa maksud kakak...?"
"Mirza memang sosok dihormati dan dikagumi, tapi dibalik itu semua banyak pula yang ingin menjatuhkannya. Apa kau akan kuat, Ar...?"
Arumi kembali terdiam. Iaencoba memaknai dibalik setiap kata yang terlontar.
"Karena itu ikutlah bersama ku, Ar. Aku akan menjadi satu-satunya orang yang mencintai dan menjaga mu, Ar..."
"Kau picik, Kak. Aku sama sekali tidak menduganya..."
"Kau jangan salah faham, Ar. Aku hanya ingin yang terbaik untuk mu.."
"Kakak tahu kan aku ini sudah sah sebagai istri kak Mirza?"
"Ya, aku tahu. Tapi jika kau selalu terluka, maka aku sanggup melihatnya. Karena itu ikutlah bersama ku, Ar"
"Hah...! Kau benar-benar, picik kak. Aku terluka karena aku melindungi orang yang aku cintai. Dan aku yakin all Mirza pun akan melakukan hal yang sama kepada ku. Cinta kami bukan cinta biasa, Kak. Bukan cinta yang hanya dari mata turun ke hati. Cinta kami sudah teruji. Karena cinta kami tak kan goyah hanya karena iming-iming dari angin lalu.."
"Angin lalu..? Aku sungguh-sungguh, Ar"
"Cukup, Kak...! Jangan bicara apapun tentang cinta mu. Aku khawatir ungkapan mu itu akan membuat cekcok dengan suami ku. Aku minta cukup sampai di sini cinta mu. Aku tak ingin mendengarnya lagi esok atau kapan pun itu. Aku heran mengapa orang se-dewasa dan sepintar diri mu sanggup berulah seperti ini. Dan satu lagi...aku menganggap kakak seperti kakak kandungku sendiri, tak lebih dan tak kurang..."
Faaz terdiam. Ia tahu betul ini adalah konsekwensi yang akan ia terima. Pun demikian, hatinya sedikit lega. Paling tidak Arumi mengetahui bahwa cintanya masih ada dan akan selalu ada untuk dirinya. Hanya Arumi saja...
Sementara itu, tanpa sepengetahuan Arumi atau pun Faaz. Dari balik pintu yang sedikit terbuka, ada sepasang mata dan telinga yang memperhatikan. Ia adalah Mirza.
Saat ini, Mirza hilang kata. Ia membiarkan saja Faaz melakukan seperti yang ia inginkan. Karena ia tahu seperti apa cinta Arumi kepadanya. Senyum pun sejenak menghiasi wajah tampannya saat mendengar setiap kata yang diucapkan Arumi. Ia semakin yakin bahwa hanya dia yang Arumi cintai.
"Aku sangat mencintai mu, Ar. Kini dan nanti. Hingga kapan pun..." gumam Mirza.