150 Cm

150 Cm
Episode 60. Hampir Saja....



"Aduh...kebelet nieh. Aku duluan ya, Nya..."


"Silahkan nyonya Arumi..."


"Terima kasih, Nya...." ucap Arumi sambil mencubit kecil dagu Vanya.


Langkahnya begitu tergesa memasuki salah satu toilet di galeri. Kurang lebih sepuluh menit, barulah Arumi keluar.


"Sayang...ada busa hijau keluar dari punggung mu" ucap Mirza.


Tangannya hampir menggapai punggung Arumi.


"Apa busa hijau..?! Jangan jangan...." batin Arumi.


Mendapat teguran Mirza, langkah Arumi bukannya melambat, justru semakin cepat. Bahkan kini ia setengah berlari.


"Sayang...sayang...!" ucap Mirza sambil mengekori langkah cepat Arumi.


"Ada apa?" tanya Vanya.


"Kak Mirza. Ada kak Mirza. Penyamaran ku hampir terbongkar..." ucap Arumi di sela langkahnya.


"Kalau begitu pakai jaket ku..." ucap Vanya sambil memakaikannya kepada Arumi.


Kemudian langkah keduanya begitu cepat hingga ke sebuah kamar pribadi yang biasa Mirza gunakan jika tengah berada di galeri. Arumi segera menutup pintu rapat dan menguncinya.


Fiuh...hampir saja aku ketahuan" gumam Arumi.


Malam menjemput siang. Langit kemerahan berangsur kelabu dan berakhir gelap. Arumi berdiri bersandar pada dinding kamarnya. Matanya terpejam. Dan ia berusaha mendamaikan degup jantungnya yang seakan berloncatan tak menentu. Berulangkali ia menghela nafas panjang, namun loncatan degup jantungnya belum se-damai gemericik air di pegunungan.


"Kira-kira kak Mirza menyadari tidak ya?"


"Semoga saja tidak, Nya..."


Arumi kembali menghela nafas. Kemudian menghempaskan tubuhnya pada kasur berukuran kecil. Kasur yang biasa ditempati Mirza saat beristirahat. Arumi membenamkan wajahnya.


"Ar, kita betulkan pakaian penambah berat badan mu. Setelah itu kita pulang..."


"Ok. Aku lepas dahulu ya. Agar tahu pasti bagian mana yang rusak" ucap Arumi sambil menanggalkan seluruh pakaian.


Tok.


Tok.


Tok.


Pintu di ketuk berulangkali. Hal tersebut membuat Arumi terkejut dan kalang kabut. Arumi sempat berlari tak bertujuan dalam ruangan. Ia bingung harus bagaimana. Pun demikian dengan Vanya. Ia turut serta berlarian. Segala gaya ia lakoni. Mulai dari lari maraton, lari sprint, lari jarak jauh, sampai lari gawang. Namun justru makin membuatnya kalang kabut.


"Don't panic..." ucap Arumi.


Seiring dengan itu, langkahnya pun terhenti. Ia kembali menghela nafas berusaha menetralisir kegamangannya.


"Don't panic..." ulang Arumi lagi sambil menghela nafas.


"Sayang...apa kau di dalam?" ucap Mirza sambil terus mengetuk pintu.


"Ya, Kak...!" sahut Arumi dengan cepat dari balik pintu.


"Cepatlah. Sudah malam. Apa kau ingin menginap di sini?"


"Tidak, Kak. Arumi masih ganti baju..."


"Ok. Aku tunggu di parkiran..."


"Ya, Kak..."


Arumi menghela nafas lega. Kepanikannya tak membuahkan hasil. Mata Arumi menatap Vanya yang sejak tadi berdiri dengan gamang bersikap siaga.


"Fiuh...hampir saja" ucap Vanya lega.


"Ayo cepat, mana pakaian ku? Aku harus memperbaikinya. Jika terlalu lama, aku khawatir kak Mirza curiga"


"Ini..." ucap Vanya.


Tangannya menyodorkan pakaian yang dimaksud dan juga lem perekat. Dengan cekatan Arumi memperbaiki pakaian penambah bobot dan bentuk tubuhnya.


"Ar, beratnya hampir tiga puluh kilo. Apa kau tidak lelah saat memakainya?"


"Aku sudah pernah mengalaminya, Nya. Beratku dulu hampir tujuh puluh kilogram. Jadi bagi ku tidak menjadi persoalan..."


"Kira-kira apa reaksi kak Mirza jika tahu kau membohonginya...?"


"Aku tidak membohonginya. Aku hanya mengujinya. Apa aku salah?"


"Tidak. Kau tidak salah jika ingin mengujinya. Tapi cara mu yang membuat ku takut, Ar..."


"Titik lemahnya pada keindahan fisik. Maka aku mengujinya dengan kebalikannya. Aku ingin memberitahu kak Mirza juga pada orang-orang berfikiran dangkal lainnya bahwa nilai seseorang bukan terletak pada keindahan fisik semata, tapi pada prestasi dan kekuatan hati juga perjuangannya"


"Ar, ku rasa kau bukan mengujinya. Tapi lebih pada balas dendam"


Deg.


Arumi terdiam. Kata-kata Vanya sukses menohok sudut hatinya. Sebagian hatinya membenarkan ucapan Vanya. Sementara sebagian hati lainnya menolak pembenaran itu. Perang batin Arumi terlanjur terkuak hingga diamnya tak kunjung berakhir.


"Aku...aku..." ucap Arumi gagu.


Bola mata indahnya bergerak kacau. Ia tak tahu harus memberi jawaban seperti apa?


Arumi menghela nafas. Helaannya terasa begitu berat. Kemudian Vanya meraih jemari tangan Arumi dan menggenggamnya erat.


"Tapi aku percaya pada mu. Aku yakin kau telah mempertimbangkan semuanya..."


"Terima kasih, Nya..." ucap Arumi yang kemudian memeluk Vanya.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Arumi berpendar. Reaksi di wajahnya sedikit kesal saat mengetahui si penelepon.


"Ish, ga sabaran banget sih..." gerutu Arumi.


"Ya, Kak..."


"Lama sekali..." protes Mirza datar.


"Sebentar lagi..."


Tut.


Tut.


Tut.


Sambungan telepon diputus. Wajah Arumi semakin kesal.


"Dasar manusia es. Masih saja sesukanya..." gerutu Arumi lagi.


Arumi pun segera berkemas. Merapikan pakaian dan segala perlengkapan yang dibawanya pagi tadi. Arumi memeriksa kembali isi ruangan, khawatir ada barang miliknya yang tertinggal. Setelah yakin, barulah Arumi dan Vanya meninggalkan ruangan.


Langkah keduanya begitu cepat menuruni tangga menuju parkiran. Mata keduanya langsung menyapu areal parkiran. Keduanya mencari keberadaan Mirza.


Tak lama sebuah mobil sport silver memasuki areal parkir. Mobil pun berhenti tepat di hadapan keduanya.


Kaca jendela terbuka dan memperlihatkan wajah tampan perawakan artis Korea. Bibirnya menyunggingkan senyuman. Sebuah sapaan hangat untuk kedua gadis cantik tersebut.


Pintu mobil pun terbuka.


"Vanya...duduk di depan ya. Dampingi aku yang jomblo akut ini"


"Akhirnya mengaku juga kalau jomblo..."


"Hahaha...jadi gemes. Sini Abang usek-usek jidatnya..."


"Jangan, bang. Ampun..." ucap Vanya nada meledek.


Kemudian pintu belakang pun terbuka. Namun kali ini tangan Mirza langsung yang membukanya. Ternyata laki-laki tampan itu telah rela turun dari mobil dan membukakan pintu untuk gadis yang sudah mendiami hatinya itu.


"Silahkan, Tuan Putri..." ucapnya.


"Terima kasih..." ucap Arumi sambil menurunkan sedikit tubuhnya bak seorang putri raja memberi hormat. Tak lupa senyum khasnya pun mengurai.


"Tuan putri Vanya ingin di antar kemana?"


"Ke rumah Arumi. Vanya malam ini menginap di sana. Hehehe..."


"Ok dech..."


KRUUEEK....!


Mirza menatap Arumi yang duduk tak jauh darinya. Ia berharap Arumi tak mendengar apa yang baru saja perutnya suarakan. Mirza menilik wajah Arumi yang tengah memandang ke arah lain. Kelegaan pun menyelimuti Mirza, karena sepertinya Arumi tak menyadarinya.


"Ya, ampun...suara perut kak Mirza. Artinya ia kelaparan. Duh, untung belum jadi istrinya. Coba kalau sudah berdosa dech, karena membiarkan suaminya kelaparan. Hehe..." batin Arumi.


"Cacingnya sudah demo ya, Bos...?"


JLEB....!


Kata yang tak diharapkan itu akhirnya keluar juga. Bukan Arumi melainkan Elvano.


"Apes dach....Bisa ga sih diam saja Elvano bin Jabir bin Jabar" batin Mirza.


"Aduh..." keluh Arumi tiba-tiba.


"Kenapa...?" tanya Mirza khawatir.


"Perut ku sakit, Kak..."


"El, kita ke rumah sakit. El...."


"Siap, Bos..."


"Tidak perlu, Kak. Arumi ingin makan saja. Sejak siang tadi belum terisi apa pun..."


"Astaga...Kalau begitu kita makan dulu. El, cari tempat makan yang enak dan nyaman" ucap Mirza dengan mode datar, khasnya.


"Siap, Bos..." ucap Elvano sambil tersenyum.


Mata Elvano melirik Arumi. Ia tahu betul jika sakitnya hanya sandiwara. Arumi hanya ingin memenuhi hasrat cacing dalam perut Mirza yang tengah berdemo itu.


"Nice...Arumi" batin Elvano.