
"Dimana...?"
"Di pantai..."
"Sedang apa...?"
"Melukis..."
"Ok. Aku menemuimu. Tunggu ya..."
Selang beberapa waktu, Faaz pun sampai di tempat yang dimaksud Arumi. Faaz berdiri tak jauh dari Arumi berada. Faaz memperhatikan Liukan tangan Arumi yang begitu luwes menghasilkan goresan yang begitu detil.
"Ar...." panggil Faaz.
"Ya...kak Faaz" sahut Arumi tanpa melihat kebelakang dimana Faaz berada.
"Sebentar, Kak. Ini sedikit lagi..."
"Aku setia menunggu kok..."
"Wish...mantap"
"Hahaha...." Tawa keduanya terdengar begitu renyah.
"Ok. Selesai, Kakak..." ucap Arumi sambil memutar tubuh.
Mata Arumi terkunci pada Faaz. Bukan karena Arumi mencintai Fara, namun lebih pada luka lebam di wajah Faaz. Melihat reaksi di wajah Arumi, Faaz langsung menanggapinya.
"Aku baik-baik saja. Ini hasil perbincangan antara dua orang laki-laki..."
"Apakah pak Mirza...?"
"Begitulah...Tapi jangan khawatir. Sesudahnya kami baik-baik saja..."
"Aku obati ya, Kak..."
"Tidak perlu, Aku kan dokter..."
"Dokter juga manusia, Kak. Yang masih memerlukan orang lain untuk mengobatinya..."
"Nanti di rumah sakit aku akan meminta bantuan dokter atau perawat..."
"Baiklah..."
"Ar, aku ingin pamit. Aku ada jadwal operasi malam ini..."
"Kok tiba-tiba? Apa karena tindakan pak Mirza?"
"Tidak keduanya. Aku memang hanya diberi libur dua hari oleh rumah sakit. Dan Mirza tak ada kaitannya sama sekali. Puas..."
"Hehe...Puas"
"Ar, Em...jika ada apa-apa hubungi aku ya. Masalah apa pun itu. Kapan pun itu. Aku ingin menjadi salah satu orang yang banyak mengetahui tentangmu. Janji, Ar..."
"Kok seperti perpisahan gini, kak..."
"No. Bukan perpisahan, tapi menjaga jarak sementara waktu..."
"Pak Mirza yang memintanya kah..?"
Faaz tertawa mendengar pertanyaan Arumi. Deretan gigi putihnya terlihat jelas, auto menambah ketampanannya yang menurut semua orang sebelas dua belas dengan Mirza itu. Tangannya mengusek pucuk kepala Arumi.
"Yang pasti Arumi bisa telfon atau kirim pesan apa pun berkaitan dengan mu termasuk program diet mu. Ok cantik? Janji akan memberitahuku..?"
"Baiklah. Arumi berjanji..."
"Good..."
"Oya, kalau boleh kirimkan lukisan ini ke rumah ku atau ke rumah sakit ya..."
"Em, ini dipesan. Tante Dania yang memintanya..."
"Wah, sayang sekali..." Faaz kecewa.
"Em, mungkin nanti Arumi buatkan lukisan Special untuk kak Faaz. Gimana...?"
"Oke. Bagus juga. Saya tunggu ya. Oya, satu lagi. Boleh aku memeluk mu?"
"Egh..." Mata Arumi menatap Faaz penuh tanya.
"Eh, jangan-jangan nanti singa laut marah lagi..." Faaz terkekeh.
"Si-singa laut...?"
"Mirza maksud ku. Hahaha....Ah, sudahlah. Aku pamit ya. Jangan lupa janji mu, Arumi...?
Faaz pun berlalu meninggalkan Arumi. Langkahnya tampak gontai. Kaki jangkungnya telah meninggalkan jejak pada hamparan pasir putih. Arumi menatapi punggung Faaz yang makin menjauh. Matanya sedikit berkaca-kaca. Dan sekali lagi Arumi terlihat menghela nafas.
"Terima kasih, Kak. Keberadaan mu membuatku merasakan kehadiran seorang kakak laki-laki..." batin Arumi.
Drrt.
Drrt.
Drrt.
Ponsel Arumi berpendar beberapa kali. Terakhir beberapa pesan masuk menghiasi layar ponselnya. Dengan malas Arumi pun membuka pesan tersebut. Mirza, dialah pengirim pesan itu.
"Dimana...?"
"Dimana...?"
"Dimana...?"
"Di pantai..."
"Sedang apa...?"
"Melukis..."
"Ok. Tunggu aku. Aku perlu bicara dengan mu..."
Arumi mengernyitkan dahinya sesaat sambil menghela nafas panjang. Kemudian Arumi pun melanjutkan kegiatan melukisnya yang tinggal tahap penyempurnaan itu.
"Mengapa kau enggan mengangkat telepon dari ku?"
Arumi terjengkit. Suara khas Mirza berhasil membuyarkan konsentrasi nya. Arumi lagi-lagi menghela nafas. Kali ini terasa berat. Hal ini disebabkan karena Arumi gamang. Ia tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan Mirza barusan.
"Maaf...." akhirnya hanya kata itu yang mampu keluar dari bibirnya.
"Waktu mu tersisa dua bulan lagi untuk meyakinkan ku bahwa aku bisa mencintai mu. Tapi selama waktu itu kau tidak boleh berhubungan dengan siapa pun dan dalam bentuk apa pun..."
"Maksudnya bagaimana...?"
"Bodoh sekali. Begitu saja tidak mengerti. Kau tidak boleh menerima perasaan siapa pun atau menjalin hubungan dekat lainnya dalam bentuk apa pun atau terlalu dekat dengan seseorang sialan pun itu..."
"Apa ini berkaitan dengan pernyataan kak Faaz...?"
"Mungkin saja..."
"Wah, egois sekali anda pak Mirza. Sementara anda sendiri selalu berdekatan dengan Andrea.."
"Andrea..? Bukankah kau tahu dia itu kekasih ku? Dan lagi apa kau lupa dengan point (2) yang telah kita sepakati?"
"Ah, makin terlihat jelas bahwa anda seorang yang egois, Pak Mirza..."
"Dan satu lagi. Ini mengenai peristiwa semalam. Yang terjadi tidaklah seperti yang kau kira..."
"Mengapa bapak peduli akan perkiraan yang saya buat. Bukankah bapak sendiri bahwa saya harus selalu ingat point (2)...?"
"Ah, ternyat berbicara dengan mu membuatku naik darah..."
"Kau yang naik darah, bukan aku. Jadi masa bodoh..." batin Arumi.
Sisi hatinya terluka. Ia kecewa. Bukan saja karena peristiwa semalam saat Mirza dan Andrea tengah asyik bercumbu, namun juga karen tindakan berlebihan Mirza terhadap Faaz.
"Ar, terserah apa pemikiranmu. Aku ingin kau tahu bahwa semalam aku hanya mengimbangi permainan Andrea. Itu pun hanya berciuman. Tidak lebih..."
"Baiklah...lalu tindakan bapak pada kak Faaz?"
"Itu hukuman atas tindakannya. Berani-beraninya ia menyatakan perasaannya kepada mu"
"Kenapa...? Apa ada yang salah dengan pernyataannya itu?"
"Kau masih dalam tanggung jawab ku. Selama waktu kesepakatan itu belum berakhir, kau menjadi tanggung jawabku. Tidak boleh ada yang mendekati, mencintai mu atau kau cintai. Faham..."
Ucapan Mirza benar-benar membuat Arumi kesal dan segera merapikan perlengkapan melukisnya. Dan hampir berlalu.
Tap.
Tangan Arumi di tangkap Mirza dan menariknya hingga tubuh Arumi menabrak Mirza. Rupanya Mirza sudah memprediksinya. Ia pun langsung mendekap pinggang Arumi. Sontak mata Keduanya bertemu.
"Dengar...Jangan pernah meninggalkanku sebelum batas waktu yang telah disepakati..."
"Kenapa...?"
"Karena itu akan melukai harga ku..."
"Harga diri? Ku rasa itu bukan harga diri tapi keegoisanmu tuan Mirza Adyatma, pengusaha sukse nomor satu Indonesia..."
Perkataan Arumi begitu keras dan tegas. Entah darimana ia mendapatkan keberanian sebesar itu?
"Apa yang kalian lakukan....?!!"
Andrea berdiri beberapa langkah. Wajahnya pada mode marah tingkat dewa dihadapkan pada situasi tersebut. Kemudian secepat kilat Andrea menarik tubuh Arumi agar menjauhi Mirza. Ia begitu marah.
PLAK...!
Sebuah tamparan telak mendarat dengan cantik pada wajah Arumi. Bukan saja Arumi yang tampak terkejut mendapat tamparan tersebut, namun begitu pun dengan Mirza.
"Apa yang kau lakukan Andrea...! Kau berlebihan...!"
"Aku ingin memberi pelajaran pada gadis abnormal ini yang selalu menggoda mu..."
"Tapi kau berlebihan...!'
"Oh, jadi kau lebih membelanya ketimbang aku kekasihmu...?!"
Sadar tak ingin berada diantara amuk kedua orang itu, Arumi pun memilih hengkang dari tempat tersebut.
"Arumi...Arumi tunggu!"
Mirza yang hendak mengejar Arumi berhasil di halang-halangi Andrea.
"Kau..." ucap Mirza penuh kesal. Namun tak mampu berbuat apa-apa.
BRUK...!
Andrea jatuh akibat tolakan Mirza. Rupanya kekesalan Mirza pun sudah memuncak. Ditinggalkannya Andrea yang masih terduduk di tengah sapuan riak ombak yang terus saja datang dan pergi. Mirza tak mempedulikan panggilan Andrea. Ia terus saja berjalan menyusuri tepian pantai. Ia membiarkan kakinya disapu air laut yang masih setiap pada sang tepian.
"Kau tidak boleh berpaling dari ku, Mirza untuk siapa pun termasuk gadis abnormal itu. Tak kan hidup tenang Arumi. Tunggu pembalasan ku..." ucap Andrea. Tangannya memukul pecah riak ombak yang datang.
🌸🌸🌸🌸🌸
Langkah Arumi semakin cepat menuju villa utama. Sebelah tangannya sesekali mengusap pipi yang masih tampak memerah terkena tamparan Keras Andrea. Hatinya mulai gerimis dan sebentar lagi bersiap berubah menjadi badai.
Langkah Arumi semakin cepat saat memasuki Villa. Ia tak ingin ada yang mengetahui apa yang sudah terjadi pada. Kemudian Arumi menyusuri anak tangga menuju kamar yang sudah disiapkan untuknya itu.
CKLEK...!
Di bukanya pintu dan menutupnya perlahan. Arumi bersandar pada daun pintu.
Hos.
Hos.
Hos.
Nafas Arumi memburu, tak beraturan. Ada amarah yang tergambar di wajahnya. Kemudian tubuh Arumi perlahan merosot ke lantai saat bulir bening itu mengalir begitu saja dari kedua mata indahnya. Arumi terisak. Ia terluka. Ia kecewa. Ia marah. Ia patah hati.