
Vanya berdiri di ambang pintu ruang kerja Wahyu. Saat itu, semua pegawai telah meninggalkan ruangan tak terkecuali Wahyu. Mata Vanya menilik sekitar. Ia ingin memastikan situasi aman.
Degup jantung Vanya bak berloncatan saat melangkah masuk ruang kerja Wahyu. Ruang dimana bukti penyusunan rencana jahat untuk menjebak Ryu berada. Bukti yang siang tadi hampir ia dapatkan, namun gagal karena Wahyu yang hampir memergokinya. Beruntung, alasan Vanya dapat diterima Wahyu sehingga laki-laki itu tak menaruh curiga sedikit pun.
Vanya membuka komputer yang berada dalam ruangan. Komputer yang hanya dapat di buka oleh Wahyu. Namun berdasar informasi seorang pegawai yang memihak Ryu, Vanya memperoleh kata sandi untuk membukanya.
Vanya sudah berdiri di dekat komputer, saat sebuah suara mengejutkannya.
"Siapa itu..." ucap seseorang.
Sorot cahaya senter pun menyasar menelisik setiap sudut ruangan yang remang. Bersembunyi Vanya saat cahaya itu menerobos kaca jendela besar ruangan dimana ia berada. Nafasnya tertahan. Bersamaan dengan itu degup jantung pun kian berloncatan tak menentu. Vanya menjadi khawatir niatnya diketahui.
"Ya, Tuhan.... tolonglah, aku" doa, Vanya berulangkali.
Tangannya menyeka peluh yang mulai membanjiri. Kemudian yakin dengan situasi yang ada, Vanya kembali beraksi. Ia membuka kembali layar komputer yang hampir ia nyalakan tadi. Memasukkan beberapa angka dan huruf, kode rahasia yang sudah ia dapat dari seorang IT terpercaya. Dan...
TING....
"Accepted...."
Vanya tersenyum saat komputer berhasil di buka. Sontak mata Vanya menilik setiap file yang berjejer pada layar. Bak mencari jarum dalam jerami, Vanya cukup sulit menemukan file yang dimaksud.
Lima belas menit berlalu, namun file belum ditemukan. Vanya mendengus kesal. Ia frustasi dan memilih duduk sesaat.
"Apa yang harus aku lakukan...?" gumam Vanya.
Vanya terdiam. Hanya matanya saja yang terus menatap layar monitor yang berpendar. Vanya menilik kembali satu persatu deretan file pada monitor. Begitu cermat tangan Vanya mengotak-atik deretan file tersebut. Di saat peluh mulai menitik satu persatu, saat itulah senyum Vanya terbit di ujung bibirnya. Hal tersebut terjadi saat sebuah file yang ia cari ditemukan.
"Ini dia...." ucap Vanya.
Mata Vanya berbinar. Tangannya segera membuka file yang dimaksud. Vanya menilik sejenak isi file yang berupa rekaman percakapan antara Sakti, Andrea. Dan sekali-kali terdengar suara Wahyu menimpali percakapan tersebut. Satu file terunduh, Vanya beralih pada file lainnya. Terbelalak mata Vanya saat melihat adegan pada rekaman selanjutnya.
"Perempuan murahan...!" ucap Vanya dengan geram.
Ya...pada file tersebut jelas terpampang bagaimana Andrea merayu Sakti. Rayuan tersebut mengarah pada rencana penjatuhan Ryu sebagai pemilik perusahaan yang sah. Dan rencana-rencana itu pun jelas di ucapkan Andrea dan diaminkan Sakti. Penyampaian Andrea itu pun begitu membuat panas mata Vanya. Bagaimana tidak, Andrea dengan santainya duduk pada pangkuan Sakti tanpa ragu sedikitpun. Dan hal tersebut disaksikan Wahyu dan seorang lagi yang tak dikenali Vanya.
Tak tahan dengan isi rekaman, Vanya menyudahinya. Vanya memejamkan mata sejenak, karena gemuruh dalam dadanya sedikit sulit ia kendalikan. Untuk selanjutnya akhirnya Vanya segera memindahkan file tersebut pada flashdisk yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
Segera setelah berhasil memindahkan file, Vanya bergegas keluar ruangan. Langkahnya begitu hati-hati melewati beberapa ruangan hingga pintu keluar kantor. Namun belum lagi Vanya sempurna meninggalkan gedung, seseorang membuatnya terkesiap.
"Siapa itu...?!" teriak seorang laki-laki.
Degup jantung Vanya begitu bertalu. Fikirnya merancau. Terbersit sudah bahwa aksinya telah diketahui. Belum lagi sadar akan situasi yang sebenarnya, Vanya kembali dikejutkan dengan seseorang yang menarik tubuhnya ke balik dinding. Tangannya membekap mulut Vanya. Dan tangan lainnya mendekap erat tubuh Vanya.
Teriakan Vanya tertahan atas perlakuan tersebut. Dan hampir saja ia mengayunkan siku pada tubuh laki-laki tersebut, seperti yang diajarkan Arumi. Namun Urung. Vanya terdiam saat mendengar suara khas laki-laki tersebut.
"Diamlah...." bisik laki-laki tersebut.
Deg.
.
.
.
Vanya terdiam. Ia menuruti apa yang dikatakan laki-laki itu. Terlebih saat itu seorang laki-laki tegap tengah melangkah menyusuri jalan yang tadi Vanya lewati. Sikap laki-laki itu menunjukkan kewaspadaan. Matanya menilik setiap sudut area taman. Mungkin ia tengah mencari bayang Vanya yang sempat ia tangkap.
Laki-laki itu masih mondar-mandir di dekat Vanya yang masih dalam dekapan erat seorang laki-laki lainnya yang sebenarnya sudah Vanya kenali dari suara yang barusan ia dengar.
"Aku yakin tadi melihat kelebat seseorang di sini. Ah, entahlah. Mungkin hanya halusinasi ku saja" ucap seorang keamanan.
Security itu pun berlalu sambil tetap mengedarkan tatapan ke segala penjuru taman.
Helaan nafas lega kedua insan di balik rimbunnya dedaunan di salah satu sudut taman.
"Mengapa kak El melakukan hal seperti itu?!" ucap Vanya saat dekapan itu melonggar.
Jemari Vanya pun mendarat di lengan Elvano membuat laki-laki tampan itu meringis. Sontak tangannya mengusap lengannya yang sedikit memerah bekas cubitan Vanya.
"Kalau tidak begitu, kau pasti sudah ketahuan. .." ucap Elvano.
Jari telunjuk Elvano tepat di kening Vanya dan mendorongnya sedikit. Kepala Vanya pun terayun sebentar. Gadis manis itu manyun. Ia sedikit kesal atas perlakuan Elvano barusan. Sementara itu Elvano sendiri acuh. Ia tak menanggapi reaksi Vanya tersebut.
"Cepatlah kita pergi. Lewat sini...." ucap Elvano sambil menarik tangan Vanya.
"Pelan-pelan, Kak. Masa gadis imut gini harus lari-larian sih..." ucap Vanya.
Namun yang punya lengan mencengkram erat tampak acuh. Ia tak peduli jika ada gadis manis yang kepayahan mengikuti langkah panjangnya. Hingga di depan sebuah mobil sport silver, barulah ia menghentikan langkahnya.
Vanya terdiam. Matanya menilik mobil mewah tersebut.
"Masuklah..." ucap Elvano sambil membuka pintu mobil.
Vanya manyun. Pun demikian, ia tetap mengikuti segala arahan Elvano.
"Kalian ini seperti pengantin baru saja
Suka marah-marah.." ucap seorang laki-laki dari arah belakang.
Sontak Vanya mengalihkan perhatiannya pada si empunya suara.
"Pak Mirza..! Arumi....!!" teriak Vanya.
Arumi dan Mirza menutup telinga dengan kedua tangannya saat suara sopran Vanya mampir ke telinga.
"Mengapa kalian ada di sini...?!"
"Ssttt...Pelankan suara. Kamu mau suara sopran mu itu membangunkan roh penunggu kantor itu" ucap Elvano.
"Roh penunggu? Setan donk..."
"Hook oh..." ucap Arumi.
"Jangan suka nakutin gitu donk, Kak. Aku cium nih..."
"Mau...." ucap Elvano sambil menyodorkan wajahnya.
"Dasar mesum. Nih, cium..."
PLAK...
Vanya menempelkan lembar berkas yang baru ia peroleh dari atas dashboard.
"Ah, kalau cium nya begituan mah ogah. Hehe..."
"Betul ucapan kakak. Mereka seperti pengantin baru. Hehe..."
"Enak saja..." ucap Vanya.
Mimik wajahnya jelas menggambarkan ketidaksukaan.
"Aku tahu apa yang kau inginkan, Nya. Hati dan cinta mu jelas bukan untukku. Karena hanya pada Ryu lah kau menambatkannya. Semoga kau bahagia, Nya..." batin Elvano.
Ada kegetiran di tiap kata yang tengah bermain dalam fikirannya.