
"Sopanlah sedikit, Tuan. Arumi baik-baik saja..." ucap Ryu ditengah cengkraman keras tangan Mirza pada lehernya.
"Aku akan sopan jika kau sopan. Kau membawa Arumi seenaknya saja..." bentak Mirza.
"Kak Mirza...! ucap Arumi dengan suara cukup keras.
Mirza terdiam. Matanya menatap Arumi lekat yang tengah berdiri di ambang pintu. Ia tidak menyangka jika Arumi akan memasang nada tinggi seperti itu.
"Apa yang kakak lakukan di sini?"
Pertanyaan ambigu. Antara tidak mengharapkan kehadiran Mirza dan penasaran atas kehadiran laki-laki tampan itu.
"Aku...Aku...."
"Kami tadi melihatmu dibawa paksa laki-laki ini, maka kami mengikuti mu..."
"Jadi kakak memata-matai ku?"
"Tidak...Kebetulan saja aku melihat dan aku mengkhawatirkan mu? ucap Mirza.
Mata Arumi berkaca-kaca. Tatapannya terkunci pada Mirza yang tengah menatapnya lekat.
"Kak Ryu, kak El...bisakah kami berbicara berdua saja...?" ucap Arumi sambil berisyarat menunjuk Mirza dan dirinya.
"Ow, silahkan. Tuan El, bisa ikut dengan saya" ucap Ryu sambil tersenyum ke arah Elvano.
Mirza mengekori langkah Arumi. Keduanya berdiri di balkon. Tanpa saling menatap.
"Pertama, Arumi tidak dipaksa. Arumi ikut dengan sukarela. Kedua, Arumi tidak suka terlalu dimata-matai. Arumi bukan tahanan" ucap Arumi.
Mirza menghela nafas. Helaan yang terasa berat baginya. Mirza kemudian menatap Arumi. Begitu dalam hingga membuat Arumi rikuh.
"Dengar...Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu terhadap mu. Kenapa? Karena kau milik ku. Hanya milik ku saja. Tak kan ku biarkan orang lain menyakiti mu. Tapi jika apa yang kulakukan menjadi salah arti bagi mu, aku minta maaf..."
Mirza berlalu. Mata hitamnya benar-benar tak menatap Arumi. Langkahnya semakin menjauh saat Arumi menyadari kepergiannya.
"Tunggu, Kak. Aku belum selesai..." ucap Arumi sambil mengekori langkah Mirza.
Mirza menghela nafas kembali. Langkahnya kembali terhenti. Pun demikian, sedikitpun tubuhnya tak bergeming. Ia bak patung selamat datang di tengah kota.
"Laki-laki itu kakak ku. Kami satu ibu, lain ayah. Ikutlah dengan ku..."
Tangan Arumi meraih lengan Mirza dan membawanya serta dalam irama langkahnya. Walau dalam hati Mirza ada kekesalan, namun ia tetap mengikuti keinginan Arumi. Hingga di depan sebuah pintu, Arumi menghentikan langkahnya. Tangannya memutar gagang pintu berlapis kuningan itu.
KREEEK...!
Derit pintu langsung terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu berukir itu.
"Arumi..." sapa Edward yang tengah duduk di tepi tempat tidur.
"Pa, kenalkan. Dia Kak Mirza. Dia...." ucapan Arumi terhenti karen Edward langsung memotongnya.
"Calon suami mu? Papa sudah tahu. Kemarilah tuan Mirza..." ucap Edward sambil tersenyum.
"Dari mana Papa tahu?"
"Siapa yang tidak tahu Tuan Mirza Adyatma. Pengusaha yang sukses di usia muda..." ucap Edward sambil tersenyum dan mengangguk takzim pada Mirza yang tengah berdiri tegak menatap Edward lekat.
Mata Mirza benar-benar terkunci pada sosok laki-laki di hadapannya. Kali ini Mirza benar-benar menjadi pengamat yang teliti, karena tak satu inci pun terlewat dari tatapannya.
"Mengapa Mirza menatapku seperti itu? Apa ia mencurigai ku? Ah, sungguh sikap kehati-hatian yang luar biasa. Aku suka dengan sikap dsn pembawaannya..." batin Edward.
"Benarkah ia suami pertama ibu dari Arumi? Ah, aku harus menyelidikinya. Jangan sampai keberadaannya akan mengganggu kebahagiaan Arumi dan keluarga..." batin Mirza.
"Nak Mirza. Em, kalau pun boleh saya memanggilmu demikian..."
"Tentu saja boleh..." ucap Mirza mengakhiri lamunannya.
Edward tersenyum. Ada rona bahagia di wajahnya.
"Aku yakin kau tidak mudah mempercayai ku. Tapi adalah sebuah kebenaran bahwa aku adalah suami pertama Yuki Hirata, ibu dari Arumi. Dan suatu kenyataan juga jika Ryu Hirata adalah kakak dari Arumi..."
.
.
.
Mirza terdiam. Tiada kata yang terlontar sedikit pun. Hanya helaan nafasnya saja yang terlihat jelas. Sementara itu, dalam hatinya masih terus dirayapi ketidakpercayaan terhadap informasi yang baru saja ia dengar.
Deg.
Namun Mirza kembali terdiam saat menyadari ada kemiripan diantara keduanya. Saat itu jiga ada tanya yang sukses menyelusup dan mendiami hatinya. Pun demikian, lagi-lagi tak ada kata yang terlontar dari bibirnya.
"Nak Mirza, tolong jaga Arumi baik-baik"
"Dengan sepenuh hati jiwa dan raga ku"
"Aku senang mendengarnya. Aku berharap kau menjadikan Arumi sebagai wanita mu yang pertama dan yang terakhir. Bahagiakan dia"
"Itulah tujuan ku saat ini dan nanti.."
"Aku mempercayakan Arumi pada mu. Aku tak ingin semua pengalaman burukku, sampai terjadi pada mu..."
Mirza tersenyum. Namun ia tak bermaksud menanyakan maksud ucapan terakhir Edward. Mirza berfikir, biarlah itu menjadi urusan pribadi Edward walau ada satu pertanyaan lagi yang menggelitik hatinya.
"Mengapa pak Edward menitipkan Arumi pada ku seakan-akan Arumi adalah anaknya? Apakah ini hanya perasaan ku saja? Ah, aku semakin penasaran..."
"Lama sekali curhatnya...?" ucap Elvano bersamaan dengan derit pintu yang terbuka.
"Masuklah Tuan Elvano. Salah satu orang berpengaruh dibalik kesuksesan Mirza Adyatma..." ucap Edward tersenyum.
"Ah, tuan Edward bisa saja. Nanti saya terbang. Rasanya tidak cocok jika saya dikaitkan dengan kesuksesan tuan Mirza. Kalau dikaitkan dengan salah satu orang yang sering ditindas, itu baru benar. Hahaha..."
Tawa Elvano mengisi udara ruang kamar mewah itu. Bersamaan dengan itu tawa Edward, Ryu dan Arumi pun turut mewarnai suasana saat itu. Namun, lain halnya dengan Mirza. Ia hanya duduk sambil menyandarkan kepalanya. Matanya hanya menatap gadis bertinggi 150 cm dan tambun itu. Gadis yang sudah mengisi segenap hatinya.
Sadar ditatap Mirza demikian, Arumi menghentikan tawa renyahnya. Mata indahnya kini terkunci pada sosok tampan bertubuh jangkung itu.
"Dunia hanya milik berdua. Kita ngontrak, Ryu..."
"Haha...benar sekali bang" ucap Ryu dengan logat kentalnya. Ciri non pribumi.
ZAAAP....!
Sebuah bantal melayang tepat mengenai sasaran yang tak lain adalah Elvano.
"Aduh, Bos..." ucap Elvano yang tak sempat menghindar.
"Sekarang mengartikan maksud ucapan saya sebelumnya. Bos saya ini sadis..."
"Elvano bin Jabir bin Jabar....Mau ku potong bonus mu"
"Ah, lagi-lagi potong bonus. Yang lain, Bos. Kok ga kreatif gitu sih..."
Mirza membulatkan matanya dengan sempurna. Dan hal itu sukses membuat Elvano menutup mulutnya.
"I-iya, Bos..." ucap Elvano sambil menepuk keningnya.
Melihat itu, Edward yang semula tersenyum kini terkekeh seru.
Drrt.
Drrt.
Drrt.
Sebuah ponsel menyalak. Dan ponsel Arumi lah yang berpendar.
"Assalamu'alaikum....Apa!!" ucap Arumi yang juga sukses menarik perhatian semuan.
"Baik. Saya segera ke sana..." ucap Arumi lagi sambil menatap satu persatu setiap yang ada. Dan terakhir Mirza. Lama mata indahnya menatap Mirza.
"Mengapa tiada ekspresi berlebih di wajah kak Mirza seperti biasanya setiap melihat aku panik? Ada apa? Apakah kak Mirza masih marah pada ku...?"
"Perlu di temani?" ucap Ryu.
"Tidak...Tidak perlu" ucap Arumi dengan mata yang masih menatap Mirza.
Ada sedikit resah mencubit ketenangan hati Arumi saat tak mendapat reaksi maksimal dari Mirza seperti biasanya. Kemudian langkah Arumi pun langsung berpacu seirama dengan degup jantung yang merasakan kecemasan saat itu.
"Mau kemana?"
Sebuah tangan menggaet lengan Arumi dan menariknya ke dalam mobil.
"Akh....!" keluh Arumi saat kepalanya sedikit terantuk bibir pintu mobil.