
"Hihihi....."
Terdengar suara tawa yang membuat bulu kuduk meremang.
"Kak......Tolong Vanya, Tuhan!!"
Vanya hingga melompat memeluk Elvano. Diperlakukan demikian Elvano berubah rikuh. Ia gamang harus melakukan apa. Terlebih saat Vanya makin mengeratkan pelukannya.
"Ini sih takut membawa nikmat...." ucap Mirza sambil tersenyum tipis.
"Kamu tidak takut, Yank? Aku siap nampung kok. Sini ku peluk..."
Arumi memutar matanya dan memasang mode kesal.
"Modus..." ucap Arumi.
"Tapi suka kan..?"
"Au...Ach!"
"Aku takut, Kak..." ucap Vanya yang masih saja memeluk Elvano.
"Mau di sini atau pulang? Sudah Maghrib nieh..." ucap Arumi.
"Kita sholat dahulu ya..."
"Kita pulang saja, Pak. Vanya takut.."
"Kalau takut, lebih baik sholat dulu..."
"Tapi...." ucap Vanya terhenti saat Arumi menenangkannya.
Pukul enam lewat sepuluh menit. Keempatnya pun langsung menunaikan shalat berjamaah. Hening dalam balutan doa panjang yang menghamba. Kesyukuran, permohonan dan harapan silih berganti terucap dari bibir-bibir yang telah basah dengan pujian terindah atas kepemilikan-Nya.
Carilah perlindungan Allah dari setan dan segala jenis kejahatan dengan mengingat-Nya di setiap saat dalam doa mu.
"Em, kita tinggal sebentar lagi ya. Si Nyai sudah menampakkan diri. Dan kita harus mengetahui siapa dia. Karena aku yakin itu semua hanya rekayasa..."
"Rekayasa...?"
"Ya, Nya...Karena itu kau tidak perlu takut berlebihan seperti tadi" ucap Arumi sambil menolak tubuh Vanya hingga berayun ke samping.
"Iya, maaf..."
"Dan lagi jika kau seperti itu. Kak El yang diuntungkan. Hahaha..."
"Jangan bawa-bawa aku. Bukan aku yang memintanya..."
"Tapi suka kan..?"
"Ya-ya...suka"
"Hahahaha..." tawa semua pecah mendengar jawaban Elvano.
Namun tawa itu tak berlangsung lama, saat pintu salah satu kamar tiba-tiba saja tertutup dengan keras. Hal tersebut tentu saja membuat keempatnya terkejut bukan kepalang.
"Wah...si Nyai marah rupanya?"
"Kalian di sini saja. Aku akan memeriksanya ke bawah"
"Hati-hati, Kak..."
"Duh, senangnya ada yang mengkhawatirkan. Nikah yuk...." ucap Mirza.
Tangannya hampir merengkuh kepala Arumi, namun urung saat Elvano bergerak cepat menghalangi pergerakan Mirza dengan memajukan tubuhnya. Hampir saja Mirza memeluk Elvano.
"Eits...najis. Hampir saja aku ternoda" ucap Mirza.
"Hahaha....lagian si Bos. Main dekap saja"
"El, kau periksa bagian depan. Aku belakang"
"Asyiiap...Bos"
"Kami?" ucap Vanya sesaat sebelum Mirza dan Elvano berlalu.
"Ku kantongi mau?"
"Sekalian aja kau gendong, El..."
"Ih, bete dech..."
"butuh Tati tayang, neng?" ucap Elvano
Vanya cemberut. Bibirnya mengerucut terlebih saat Elvano tersenyum lebar menggodanya.
Kemudian langkah keduanya begitu cepat menuruni anak tangga menuju lantai dasar meninggalkan Vanya yang memeluk erat lengan Arumi.
"Ar, bulu kuduk ku meremang. Keringat dingin pun mengucur. Bagaimana, Ar...?"
"Kita tunggu di sini saja ya. Insyaallah...aman"
"Apa tidak sebaiknya kita menyusul mereka saja, Ar...?" ucap Vanya sambil memutar bola matanya ke segala penjuru.
"Di sini saja, Nya..."
"Ar, itu apa?" ucap Vanya sambil menunjuk salah satu sudut ruangan dan merapatkan tubuhnya pada Arumi.
"Mana, Nya...?" ucap Arumi penasaran.
Mata Arumi mengitari seisi ruangan terutama sudut ruangan yang sejak tadi menarik perhatian Vanya.
"Astaghfirullah....!" ucap Arumi.
Matanya tak lepas menatap sosok yang memunggunginya. Tubuhnya berbalut pakaian putih panjang hingga menutup kaki. Dan rambut hitam panjang dibiarkan tergerai menutupi sebagian wajahnya yang tampak pasi.
"Huuwaaaaa....!!!"
Begitu terkejutnya Vanya hingga ia memeluk erat Arumi seakan tak ingin dilepaskan lagi. Wajahnya makin pasi dengan tubuh makin gemetar. Vanya menangis.
"Siapa yang menyuruh mu?" ucap Arumi sambil melangkah perlahan.
Langkah Arumi tertahan karena tubuhnya yang terus di dekap Vanya.
"Hihihi....." tawa si Nyai kembali nyaring terdengar.
Tawanya membuat ciut siapa saja yang mendengar. Terlebih dengan penampakan tepat di depan mata seperti itu.
"Bisa tidak tertawa nya yang buat adem, jangan buat takut gitu...?" ucap Vanya.
"Hihihi...kau takut?" ucap si Nyai.
"Hok oh..." ucap Vanya.
"Setan kok diajak berdialog, Nya..."
"Siapa tahu bisa kasih pencerahan untuk menaklukan hati cowok"
"Emang bisa?'
"Mungkin, karena setan zaman now..." timpal Vanya.
"Dasar..."
"Hehehe..."
"Hei setan...! apa mau mu? Mengapa kau mengganggu kami!"
"Aku tidak mengganggu mu. Kau yang sudah mengganggu rumah ku. Karena itu aku ingin kalian pergi dari tempat ini..." ucap si Nyai dengan suara yang menyeramkan, khas suara setan seperti di film-film.
"Rumah mu banyak juga ya?Setiap bangunan di perumahan ini, apa rumah mu semua...?!"
"Rumah ku, rumah saudara ku dan anak-anak ku"
"O...setan punya saudara dan anak juga. Aku kira cuma manusia saja yang punya. Hehe....Aku yang bodoh, atau kau yang ngaco, Tan Kunti"
Arumi kemudian sedikit mendekati tempat berdiri si Nyai. Mata Arumi begitu lekat mengamati setiap gerak-gerik si setan berambut panjang yang berdiri tak bergeming. Hanya matanya saja yang menata tajam Arumi.
"Mengapa aku menangkap kegelisahan di ujung tatapannya? Dan sebentar lalu pun aku melihat pergerakan tak lazim dari tubuhnya. Apa setan bisa berekspresi dan bereaksi seperti itu?" batin Arumi.
"Berhentilah di sana...." suara si Nyai dengan suara parau dan memberi kesan menyeramkan.
"Hihihi...Mana mungkin aku takut. Mestinya kau yang takut"
"Aku tidak takut. Justru aku yakin kau yang takut. Jika aku mendekati mu, pasti kau akan kesulitan pergi. Karena jalan agar kau bisa kabur hanya lorong ini kan? Sementara di belakang mu ada dinding. Kau salah strategi, Tan Kunti"
"Tan Kunti...?"
"Setan Kunti, Nya..."
"Hihihi...."
"Ish...kau sendiri tertawa hampir sama dengan Tan Kunti"
"Jangan begitu donk, Ar..."
Tengah asyik Arumi meladeni celoteh Vanya, tiba-tiba si Nyai merangsek. Sepertinya ia bermaksud menerobos barikade Arumi saat itu. Melihat situasi tersebut, Arumi terkesiap dan mempertahankan posisinya. Dan...
BUK...
Arumi memberi hantaman pada si Nyai. Mendapat hantaman itu si Nyai terjungkal.
"Kena....!" teriak Vanya.
"Kurang ajar...Tidak bisa di takut-takuti rupanya. Kalau begitu kau akan ku habisi, karena kau sudah tahu kebohongan ku" ucap si Nyai samaran.
Tangannya dengan cepat membuka rambut panjang yang terurai itu. Arumi tersenyum saat melihat wajah laki-laki dengan riasan tebal di hadapannya.
"Janganlah tersenyum karena belum tentu kau dapat keluar dari tempat ini bersama nyawa mu"
"Uuuh...takut" ledek Arumi.
Kemudian Nyai yang sudah menjelma menjadi seorang laki-laki itu menyerang Arumi dengan cepat. Pukulan dan gerakannya dirasakan Arumi sangat bertenaga. Artinya lawan Arumi tidak dapat di remehkan.
Laki-laki itu makin gencar menyerang Arumi. Seketika seringai laki-laki itu menghiasi wajahnya saat ia berhasil menjatuhkan Arumi. Ada kebanggaan tergambar jelas di sorot matanya. Dan hal tersebut tentu saja membuat Arumi geram.
"Aku harus lebih waspada. Lawan ku ini tidak dapat dianggap enteng" batin Arumi.
Setelah Arumi merasakan tendangan laki-laki tersebut, Arumi menjadi semakin waspada dan meningkatkan kemampuannya baik serangan maupun pertahanannya.
Hingga sepuluh jurus laki-laki itu keluarkan, namun Arumi tak dapat ditumbangkan. Hal tersebut membuat laki-laki itu frustasi. Terlebih hampir semua jurus andalannya sudah ia keluarkan, mulai dari jurus bangau, jurus kunyuk mencuri buah, jurus penyamun mencuri perawan, jurus ulat mematuk sampai jurus bujang lapuk minta kawin. Semua sudah dikeluarkan dan tiada hasil alias nihil.
Alih-alih tak mendapat keberhasilan, fikiran laki-laki itu mulai menampilkan kelicikan. Seketika ia menarik Vanya yang berdiri di dekat pembatas balkon dan mendorongnya keluar pembatas.
"Vanya....!!!" teriak Arumi.
🌸🌸🌸🌸🌸
Sementara itu dua puluh menit sebelum Vanya jatuh.
Mirza dan Elvano mengendap-endap di sekitaran tumbuhan perdu di sudut halaman belakang. Keduanya menaruh kecurigaan pada tempat tersebut. Terlebih saat melihat pergerakan tak lazim pada tempat tersebut.
Mata Mirza menatap tajam sosok laki-laki yang tengah memakai riasan wajah, sehingga wajahnya begitu mengerikan.
Mirza berdiri tegak, tangannya terlipat di depan dada. Nafasnya naik-turun dengan cepat seakan menahan amarah yang begitu dahsyat.
"Siapa yang menyuruhmu...?" tanya Mirza dengan suara khasnya.
Ucapan Mirza begitu mengejutkan si laki-laki di hadapannya. Ia hingga berjingkat dan langsung memutar tubuhnya tepat menghadap Mirza. Sadar perbuatan jahatnya terbongkar, laki-laki itu justru menyerang Mirza. Bukan Mirza namanya jika tak mampu mengelak dari serangan yang tiba-tiba.
Beberapa tinjuan berhasil dihindari dan juga di tangkis Mirza. Begitu pun dengan tendangan kaki panjang laki-laki itu yang langsung dapat dihindari Mirza. Namun layaknya seorang manusia bahwa tak ada gading yang tak retak, Mirza pun demikian. Di suatu ketika Mirza lengah. Dan hal tersebut tak disia-siakan laki-laki itu yang langsung memberi sebuah pukulan dan tendangan.
*BUK....!
DUAGH...!
BRUKK*....!
Tubuh Mirza limbung dan membentur dinding pagar lalu kemudian ambruk ke rerumputan. Melihat kondisi bos sekaligus sahabatnya itu, Elvano langsung menghambur mendekati Mirza.
"Bos....!"
"Aku tidak apa-apa. Carikan tali atau sejenisnya. Aku ingin segera menyelesaikan adu jurus ini..." ucap Mirza sambil berdiri dan menyeka darah yang menitik di sudut bibirnya.
"Baik, Bos..."
Tak lama kemudian, Mirza pun kembali menghambur berusaha mengakhiri adu jotos itu dengan gencar melancarkan serangan. Bukan hanya satu jurus tapi beberapa jurus di keluarkan Mirza, seperti jurus singa mengaum, cakaran maut, sampai ajian surat jiwa milik Brama Kumbara pada serial Saur Sepuh.
Tak sia-sia berguru pada Sinto Gendeng, akhirnya Mirza berhasil merobohkan laki-laki tersebut.
"Akh....!" keluh laki-laki itu saat tendangan beruntun bersarang di tubuhnya.
BRUKK...!
Tubuh laki-laki itu jatuh. Ada darah yang terpercik dari mulutnya. Ia terduduk tak berdaya.
Melihat kondisi lawannya, Mirza langsung mendekatinya. Matanya menatap tajam. Kilat matanya sungguh membuat bergidik siapa saja yang melihatnya saat itu. Auranya sungguh mencerminkan hasrat membunuh.
"Aku bertanya pada mu sekali lagi. Siapa yang menyuruhmu...?"
"Cih..." laki-laki itu membuang ludahnya yang sudah bercampur dengan merahnya darah.
"Tidak sopan...!"
BUK....!
Satu pukulan kembali mendarat di tubuh laki-laki itu. Namun kali ini pelakunya adalah Elvano.
"Jawab pertanyaan bos ku...!"
"Siapa kalian...?" tanya laki-laki itu akhirnya.
"Kau tidak tahu?! Dia adalah pemilik properti di sini. Dia Mirza Adyatma..." ucap Elvano sambil menarik kerah kemeja laki-laki itu.
"Mirza Adyatma...?" ucap laki-laki itu terkesiap.
Wajah laki-laki itu berubah pasi. Dan kekhawatiran besar jelas tergambar di wajahnya. Laki-laki faham betul bagaimana sepak terjang laki-laki tampan, pengusaha sukses nomor satu di Indonesia itu. Ia mengetahuinya dari beberapa rekannya yang pernah berurusan dengan pengusaha sukses itu.
"Kenapa...? Baru sadar?" ucap Elvano sambil mengikat tangan dan kaki laki-laki itu.
"Jika kau takut, sebaiknya segera kau katakan siapa yang sudah menyuruhmu"
"Cepat katakan...! Sebelum bos ku itu berubah fikiran dan langsung mencincang mu hidup-hidup jadi potongan kecil-kecil"
"Ampun, Tuan. Saya hanya orang suruhan. Saya terpaksa melakukannya demi pengobatan anak perempuan saya satu-satunya..."
"Iya, kau hanya orang suruhan. Kami juga tahu. Tapi katakan dengan jujur, siapa yang menyuruhmu...?!"
"Aku akan mengampuni mu, bahkan membantu biaya pengobatan anak mu tanpa harus melakukan hal seperti ini.."
"Terima kasih, Tuan..." ucap laki-laki itu dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi kau harus memberitahu ku siap dalang semua ini..."
"Tapi Tuan benar-benar mengampuni saya kan?"
"Heh...Kau fikir bos ku itu orang yang suka ingkar janji? Sembarangan...!" ucap Elvano geram.
"El...."
"Ya, Bos. Maaf..."
"Bagaimana, Pak...." ucap Mirza menggantung.
"Kunto. Nama saya Kunto..."
"Pak Kunto... Bagaimana dengan tawaran ku?'
Kunto terdiam. Matanya bergantian menatap Elvano dan berakhir pada Mirza. Dalam benaknya tidak pernah terfikir untuk mengkhianati, namun tawaran Mirza begitu menggodanya. Terlebih hal tersebut berkaitan dengan nyawa anak perempuannya yang tengah tergolek di rumah sakit.
"Vanya....!!!" tiba-tiba suara Arumi terdengar.
Sontak Mirza dan Elvano mengalihkan perhatiannya pada sumber suara.
"Vanya...!" teriak Elvano dan Mirza hampir bersamaan.
To Be Continued....
***Hai, sobat pembaca. Jazakumullah Khoir Katsir yang masih terus membaca tulisanku ini. Semoga suka ya...Jangan lupa kritik dan sarannya ya....
Oya, siapa yang penasaran dengan nasib Vanya di kisah selanjutnya? Atau penasaran dengan dalang penyebar berita hoax? Hehe...Yang penasaran boleh ikuti kisah selanjutnya ya. Jangan ragu loh. Hehehe***....