
Senja kembali datang menjemput siang. Ia mengembalikan hari menuju malam yang penuh bintang dan pendar sang bulan separuh. Ini adalah waktu yang tepat untuk setiap insan terlena dalam dekapan hangat sang waktu setelah seharian beraktifitas. Namun tidak demikian dengan Andrea. Mata bulatnya tengah menatap Aryaa dan Sonia nanar.
"Apa kalian tidak bisa membantu ku...?!' ucap Andrea.
"Bantuan seperti apa yang kau butuhkan, Kak? Sementara selama ini kau selalu bertindak sesuka mu...!"
"Adik kurang ajar...!"
"Ow...sekarang kakak baru mengakui ku sebagai adik? Selama ini kemana saja?!"
"Lancang....!"
Tangan Andrea terangkat ke udara. Hatinya dipenuhi marah hingga mata bulatnya kian membulat sempurna seakan ingin melompat keluar.
"Cukup....!!" ucap Sonia.
"Mengapa mama selalu membela Arya?! Apa Andrea ini bukan anak mama?!"
"An, kau anak mama. Tidak perlu kau ragukan. Mama membela Arya karena memang adik mu ada benarnya. Selama ini kau bertindak berdasar nafsu mu. Kau tak menghiraukan nasihat mama atau adik laki-laki mu. Bahkan suami mu saja kau tinggalkan demi laki-laki lain yang kau anggap lebih berharta. Dan yang tak habis fikir mengapa laki-laki yang kau pilih itu adalah Ryu, kakak kandung Arumi. Nak, kau tahu bukan siapa Arumi...?"
"Perempuan kampungan dengan tinggi tak lebih dari 150 cm..."
"Kak...!"
"Apa...?! Apa aku salah? Itu fakta, Arya. Dan satu lagi fakta yang harus kau sadari bahwa cinta mu itu tak akan terbalas. Arumi milik Mirza. Apa kau tidak menyadarinya...? Haha....Cinta bertepuk sebelah tangan kau bilang cinta sejati. Bulshit...!" ucap Andrea.
"Kau...." ucap Arya.
Arya berdiri. Ia bersungut. Tangannya terkepal. Nafasnya turun-naik dengan cepat. Jelas ada amarah yang tengah berkecamuk.
"Kau mungkin tidak mengerti bagaimana pentingnya hubungan dalam keluarga. Karena kau terlalu sibuk dengan diri mu sendiri. Perlu kau ketahui. Aku lebih memilih bersaudara dengan Arumi ketimbang dengan kau...." ucap Arya. Rahangnya gemeretak menahan amarah.
"Hah...! Kalau begitu putus hubungan kita sebagai keluarga. Kalian lebih memilih menjadi keluarga yang jelas-jelas tak memiliki hubungan darah ketimbang dengan ku"
"Keluarga itu bukan hanya berdasar hubungan keluarga, Andrea. Di sini kau gagal faham dalam memaknai keluarga"
"Hah...Arumi sudah memberi mu apa, Arya? Sehingga kau lebih memilihnya ketimbang aku..."
"Cukup....!!" ucap Sonia.
"Andrea sayang dengar kan mami. Mami tahu bagaimana susahnya diri mu saat ini. Karena itu mami minta kau mengembalikan apa yang memang menjadi hal Ryu. Dan minta maaflah pada Ryu dan keluarganya..."
"Meminta maaf? Cih...aku tidak Sudi! Jika kalian tidak mau membantuku ya tidak apa-apa. Tapi jangan meminta apa yang tidak mungkin aku lakukan. Karena kalian tidak memiliki hak atas diri ku. Apalagi mengatur hidup ku..." ucap Andrea berang.
"Hati mu sudah membeku...?" ucap seseorang.
Sontak Andrea dan lainnya membagi perhatian pada si empunya suara yang tengah berdiri di ambang pintu.
"Arumi...?!" ucap ketiganya hampir bersamaan.
Kehadiran Arumi membuat Andrea berdiri dan menatap sinis. Sebuah tatapan sebagai pernyataan dari apa yang ia rasakan dalam jiwanya.
"Kau tidak pernah jera, Andrea. Bukan hanya sekali kau mencoba menyakiti ku, tapi berulangkali. Dan berulangkali juga aku memaafkan mu..."
"Cih...! Aku tidak butuh maaf mu"
"Ya. Tidak apa-apa. Karena kali ini aku pun tidak akan memaafkan mu. Perbuatan yang kau lakukan terhadap kakak ku, sungguh diluar batas...."
"Haha...sejak menjadi istri Mirza Adyatma mulut mu menyerupainya. Dengarlah nyonya Mirza Adyatma. Aku tidak akan pernah meminta maaf kepada mu. Tidak juga kepada kakak mu. Atau suami mu itu..."
"Baiklah. Jika demikian kau harus bersiap menerima hukuman mu..." ucap Arumi sambil berisyarat mengangkat tangan.
"Maaf, Mi. Kak Arya. Arumi terpaksa melakukan ini..."
"Mami mengerti, Ar. Jika itu yang terbaik, mami rela..." ucap Sonia dengan suara bergetar dan mata yang mulai dikerubuti bulir bening.
"Nona Andrea, anda kami tahan. Nona...." ucap seorang diantara tiga petugas tersebut.
Belum lagi usai kata petugas tersebut, Andrea sudah mengambil alih situasi. Andrea mendekap tubuh Sonia yang berdiri tak jauh. Bukan hanya itu tangannya mengancam Sonia dengan sebilah pisau. Mendapat situasi tersebut, semua menjadi panik. Tiada praduga sedikit pun atas tindakan Andrea yang terbilang nekat dan gila itu. Bagaimana tidak, Sonia adalah ibu kandungnya. Namun pada situasi tersebut justru dijadikan tameng atas diri Andrea. Sungguh picik. Ibu yang mestinya di puja dan dihormati justru diperlakukan kebalikannya.
"Andrea....!!"
Teriakan semua, membuat Andrea menyeringai sinis. Hatinya beriak saat melihat kepanikan yang berhasil ia ciptakan.
"Kau gila, An...! Itu ibu mu...! Apa aku tega...!"
"Ibu...? Dia bukan ibu ku...! Seorang ibu pasti akan membela dan melindungi anaknya. Tapi tidak dengan perempuan ini yang katanya adalah ia ibu ku"
"Kau salah faham, An. Yang mami lakukan adalah demi kebaikan mu sendiri..."
"An, lepaskan mami..." ucap Arumi sambil melangkah.
"Berhenti, Arumi...! Ancaman ku bukan tong kosong nyaring bunyinya. Ini Nyata...!"
Andrea lebih mendekatkan bilah pisau pada leher Sonia. Bahkan ujungnya melekat pada leher Sonia hingga luka pun berhasil dibuatnya. Sehingga titik darah pun mengembun dari luka tersebut.
"Akh...!" keluh Sonia.
"Gila kau, An..." ucap Arya.
Tangan Arya terkepal hebat. Matanya menatap nanar.
"Nona Andrea, janganlah anda bertindak gegabah...! Tindakan anda dapat membuat ibu anda terluka dan hal itu juga dapat memberatkan tuntutan anda..."
"Persetan dengan semua itu...! Awas, jangan ada yang mendekat. Sedikit saja kalian melangkah, maka perempuan ini akan menjadi korbannya..."
"Ini sebuah gertakan saja atau...." ucap seorang petugas gamang.
"Jika melihat dari caranya, jelas ini bukan sebuah gertak sambel..." bisik seorang petugas lagi.
"Mengingat kegilaan kakak ku itu, maka aku tahu betul jika apa saja bisa ia lakukan. Termasuk melukai ibunya sendiri. Atau....membunuhnya" ucap Arya lirih.
Andrea mendekap Sonia dan memberinya ancaman yang membuat perempuan paruh baya itu kecut. Sedikit demi sedikit Andrea membawa Sonia keluar rumah dan mengarah pada sebuah mobil merah yang terparkir.
"Sadarlah, An. Menyerahlah. Mami akan mendampingi mu dalam segala situasi mu nanti"
"Diamlah, Mami...!" ucap Andrea ketus.
Tangan Andrea membuka pintu mobil dan dia mendorong tubuh Sonia. Tubuh perempuan itu pun terduduk paksa dalam mobil.
"Jalan, Roy..." ucap Andrea.
"Roy..." ucap Sonia terkejut.
"Maaf, Mi. Roy harus melakukan ini agar Roy dapat kembali bersama dengan Andrea..."
"Ya, Tuhan...Kalian benar-benar sudah gila" ucap Sonia.
Bersamaan dengan itu, mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah diikuti kendaraan petugas dengan raungan sirine yang memecah suasana malam.
"Kak Roy...?!" ucap Arya sesaat mobil merah itu melintas di hadapannya.
"Roy? Siapa dia...?"
"Suami pertama kak Andrea..."
"Suami....?"
"Suami yang sudah menjadi mantan. Tapi mengapa kak Roy terlibat pada situasi ini?"